Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Hampa


__ADS_3

Hari-hari berlalu dan kini sudah sebulan sejak Miko pindah dari kantor cabang Surabaya. Setiap hari, entah kenapa Sarah selalu melihat ke lantai tiga dari tangga di lantai dua.


Semua gerak gerik Sarah tak pernah luput dari perhatian si biang gosip, Minati. Dia selalu saja bisa melihat ada rasa kehilangan yang terpancar dari mata bening janda itu.


"Hah … apa iya dia sebodoh itu sampai nggak tau sama perasaan dia sendiri?" gumam Minati.


Wanita itu selalu geleng-geleng, setiap kali tak sengaja melihat Sarah yang berhenti sejenak di ujung tangga lantai dua, dan mendongak ke atas, di mana lantai tiga berada.


Makan siang pun tiba. Seperti biasa, Sarah selalu membawa bekal makan siang sendiri. Minati pun sering menemaninya makan di kantor meski tak jarang dia harus makan di luar karena ada urusan.


Minati yang dari awal mencoba tak bertanya, akhirnya merasa gatal juga dan ingin menginterogasi kembali Sarah perihal kelakuan anehnya belakang setelah kepindahan Miko.


"Gabung ya," ucap Minati.


Dia kini tengah berdiri di depan meja kerja Sarah sambil meletakkan sekotak bento, sejenis nasi kotak ala negeri sakura, yang ia pesan lewat layanan pesan antar.


"Monggo! (Silakan!)" sahut Sarah.


Minati pun menarik sebuah kursi dan meletakkannya di depan meja kerja Sarah. Dia lalu mulai makan siang menemani rekannya itu.


Sesuai kebiasaan Sarah, dia tak akan pernah bicara saat sedang makan. Hal ini yang selalu ditanamkan sejak dulu di keluarga Pak Riswan.


Setelah selesai makan, Minati dan juga Sarah membereskan bekas makan siang mereka dan merapikan kembali meja kerja yang sempat menjadi meja makan itu.


Minati melihat jika sarah kurang fomus saat itu. Dia membuang benda yang seharusnya tak ia buang, sedangkan sampah yang harusnya dibuang, justru ia simpan di dalam kotak bekal.


"Eh, Sar. Nggak kebalik?" tanya Minati saat Sarah melakukan kesalahan kecil itu.


"Ehm … kenapa, Min?" tanya Sarah bingug.


Minati pun meraih kotak makan siang dan membukanya.


"Nih! Sampah itu harusnya yang masuk kresek. Kenapa malah sendok garpu yang mau dibuang?" jelas Minati sambil membetulkan kesalahan tersebut.


"Lho … kok iya sih?" gumam Sarah sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.


"Kamu lagi nggak fokus ya? Mikirin apa sih?" tanya Minati yang memulai aksi interogasinya.


"Nggak kok. Nggak lagi mikirin apa-apa," elak Sarah sambil menyimpan kembali kotak makan siangnya ke dalam tas totebag.


Minati duduk dan terus mengamati gerak gerik Sarah.


"Sar, jujur deh sama aku. Kamu lagi mikirin Pak Miko kan?" terka Minati.


"Aku, mikirin dia? Hahaha … ya enggak lah. Ngapain juga aku mikirin orang itu?" kilah Sarah sembari memaksakan tawanya.


Minati terus menatap tajam ke arah Sarah dan semakin melihat keanehan di diri rekan kerjanya itu.

__ADS_1


"Sar, aku tau kamu lho. Kamu merasa kehilangan kan?" cecar Minati.


"Nggak lah. Ngaco aja kamu. Justru aku merasa senang, karena sekarang hidupku bisa tenang nggak ada dia lagi," elak Sarah.


"Bohong!" seru Minati.


"Beneran!" kilah Sarah.


"Kalau memang kamu senang, kenapa kamu selalu lihatin lantai tiga setiap kali lewat tangga?" tanya Minati.


"Itu karena … ehm … karena …," jawab Sarah terhenti.


Dia terdiam. Saat akan memberi jawaban atas pertanyaan rekannya tadi, dia justru tak paham dengan apa yang dia lakukan.


Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri seolah mencari jawaban, namun tak kunjung ia temukan. Hingga Minati pun terdengar menghela napas panjang tanda kesal dengan sikap rekannya itu.


"Nggak bisa jawab kan?" tanya Minati lagi.


Sarah menunduk. Dia juga tak tau dengan sikapnya yang akhir-akhkr ini sering bahkan selalu melihat ke lantai tiga, seolah tengah mengenang keberadaan seseorang yang pernah ada di sana.


"Terus, gimana soal ideku tentang dokter itu? Apa kamu sudah tau jawaban atas perasaan kamu sama dia?" tanya Minati lagi.


"Belum," jawab Sarah lirih.


"Kamu ini gimana sih, Sar. Kenapa nggak tegas banget? Kenapa kamu nggak bisa jujur bahkan sama diri kamu sendiri sih? Lama-lama aku gedeg lihat masalah mu ini," keluh Minati.


Sarah menatap tajam ke arah rekannya dengan pandangan tak suka.


"Sar, bukan gitu maksud ku. Aku cuma mau …," sanggah Munati.


"Sudah hampir jam satu. Mending kamu balik ke meja kamu karena aku juga mau lanjut kerja," sela Sarah.


Sikapnya berubah seketika menjadi dingin dan membuat Minati mau tak mau harus menjauhinya untuk saat ini.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Beberapa hari kemudian, Sarah yang selau menjemput putranya sepulang kerja, hari itu pun datang ke playgroup tempat dia menitipkan anaknya.


Tak sengaja, dia bertemu dengan Fadil di sana yang juga tengah menjemput Bela.


"Mas, hari ini kamu yang dateng?" sapa Sarah.


"Iya. Neneknya Bela sedang ada urusan. Jadi aku yang ajak dia pulang," jawab Fadil.


"Ibu, boleh nggak kalau Bela ajak Bagas buat makan es krim dulu?" pinta Bela.


Sarah menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis kecil itu.

__ADS_1


"Bela mau makan es krim?" taya Sarah.


"Ehm …," angguk Bela.


Sarah menoleh ke arah putranya. Bagas nampak tersenyum lebar hingga gigi-gigi kecilnya terlihat berjejer rapi di sana.


"Udah janjian ya kalian?" terka Sarah.


"Hehehe … iya, Bu. Habisnya kata Bagas, kalau dia yang minta, nggak bakal dibolehin. Jadi Bela mintain ijin deh. Bolehkan bu?" tanya Bela.


"Ya udah. Tapi biasa ya. bagas cuma boleh satu scoop aja. Nggak boleh lebih. Oke?" perintah Sarah.


"Oke, Bu," sahut Bagas senang.


Mereka berempat kini berjalan menuju ke kedai es krim langganan yang berada di seberang jalan.


Sesampainya di sana, kedua anak kecil itu segera memesan es krim kesukaan mereka dan mencari meja yang kosong.


Sarah hendak berjalan menghampir kedua anak itu, namun Fadil terlebih dulu mencegahnya.


"Sar, sebaiknya kita ambil meja terpisah dari anak-anak. Ada yang mau aku sampaikan sama kamu," ucap Fadil.


Belum sempat Sarah bertanya, Fadil sudah terlebih dulu berjalan ke sebuah meja yang berada tak jauh dari tempat anak-anak mereka. Sarah pun akhirnya mengikuti dokter itu dan duduk di sana.


"Ada apa, Mas? Apa masalah serius?" tanya Sarah.


"Ini soal mantan suami mu," sahut Fadil.


"Miko? Ada apa dengan dia?" tanya Sarah cepat.


Fadil sampai terkejut melihat reaksi Sarah yang diluar dugaannya. Wanita itu nampak khawatir saat Fadil baru menyebutkan orang yang akan mereka bahas.


Seperinya kamu masih sangat peduli dengan mantan mu itu, Sar, batin Fadil.


"Beberapa waktu yang lalu, dia datang kemari dan kita membicarakan sesuatu di sini," ungkap Fadil.


Dia kemudian menceritakan perihal Miko yang menyerah untuk mengejar kembali mantan istrinya, dan memutuskan untuk menyerahkan Sarah kepada Fadil.


Janda itu tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh Miko.


"Aku menghormatimu, Sar. Oleh karenanya, aku pun tak serta merta mengiyakan atau menganggap serius ucapan pria itu. Tapi sekarang, aku mau menanyakannya langsung padamu. Apa kamu sudah bisa membuka hatimu untuk ku?" tanya Fadil.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2