
Menjelang maghrib, tampak sebuah mobil berhenti di depan gerbang playgroup. Terlihat seorang pria yang keluar dari dalam mobil, dan berlari menuju ke halaman dan taman bermain, yang ada di area playgroup tersebut.
Dia nampak mencari-cari seseorang yang sudah pasti tidak ada di sana. Playgroup telah sepi dan lampu-lampu penerang jalan pun sudah mulai menyala.
"Di mana dia?" gumam pria itu.
Tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya dari arah belakang.
"Mas! Mas Fadil," panggil Sarah.
Dia melihat kedatangan Fadil dari dalam kedai es krim, dan segera menyusulnya ke tempat penitipan anaknya. Sedangkan kedua anak kecil itu, masih asik dengan kudapan dingin nan manis di kedai.
Fadil pun menoleh ketika mendengar suara yang beberapa waktu ini sangat ia rindukan.
"Sarah? Kamu di sini? Apa kamu juga baru mau jemput Bagas?" tanya Fadil cepat.
Dia khawatir jika putrinya hilang atau ada orang yang membawanya pergi.
"Mas pasti cari Bela kan. Dia ada di kedai seberang sana bersama Bagas," sahut Sarah sembari menunjuk ke arah kedai es krim di seberang jalan.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut pria itu. Awalnya, Fadil hendak menjemput putrinya tepat pukul tiga sore, namun ada sebuah kondisi darurat yang membuatnya tertahan di rumah sakit, dan tidak sempat meminta Rianti menggantikan tugasnya itu.
Hingga petang, Fadil baru bisa keluar rumah sakit dan dengan tergesa-gesa, tanpa mengganti jubah operasinya, dokter itu pergi menjemput putrinya yang dia kira tengah menunggu seorang diri di sana.
"Maaf ya, Sar. Sudah merepotkanmu," ucap Fadil.
"Nggak papa kok, Mas. Aku justru seneng bisa bareng-barenvg sama Bela lagi. Bagas juga seneng banget kalau ada Bela."
"Lain kali, kalau memang kamu sibuk dan Bu Rinati juga sama, kamu bisa kok minta aku supaya bawa Bela ikut ke rumah ku dulu, baru kalau kamu sudah sempat, kamu bisa menjemputnya. Dari pada dia harus nunggu lama di sini, kan kasihan," seru Sarah.
"Tidak udah, Sar. Aku nggak mau ngerepotin kamu terus," ucap Fadil.
"Apa semua ini karena kehadiran Miko? Apa kamu merasa nggak enak karena takut mengganggu waktu ku dengan Bagas dan juga ayahnya itu?" cecar Sarah.
Fadil diam. Memang benar semua yang dituduhkan Sarah benar adanya. Namun, dia tak mungkin mengakui semuanya begitu saja.
"Mas, aku menerima Miko kembali hanya sebatas karena dia adalah Ayah Bagas. Aku dan dia sama sekali tak memiliki hubungan pribadi apapun. Jadi, jangan kamu cegah Bela buat ketemu atau minta bareng sama aku dan juga Bagas. Kasihan dia. Dia hanya gadis kecil yang rindu sosok seorang ibu. Mungkin, akan lebih baik jika kamu mencarikannya seorang ibu sambung," ujar Sarah.
Fadil tersenyum getir. Tatapannya nanar memandang wanita di depannya itu.
Untuk sekarang ini, mungkin hubungan mu dan dia hanya sebatas itu. Tapi, tak ada yang akan tau nantinya seperti apa, bukan. Dan kamu tau kalau Bela sangat sayang sama kamu, begitu pun sebaliknya. Seandainya kamu mau untuk menerimaku, pasti gadis kecil itu akan sangat bahagia bukan, batin Fadil.
"Baiklah. Kalau memang kamu nggak keberatan Bela gangguin kamu dan Bagas lagi, aku nggak akan larang dia buat main atau menginap di rumah mu," ucap Fadil.
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Ya udah, yuk kita ke sana. Anak-anak pasti udah nungguin," ajak Sarah.
Wanta itu pun berbalik dan berjalan mendahului Fadil. Setelah menghabiskan es krim, masing-masing anak kecil itu pun pulang bersama orang tua mereka.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Hari sabtu tiba, jam kerja Sarah yang hanya setengah hari saat akhir pekan, membuatnya memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama sang putra.
Saat ini, dia tengah menunggu Bagas dan Bela yang sedang mengambil tas mereka. Setelah pembicaraannya tempo hari dengan Fadil, kini dokter itu tak lagi meminta Bela untuk menjauh dan menjaga jarak dari Sarah.
Gadis kecil itu pun sangat senang akan hal tersebut. Dia pun memutuskan untuk ikut Sarah dan Bagas pergi ke tempat bermain yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Surabaya.
"Kak, kita ke prosotan itu yuk!" ajak Bagas.
"Ehm … ayok!" sahut Bela.
Mereka berdua pun saling bergandengan dan menuju ke wahana bermain yang mereka inginkan itu.
Sarah duduk tak jauh dari sana, sambil terus memperhatikan kedunya bermain.
Lama Bagas dan Bela berseluncur di perosotan, kini mereka berjalan menghampiri Sarah dan minta untuk pindah ke tempat trampolin.
Kedua anak kecil itu pun menarik-narik tangan Sarah hingga wanita itu pun tergelak melihat tingkah lucu mereka.
Tiba-tiba, suara dering ponsel berbunyi dan membuat Sarah terpaksa melepaskan tangan Bagas yang tengah memegangi tangan kanannnya.
Bagas pun mengangguk dan melepaskan genggamannya.
Sarah mengambil ponsel yang ada di dalam tas selempangnya, dan melihat nama yang tertera di layar.
"Miko?" gumam Sarah.
Bagas yang mendengarnya pun segera melompat-lompat hendak melihat juga ponsel ibunya.
"Ayah ya, Bu? Ayo angkat! Angkat! Angkat!" ucap Bagas yang terlihat sangat antusias.
"Iya … iya … iya …," seru Sarah.
Sarah pun menggeser tombol hijau ke kanan dan mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, assalamualaikum," sapa Sarah.
"Waalaikumsalam. Sar, aku tadi ke playgroup tapi kata Bu Nisa, kamu udah jemput Bagas pulang? Sekarang aku di depan rumah mu, tapi sepertinya sepi nggak ada orang," tanya Miko.
__ADS_1
"Oh iya … maaf, Mas. Aku lupa bilang. Ini Bagas dan Bela minta diajak jalan-jalan ke arena bermain anak di mall," jawab Sarah.
"Ehm … apa boleh aku ikut ke sana juga?" tanya Miko.
"Suruh Ayah ke sini, Bu. Ayo, Bu. Ayo," teriak Bagas.
Miko tersenyum mendengarkan teriakan pria kecil itu dari seberang telepon, dan sangat menginginkan ayahnya datang.
Sarah sampai harus memijat pangkal hidungnya, karena kelakuan Bagas yang terus menarik-narik lengannya hingga beberapa kali ponselnya menjauh dari dari tempat seharusnya.
"Iya … iya … sebentar dong, biar Ibu bicara sama Ayah dulu," seru Sarah berusaha menahan kesalnya.
"Ehm … ya boleh, Mas. Kita di mall A. Mas ke sini aja. Kita ada area bermain di lantai atasnya," sahut Sarah kepada Miko.
"Oke, aku akan langsung ke sana. Assalamualaikum," ucap Miko.
"Waalaikumsalam," sahut Sarah.
Sambungan telepon pun terputus dan Sarah memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Hore … hore … Ayah mau ke sini," seru Bagas girang.
Namun, nampak Bela yang semakin erat menggenggam tangan Sarah, karena takut akan kedatangan Miko.
Sarah pun menyadari hal itu, dan dia pun berbalik lalu kemudian berjongkok di hadapan Bela.
"Sayang, kenapa? Bela takut ya sama Ayah Bagas?" tanya Sarah.
Bela hanya mengangguk dengan wajahnya yang selalu tertunduk ke bawah.
"Bela, Ayah Bagas orang yang baik kok. Bela nggak usah takut yah," sahut Sarah.
"Iya, Kak Bela. Nggak usah takut. Ayah Bagas bukan orang jahat. Di baiiiiiiiik banget," timpal Bagas.
"Tapi, Ayah kamu udah mukul Papah ku. Aku nggak mau kalau ada dia," ucap Bela.
Hah … sebaiknya aku minta Bu Rianti untuk menjemput Bela kemari. Aku nggak mungkin paksa dia buat deket juga sama Miko kan, batin Sarah.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏