
“Ayaaaaaahhhh! Ibuuuuuuu …,” pekik Bagas di pagi yang begitu cerah.
“Ayaaaahhhh ... Ibuuuuuuu ...,” panggil Bagas dari arah luar, sambil menggedor-gedor pintu kamar pengantin kedua orang tuanya.
Di dalam, nampak Sarah menggeliat dengan masih memejamkan matanya. Tidurnya terganggu karena sang putra terus memanggil-manggil dengan keras.
“Ehm ... Udah jam berapa sih?” gumam Sarah sambil meraba tempat di sampingnya, bermaksud mencari ponsel.
Matanya yang sedari tadi terasa berat, seketika terbuka karena merasakan keberadaan seseorang di sampingnya.
“Aaaaaaaa....!” pekik Sarah yang segera beringsut bangun dan duduk menepi.
Terlihat, Miko yang juga terbangun karena kaget, dengan teriakan wanita yang tidur di sampingnya.
“Ehm... Ada apa, Sar? Kenapa teriak-teriak?” tanya Miko sambil mengucek mata karena terasa berat.
“Kenapa kamu di sini, Mas?” tanya Sarah balik.
Miko bingung dengan reaksi Sarah yang menurutnya aneh. Wanita itu terlihat tengah menutupi tubuhnya hingga ke bagian dada dengan selimut. Padahal saat ini, Sarah masih memakai piyama tidurnya.
“Kenapa tanya gitu? Aku kan suami kamu,” jawab Miko sembari menguap.
Sarah pun seketika diam. Dia kembali mengingat kejadian semalam dimana acara resepsi mereka berlangsung hingga larut malam. Karena kelelahan, keduanya pun segera tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelah mengingatnya, barulah dia sadar jika kini dirinya sudah sah menjadi istri, dari pria yang saat ini duduk di atas ranjang yang sama dengannya.
Wanita itu pun tersipu, dan semakin menaikkan selimutnya untuk menutupi wajahnya.
“Maaf, aku lupa,” gumam Sarah.
Miko menyeringai. Dia pun mendekat dan menarik paksa selimut Sarah. Wanita itu terkejut karena jarak wajahnya dan sang suami begitu dekat, hingga hembusan nafas hangat pun begitu terasa di kulitnya.
“Kenapa bisa sampai lupa, hah? Apa karena kita melewatkan malam pengantin, jadi kamu marah dan tak menganggapku suami?” goda Miko.
Pipi Sarah pun seketika menjadi semerah tomat, dan memalingkan wajannya seakan tak sanggup berhadapan dengan pria itu.
“Jangan deket-deket. Kamu bau,” keluh Sarah mencari alasan agar bisa lepas dari Miko.
“Orang baru bangun tidur ya pasti bau lah. Tapi, aku suka bau mu ini. So sexy,” bisik Miko, sembari mengendus leher jenjang Sarah.
Wanita itu meremang, merasakan hembusan nafas Miko di sekitar area sensitif nya.
Tangannya menggenggam selimut dengan erat, menahan gelenyar yang timbul di sekujur tububnya.
Miko menuntun wajah Sarah agar menghadap ke arahnya dengan jari telunjuknya, dan mengunci tatapan mata sang istri. Dia memiringkan wajahnya dan semakin mendekat, hingga kedua hidung mereka pun saling bersinggungan.
Sarah seketika menutup mata, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup begitu kencang, karena memikirkan hal yang akan terjadi.
“Ayaaaaahhhh... Ibuuuuuu... Buka pintunya!” teriak Bagas lagi.
Sarah segera mendorong Miko menjauh, hingga pria itu terjungkal ke belakang.
“Iya, Nak. Ibu datang,” pekik Sarah yang segera beranjak dari atas ranjang, meninggalkan Miko yang masih terlentang di atas tempat tidur.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, karena paginya yang hampir indah terganggu oleh teriakan suara mungil dari sang putra.
“Hah... Gagal deh morning kiss nya,” gerutu Miko.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Hari-hari pengantin baru Miko dan Sarah, selalu diramaikan dengan Bagas yang tak henti-hentinya menempel pada Miko.
Anak kecil itu seolah ingin mengambil waktu Miko sebanyak mungkin, untuk mengganti kebersamaan mereka yang telah hilang hampir enam tahun lamanya.
Miko sampai merasa frustasi, karena tak bisa bermesraan dan menikmati waktu sebagai pengantin baru berdua dengan Sarah. Bahkan untuk urusan tidur pun, selalu ada Bagas di tengah-tengah mereka.
Sedangkan Sarah, wanita itu hanya bisa menertawakan setiap keluhan yang keluar dari mulut Miko.
“Maklumin aja, Mas. Bagas kan belum terlalu lama bisa sama kamu. Jadi, wajar kan kalau dia lebih ingin dekat-dekat kamu dan minta ditemani main sama kamu, seperti yang dia irikan dari teman-temannya dulu,” seru Sarah saat malam hari, ketika Bagas telah tertidur lelap di tengah mereka.
“Tapi kan, aku juga butuh deket-deket sama kamu. Masa pengantin baru merana nggak ngerasain malam pengantin sih,” keluh Miko.
Sarah terkekeh pelan, lalu kemudian mengul*m senyumnya melihat wajah frustasi Miko.
“Ya mau gimana lagi dong. Tahan dulu yah,” ucap Sarah sambil menahan tawanya.
Miko dan Sarah pun akhirnya tidur, dengan Bagas yang memisahkan keduanya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Sebulan kemudian, Miko pulang kerja sambil bersenandung ria, berjalan menghampiri Sarah yang tengah memasak di dapur.
“Muaaaah!” kecup Miko tiba-tiba di pipi istrinya.
Sarah pun seketika menoleh karena terkejut dengan apa yang baru saja dia dapatkan. Wanita itu nampak menoleh ke kanan dan kiri, melihat kalau-kalau ada seseorang di sana.
“Mas, kalau ada yang lihat gimana?” gerutu Sarah sambil memukul Miko dengan spatula.
“Hehehe... Nggak ada orang kok. Tenang aja,” sahut Miko sambil kembali mendekatkan wajahnya ke arah Sarah.
“Muaaaah! Dah jadi satu-satu. Kanan satu, kiri satu,” ucap Miko tak merasa malu sama sekali.
“Oke. Dadah istriku,” sahut Miko sambil melakukan kiss bye dan berlalu menuju ke kamarnya.
Sarah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Miko yang menurutnya aneh.
“Kenapa sih dia? Nggak biasanya girang begitu,” gumam Sarah.
Dia pun melanjutkan acara memasak makan malam, untuk bersantap bersama dengan kedua orang tuanya, suami dan juga sang putra.
Selepas makan malam, Bagas diajak Pak Riswan untuk pergi melihat para pekerja yang tengah memasang lampu di sekitar kebun, untuk mengganti sebagian lampu jalan yang mati.
Bu Riswan memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan Miko duduk di teras belakang sambil memandang kolam ikan.
Sarah datang menghampiri sang suami, dan duduk di bangku satunya.
“Deketan dikit napa. Kayak orang lagi berantem aja,” sindir Miko yang melihat jarak mereka berdua yang sangat jauh.
Sarah pun terkekeh dan berpindah tempat duduknya ke samping Miko.
“Udah kan?” tanya Sarah.
Miko merangkul pundak Sarah, dan membuat jarak keduanya begitu rapat.
Sarah menyandarkan kepalanya di pundak Miko, sambil menikmati pemandangan malam di tempat itu.
“Sar, aku ada sesuatu yang mau ku omongin sama kamu,” ucap Miko.
“Apa itu, Mas?” tanya Sarah tanpa menoleh, dan menautkan jemarinya ke jemari Miko.
__ADS_1
“Kita honeymoon yuk,” ajak Miko.
“Ehm... Honeymoon? Ke mana?” tanya Sarah.
“Ehm... Gimana kalo Jogja?” ujar Miko.
Sarah nampak berpikir.
“Boleh juga sih. Tapi, kalo bolak balik, emang kamu nggak capek?” tanya Sarah mendongak.
“Aku kebetulan ada cuti satu minggu bulan depan. Jadi, aku mau ngajakin kamu buat pergi ke sana,” tutur Miko.
“Bulan depan berarti seminggu lagi?” tanya Sarah.
“Iya. Semingguan lagi,”sahut Miko.
“Oke. Nanti aku siapin perlengkapan buat kamu dan Bagas juga,” ucap Sarah.
"Eh ... Bagas jangan ikut yah. Ini kan acara kita berdua. Yaaaaaahhh...,” pinta Miko.
“Kenapa? Dia pasti suka benget jalan-jalan ke sana,” ujar Sarah.
“Kalo ada Bagas, yang ada kita nggak bisa honeymoon dong. Berdua aja. Nanti aku minta Papak dan Ibu ku buat jemput Bagas nginep di sana. Yah... Yah...,” bujuk Miko.
“Ehm... Gimana yah? Kan kasihan ...,” seru Sarah.
Namun, perkataanya terhenti karena mulutnya terbungkam oleh bibir Miko yang tiba-tiba mendarat di sana.
Perlahan, p*gutan pria itu mulai membasahi bibir Sarah, menuntun agar istrinya membalas ciumannya.
Dengan malu-malu, Sarah pun membuka mulutnya, dan mempersilakan lidah Miko untuk masuk dan mengabsen setiap butir gigi putihnya yang berjejer rapi.
Lidah Miko mengajak Sarah untuk membelit dan menari di dalam sana. Terasa gelenyar di sekujur tubuh Sarah dan berakhir di pangkal pahanya.
“Ehmmm...,”
Erangan mulai keluar dari bibir wanita itu, dan membuat Miko semakin terangsang. Namun, dia segera mengurai belitan lidahnya dan menjauh.
Dia menatap wajah Sarah yang telah sayu, dengan mata yang sudah di penuhi kabut. Miko mengusap bibir bawah sang istri yang basah karena ulahnya.
“Kamu menikmatinya kan? Aku pun begitu, dan ingin lebih lagi. Apa kamu nggak mau?” tanya Miko dengan suara serak menahan h*sratnya.
Sarah tersenyum begitu manis, dan mengangguk pelan. Dia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Miko dan menggenggam erat tangan suaminya itu.
“Hah... Dia udah bangun lho, Sar. Apa aku minta Bapakku buat jemput Bagas sekarang aja yah?” ujar Miko.
Sarah seketika mencubit perut Miko, namun pria itu justru terkekeh karena melihat rona merah di pipi sang istri yang tersipu malu.
.
.
.
.
Pemanasan dulu ya, sambil makan batagor mau?😁
Tenang, udah nggak ada konflik, tinggal seneng-senengnya aja, jadi nikmati extra partnya ya guys😊
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏