
Flash back
Di Pasaraya, saat Sarah terjatuh,
Lidia masih acuh. Namun, dia sempat melirik sekilas dan betapa terkejutnya ia saat melihat darah mengalir di sela-sela kaki Sarah.
"To … long … aku …," rintih Sarah di tengah kesakitannya.
Mata Lidia membola melihat pendarahan yang terjadi kepada madunya. Dia pun seketika membuang egonya dan menghampiri wanita malang itu.
"Sarah, kamu … kamu kenapa?" tanyanya panik.
Sarah terus saja memegangi perutnya dan merintih. Lidia kalut. Dia tak tau harus berbuat apa. Wanita itu melihat ke sekeliling, banyak orang berkerumun di sana. Namun, tak satu pun yang mau menolong Sarah.
"TOLOOOOONG! CEPAT PANGGILKAN AMBULAN! TOLOOOONG!" teriak Lidia ke semua orang.
Banyak yang mengeluarkan ponsel, akan tetapi bukan untuk membantu mencari pertolongan, melainkan hanya sekedar mengambil gambar atau vidio untuk dijadikan konten media sosial mereka. Sungguh miris fenomena di masyarakat sekarang ini.
"Sar, kamu bisa berdiri nggak? Aku bantu kamu ke depan cari mobil," ucap Lidia.
Kedua wanita itu saling pun membantu untuk bangun. Namun kondisi Sarah, tak memungkinkannya untuk bisa berdiri.
"SIAPA SAJA TOLOOOONG! PANGGILKAN TAKSI DI DEPAN ATAU APA! CEPAAAAT!" pekik Lidia lagi.
Entah siapa yang terketuk hatinya melihat wanita hamil yang tengah kesakitan, dia memanggilkan seorang supir taksi dan membantu mengangkat Sarah hingga masuk ke dalam mobil.
Lidia turut bersama Sarah. Dia bahkan rela meminjamkan pahanya untuk dijadikan bantalan madunya yang terlihat begitu kesakitan.
Peluh mengucur dari kening Sarah. Darah terus merembes dari sela kakinya, dan rintihan terus keluar dari mulut wanita malang itu.
"Kamu yang kuat, Sar. Kita akan bawa kamu ke rumah sakit," ucap Lidia yang berusaha menenangkan Sarah.
Tangannya ia berikan kepada Sarah sebagai pegangan, dan ia biarkan sakit karena rem*san wanita yang tengah mengalami kontraksi itu
"Sa … kit …," rintih Sarah.
"Iya, Sar. Kamu yang sabar ya. Kita bentar lagi sampe … Pak, agak cepetan yah!" ucap Lidia kepada Sarah dan memberikan perintah kepada Pak supir.
"Sepuluh menitan lagi sampai, Mbak. Ini sudah paling ngebut!" sahut pak supir yang ikut panik melihat kondisi Sarah.
"Bapak ada lampu rotator nggak sih? Kalau ada, mending dipasang deh, Pak," seru Lidia.
"Duh … jangan, Mbak. Nanti saya bisa kena tilang. Ini bentar lagi juga sampe kok," ujar si supir taksi.
__ADS_1
"Hah … tapi nanti pas sampe, Bapak langsung keluar cari bantuan ya, Pak. Saya nggak bisa ke mana-mana soalnya, lagi megangin ini," ucap Lidia yang menunjukkan tangannya yang di cengkeram kuat oleh Sarah.
"Baik, Mbak," sahut Pak supir.
Tak berselang lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Lidia meminta Pak supir untuk langsung menuju ke depan pintu UGD.
"Cepat, Pak! Kelaur cari bantuan!" perintah Lidia saat mobil yang mereka tumpangi telah berhenti.
"Baik, Mbak! Tunggu sebentar," sahut Pak supir yang terlihat akan turun.
Supir itu pun keluar dan terlihat masuk ke dalam area UGD. Tak berselang lama, dia kembali bersama dengan dua orang perawat laki-laki yang mendorong sebuah brangkar pasien.
Mereka pun kemudian mengevakuasi Sarah dari dalam mobil, dan memindahkannya ke atas brangkar. Kedua perawat pria itu pun segera berlari mendorong brangkar tersebut menuju ke ruang tindakan.
Lidia pun turut ikut menemani Sarah yang di bawa masuk.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sedangkan di tempat lain, Dokter Fadil tengah berdiskusi dengan seorang petugas kepolisian di dalam ruangannya.
"Bagaimana dengan kasus ini, Man? Apa belum ada petunjuk siapa yang melakuakn tindakan sekejan ini?" tanya Dokter Fadil kepada petugas polisi bernama Firman.
"Belum. Biasanya kasus seperti sangat mudah di selesaikan, karena pelakunya adalah orang sekitar. Kemungkinan terbesar sekarang adalah, bukan si ibu yang membuangnya, melainkan orang lain," jawab Penyidik Firman.
"Tapi ini sudah seminggu lebih. Kasian jazad bayi malang itu. Kalau memang tak ada yang mau bertanggung jawab, sebaiknya pihak rumah sakit yang mengambil alih saja," ucap Fadil.
Kebetulan, Dokter Fadil lah yang menangani visum pada jazad bayi malang tersebut. Namun sampai sekarang, pihak kepolisian belum juga mendapatkan siapa pelaku pembuangan itu.
Fadil memang seorang dokter dan sosok ayah yang sangat menyayangi anak-anak, sekalipun itu bukan darah dagingnya sendiri. Sehingga, saat dihadapkan dengan kasus pembuangan bayi seperti ini, dia akan selalu pasang badan dan mengambil alih jazad yang telah lama tidak ada yang mau mengurusnya.
Belum sempat penyidik itu menjawab, tiba-tiba dari arah luar, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
TOK! TOK! TOK!
Fadil dan Firman pun teralihkan.
"Masuk!" seru Fadil.
Nampak seorang perawat terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah akibat berlarian, dan kemudian masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
"Maaf, Dok. Ada pasien gawat darurat. Dia seorang wanita hamil dengan usia kandungan 8 bulan lebih dua minggu. Dia mengalami pendarahan hebat, dan saat ini berada di UGD." perawat itu menjelaskan kondisi pasien selengkap mungkin kepada Dokter Fadil.
"Man, kita bicara lagi nanti. Aku ada kerjaan dulu," ucap Dokter Fadil yang bangkit dari duduk ya.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu di kantin," sahut Penyidik Firman.
Fadil nampak mengangguk sambil memakai jubah putih kebanggaannya. Dia pun keluar dan berlari menuju ke ruang UGD, disusul oleh perawat yang memanggilnya tadi.
Nampak di sana, seorang wanita yang tengah duduk sambil menunduk. Kesepuluh jemari tangannya saling tertaut, dan pakaiannnya nampak kotor oleh darah.
Fadil meliriknya sekilas, dan dia pun segera masuk ke dalam.
"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Fadil yang menghampiri pasiennya.
"Kondisinya buruk, Dok. Dia sudah terlalu banyak kehabisan darah. Dan lagi, ketubannya juga sudah banyak yang keluar," ucap salah satu perawat yang sedari tadi menangani pasien.
Fadil pun mengambil alih dan mencoba mengajak bicara pasien, untuk mencari seberapa bagus respon dari wanita itu.
Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah pucat yang tengah terbaring kesakitan di atas ranjang pasien.
"Sarah," gumam Fadil.
Dia diam sejenak. Namun, sedetik kemudian, dia kembali terasadar dari keterkejutannya dan segera memberikan perintah lanjutan kepada semua perawat.
"Siapkan operasi! Kita akan keluarkan bayinya sekarang juga," perintah Dokter Fadil.
"Tapi, wali pasien belum datang. Bagaimana kalau kita dituduh melakukan tindakan ilegal tanpa sepersetujuan wali dari pasien?" tanya salah seorang perawat.
Fadil kemudian diam sejenak. Bayangan akan kematian sang istri yang meregang nyawa saat melahirkan putri kecilnya pun kembali berkelebat di ingatannya.
"Kalian siapkan saja operasinya. Aku akan usahakan persetujuan dari walinya," Fadil pun keluar dan nampak berlari menuju ke ruangannya.
Setibanya di sana, dia segera meraih ponsel yang ada di dalam laci mejanya. Dokter itu nampak menghubungi seseorang, dan pada deringan pertama, sambungan terhubung.
"Halo …,"
.
.
.
.
Telponan sama siapa, pak dokter?
Fadil : yang jelas bukan sama othor😏
__ADS_1
Haishhh!
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏