Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Butuh waktu sendiri


__ADS_3

Fadil yang melihat Sarah menangis pun, kemudian memapahnya untuk masuk ke dalam mobil yang ia parkirkan tak jauh dari tempat itu.


Untung saja aku segera menepikan mobil saat melihatnya berjalan tadi. Firasatku dia sedang ada masalah lagi. Hah … kenapa hidupmu semenyedihkan ini sih, Sar, batin Fadil.


Sarah duduk dengan terus terisak. Sekotak tisu berada di pangkuannya, dan satu demi satu tercabut untuk mengusap lelehan yang kelaur dari hidung dan matanya.


"Aku sudah putuskan untuk pergi, Mas. Aku lelah selalu saja dianggap jahat dan hina oleh semua orang. Aku nggak mau anakku ikut-ikutan kena imbasnya. Aku nggak terima jika anaku nanti disebut sebagai anak pelakor. Aku nggak rela, Mas." Sarah terus saja berbicara di sela-sela tangisnya.


Hak itu membuat Fadil kebingungan untuk menenangkan wanita hamil itu. Dia pun memilih untuk diam dan membawanya ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya.


Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam, tiba lah mereka di sebuah pantai yang cukup sepi. Hanya ada beberapa perahu nelayan yang terlihat tengah diikat di pantai, dan beberapa lainnya tengah melaut tengah samudra.


Sarah melangkah di sepanjang tepi pantai, membiarkan air laut menyapa kakinya. Fadil terus mengikuti Sarah yang berada tak jauh di depannya.


Pantai itu memiliki dua sisi, di mana terdapat pasir putih di tepian, dan batu karang yang sedikit lebih menjorok ke arah daratan.


Wanita itu kemudian sampai di salah satu batu karang yang tak terlalu tinggi, dan ia pun duduk di atasnya. Rambutnya berkeriap tertiup angin laut.


Fadil memilih duduk di batu terpisah, yang berada tak begitu jauh dari wanita hamil itu, dan terus memperhatikan Sarah dari tempatnya berada.


"Kasihan kamu, Sar. Di saat yang harusnya menjadi saat paling bahagia dihidupmu, saat kau tengah menunggu kelahiran anak pertamamu, kamu justru harus mengalami hal seperti ini. Ditambah, kelahiran anakmu menjadi pertanda perpisahanmu dengan suamimu itu," gumam Fadil dari kejauhan, yang seketika tersapu deburan ombak hingga tak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.


Sarah nampak terus memandang ke arah laut lepas, dan membiarkan rambutnya berantakan dimainkan oleh angin, dan hampir seluruh wajahnya tertutupi surai hitamnya.


Angin saat itu cukup kencang, Fadil pun merasa khawatir jika Sarah sampai sakit. Dia pun lalu menghampiri wanita itu, dan mengajaknya untuk pulang.


"Sar, sebaiknya kita pulang. Di sini sudah semakin dingin," ujar Fadil.


"Aku masih mau di sini sebentar lagi, Mas." Sarah masih terus asik memandang ke arah laut lepas, dan menyahut tanpa menoleh.


Fadil pun tak lagi mengganggu wanita itu. Dia kemudian melepas jaket jeans-nya dan memakaikannya pada tubuh Sarah.


"Pakailah biar kamu tak sampai terkena flu," pesan Dokter Fadil.


Sarah menoleh, dan hanya tersenyum tipis, tak ada kata sama sekali. dia kembali menoleh ke arah laut dan memandang jauh ke cakrawala.

__ADS_1


Hari semakin sore, dan Sarah masih betah berlama-lama di tempat itu. Akhirnya, Fadil pun membujuk wanita itu dengan mengajaknya untuk sholat di masjid terdekat.


"Sar, sudah hampir petang. Waktu ashar hampir habis. Yuk kita sholat dulu," ajak Fadil.


Sarah pun menoleh, dan ia pun tersenyum tipis ke arah dokter itu. Ia pun lalu turun dari batu yang didudukinya, dan kembali berjalan mendahului pria yang sedari tadi menemaninya dengan sabar.


Fadil pun kembali melajukan mobilnya menuju ke masjid terdekat, untuk menunaikan sholat ashar yang hampir kehabisan waktu.


Seusai menunaikan kewajibannya, Fadil mengajak Sarah untuk pulang ke rumah.


"Kamu sebaiknya pulang, Sar. Aku nggak mau kalau suamimu melihat kita dan dia salah paham," ucap Fadil.


Sarah hanya tersenyum. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dan Fadil hendak melajukanya menuju ke rumah kontrakan Sarah.


"Malam ini, aku mau pulang ke rumah orang tuaku, Mas. Bisa tolong antarkan aku ke sana?" tanya Sarah.


"Apa kamu sudah ijin sama suamimu?" tanya Fadil balik.


"Aku akan chat dia sekarang," sahut Sarah yang kemudian mengambil poselnya dari dalam tas.


Dia nampak mengetikkan sebuah pesan di layar pipih itu.


Fadil belum berani melajukan mobilnya menuju ke tempat yang Sarah inginkan, sebelum ia melihat sendiri jika suami wanita itu mengijinkannya.


Tak berselang lama, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarah. Wanita itu terlihat menghela nafas, dan ia pun segera menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Halo, Assalamuaikum …," sapa Sarah.


"Waalaikumsalam. Kamu di mana, Sar?" tanya orang di seberang yang sudah pasti adalah Miko.


"Aku sedang menuju ke rumah Bapak dan Ibu. Tolong ijinkan aku, Mas. Aku butuh waktu untuk sendiri," jawab Sarah.


"Tapi, kita harus bicara masalah kemarin malam, Sar. Aku nggak mau ini semua berlarut-larut," ucap Miko.


"Aku pun tak mau semua ini semakin berlarut-larut, Mas. Oleh karena itu, ijinkan aku sendiri dulu. Aku mohon," pinta Sarah dengan lelehan bening yang kembali menetes, dan disekanya dengan kasar.

__ADS_1


"Hah … apa tidak bisa kita tak melibatkan orang tua, Sar?" terdengar suara Miko yang seperti kecewa dengan sikap Sarah.


"Aku tidak membawa-bawa orang tua dalam masalah ini, Mas. Tapi aku putri mereka, dan mereka berhak tau semua yang terjadi padaku, termasuk keputusanku semalam," ucap Sarah tegas.


"Kamu di mana sekarang? Biar aku susul kamu dan kita pulang bersama yah," pinta Miko yang tak mau jika Sarah sampai mengadu kepada orang tuanya.


"Mas!" pekik Mira yang sontak membuat Fadil dan juga Miko tersentak kaget, hingga keduanya pun diam.


Sarah menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya sekaligus.


"Mas, tolong kamu ngertiin aku. Aku butuh ruang untuk bernafas. Rasanya sangat sesak di rumah itu untuk sekarang ini. Aku mohon kamu ngerti," pinta Sarah dengan mengiba.


Miko pun tak bersuara kembali. Hanya ada dengusan kasar yang terdengar dari speaker ponsel wanita hamil itu.


Lama mereka diam dalam keheningan, begitu pun Fadil yang sedari tadi tak berani bersuara sedikit pun, demi menjaga perasaan Sarah, terlebih agar sang suami tak menduga yang tidak-tidak perihal sang istri.


"Baiklah, aku ijinkan kamu menginap di rumah orang tuamu. Tapi besok sepulang kerja, aku akan jemput kamu di sana," ucap Miko yang akhirnya mengijinkan Sarah pergi.


"Terimakasih, Mas. Assalamualaikum," ucap Sarah yang tak ingin berlama-lama melakukan sambungan telepon dengan suaminya itu.


"Waalaikumsalam,"


Setelah mendengar sahutan dari seberang, Sarah pun segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Dia sudah mengijinkan, Mas. Bisa antar aku sekarang?" tanya Sarah.


"Baiklah. Beritahukan aku alamatnya," sahut Fadil.


Sarah pun kemudian memberitahukan alamat rumah orang tuanya, dan mereka pun melaju ke sana.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2