Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Masa lalu yang menyapa


__ADS_3

"Ada yang mau ku bicarakan soal Lidia," ucap Miko.


Sarah mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu, saat mendengar permintaan Miko.


"Memangnya ada apa, Mas?" tanya Sarah.


"Duduklah," pinta Miko.


Sarah pun duduk di kursi yang ada di seberang pria itu. Ia meletakkan nampan di atas meja, dan kedua tangannya memegangi sisi benda lonjong itu.


"Ada apa dengan Mbak Lidia? Apa kalian bertengkar karena kehadiran Bagas?" tanya Sarah khawatir.


"Bukan … bjkan begitu. Sebenarnya, aku dan Lidia sudah berpisah sejak lama," ungkap Miko.


Sarah terperanjat mendengar hal itu.


"Berpisah? Tapi kenapa, Mas?" tanya Sarah.


"Aku … aku sudah tak bisa lagi pura-pura baik-baik saja bersama dia. Perasaanku dengannya, sudah hilang sejak dia mengabaikan ku sebagai suaminya dulu," tutur Miko.


"Tapi, bukankah Mbak Lidia sangat mencintaimu, Mas? Dia bahkan rela bertahan meski mengetahuinm jika kamu sudah menikah lagi. Lalu, kenapa kamu nggak mau kasih dia kesempatan? Egois kamu kalau seperti itu," cecar Sarah.


"Yah, aku aui kalau aku memang egois. Aku nggak punya hati, itu benar. Tapi, asal kamu tahu, Sar. Aku sudah mencoba memberinya kesempatan lain setelah kamu pergi ninggalin aku," tepis Miko.


"Terus, kenapa kalian berpisah juga pada akhirnya? Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" tanya Sarah.


"Dia lagi-lagi membuatku kecewa, Sar. Dia sudah menyembunyikan semua surat gugatan cerai dari mu, hingga aku sama sekali tak tahu jika gugatan itu ada. Aku kecewa dengan sikapnya yang juga egois itu," tutur Miko.


Sarah menggeleng pelan. Dia memegangi keningnya karena tak habis pikir dengan penuturan pria itu.


"Mas, apa kamu nggak tau kalau itu bentuk pertahanan Mbak Lidia, agar rumah tangga kalian bisa kembali seperti semula, tanpa ada aku di tengah-tengah kalian? Kenapa kamu nggak mau berpikir dari sudut pandang dia sih? Kamu tuh bener-bener egois tahu nggak!" hardik Sarah.


"Aku sudah bilang, Sar. Perasaan ku sama dia sudah hilang sejak dia mengabaikanku," ucap Miko.


"Tapi, dia itu istrimu, Mas," tukas Sarah.


"Tapi perasaanku sekarang cuma buat kamu dan Bagas, dan sekarang dia adalah mantanku, Sar," elak Miko.


"Aku ini juga mantan mu. Perasaan mu saat ini mungkin cuma untuk Bagas, tapi kamu salah artikan bahwa itu sama kepada ku juga," tepis Sarah.


Miko mencondongkan tubuhnya ke depan, hendak meraih tangan Sarah. Namun, wanita itu buru-buru menarik tangannya menjauh dari meja.


"Kita bisa coba mulai lagi dari awal, Sar. Demi Bagas. Bukankah dia mau punya orang tau yang lengkap? Selalu bisa sama-sama dengan Ayah dan juga Ibunya," pinta Miko.


"Jangan kamu bawa-bawa Bagas hanya untuk alasanmu mendekatiku lagi, Mas. Urusanmu cukup dengan Bagas saja. Jangan meminta lebih kepadaku," pungkas Sarah tegas.


Wanita itu kemudian bangkit berdiri dan pergi ke dalam, meninggalkan Miko sendirian di sana.

__ADS_1


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Tiga hari kemudian, Sarah dan minati tengah menghadiri work shop dengan sebuah lembaga perekonomian daerah, di mana bertempat di sebuab aula hotel bintang lima di kota Surabaya.


Acara selesai sekitar pukul dua siang, dan mereka berdua memutuskan untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari tempat pertemuan itu.


"Pengisi acaranya tadi dari PT Semesta Persada kan. Humasnya lugas banget yah," puji Minati.


"Yah, dia kan memang sudah terkenal ke mana-mana. Sering ngisi acara seperti itu juga," sahut Sarah.


Wanita itu nampak tengah mencatat sesuatu di buku agendanya. Kini, kedua perempuan itu tengah berada di sebuah restoran cepat saji yang terletak di dalam pusat perbelanjaan itu.


"Mau pesen apa, Sar?" tanya Minati.


"Ehm … aku mau wafle dengan es krim vanila aja terus sama minumnya mango smoothy aja yah," jawab Sarah.


"Nggak mau makan?" tanya Minati.


"Nggak. Nanti aja di rumah," sahut Sarah.


Minati pun pergi menuju ke tempat pemesanan meninggalkan Sarah sendiri di mejanya. Dia masih terlihat sibuk dengan urusanya dan tak memperhatikan sekitar.


Tak berselang lama, Minati kembali lagi dan duduk berseberangan dengan Sarah.


"Udah pesen?" tanya Sarah.


"Hah … selesai," gumam Sarah.


"Nyatet apaan sih? Serius banget dari tadi," ujar Minati.


"Cuma rangkuman work shop tadi. Aku ambil poin-poin penting yang sekiranya bisa ku pakai untuk meningkatkan costumer servise di kantor kita. Jadi, para pelanggan pun nggak akan pergi ke tempat lain yang punya produk serupa," jelas Sarah.


"Oh … oke deh," sahut Minati singkat.


"Ehm … aku ke toilet dulu yah. Titip tas bentar," pamit Sarah.


"Oke," sahut Minati.


Sarah pun bangkit berdiri dan meninggalkan rekannya di tempat yang sama. Dia berjalan ke luar dari area restoran cepat saji itu, dan menuju ke toliet. Namun, saat dirinya baru saja akan mencapai pintu, pandangannya menangkap sosok yang tidak ingin ia lihat lagi.


Wanita itu pun kembali berbalik dan hendak berjalan menjauh dari tempatnya berada saat itu. Namun sayangnya, orang yang ia hidari itu, justru lebih dulu memanggil namanya, dan membuat Sarah tak bisa lagi lari darinya.


"Sarah," panggil orang itu.


Sarah membeku. Ingin rasanya dia lari dan bersembunyi ke lubang terkecil, agar orang itu tak melihat keberadaannya. Tapi apalah daya, langkahnya justru terhenti dan seolah tak mampu lagi bergerak.


"Sarah," panggilnya lagi dan kali ini, dia sudah berada di depan Sarah dan menepuk pundak wanita itu.

__ADS_1


"Oh … ehm … Mbak Lidia," sapa Sarah.


Yah, orang yang sangat ia harapkan tidak pernah bertemu lagi, adalah istri pertama Miko, Lidia. Wanita yang sudah ia sakiti hatinya, dan sudah ia hancurkan rumah tangganya.


Rasa bersalah Sarah membuat wanita itu tak ingin lagi berhadapan dengan Lidia. Meski pun dulu saat masih berstatus sebagai istri kedua Miko, Sarah sangat ingin untuk dekat, setidaknya sekedar meminta maaf kepada Lidia.


Namun, semenjak perpisahannya dengan Miko, Sarah sudah tak mau lagi berhubungan dengan siapa saja, yang berkaitan dengan masa kelamnya itu.


"Sarah, kamu apa kabar?" sapa Lidia yang terlihat begitu ramah.


"A … aku baik, Mbak. Mbak apa kabar?" tanya Sarah kikuk.


"Oh … aku sedang jalan-jalan. Kebetulan tadi ada work shop di dekat sini, dan aku ikut di dalamnya. Karena sudah selesai, jadi aku mampir ke sini buat jalan-jalan," jawab Lidia.


"Siapa, Lid?" tanya seseorang yang berada di belakang Sarah, dan terdengar seperti seorang pria.


"Oh iya, kenalkan ini Sarah, mantan istri Miko … Dan Sarah, ini Pak Jefri, dia ketua perserikatan pengusaha muda daerah, sekaligus calon suami ku," ucap Lidia memperkenalkan Sarah pada orang itu.


"Hai," sapa Sarah kaku.


"Hai," sahut Jefri dingin.


"Mas, kamu cari kursi dulu aja. Aku masih mau ngobrol sama Sarah dulu," seru Lidia.


"Oke. Jangan lama-lama ya," sahut Jefri.


"Ayo, Sar. Kita duduk di sana," ajak Lidia.


Wanita itu menarik tangan Sarah dan membawanya ke sebuah kursi yang ada di depan restoran.


Minati yang sedari tadi duduk menghadap ke pintu masuk pun, melihat semua kejadian itu, hanya saja, dia tak mendengar jelas perkataan mereka.


"Ehm … Mbak mau nikah?" tanya Sarah.


Lidia menoleh dan meraih tangan wanita yang berada di sampingnya itu.


"Sar, ada yang mau aku omongin sama kamu. Tolong dengarkan aku yah," ucap Lidia.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2