Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Antara nyaman dan risih


__ADS_3

Minggu pagi, Sarah dan Bagas telah bersiap-siap pergi. Mereka berencana untuk jalan-jalan ke sebuah kebun binatang dan taman bermain bersama dengan Miko. Tentu saja, semua atas permintaan putra mereka, Bagas.


Berbagai alasan sudah coba Sarah berikan agar dirinya tak perlua ikut. Namun, Bagas pun tak henti-hentinya merengek, hingga Sarah merasa kesal sendiri dengan ulah manja putranya, yang akhirnya membuat janda itu mengiyakan permintaan Bagas.


Dari luar, terdengar bunyi klakson mobil. Bagas segera berlari dan membuka pintu. Dia sangat senang melihat mobil ayahnya sudah terparkir di depan pagar.


"Ayah!" panggil Bagas.


Dia terus berlari menghampiri Miko. Pria yang baru saja keluar dari mobil itu, segera merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan sang putra.


Bagas melompat dan ditangkap oleh Miko. Mereka pun saling berpelukan dan berputar. Tawa riang Bagas terdengar hingga ke dalam rumah, dan membuat Sarah pun keluar untuk melihatnya.


Senyum mengembang di bibirnya. Ada rasa hangat ketika melihat putranya begitu bahagia, meski dengan orang yang sudah menorehkan luka yang amat dalam di hatinya.


Apa aku memang harus menerima dia lagi demi Bagas? Anak itu sangat bahagia saat bersama ayahnya, batin Sarah.


"Ibu, Ayo!" teriak Bagas yang membuyarkan lamunan Sarah.


"Oh … iya, sebentar. Ibu ambil bekal kita dulu," sahut Sarah.


Wanita itu pun terlihat masuk kembali ke dalam rumah. Bagas dan Miko pun saling bergandengan tangan berjalan ke arah teras.


Sesampainya di sana, sarah terlihat membawa beberapa barang yang cukup berat dari dalam.


"Kamu bawa apa saja sih?" tanya Miko.


"Aku bawa bekal makan siang sama keperluan Bagas," jawab Sarah.


"Biar aku bawakan ke mobil," seru Miko sambil meraih tas yang dibawa oleh Sarah.


Sarah tak bisa menolak, karena Miko sudah langsung menyambarnya dan berjalan pergi sebelum dia sempat menyela.


Wanita itu pun akhirnya membiarkan dan mengandeng tangan Bagas untuk berjalan ke arah mobil Miko.


"Ayo masuk," seru Miko sambil membukakan pintu penumpang depan yang dimaksudkan untuk ibu dari anaknya, Sarah.


"Bagas, ayo masuk, Nak," seru Sarah kepada putranya.


Bagas pun masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi. Miko hanya mampu tersenyum getir melihat penolakan yang Sarah lakukan kali ini.


"Kalian berangkat saja dulu. Nanti aku nyusul pake mobil sendiri," ucap Sarah.


Miko sudah menutup rapat pintu itu, dan berdiri menghadap ke arah mantan istrinya.


"Nggak bareng aja?" tanya Miko.

__ADS_1


"Nggak usah, Mas. Kita masih harus menjaga jarak. Aku nggak mau ada fitnah," ucap Sarah mempertegas dengan nada yang halus.


"Baiklah," sahut Miko.


Pria itu pun akhirnya masuk dan membiarkan Sarah untuk menyiapkan mobilnya sendiri. Dia memutuskan untuk menghormati segala sikap yang Sarah tunjukkan kepadanya.


Ingatannya kembali ke saat di mana di, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Sarah dengan Minati pada saat makan siang.


Waktu itu, Miko hendak memberikan sebuah hadiah atas keberhasilan Sarah yang mampu menyelesaikan masalah gosip itu. Namun, dia justru mendapatkan sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan. Penuturan yang sesungguhnya dari dalam hati Sarah akan dirinya dan juga Fadil.


Flash back on.


"Gimana nih kabar kamu sama si bos? Oh iya, dokter itu apa kabar juga? Cepetan pilih salah satu. Kasihan tau gantungin anak orang kayak gitu," ucap Minati


Miko yang saat itu tengah berjalan ke arah meja Sarah dengan membawa sebuah kotak hadiah berwarna biru, dan berhias pita dengan gliter gold, mendengar sayup-sayup percakapan kedua wanita di ujung sana.


Pria itu tersenyum saat mengetahui jika keduanya tengah membicarakan dirinya. Dia bersembunyi di salah satu bilik tempat kerja karyawan humas, yang dekat dengan meja Sarah.


Dia memegang erat kado spesial itu, dengan hati berdegup kencang. Perasaannya campur aduk antara sedih dan juga senang.


Sedih karena mengingat kembali apa yang telah terjadi dulu, dan senang saat mengetahui jika Sarah sempat berfikir untuk kembali rujuk, walaupun dengan alasan demi kebahagiaan putranya.


Namun, Miko berpikir itu adalah awal yang bagus. Setidaknya Sarah punya niatan ke arah sana meski pun terpaksa.


"Lalu, bagaimana perasaanmu dengan dokter itu?" tanya Minati.


Sarah nampak diam. Dia menghela napas berat sebelum akhirnya meneguk air minumnya. Ia meneguk cukup banyak air untuk membasahi tenggorokannya yang seolah tiba-tiba mengering.


Wanita itu meletakkan kembali botol air minumnya dan melipat kedua lengannya di atas meja.


Minati terus memperhatikan gerakan demi gerakan yang dilakukan Sarah. Dia mengamati bahasa tubuh yang coba diungkapkan oleh janda di depannya itu.


"Kamu ada rasakan sama dia?" terka Minati.


Dia seketika berkata seperti itu karena melihat kegalauan yang tersirat dari setiap apa yang ditunjukkan Sarah lewat gerak tubuhnya.


Sarah tak menjawab. Dia justru merebahkan kepalanya di atas lipatan lengan, dan memandang ke arah samping kanan di mana foto dirinya dan sang putra berada.


"Entahlah, Min. Aku sendiri juga bingung," sahut Sarah lemas.


"Kenapa bingung? Bukankah rasa itu sangat jelas ya," ucap Minati.


"Aku nggak tau, Min. Kalau kamu tanya Miko, aku bisa langsung jawab, tapi kalau soal Mas Fadil, aku sendiri nggak tau gimana perasaan ku sama dia," tutur Sarah.


"Memangnya apa yang kamu rasakan saat bersama dia? Nyaman? Muak? Risih? Malu? atau apa pastinya kamu tau dong," cecar Minati.

__ADS_1


"Ehm … antara nyaman dan risih mingkin," jawab Sarah gamang.


"Kok mungkin lagi sih? Yang jelas dong," seru Minati kesal.


"Jujur aku nyaman banget setiap kali sama dia. Dia itu perhatian dan orangnya nggak pernah maksa. Kalau aku nolak, dia pasti mau ngerti tanpa harus aku kasih dia penjelsan apapun. Tapi, justru hal itu yang membuatku risih," ungkap Sarah.


"Kok bisa?" tanya Minati lagi.


Sarah mengangkat kepala dan menegakkan duduknya.


"Ya karena aku bingung bagaimana perasaanku sama dia," sahut Sarah.


"Lah … kan tadi katanya nyaman kan. Bukannya orang kalau udah nyaman itu artinya ada rasa suka, ketertarikan gitu," ujar Minati.


"Entah suka atau sekedar rasa terimakasih saja. Yang jelas, dia itu pria baik yang sudah menolongku di masa lalu, dan orang yang sama yang sempat menggantikan sosok ayah untuk Bagas, anakku," ucap Sarah.


"Hem … jadi gitu. Tapi coba deh kamu sesekali berpikir dari satu sisi," seru Minati.


"Maksudnya?" tanya Sarah yang tak paham.


"Coba kamu hilangkan rasa hutang budimu itu, dan coba nilai dia sebagai seorang pria biasa," ucap Minati.


Sarah terdiam. Dia mencoba mencerna perkataan rekannya itu.


Tak ada lagi berbincangan di antara keduanya hingga jam makan siang usai dan para karyawan mulia kembali berdatangan.


Minati pun akhirnya harus undur diri dan kembali ke mejanya.


Di tempat lain, Miko yang telah lebih dulu pergi dari ruang kerja tim humas, kini duduk bersandar di kursi kerjanya sembari memijat pangkal hidungnya.


Apa benar kalau aku sudah tak punya kesempatan lagi untuk menebus semua luka yang dulu ku berikan padamu, Sar? batin Miko.


Tanpa terasa, bulir bening menetes dari sudut matanya yang terpejam.


Flash back off.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2