
Sebulan seusai sidang putusan, Sarah mendapatkan panggilan wawancara di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota Surabaya. Sarah mendaftar untuk bagian custumer service, sesuai dengan keahliannya di bidang public reltionship.
"Bu, mungkin Sarah pulang larut. Titip bagas dulu yah," pamit sarah.
"Nggak mau diantar saja, Nduk? Surabaya itu jauh lho," seru sang ibu.
"Nggak papa, Bu. Aku bisa naik kereta dari semarang ke sana. Nanti dari stasiun bisa pake ojeg atau taksi online," ucap Sarah yang terlihat tengah bersiap-siap memasukkan berkas dan barang-barang keperluannya.
"Tapi ibu kuwatir, Nduk," ujar Bu Riswan.
"Nggak papa kok, Bu. Lagian juga, dulu Sarah kan pernah seperti ini," sahut Sarah.
Ibu muda itu nampak meraih pundak sang bunda, dan tersenyum lembut ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu di rumah, cukip doain yang terbaik untuk aku. Kalau ini memang pekerjaan yag tepat buat aku dan Bagas, semoga aku bisa diterima. Tapi kalau tidak, aku akan berbesar hati mencari yang lainnya," ujar Sarah.
"Hah … ngadepin anak dua-duanya kok ya keras kepala sekali. Persis Bapakmu kalo sudah ada kemauan, yo mesti harus kesampean," keluh sang bunda.
Sarah hanha bisa tersenyum tipis menanggapi keluhan ibunya itu.
Dia pun kemudian pamit berangkat menuju ke stasiun, dan pergi ke Surabaya.
Waktu bergulir begitu cepat, dan malam harinya, Sarah sudah sampai kembali di rumah pukul setengah sembilan malam.
Saat itu, hampir semua penghuni rumah keluarga Pak Riswan sudah telelap tidur. Namun, bayi kecil itu masih belum mau memejamkan matanya seolah tengah menunggu ibunya pulang.
"Asaalamualaikum," salam Sarah.
"Waalaiakumsaam," sahut Bu Riswan lirih.
Bu riswan yang berada di kamar Sarah bersama dengan bayi Bagas, sayup-sayup mendengar salam tersebut. Wanita tua itu pun bangkit dari posisinya, dan berjalan ke arah pintu kamar.
Tepat saat itu, Sarah muncul dari arah depan dengan terlihat begitu lelah.
"Bu," sapa Sarah sambil menyalami punggung tangan ibunya.
"Sudah makan belum kamu, Sar?" tanya sang bunda.
"Belum, Bu. Tadi buru-buru ngejar kereta terakhir, biar nggak usah nginep. Kasihan Bagas," jawab Sarah.
"Ya sudah, ibu siapkan dulu makanannya yah. Kamu bersih-bersih dulu, ganti bajumu terus itu anakmu coba disusuin sapa tau mau merem. Dari tadi ngajak main terus, sambil nungguin kamu," seru Bu Riswan.
"Ehm … Sarah masuk ke kamar dulu ya, Bu," ucap Sarah.
Bu Riswan hanya mengangguk pelan dan berlalu ke arah dapur, sedangkan Sarah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, sholat isha dan menidurkan putranya, dia kemudian keluar dan berjalan menuju meja makan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan sang bunda masih menunggunya di ruang tengah.
Sarah mengambil nasi dan lauk di piring serta segelas air putih, lalu membawanya ke depan TV di mana ibunya berada.
"Ngelih nemen yo, Sar? (Laper banget ya, Sar?)" tanya sang bunda.
"Ehm … dari sore belum makan, Bu. Hehehehe …," sahut Sarah.
Ibu muda itu pun mulai menyantap makanannya. Sarah berani makan di depan TV seperti itu haya jika sang ayah tidak melihatnya. Karena kalau tidak, dia pasti sudah ditegur dan dibilang tidak sopan.
Sarah duduk di atas karpet dengan sebelah lutut yang tertekuk ke atas, dan yang lainnya di bawah. Dia menyangga piring dengan sebelah tangannya dan mulai makan sambil menonton TV.
"Ganti yang lain sih, Bu," seru Sarah dengan mulut yang penuh makanan.
"Hus! Kalo makan jangan pake suara. Ora mriyayeni! (tidak seperti priyayi!)" tegur sang ibu.
"Kan nggak ada bapak ini, Bu. Hihihi …," kilah Sarah.
"Nggak ada Bapak, tapikan ada Ibu," ujar Bu Riswan sambil menjewer kecil daun telinga putriblnya itu.
Sarah justru terkekeh mendapat jeweran dari ibunya, dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, dia masih duduk di sana bersama sang bunda.
"Ehm … alhamdulilallah Sarah di terima, Bu. Minggu depan sudah bisa masjk kerja," ucap Sarah.
"Cepet sekali. Terus, gimana sama tempat tinggalmu nanti?" tanya Bu Riswan.
"Sarah tadi udah coba cari-cari di sekitar tempat kerja, Makanya pulangnya telat banget, dan alhamdulillah dapet kontrakan kecil. Tapi lumayan nyaman buat ditingali," jawab Sarah.
"Ya syukur kalo begitu," sahut Bu Riswan.
Ada rasa sedih di hati wanita tua itu, saat memikirkan akan berpisah lagi dengan putrinya, beserta cucu laki-lakinya yang baru saja berusia empat bulan. Namun, keinginan Sarah sepertinya sudah tak bisa lagi dicegah.
Sarah yang tau pikiran sang ibu pun, mencoba memberi pengertian kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia tersebut. Dia pun kemudian berbalik dan menatap wajah ibunya. Sarah meraih tangan wanita tua itu, lalu menggenggamnya.
"Bu, Sarah cuma pergi ke Surabaya. Kalau ibu mau, Sarah bisa kok pulang tiap bulan, atau kalo ada cuti liburan. Ibu doakan Sarah dan Bagas, supaya bisa baik-baik saja di sana yah," ucap Sarah.
Bu Riswan tak menyahut. Dia hanya tersenyum tipis sambil mengusap-usap punggung tangan Sarah yang menggenggam erat tangan tuanya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Dua hari menjelang keberangkatan Sarah ke Surabaya, Fadil datang bertandang ke rumah keluarga Pak Riswan.
__ADS_1
Kedatangannya sangat disambut baik oleh Pak Riswan juga istrinya, Bu Riswan.
"Kenapa baru main lagi ke sini? Sudah lama lho, terakhir pas Bagas aqiqoh kan kalau nggak salah," ujar Bu Riswan.
"Bu, Nak Fadil ini kan sibuk. Jadi nggak bisa sering-sering main. Ibu ini gimana toh," sahut Pak Riswan.
"Ehm … iya, Bu. Kebetulan, saya sedang dalam proses pengajuan mutasi ke Surabaya. Jadi, banyak yang harus di urus," timpal Fadil.
"Lho, kenapa jauh sekali? Apa di sini nggak kerasan lagi kerjanya?" tanya Pak Riswan.
"Bukan begitu, Pak. Hanya saja, saya ingin lebih dekat dengan putri saya. Kebetulan, dia tinggal dengan neneknya di sana sejak lahir. Jadi, saya ingin bisa menemani dia dan menggantikan posisi ibunya yang sudah tiada," jawab Fadil.
Pak Riswan pun hanya manggut-manggut. Dia nampak tak terkejut mendengar penuturan Fadil yang menjelaskan secara tak langsung bahwa dirinya adalah duda beranak satu. Karena, Pak Riswan pernah bertanya mengenai status Fadil saat mengantarkan Sarah pertama kali ke rumah waktu masih mengandung Bagas.
"Ehm … tadi, nak Fadil bilang Surabaya yah?" tanya Bu Riswna memastikan.
"Iya, Bu," sahut Fadil.
"Wah … kalau gitu …," ucap Bu Riswan.
"Bu!" sela Sarah dengan sedikit berteriak.
Wanita tua itu pun seketika menoleh dan menghentikan ucapannya.
"Ono opo to, Sar? Bengok-bengok! Ora sopan! Ono tamu iki lho (Ada apa sih, Sar? Teriak-teriak! Nggak sopan! Ada tamu ini lho)," keluh Bu Riswan
"Maaf, Bu. Itu tadi Bu Diroh bilang agernya dah mateng, buahnya mau diapain habis itu," sahut Sarah.
"Oh … yo wis Ibu mrono (Ya sudah, Ibu ke sana) … Nak Fadil, Ibu ke dapur dulu," seru Bu Riswan kepada Sarah dan juga Fadil bergantian.
"Nggih, Bu (Ya, Bu)," sahut Fadil.
Bu Riswan pun beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur.
Sarah sengaja mengalihkan pembicaraan sang ibu agar tak meminta bantuan Fadil soal kepindahannya ke Surabaya, yang sangat bertepatan dengan rencana mutasi dokter itu ke kota yang sama.
Maaf, Bu. Aku hanya nggak mau terlalu beruhutang budi pada Mas Fadil. Dia sudah banyak membatuku. Akan sangat berat untuk ku nanti jika masih saja bergantung padanya, batin Sarah.
.
.
.
.
__ADS_1
Masih flash back ya😊
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏