Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Siapa anak itu?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak pertemuan kembali antara Miko dan Sarah. Keduanya tak pernah lagi saling tegur. Jika kebetulan berpapasan pun, Sarah akan lebih dulu mengambil jalan lain agar tak sampai bertatap muka dengan atasannya.


Miko pun bisa mengerti jika sarah masih marah atas apa yang pernah ia buat dulu kepadanya. Namun, rasa cintanya yang masih besar kepada mantan istrinya itu, membuatnya betah menduda hingga sekarang, dan berharap jika suatu hari nanti Sarah bisa lagi menerimanya.


Dia mencoba untuk memberi ruang untuk Sarah, agar wanita itu tetap nyaman bekerja di dekatnya, meski mereka tak bisa bertemu, karena Sarah yang selalu saja menghindar.


Miko berpikir, cukup hanya memastikan Sarah baik-baik saja, sudah begitu membuatnya senang. Terlebih lagi, dia bisa kembali melihat wajah yang selalu membayangi mimpinya setiap malam. Betapa rindunya dia dengan sosok lembut yang pernah menjadi pasangan hidupnya di waktu dulu.


Semua kecanggungan dan sikap Sarah yang selalu enggan untuk mau naik ke lantai tiga, menarik perhatian seorang Minati. Pakar gosip seputar kantor.


Saat itu, Sarah tengah mengerjakan sebuah laporan. Dia tiba-tiba dikejutkan dengan Minati yangbm berjalan ke arahnya.


"Ehem …," dehemnya.


Sarah pun mengangkat wajahnya dan melihat sekilas jika rekannya itu tengah berdiri memandanginya.


"Sakit, Mbak Min?" tanya Sarah basa basi dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Cuma gatel aja, pengin nanya-nanyain kamu," ucap Minati.


Sarah mengerutkan alisnya saat mendegar perkataan minati barusan. Namun, dia tetap melanjutkan tugasnya meski sebenarnya terganggu dengan kehadiran rekanya itu.


"Kalo tenggorokan gatel, ya minum obat dong Min. Masa ada gatel nanya-nanyain orang," sindir Sarah.


"Aku penasaran sama kamu tau," ucap Minati.


"Penasaran apa sih, Min? Emang ada yang belum kamu tau tentang aku? Kayaknya udah semua deh," ujar Sarah.


"Heran aja gitu. Kenapa kamu sekarang nggak pernah naik ke lantai tiga? Padahal dulu sewaktu pimpinan di pegang Bu Joko, kamu sering banget naik," tanya Minati.


Sarah seketika paham dengan arah pembicaraan rekannya itu.


"Kenapa nanya segala sih, Min? Aku nggak naik ya karena nggak ada urusan. Memangnya apa lagi? Kamu tuh ya, kebanyakan cari bahan gosip jadi keponya kelewatan deh," ujar Sarah.


"Apa iya? Aku denger, kamu sekarang sering nyuruh bawahan mu buat naik ke atas tuh. Si Nugi, anak pemasaran juga pernah lihat kamu minta tolong Lisa, buat minta tanda tangan si bos. Padahal dulu kan selalu kamu yang ambil alih semua urusan yang berhubungan dengan atasan. Kenapa sekarang beda?" cecar Minati.


Hah … Jadi, kamu penasaran banget ya sama aku dan Miko? Dasar tukang gosip, tau aja kalo lagi ada masalah, batin Sarah.


Sarah pun meletakkan pensil yang tengah ia pegang, dan hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari rekannya itu. Namun, belum sempat ia membuka mulut, dering telepon mengalihkan fokus keduanya.


Sarah meraih ponsel yang ada di atas meja, tepat di samping kanannya. Ia melihat nama yang tertera di layar dan senyumnya seketika mengembang.

__ADS_1


"Halo, Assalamualaikum," sapa Sarah.


"Waalaikumsalam, Bu, hari ini jadi kan?" tanya suara kecil di ujung sambungan.


"Jadi dong, Nak. Bentar lagi yah. Masih ada sedikit pekerjaan. Ehm … setengah jam lagi ibu jemput kamu. Nggak papa ya," seru Sarah.


"Ehm … oke, Bu," sahut Bagas yang saat itu menelepon dengan meminjam ponsel pintar salah satu pengajarnya.


"Oke, balikin lagi ha pe nya sama Bu Nisa ya, Assalamualaikum," Sarah.


"Waalaikumsalam," sahut bagas.


Sambungan pun berakhir. Sarah nampak melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit, dan mengabaikan Minati yang sedari tadi masih berada di sana.


"Mau pergi ya? Kemana?" tanya Minati.


"Kenapa lagi sih, Min? Kayaknya hidupmu itu penuh dengan ke-kepo-an deh," sindir Sarah yang masih berusaha fokus dengan pekerjaaannya.


"Ih … cuma nanya doang. Emang nggak boleh gitu. Tadi anak kamu yah? Kalian mau ngapain sih? Tumben pergi siang-siang," tanya Minati.


"Ya ampun ,Min. Ibu sama anak emang mau apa lagi selain familiy time. Kamu nih, terlalu pengin tau urusan orang ngerti nggak," keluh Sarah.


Waktu sudah hampir menjelang makan siang, dan putranya sudah menunggu. Sarah tak mau hanya karena pertanyaan-pertanyaan tak penting dari rekannya itu membuat laju kerjanya terhambat.


Dia pun telah mengemasi semua alat tulis yang dipakainya, dan memasukkan ponselnya ke dalan tas.


"Aku pergi dulu ya. Mungkin aku balik agak telat," ucap Sarah berlalu pergi.


"Lah … terus kalau si bos nyariin gimana?" teriak Minati saat Sarah telah berjarak cukup jauh darinya.


"Bilang aja kencan!" seru Sarah sambil melambaikan tangannya.


"Halah … kencan apanya. Paling juga sama anaknya," cibir Minati.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah berdiri di dekat ruangan divisi humas, dan mendengar semua perkataan Sarah dan Minati barusan saat mantan istrinya itu hendak pergi.


Anak? Anak siapa? Apa mungkin … tidak … tidak … aku jelas-jelas melihatnya sendiri kalau anak kami telah meninggal. Bahkan, aku yang sudah memakamkannya. Lalu, anak siapa itu? Apa mungkin Sarah sudah menikah lagi dan punya anak? batin Miko, orang yang tak sengaja mendengar semua perkataan kedua bawahannya tadi.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sarah kini telah sampai di playgroup, tempat putranya berada. Hari ini, dia berencana akan mengajaknya untuk pergi membeli kado ulang tahun Bela, yang akan digelar pada akhir pekan, dua hari lagi.

__ADS_1


Karena toko kadonya tutup pukul empat sore, jadi Sarah memutuskan untuk mengajak putranya pada saat makan siang.


"Sudah siap?" tanya Sarah saat sudah sampai di tempat putranya berada.


"Ehm … sudah," sahut Bagas.


"Bela gimana?" tanya Sarah.


"Kak Bela hari ini juga pulang cepet, soalnya aku kasih tau dia kalau Ibu bakalan jemput aku siang hari," jawab Bagas.


"Oke, berangkat sekarang?" tanya Sarah.


"Ehm …," angguk Bagas dengan cepat.


Meraka berdua pun berjalan bergandengan tangan, dengan Bagas yang sesekali melompat kegirangan karena bisa menghabiskan waktu bersama ibunya yang setiap hari selalu sibuk bekerja.


Sarah pun sangat senang melihat putranya itu melompat-lompat kegirangan. Senyum mengembang di bibirnya dan membuat seseorang yang sedari tadi memandanginya begitu tersiksa.


"Kamu begitu ceria saat bersama anak laki-laki itu. Sedangkan denganku, kamu sangat dingin dan kaku. Siapa anak itu? Apa benar kalau kamu sudah menikah lagi dan punya anak?" gumam Miko.


Pria itu begitu penasaran dengan perkataan Minati yang menyebut kata anak, saat Sarah berkata akan berkencan.


Dia pun segera mengambil mobilnya dan mengikuti ke mana wanita itu pergi. Miko pun menepikan mobilnya di seberang jalan, dekat kedai es krim yang tempo hari didatangi Sarah, Bagas dan juga Bela saat menunggu kedatangan Fadil.


Dia menatap dari jauh interaksi dua orang beda usia itu. Dia marah. Rasa hatinya tercabik-cabik saat melihat seorang anak kecil berjalan bersama mantan istrinya.


Namun, entah kenapa, ada rasa hangat yang terselip di antara sesaknya dada Miko, saat melihat wajah anak laki-laki yang bergandengan tangan denga Sarah.


.


.


.


.


Happy new year semua🤩💖🎂🍧🍨🍷🍾🍷


Semoga ditahun depan, banyak perubahan positif di diri kalian semua😊hari ini othor cuma up se bab aja, soalnya mau nguplek buat acara nanti malam🤭


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


Oh iya, sambil nunggu next eps, baca juga karya othir keren WARNYI



__ADS_2