
Waktu bergulir begitu cepat, proses perceraian Miko dan Lidia pun hampir mencapai akhirnya.
Semenjak kepergian Miko dari rumah, Lidia merasa tertekan dan depresi. Dia sering berteriak-teriak sendiri. Ibu asuh bahkan sering membawa Misa pulang dan merawat bayi itu dirumahnha. Hingga suatu ketika, dia memilih memberitahukan kondisi Lidia kepada keluarga besarnya.
Setelah itu, orang tua Lidia mengambil alih untuk merawat bayi malang tersebut di kediaman mereka, dan memberi Lidia waktu untuk sendiri.
Beberapa kali keluarganya membujuk agar dia keluar saja dari rumah itu, namun, wanita itu tetap bersikeras meninggali rumah yang penuh akan kenangannya dengan sang suami, yang kini bahkan sama sekali tak menganggapnya lagi.
Kondisinya jiwanya yang terus bersedih akan kehilangan sosok pria yang ia cintai, membuat wanita itu menyiksa diri hingga jarang makan dan tidur, membuat wajahnya yang berseri, kini terlihat pucat pasi. Dia pun belakangan ini sering merasakan sakit di perut bagian bawahnya.
Minggu ini, adalah jadwal untuk mendengarkan argumen dari penggugat, di mana dalam hal ini adalah Miko.
Pria itu melalui kuasa hukumnya, memberikan keterangan tentang alasannya menceraikan sang istri. Lidia yang sedari awal mencoba untuk terus bertahan, bahkan saat proses mediasi, dia sampai membawa Misa dan berharap jika suaminya akan berubah pikiran, namun ternyata semuanya sia-sia. Miko tetap teguh untuk menceraikannya.
Wanita itu bahkan menyewa kuasa hukum yang cukup terkenal di bidang ini, untuk membuat agar perceraian mereka gagal. Tapi, Miko pun tak goyah, bahkan kuasa hukumnya pun bukan lah orang sembarangan.
"Apa kita masih bisa menang, Bu?" tanya Lidia pada kuasa hukumnya yang sedari tadi duduk di sampingnya.
"Mari kita dengarkan dulu pendapat mereka, barulah kita susun sanggahan untuk sidang berikutnya. Biarkan saat ini mereka kemukakan semuanya. Karena waktu kita membalasnya adalah nanti," ucap sang kuasa hukum.
"Oh … baiklah. Aku serahkan saja semuanya padamu," sahut Lidia.
Selama persidangan, Lidia nampak berkali-kali mengelap pelipisnya. Hari itu, dia terlihat sangat pucat. Hal ini pun tak luput dari perhatian Miko yang duduk di seberangnya.
Apa dia sakit? Dari tadi dia terus memegangi perutnya, batin Miko.
Lidia mengenakan blouse putoh tulang, dan rok hitam selutut. Tampak jelas sekali jika tubuhnya saat ini penuh dengan peluh. Pakaiannya pun hampir basah kuyup karena keringatnya.
"Bu Lidia, kalau Anda kurang sehat, seharusnya tadi tidak usah ikut datang. Biar saya saja yang hadir, itu sudah cukup," ucap sang pengacara yang juga memperhatikan hal tersebut.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin melihat langsung jalannya sidang," jawab Lidia di tengah peluhnya yangbm terus menetes dari pelipisnya.
Hingga sidang berakhir, entah sudah berapa lembar tisu yang ia pakai, hingga memenuhi isi tasnya. Dia tak mungkin membuang tisu bekas pakainya ke lantai begitu saja, atau bolak balik keluar masuk ruang sidang hanya untuk membuang tisu ke tempat sampah.
Wanita itu pun memilih menimbunnya di dalam tas yang ia bawa untuk selanjutnya ia buang saat dia keluar.
__ADS_1
"Sidang kita lanjutkan minggu depan, dengan agenda penyampaian argumen dari tergugat." Bunyi ketuk palu tiga kali dari hakim menandakan jika sidang hari ini telah berakhir.
Miko nampak masih berbincang dengan sang kuasa hukumnya, sedangkan Lidia segera berdiri mengikuti kuasa hukumnya yang lebih dulu beranjak dari tempat duduk.
Saat beberapa langkah ia buat, Lidia tiba-tiba mengeluh sakit. Dia terus memegangi perutnya yang terasa amat nyeri, sambil berpegangan pada salah satu kursi yang ada di dekatnya.
"Bu Lidia, Anda kenapa?" tanya kuasa hukum Lidia yang menyadari saat kliennya mengaduh di belakang.
Lidia tak menyahut. Dia nampak meringis kesakitan sambil terus merem*s perut bagian bawahnya.
Peluh terlihat semakin bergulir turun dari pelipisnya. Miko yang melihat pun turut bangkit dan menghampiri wanita yang akan segera menjadi jandanya.
"Lid, kamu sakit? Mana yang sakit?" tanya Miko yang khawatir melihat kondisi wanita yang masih sah berstatus istrinya itu.
Lidia tetap diam. Wanita itu berusaha menahan sekuat mungkin sakit yang menyerang tubuhnya. Namun, karena tubuhnya yang lemah ditambah beban pikiran yang begitu banyak, membuatnya tak mampu lagi untuk tetap terjaga. Lidia pingsan di ruang sidang.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di rumah sakit, Lidia nampak terbaring lemah. Seluruh keluarganya mendapat kabar dari Miko, bahwa putri mereka pingsan di dalam ruang sidang.
"Kamu itu pria nggak punya hati ya, ko. Kamu sudah menduakan anak kami, dan setelah dia mulai memiliki harapan untuk menata lagi dari awal, kamu malah mematahkan semangatnya dan menceraikannya. Sekarang kamu lihat, dia sakit karena teralu depresi. Kami menyesal telah menyerahkan putri berharga kami pada laki-laki bejat seperti mu," maki ibunda Lidia.
Namun kini, perasaan Miko tidak lagi ada untuk istrinya itu. Dia hanya ingin melepaskan wanita yang memiliki jiwa bebas seperti Lidia.
Di tengah ketegangan seluruh anggota keluarga, yang geram melihat keberadaan Miko di ruang tunggu UGD, tiba-tiba dokter keluar dari dalam ruang tertutup itu.
"Maaf di mana keluarga Ibu Lidia?" tanya dokter itu.
"Saya! Saya ibunya. Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" sahut ibunda Lidia sebelum Miko berhasil maju menghampiri sang dokter.
"Kita perlu melakukan beberapa tes laboratorium untuk memastikan penyakit yang diderita oleh pasien. Ada kemungkinan, ini penyakit yang serius," ucap dokter tersebut.
Ibu Lidia nampak limbung hingga putri sulungnya maju menopang tubuh renta itu.
"Bu," panggil Yulis, kakak Lidia.
__ADS_1
Dia mantap sedih ke arah ibunya yang mendengar penuturan dokter, yang begitu mengejutkan.
"Lakukan saja tes itu, Sok. Saya masih suaminya. Jadi, saya masih memiliki tanggung jawab atas Lidia," ucap Miko yang maju mengambil sikap.
"Baiklah," sahut dokter.
Ibunda Lidia menatap tajam ke arah menantu yang sebentar lagi akan menjadi bekas. Dia mencoba berdiri dan meraih kerah baju Miko.
"Kamu lihat. Lidia sakit, dan kamu tega ninggalin dia sendirian. Kamu bukan manusia, kamu iblis! KAMU IBLIS!" pekik ibunda Lidia hingga wanita tua itu pingsan.
Semua keluarga pun kembali dibuat panik, dan terpaksa membawa wanita itu ke ruang perawatan untuk mendapatkan penanganan oleh tim medis.
Sementara itu, Miko masih berada di depan ruang UGD. Dia duduk di kursi tunggu, menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh dokter.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat datang menghampiri Miko.
"Maaf, apa Anda keluarga Ibu Lidia?" tanya perawat itu.
Miko mengangkat wajahnya dan berdiri mengahmpiri perawat tersebut.
"Ya, saya suaminya. Bagaimana hasilnya, Sus?" tanya Miko.
"Mari silakan Anda ke ruangan Dokter Sulistio. Belaiu akan menjelaskannya secara rinci kepada Anda," ucap sang perawat.
Miko pun kemudian berjalan mengekor di belakang perawat tersebut dan pergi menuju ke ruangan dokter yang sebelumnya melakukan pemeriksaan terhadapan Lidia.
"Silakan masuk," seru perawat tadi sesampainya mereka di depan pintu sebuah ruangan.
Miko pun masuk ke dalam.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏