Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Pernikahan 2


__ADS_3

Galau. satu kata yang kini melanda hati duda beranak satu, Miko. Dia merasakan jika hatinya sangat sakit mengingat surat undangan yang diberikan oleh Fadil tempo hari.


Saat hari senin, ketika dia mengantarkan Bagas kembali ke sekolahnya, Miko berencana menghampiri Sarah di kantor lamanya. Namun, dia kembali teringat akan janjinya untuk tak lagi menggangu hidup wanita itu.


Hari ini, dia sengaja pergi ke luar kota, untuk mengunjungi tempat usaha baru dodi, temannya. Dia butuh tempat untuk berbincang tentang perasaannya saat ini.


"Kalau kamu masih nggak bisa rela, kenapa sok-sokan kasih dia ke pria itu? Harusnya, kamu tetap perjuangin dia, Ko." Dodi sedikit menyayangkan keputusan Miko, yang memilih untuk mundur dari perjuangannya mendapatkan kembali hati Sarah.


Miko nampak kacau. Dia mengacak-acak sendiri rambutnya sembari menunduk lemas.


"Aku cuma pengin dia bahagia, Dod. Karena aku tau, bahagia dia bukan sama aku, tapi sama pria itu," sahut Miko.


"Dari mana kamu tau? Apa Sarah sendiri yang bilang langsung ke kamu?" tanya Dodi.


Miko diam. Dia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan temannya itu.


"Lalu, kenapa kamu bisa nyimpulin seperti itu? Ko, kamu tau nggak sih serumit apa kata-kata wanita? Kalau mereka bilang nggak, itu artinya iya. Kalau mereka bilang nggak mau, itu artinya mereka minta dibujuk lebih lagi oleh kita, kaum laki-laki," tutur Dodi.


"Tapi, aku lihat sendiri seperti apa menyedihkannya Sarah kalau sama aku. Orang-orang terus saja menyebutnya pelakor. Apa kamu tau bagaimana wajahnya? Dia berusaha tetap tegar dengan semua hinaan itu, dan aku nggak sanggup untuk terus menahan dia," sanggah Miko.


"Oke. Mungkin emang bener seperti itu. Tapi sekarang lihat dirimu, Ko. Kamu masih belum bisa merelakannya. Hatimu masih mengharapkan Sarah. Buktinya apa? Surat undangan yang kamu terima itu, bikin kamu kacau begini," seru Dodi.


Miko diam. Dia tak mungkin menyanggah omongan sahabatnya itu lagi, karena pada kenyataannya, dia memang tengah terpuruk karena surat undangan yang bahkan belum dia buka sama sekali, dan masih tersimpan rapi di dashboard mobilnya.


Dodi pun merasa prihatin dengan apa yang tengah dirasakan oleh Miko. Dia tau betul bagaimana hidup Miko setelah Sarah pergi, dan betapa bahagianya dia saat bisa bertemu kembali dengan mantan istrinya itu.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Tetap mau datang ke sana atau tidak?" tanya Dodi.


Miko mengusap kasar wajahnya hingga kebelakang kepala.


"Aku akan datang. Aku akan tunjukkan pada Sarah, kalau aku benar-benar bisa menepati janjiku," ucap Miko.


Lelehan bening mengalir dari sudut mata pria dewasa itu. Jika saja tak ada malu, mungkin kini dia sudah menangisi pernikahan yang akan digelar dalam dua hari lagi.


Setelah lama berdiam di tempat Dodi, kini Miko memilih untuk pulang. Dia harus kembali menata hatinya, agar bisa kuat saat menghadiri acara sakral itu.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari berganti. Tak rerasa, kini tibalah hari yang telah disebutkan Fadil seminggu yang lalu. Miko tengah duduk di tepi ranjang hanya dengan mengenakan jubah mandinya, sambil memandangi baju yang ia persiapkan untuk menghadiri acara pernikahan itu.

__ADS_1


Dadanya naik turun seiringi helaan nafas yang terasa amat berat. Miko gamang. Dia masih perlu meyakinkan diri untuk bisa menerima semua hal menyakitkan yang mungkin akan dia saksikan di sana.


Aku harus bisa. Aku harus tunjukan ke Sarah kalau aku sudah berubah, tak egois seperti dulu. Setidaknya, agar dia tetap mengijinkanku untuk dekat dengan anakku, batin Miko.


Dia pun meraih pakaian yang menggantung rapi di tempatnya, dan mengenakannya dengan perasaan yang begitu kacau.


Dia sampai harus meminta bantuan temannya Dodi, untuk menjadi supir pribadinya hari itu, karena Miko seolah tak bisa fokus sama sekali jika harus menyetir mobil sendiri.


Saat Miko tengah bersiap-siap, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dia pun meraih benda pipih itu dan melihat isi pesan tersebut.


[Bro, aku bentar lagi sampai,] Dodi.


[Oke. Aku tunggu di depan,] Miko.


Pria itu pun kemudian memadukkan ponselnya ke dalam saku dan keluar dari rumahnya. Dia duduk di kursi teras sambil menunggu kedatangan Dodi.


Tak berselang lama, yang ditunggu pun datang dengan mobilnya, dan mereka segera pergi ke tempat acara.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, Miko dan Dodi tiba di Hotel X Surabaya, sesuai yang diberitahukan oleh Fadil.


Langkah kaki duda itu terasa sangat berat, ketika menyurusi taman yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara akad nikah serta resepsi antara Fadil dan calon istrinya yang ia yakini adalah Sarah.


Namun, semua berbanding terbalik dengan suasana hati seorang duda, yang tengah berdiri di depan panggung pelaminan.



Meski bibirnya berusaha tersenyum, tapi hatinya sangat sakit melihat semua keindahan di hadapannya.


"Ko, kamu nggak mau ketemu sama Sarah dulu sebelum dia ijab qobul? Aku tadi sempat tanya di mana kamar pengantinnya," seru Dodi.


Miko diam. Hatinya semakin sakit saat membayangkan wanita pujaan hatinya, tengah memakai baju pengantin yang sewarna dengan Fadil.


"Tidak. Aku lebih baik menunggu di sini saja. Aku takut kalau nanti akan membuat kacau semua ini," ucap Miko lirih.


Dia tak berani untuk melihat Sarah saat ini, karena mungkin saja dia akan menggila di kamar ganti pengantin, dan mengacaukan acara penting mantan istrinya itu.


Dodi hanya mampu menghela napas dan menepuk pundak Miko sebagai bentuk dukungan untuk sahabatnya.


Suasana semakin ramai dengan kedatangan para tamu yang sudah banyak hadir di tempat acara. Fadil pun telah keluar dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Penghulu pun hadir di sana, dan didampingi oleh seorang pria tua.

__ADS_1


Kemana Pak Riswan? Kenapa orang tua Sarah dan keluarganya tidak terlihat sama sekali di sini? batin Miko bertanya-tanya.


Dia menoleh ke kanan dan kiri, namun semua yang hadir, tak ada satupun yang dia kenal.


"Dod, aku merasa ada yang aneh," ucap Miko.


"Aneh? Aneh apa?" tanya Dodi yang duduk di samping Miko.


"Aku nggak lihat orang tua Sarah atau keluarganya di mana-mana. Harusnya kan mereka semua hadir di sini," ungkap Miko.


"Masa sih?" gumam Dodi yang ikut menoleh ke kanan dan kiri, seolah tengah tau apa yang di cari sahabatnya.


Saat kebingungan itu masih berlangsung, seorang wanita dengan balutan kebaya pengantin putih, dengan sanggul yang begitu anggun, berjalan memasuki tempat acara, melewati tempat duduk Miko, menuju ke tempat ijab qobul akan dilangsungkan.


Darah Miko terasa berdesir. Jantungnya berdegup tak karuan. Lingkar matanya mulai memerah tat kala sosok wanita yang ia yakini adalah Sarah itu, telah duduk di samping Kiri Fadil yang juga mengenakan setelan yang senada.


Miko tak bisa melihat jelas wajah mempelai wanitanya, karena para pengapit pengantin yang menuntun wanita itu, menghalangi pandangan Miko.


"Ko, itu pengantin wanitanya?" tanya Dodi.


Miko masih menatap panggung, tempat proses pengucapan kalimat suci itu akan dilangsungkan dengan mata berkaca-kaca. Penglihatannya buram dan kabur. Dia hanya mampu menganguk untuk menjawab pertanyaan dari temannya.


"Yakin? Kok nggak mirip Sarah sih?" ucap Dodi.


Miko segera mengusap genangan di matanya dan memperhatikan dengan benar, wanita yang tengah duduk di depan Sana.


"Dia kan …,"


.


.


.


.


Late up😅🙏


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2