Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Aku akan pergi


__ADS_3

Di kedai, Bagas dan bela nampak antusias menikmati es krim dengan rasa dan toping pilihan mereka masing-masing.


Sedangkan Miko dan Fadil, memilih duduk terpisah di kursi yang ada di teras kedai, sambil menjaga kedua anak kecil itu dari jarak yang cukup dekat, hanya terhalang oleh dinding kaca luar, hingga semua pembicaraan mereka tak bisa didengar oleh kedua anak itu.


"Apa yang mau Anda bicarakan, Pak Miko? Apa ini tentang masalah kebohongan kami lima tahun lalu?" tanya Fadil membuka percakapan.


Miko menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka suara.


"Awalnya, aku ingin mengetahui alasan mu bekerja sama dengan Sarah untuk membohongi ku dulu. Namun, sekarang semuanya sudah tidak penting lagi, karena aku menyadari kalau semua itu juga karena salah ku," tutur Miko.


Fadil nampak memperhatikan pria di hadapannya yang sedari tadi hanya memainkan sendok di dalam gelas minumannya.


Dia bersandar di kursi sembari melipat kedua lengannya di depan dada.


"Saya rasa, sudah saatnya saya benar-benar melepaskan Sarah," ucap Miko.


Dia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Fadil. Dokter itu nampak menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dibaca.


"Saya rasa, Sarah akan lebih bahagia jika bersama dengan Anda, Dokter," lanjut Miko.


"Kenapa Anda bisa bicara seperti itu? Apa Sarah sendiri yang bilang?" tanya Fadil datar.


Miko menggeleng pelan. Pandangannya kembali turun dan tangannya mulai memainkan lagi sendok kecil di dalam gelasnya.


"Dia tidak bilang langsung, tapi aku bisa lihat kalau dia sangat nyaman berada di sisi Anda. Sedangkan saat bersamaku, hanya ada luka saja yang bisa ku berikan," sahut Miko lirih.


Fadil mengurai lipatan lengannya, dan meraih cangkir kopi yang masih panas itu lalu kemudian menyesapnya perlahan.


"Jadi, Anda memberikan Sarah pada saya, begitu?" tanya Fadil.


Miko menatap wajah Fadil. Ada rasa gamang di dalam matanya. Namun, pria itu akhirnya mengangguk pelan.


"Asal Anda tau, Pak Miko. Sarah itu seorang wanita dewasa, dia manusia bebas. Dia punya otak untuk berpikir dan punya hati untuk menentukan pilihan. Sebaiknya, coba Anda bicara berdua dari hati ke hati untuk mencari titik terang kelanjutan hubungan Anda dengan Sarah. Serta kaitannya dengan cara kalian mengurus Bagas nantinya. Maaf, saya tidak bisa menerima apa yang Anda ucapkan tadi, kecuali jika memang Sarah sendiri yang mau memilih saya langsung," jelas Fadil.


Dia kembali menyesap kopinya, dan saat melihat es krim Bela telah habis, dia pun pamit undur diri dan membawa putri kecilnya pulang.


Miko pun akhirnya pulang dengan Bagas yang memang berencana ikut menginap di rumahnya akhir pekan ini.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari senin telah tiba. Bagas yang menginap di rumah Miko pun, pagi itu diantar kembali oleh ayahnya ke playgroup, tempat di mana biasanya Sarah menitipkan anaknya selama bekerja.


Tak lupa juga, Miko menyiapkan bekal makan siang seadanya untuk Bagas berupa roti lapis daging dan telur.


Setelah itu, dia pun melajukan mobilnya ke kantor dan kembali ke rutinitas kerjanya.


Saat jam istirahat, Miko mendatangi meja Sarah, yang tengah membuka bekal makan siangnya.

__ADS_1


"Sar, boleh ganggu waktunya?" tanya Miko meminta ijin.


Sarah pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Miko.


"Ada apa, Pak?" tanya Sarah.


"Bisa ikut aku ke suatu tempat?" ajak Miko.


Ada apa lagi? batin Sarah.


Melihat wanita itu tetap diam, Miko pun melanjutkan kata-katanya.


"Cuma sebentar. Aku janji nggak akan lama," ucap Miko.


"Baiklah," ucap Sarah sambil menutup kembali kotak makan siangnya.


Mereka menuju ke sebuah caffe yang berada tak jauh dari kantor. Cukup hanya dengan berjalan kaki dan keduanya pun bisa sampai hanya dalam waktu lima belas menitan.


Miko memilih tempat duduk yang berada di pojok dan jauh dari keramaian pengunjung caffe.


"Makasih, Mas," ucap Sarah saat Miko menarikkan kursi untuknya.


Dia kembali berbicara santai dengan Miko saat berada di luar lingkungan tempat kerja.


"Mau minum apa, Sar?" tanya Miko.


Miko pun beranjak dan pergi ke counter depan untuk memesan. Dia memesan dua gelas es kopi dan berjalan kembali ke tempat duduk.


Mereka belum membuka suara. Sarah nampak memandang ke luar jendela kaca yang berada di sampingnya, sementata Miko menyibukkan diri dengan gawainya.


"Ini pesanannya," seru seorang pelayan membawakan pesana Miko dan juga Sarah.


"Terimakasih," sahut Miko.


Miko mendorong sedikit gelas milik Sarah ke depan wanita itu.


"Diminum dulu, Sar," seru Miko.


Sarah pun tersenyum dan meraih gelas itu. Sekilas dia mengaduk minumannya dengan sedotan yang ada di dalam gelas, lalu kemudian meminumnya.


"Ada apa kamu ngajakin aku keluar, Mas?" tanya Sarah.


Miko nampak diam. Dia bingung harus memulainya dari mana.


"Mas," panggil Sarah saat yang ditanya tak juga menjawab.


Miko mengangkat wajahnya dan menatap Sarah lekat-lekat.

__ADS_1


"Sar, aku akan pindah tugas lagi, dan kali ini mungkin kita benar-benar akan sulit bertemu," ucap Miko.


"Pindah? Bukannya masa kerja pimpinan cabang minimal satu tahun di setiap kantor cabang? Kenapa baru beberapa bulan sudah mau pindah lagi?" tanya Sarah bingung.


"Aku sendiri yang meminta dipindahkan ke Semarang," jawab Miko.


Sarah nampak mengernyitkan keningnya. Ada rasa khawatir yang tersirat di mata wanita itu.


"Lalu Bagas? Kamu nggak mikirin perasaan anak itu? Dia selalu nanyain kamu sejak dulu. Dia sangat senang saat kamu datang dan mengisi hari-harinya. Atau jangan-jangan, kamu mau bawa pergi Bagas juga?" terka Sarah.


"Tidak. Bagas akan tetap bersamamu. Aku hanya akan meminta ijin dari kamu setiap seminggu sekali agar Bagas bisa pulang ke tempatku. Hanya itu saja," sahut Miko cepat.


Pria itu berusaha meyakinkan mantan istrinya, jika dia tak ada niatan untuk memisahkan seorang ibu dari anaknya, seperti yang selalu Sarah takutkan sejak dulu.


Dia mencoba menekan sisi egoisnya yang selama ini membuat Sarah terus menjauh dan semakin membencinya.


Sarah nampak diam dan memandangi Miko dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa alasan mu melakukan semua ini, Mas?" tanya Sarah menginterogasi.


"Aku hanya ingin membuat mu hidup dengan tenang. Aku tau jika selama ini, kamu sangat tertekan dengan kembali hadirnya aku di sini. Oleh karene itu, aku pergi dan tak akan menggangu hidupmu lagi. Aku janji," ucap Miko.


Sarah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sebuah pernyataan menyerah dari mantan suami yang berusaha mengejar kembali cinta sang mantan istri.


Matanya bergerak-gerak tak terkendali. Lapisan bening pun muncul di sana.


Sesak. Kenapa dadaku terasa sesak. Bukankah harusnya aku bahagia? Bukankah ini yang aku mau, bisa jauh dan lepas dari pria ini? Tapi kenapa rasanya dadaku mau meledak? batin Sarah.


Tangannya mengepal kuat dan mencoba menahan lapisan bening itu semakin menumpuk dan menggenang di pelupuk matanya.


"Baiklah. Silakan kamu pergi," ucap Sarah.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


sambil nunggu next eps, bisa lho coba mampir ke novel temen ku🤩



yuk di favoritkan😘

__ADS_1


__ADS_2