Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Tawa sang putra


__ADS_3

Dua minggu kemudian, sejak dipanggil oleh bosnya, dan mendapati bahwa duda itu nampak sangat aneh saat itu, membuat Minati semakin ingin tau, dan membuat Sarah harus ekstra sabar saat pekerjaannya pun selalu diganggu oleh rekannya tersebut.


Misal saja pagi ini, saat Sarah baru saja sampai kantor, Minati yang baru selesai melakukan briefing dengan para karyawan magang yang baru, dia langsung menghampiri Sarah yang tengah memeriksa buku agendanya.


"Ehem …," dehemnya mengalihkan fokus Sarah.


Janda itu melirik sekilas dan kembali membaca agendanya.


"Pagi, Min," sapa Sarah.


Mau apa lagi dia. Mau tanya-tanya soal aku sama miko lagi nih pasti, batin Sarah.


"Pagi, Sar. Hari ini, divisimu mau ada rapat bulanan kan ya?" tanya Minati.


"Ehm … seperti biasa," sahut Sarah.


Dia telah selesai membaca agenda hariannya, dan kini mulai mengambil sebuah buku batik dan juga beberapa berkas-berkas yang ada di lemari kabinet.


"Si bos bakal ikut lagi kaya waktu itu nggak?" tanya Minati.


Sarah hanya menaik turunkan kedua bahunya denga raut wajah yang rerkesan acuh.


"Aku boleh gabung nggak sih?" tanya Minati.


Sarah menoleh ke arah rekannya itu, yang masih melipat kedua tangannya di depan dada


"Emang mau ngapain menejer personalia masuk ke rapat tim humas? Ada kaitannya kah?" tanya Sarah yang merasa aneh dengan permintaan rekannya itu.


"Cuma mau tau aja, gimana Pak bos kalo lagi lihatin kamu. Pasti nggak kedip kan," sahut Minati.


"Hah … kenapa bahasnya Pak bos mulu sih kalo kamu ke sini, Min. Ini masih pagi lho, dan kamu udah mau cari bahan gosip aja? Haduh, Min … Min," keluh Sarah.


"Ya habisnya, aku penasaran setengah mati sama sikap si bos. Dia tuh kaya terkejut bukan main pas aku bilang kalau data kamu masih sama dengan lima tahun yang lalu. Kamu kan tau sendiri, jiwa penyelidikku kan tajam sekali," tutur Minati.


"Jiwa penyelidik apa jiwa kepa yang lagi nyari bahan buat gosip?" sindir Sarah.


"Ish, kamu nih. Aku beneran ngerasa kalau kalian udah kenal lama deh," terka Minati.


Sarah diam dan hanya tersenyum tipis ke arah rekannya itu.

__ADS_1


"Min, si bos udah masang CCTV di lantai ini banyak-banyak lho ya. Nanti kalo dia lihat, kamu pagi-pagi udah di depan meja aku, dikiranya kita ke sini cuma mau gosip doang lho," ujar Sarah.


Minati pun seketika melihat ke atas, dan menyusuri setiap sudut ruangan, di mana banyak sekali CCTV. Dia sudah tau kalau banyak tambahan yang dipasang, namun saat Sarah menyinggung karena pengawas itu, dia pun secara tak sadar mengedarkan pandangannya.


Melihat hal itu, Sarah nampak menahan senyumnya, sambil mulai mengutak atik berkas di depannya.


"Mending, kerja dulu aja. Entar kalo mau ganggu orang lagi, pas makan siang. Sekalian makan bareng sini sama aku," tutur Sarah.


"Eh, ngomong-ngomong makan siang, aku jadi inget, kemarin pas mau keluar buat makan, aku lihat Pak bos bawa paper bag gitu, dan jalan sambil senyum-senyum sendiri. Kayaknya, dia mau ketemuan sama seseorang deh," seru Minati.


Dia sengaja mengatakan hal itu, untuk memancing reaksi Sarah.


"Lalu?" tanya Sarah datar tanpa menoleh sedikit pun.


"Ya, nggak lalu-lalu. Mau bilang ketemu sama kamu, tapi kamu kan emang nggak pernah kemana-mana. Tetepan aja di sini," lanjut Minati.


"Lalu?" sahut Sarah.


Wanita itu nampak tak peduli dengan semua ocehan rekannya itu, hingga Minati pun mencebik kesal ke arah Sarah.


"Ck! Ya udah lah, aku balik ke mejaku dulu. Kamu ini, diajakin ngobrol juga," gerutu Minati.


"Mbak Min, ini masih pagi. Ngobrolnya lanjut lagi nanti yah. Hihihi …," ledek Sarah.


Sementara Sarah yang sedari tadi bersikap biasa saja, dan fokus pada pekerjaan, tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya dan memikirkan kembali perkataan Minati.


Paper bag? kemarin juga Bagas bawa pulang mainan di dalam paper bag. Paper bagnya warna apa yah? Sama nggak yah dengan yang dibawa pulang Bagas? batin Sarah menerka-nerka.


Tapi, apa mungkin mereka bertemu di belakang ku? Ah … nggak mungkin. Mereka kan belum kenal satu sama lain. Hah … mau tanya soal paper bag, tapi nanti si biang gosip malah kegirangan lihat aku yang penasaran gitu sama urusan Miko. Dasar Minati, batin Sarah.


Dia pun kembali larut dalam pekerjaannya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Seminggu kemudian sejak mendengar bahwa bosnya selalu keluar di jam makan siang dan sering membawa tas belanja, Sarah semakin penasaran dengan hal itu.


Bukan tanpa alasan, karena sejak itu juga ,Bagas sering pulang dengan membawa mainan baru yang dimasukkan ke dalam sebuah tas belanja.


Ingin sekali Sarah tanya soal paper bag yang dibawa Miko kepada Minati, yang selalu serba tau akan semua hal di sekitaran kantor. Namun, dia tak ingin memberikan celah pada rekannya itu untuk tau apa yang tengah terjadi antara dirinya dan juga Miko.

__ADS_1


Akhirnya, dia pun memutuskan untuk keluar saat jam makan siang, dan pergi untuk melihat putranya.


"Sar, mau ke mana? Tumben makan siang ke luar?" tanya Minati.


"Ada meeting dadakan sama klien," sahut Sarah berbohong.


"Bu Wulan lagi?" tanya Minati.


"Beda, tapi tipenya sama," jawab Sarah sekenanya.


"Oh, oke. Semoga sukses yah," ucap Minati.


Sarah yang telah selesai berkemas pun, segera pergi dari sana dan melajukan mobilnya menuju ke tempat sang putra berada.


Jam makan siang sudah lewat cukup banyak, dan Sarah baru bisa keluar pukul satu siang. Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang dikiranya tanggung dulu, sebelum menengok putranya yang saat ini lasti masih berada di play group


Sesampainya di sana, Sarah begitu terkejut saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar, dan sering dilihatnya di area parkir kantor.


"Itu kan mobil Miko? Sedang apa dia di sini?" gumam Sarah.


Dia semakin merasa jika kecurigaannya benan. Dia pun kemudian menepikan mobilnya di belakang mobil Miko, dan segera turun dari kendaraannya.


Sarah berjalan sambil memperhatikan mobil pria itu, dan terus melangkah hingga sampai di depan pagar.


Saat dia hendak melangkah masuk, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. Dia pun segera bersembunyi di balik dinding pagar, sambil mengintip ke dalam.


Terdengar tawa riang putranya, yang tengah bermain bola dengan seorang pria yang tak lain adalah Miko, sang mantan suami sekaligus ayah kandung putranya.


Dada Sarah bergemuruh. Ada rasa sesak melihat pemandangan yang sangat indah itu. Meski ada rasa takut kalau-kalau Miko tau, jika Bagas adalah putranya. Namun, dia seolah tak ingin mengganggu momen di mana sang putra bisa tertawa lelas seperti sekarang ini.


Andai dulu kamu tak bohong padaku, pasti sekarang, aku akan tertawa bahagia melihat semua pemandangan indah ini, batin Sarah.


Wanita itu pun membekap mulutnya erat-erat menahan suara isaknya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2