Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Pertemuan keluarga


__ADS_3

Setelah keluarga Sarah setuju dengan permintaan Miko yang ingin kembali memperistri putri mereka, pria itu kemudian menyampaikan berita bagus tersebut kepada keluarga besarnya.


Ayah dan Ibu Miko, sangat menyambut baik hal tersebut. Pasalnya, sebelum Miko menghadap kepada orang tua Sarah, dia terlebih dulu mengatakan maksudnya itu kepada kedua orang tuanya.


Mereka sangat senang akan rencana rujuk Miko dengan Sarah. Apalagi dengan kembali bersatunya mereka berdua, sang cucu, Bagas, akan lebih dekat dengan kakek dan neneknya.


Mereka pun sangat mendukung rencana Miko itu, dan meminta putranya untuk segera membicarakan hal ini dengan keluarga Pak Riswan


Awalnya, ayah Miko hendak membantu putranya untuk berbicara kepada orang tua Sarah. Namun, Miko bersikeras untuk menyelesaikan semuanya sendiri.


Hingga akhirnya, kini dia bisa mengantongi restu dari keluarga pujaan hatinya, untuk meminang Sarah kembali.


Hari ini, keluarga besar Miko datang ke rumah keluarga Pak Riswan, guna melamar kembali menantu mereka yang sempat pergi, agar terikat kembali dengan putra mereka.


Miko terlihat begitu gagah dengan balutan kemeja batik berwarna dasar merah bata, dipadu padankan dengan celana bahan gelap.


Wajahnya nampak berseri karena merasakan hasil akhir yang manis, atas perjuangannya mendapatkan kembali hati dan cinta Sarah.


Kini, rombongan keluarga besar Miko telah sampai di kediaman Pak Riswan. Di tempat itu pun, nampak seluruh keluarga besar berkumpul hendak menyambut kedatangan keluarga besar Miko, yang mengantarkan lamaran untuk putri tercinta mereka.


Sebagian ada yang masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu, dan sebagian lagi memilih duduk di teras depan dan samping. Meskipun rumah itu besar, tapi sangking banyaknya orang yang ikut, sehingga ruangannya pun tak muat untuk menampung semuanya masuk.


Maya, kakak ipar Sarah nampak keluar dengan menggandeng calon pengantin yang saat itu terlihat sangat cantik, dengan balutan kebaya berwarna senada dengan kemeja batik yang dipakai Miko. Rambutnya di sanggul rapi, sehingga meninggalkan kesan ayu, khas wanita Jawa.


Miko terperangah melihat sosok cantik nan anggun, yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya. Istri yang dulu sempat pergi, kini akan ia dapatkan kembali.


Matanya tak kunjung berkedip, saat memandangi ayunya paras Sarah yang mampu meluluh lantakkan hatinya, memporak porandakan hidupnya selama beberapa tahun ini.


“Ko, wis toh. Kemedep ngono lho (Ko, sudah sih. Kedip gitu lho),” seru Ayah Miko.


“Awas, Ko. Ngeces,” sindir Dodi yang juga turut dalam acara penting itu.


Semuanya tertawa menimpali ucapan Dodi, yang membuat Miko dan Sarah tersipu malu.


Maya menuntun adik iparnya untuk duduk di tengah-tengah antara Pak Riswan dan istrinya, berhadapan langsung dengan Miko, yang juga duduk di antara kedua orang tuanya.


Setelah basa basi yang cukup singkat, ayah Miko mengutarakan niatnya datang ke rumah Pak Riswan, yang untuk melamar Sarah menjadi menantu mereka kembali.


Hal itu disambut baik oleh Pak Riswan dan keluarga, yang langsung setuju dengan niat keluarga besar Miko.


Acara pertunangan pun berlangsung dengan tukar cincin antara Miko dan Sarah. Meskipun mereka bukan lagi muda mudi yang baru akan menjalani kehidupan berumah tangga, namun sikap keduanya masih terlihat malu-malu, hingga menjadi bahan bercandaan dan bulian orang-orang yang hadir di sana.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya rombongan keluarga Miko pun panit undur diri.


Namun si kecil Bagas, masih terus bergelayut di pundak Miko. Anak itu tak mau jika sang ayah pergi.


“Nak, ayah belum bisa tinggal sama Bagas dulu. Sabar yah, tunggu bulan depan. Nanti kita bisa tinggal sama-sama di sini. Bagas nurut yah,” bujuk Sarah.


“Nggak mau! Bagas maunya sekarang. Bulan depan masih lama, Bu,” rengek Bagas.


“Bagas, sebulan nggak lama kok. Ayah juga akan sering-sering ketemu sama Bagas. Kan kita mau belanja banyak barang buat acara nikahannya Ayah sama Ibu Nanti. Bagas mau kan bantuin Ibu bawa belanjaan yang baaaaanyak itu?” bujuk Miko.


“Beneran kan, Yah? Kita akan sering jalan-jalan kan?”rengek Bagas.


“Iya, beneran. Sekarang, Bagas turun dulu, ayah mau pamit sama kakek dan nenek. Lusa, kita jalan-jalan cari undangan. Oke,” jawab Miko.


Bagas nampak mengangguk. Sarah pun meraih putranya dan menggendong anak itu. Cukup berat memang, karena Bagas yang tumbuh dengan sangat baik. Namun, untuk Sarah, ini adalah momen-mimen kebersamaan yang sebentar lagi akan hilang, seiring tumbuh kembang putranya menjadi remaja dan dewasa. Jadi, berat pun tak masalah baginya.


“Ehm... Anak ayah manja banget kalo sama ibunya,” ledek Miko saat melihat Bagas bergantian bergelayut di leher Sarah.


Anak kecil itu nampak belum rela jika ayahnya pergi. Tapi karena terus dibujuk, akhirnya dengan terpaksa dia mau melepaskan Miko.


“Saya pamit dulu, Pak, Bu,” ucap Miko kepada Pak Riswan dan istrinya.


“Nggih, Pak,” sahut Miko.


Dia kemudian beralih kepada Sarah yang masih menggendong putranya. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu depan.


“Aku pulang dulu yah. Besok, aku akan bantu urus kepindahan kamu ke sini,” ucap Miko.


Sarah mengangguk dengan senyum yang begitu manis, hingga hati Miko bergetar dan darahnya berdesir.


“Udah boleh cium belum sih?” bisik Miko.


Sebuah pukulan kecil mendarat di pundak pria itu. Sarah terlihat tersipu dengan kata-kata calon suaminya.


“Sabar. Belum boleh,” seru Sarah penuh penekanan.


Miko pun terkekekh melihat pipi Sarah yang menjadi semerah tomat.


“Kalau senyum manis banget sih. Jadi pengin cium kan,” timpal Miko yang membuat Sarah semakin gugup tak karuan.


“Udah sana pulang! Tunggu bulan depan,” seru Sarah.

__ADS_1


“Oke. Pasti akan ku tunggu. Sebulan itu nggak ada apa-apanya dibanding lima tahunku yang hampa tanpa kalian berdua,” ucap Miko sambil mengusap puncak rambut Baga, yang rupanya sudah memejamkan matanya karena terlalu lelah mengikuti acara lamaran ini.


Sarah hanya bisa tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca.


“Maaf ya, Mas,” ucap Sarah.


Ingin sekali rasanya Miko memeluk wanita itu. Namun dia pun harus tau batasannya. Terlebih, di hadapan para tetua. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap genangan yang hampir merembes di pipi itu.


“Aku janji, mulai sekarang, hanya akan ada bahagia di hidup kita. Sampai-sampai, saat mengingat masa lalu pun, kita tak lagi menangis seperti ini,” ucap Miko.


Setelah mengantarkan Miko keluar, Sarah pun kembali masuk ke dalam dan menidurkan Bagas di kamarnya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sejak acara lamaran itu, Sarah mulai membereskan semua urusannya di kota pahlawan Surabaya.


Dia pun harus keluar dari pekerjaan yang selama hampir enam tahun menjadi saksi hidupnya yang sulit.


Minati menangis paling keras di antara yang lain, dalam pelukan rekannya itu, karena merasa paling kehilangan teman sekaligus sumber gosipnya.


“Kenapa pindah segala sih? Aku jadi kesepian kan,” rengek Minati.


“Itu sudah permintaan dari keluarga, Min. Kalau memang mau, kita bisa kok sering-sering ngadain ketemuan,” seru Sarah.


Hari ini, adalah hari terakhirnya bekerja di kantor itu. Surat resign sudah ia serahkan dia minggu yang lalu ke bagian personalia, sehingga mereka bisa mencari gantinya terlebih dahulu.


“Datang yah,” pinta Sarah.


Dia pun membawa serta undangan yang sudah disiapkan untuk dibagikan kepada rekan-rekan sekantor nya.


.


.


.


.


Kalian Juga datang yah, undangannya bakal ku kirim nanti😁


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2