Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Hidup Baru


__ADS_3

Di parkiran restoran, nampak seorang gadis kecil tengah merengek kepada dua orang dewasa yang ada bersamanya.


"Bela mau sama Ibu Sarah, Pah. Bela mau nginep di rumah Bagas aja," rengek Bela.


"Bela sayang, hari ini temenin Papah yah. Kan papah udah libur. Papah juga kan mau ditemenin sama bela," bujuk sang Papah, yang tak lain adalah Fadil.


"Nggak mau! Bela mau sama Ibu sama Bagas!" seru Bela dengan menghentakkan kakinya ke lantai.


Gadis kecil itu terlihat cemberut sambil mensedekapkan kedua lengannya di depan dada.


Wanita yang tengah bersamanya, nampak berjongkok di depan Bela yang sedang merajuk.


"Bela sayang," panggil wanita itu yang tak lain adalah Sarah, mantan istri Miko.


Dia meraih pundak gadis kecil di hadapannya itu.


"Bela, coba lihat Ibu, Nak!" seru Sarah pada gadis kecil itu.


Bela pun menurut dan melihat ke arah Sarah, meski wajahnya masih saja cemberut.


"Bela hari ini pulang sama Papah dulu yah. Besok-besok, kalo Papah Bela dinas malam lagi …," ucap Sarah.


"Ronda, Bu!" sela Bela ketus.


"Ehm … iya ronda," Sarah nampak menahan tawanya, begitu pun Fadil.


"Ehem … besok-besok kalau Papah Bela ronda lagi, Bela boleh kok nginep di rumah Ibu. Nanti kita bisa tidur bertiga lagi. Tapi, sekarang Bela temenin Papah dulu ya. Kasihan kan Papahnya Bela kalo di rumah sendirian," bujuk Sarah dengan sehalus mungkin.


Gadis kecil itu pun melihat ke arah sang papah, yang masih berdiri di samping Sarah.


Fadil memasang wajah memelas di hadapan sang putri, agar Bela mau ikut pulang bersamanya.


"Ya udah deh. Bela ikut Papah pulang. Entar Papah nagis lagi sendirian di rumah," ucap Bela yang akhirnya mau menuruti perkataan Sarah.


Fadil pun tersenyum melihat tingkah lucu sang putri yang bergaya sok dewasa. Dia pun mengulurkan tangannya ke arah sang putri.


Bela pun menyambut tangan papahnya dan berjalan ke arah pria dewasa itu.


"Makasih ya, Sar. Kamu udah mau bantu bujukin Bela pulang. Dia lebih nurut sama kamu dibanding Papahnya sendiri," keluh Fadil


"Maklumin aja, Mas. Bela masih anak-anak. Dia butuh perhatian lebih dari orang tuanya. Kamu kan lebih banyak ngabisin waktu sama pasien ketimbang Bela. Jadi wajar aja kan kalau dia kurang deket sama kamu," tutur Sarah.


"Iya, kamu bener. Ya udah, kita pulang dulu yah," pamit Fadil.


"Ibu, tunggu Bela pulang yah. Bela mau nemenin Papah dulu," ucap Bela yang mengundang tawa Sarah.

__ADS_1


"Hahahah … iya. Bela hati-hati ya. Yang nurut sama papahnya," sahut Sarah melambaikan tangan ke arah gadis kecil itu.


"Dadah, Kak Bela. Nanti kita main sama-sama lagi ya," ucap Bagas yang juga melambaikan tangan ke arah Bela.


Mereka pun berpisah dan masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah masing-masing.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sebuah mobil nampak berhenti di sebuah rumah yang minimalis bergaya modern dengan dua lantai. Warna coklat dan unsur kayu sangat dominan terlihat dari bagian depannya.


Seorang penjaga rumah nampak membukakan pintu gerbang untuk sang pemilik rumah tersebut. Mobil itu pun masuk dan parkir di halaman rumah.


Nampak seorang anak kecil dan wanita keluar dari dalam mobil.


"Bu Sarah, tadi ada paket datang," ucap satpam rumah itu.


"Oh, iya. Makasih ya, Pak," sahut Sarah.


Dia pun meraih bingkisan yang tadi diserahkan oleh petugas keamanan rumahnya. Sarah kemudian menggandeng putranya itu dan masuk ke dalam rumah.


Kini, dia sudah tinggal sendiri di sebuah rumah minimalis berlantai dua bersama putra semata wayangnya. Rumah yang berhasil ia beli dengan hasil kerjanya selama empat setengah tahun terakhir ini di ibu kota jawa timur itu.


"Bagas, ayo kamu mandi dulu. Seharian main terus, badanmu pasti lengket keringetan," seru Sarah.


"Nanti aja, Bu. Bagas masih mau lihat mobil-mobilan yang tadi dibeliin sama Oom Fadil," sahut Bagas yang membuka tas belanjaan miliknya.


"Hah … iya, Bu." Bagas yang melihat ibunya mulai bersikap tegas pun tak bisa lagi membantah.


Pria kecil itu memilih untuk menurut dengan perkataan sang ibu yang selalu ada dan menyayanginya selama ini.


"Nah, gitu dong!" sahut Sarah.


Dia pun menuntun anaknya menuju ke kamar mandi, dan memandikannya. Dia pun membantu Bagas yang belum bisa sepenuhnya mengganti baju sendiri.


"Bu, Bagas mau piyama yang kuning itu, yang gambar Sponge bob," seru Bagas yang saat itu tengah duduk di bibir ranjangnya sambil mengoyang-goyangkan kedua kakinya.


"Yang ini?" tanya Sarah sambil menunjuk ke arah tumpukan baju di dalam lemari Bagas.


"Iya, yang itu," sahut Bagas.


Hah … selalu kuning. Mirip sekali dengan pria itu, batin Sarah.


Ada rasa rindu di dalam dadanya, namun semua tertutup oleh sesak yang kini tersisa di hatinya saat mengingat sosok ayah dari putranya itu.


"Bu, udah dingin nih," keluh Bagas yang membuyarkan lamunan Sarah.

__ADS_1


"Oh … i … iya. Ini bajunya," sahut sarah yang meraih baju tersebut dan membawa ke tempat anaknya berada.


Bagas yang hanya terbalut handuk dari dada hingga lututnya, sudah pasti merasa kedinginan di dalam kamarnya yang cukup sejuk karena ber-AC.


Seusai membantu putranya mandi dan berpakain, kini Sarah berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua, dan membersihkan diri.


Senja menjelang, dan suara adzan maghrib pun berkumandang dari surau terdekat.


"Bagas! Nak, ayo sholat jamaah dulu," seru Sarah.


Wanita itu selalu mengajarkan sang putra agar selalu mengingat kewajibannya, dan menanamkan kebiasaan baik itu sedini mungkin.


"Iya, Bu." Bagas pun keluar dari dalam kamarnya yang berada di lantai satu dengan sudah berpakaian rapi.


"Wah, anak ibu cakep banget," puji Sarah.


"Iya dong. Kan mitip Ayah," sahut Bagas sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.


DEG!


Dada Sarah kembali bergemuruh, setiap kali Bagas selalu menyinggung masalah ayahnya. Putranya itu selalu bertanya perihal pria yang sudah lama ingin Sarah lupakan.


Namun ternyata, justru putranya sendiri yang membuatnya selalu teringat akan sosok laki-laki yang sudah membohonginya. Mau tak mau, Sarah menceritakan tentang sosok sang ayah keoada putranya itu, karena bagaimana pun, itu hak bagas untuk tahu soal ayahnya.


"Bu! Ibu sedih lagi ya? Kenapa sih setiap Bagas sebut-sebut Ayah, Ibu selalu murung," keluh Bagas.


Pria kecil itu tertunduk lesu melihat reaksi sang ibu yang seolah tak suka jika dirinya ingin bicara tentang ayahnya.


"Ehm … nggak kok. Ibu nggak sedih. Udah yuk, bentar lagi qomat lho," ajak Sarah.


Mereka berdua pun pergi menuju surau terdekat dan menunaikan sholat maghrib berjamaah.


.


.


.


.


Hai, guys😁banyak yang nebak Sarah sama Fadil nikah ternyata😋maaf ya nge twist😁


Emangnya, kalian lebih suka Sarah ama siapa sih? Balikan ma Miko apa ama Fadil aja🤔😋


Apapun endingnya, tungguin aja yah undangannya😎

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2