Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Bos baru


__ADS_3

Dua hari kemudian, Sarah berangkat seperti biasanya dan pergi ke playgroup terlebih dahulu untuk mengantar putranya.


Tepat sekitar pukul delapan pagi, dia sampai di kantornya. Minati yang saat itu tengah berada di lobi seusai memberikan briefing kepada para karyawan magang, berjalan mengimbangi Sarah yang juga hendak menuju ke lantai dua.


"Si bos udah dateng tuh. Pagi bener lho datengnya. Kayaknya, kita mesti berangkat lebih pagi lagi deh, Sar," tutur Minati.


"Bukannya jam kerja kita emang dimulai jam delapan ya? Nggak masalah dong kalo kita nyampe kantor jam delapan kurang lima menit doang," sanggah Sarah.


"Coba gih kamu tanyain," seru Minati.


"Lho, kenapa aku?" tanya Sarah sambil melangkah menyusuri anak tangga.


"Ya kan sekalian nyapa dia. Kamu kan belum nyapa dia kemarin pas penyambutan," ujar Minati yang berjalan di belakang Sarah.


"Iya … iya! Nih aku taruh tas dulu, habis itu langsung naik ke lantai tiga," ucap Sarah.


Wanita itu pun berjalan menuju meja kerjanya dan meletakkan tas di atasnya. Dia duduk sejenak dan memeriksa agenda harian yang selalu menjadi hal pertama yang dia lakukan sebelum memulai bekerja.


"Masih ada waktu satu jam untuk rapat dengan tim. Baiklah, nggak salah juga kalau aku oergi menyapa bos baru itu," gumam Sarah.


Dia pun meletakkan agendanya kembali ke tempat semula. Sarah melihat sekilas ke arah cermin dan memastikan bahwa penampilannya sudah terlihat baik dan rapi.


Wanita itu lalu berjalan menaiki anak tangga menuju ke lantai tiga, di mana ruang pimpinan mereka berada.


TOK! TOK! TOK!


"Masuk!" sahut suara di dalam.


DEG!


Sarah seperti mengenal suara orang yang ada di balik pintu itu. Dadanya bergetar dan tangannya mendadak gemetar.


"Masuk!" seru suara di dalam lagi, karena yang mengetuk tak kunjung masuk ke dalam.


Sarah menelan salivanya dengan susah payah, dan memberanikan diri memutar gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya.


Saat dia masuk, matanya seketika membola. Dia diam mematung dan beku seketika melihat sosok yang ada di hadapannya.


KLOTAK!


Pulpen jatuh dari genggaman tangan pria yang menjadi pimpinan baru kantor tersebut. Dia nampak bangun, dan berjalan mendekat ke arah Sarah yang masih diam mematung di tempatnya.


"Sarah," gumamnya lirih.


Dengan cepat, pria tersebut menarik ibu satu anak itu ke dalam dekapnnya. Sarah masih diam dan tak membalas pelukannya.


"Sarah, akhirnya aku menemukanmu! Aku menemukanmu, Sar," ucapnya.


Sarah yang sedari tadi diam, kini meronta dan berusaha melepskan diri dari dekapan pria itu.


PLAK!

__ADS_1


Sebuah tamparan tepat mengenai pipi kiri kepala cabang yang baru tersebut.


"Tolong Anda jaga kelakuan Anda. Ini di kantor. Saya datang kemari hanya ingin menyapa saja. Saya permisi," ucap Sarah.


Dia pun berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan bosnya.


Di luar, nampak seorang sekretaris hendak masuk dan hampir bertambarakan dengan Sarah. Dia melihat bosnya mengejar wanita itu, namun segera di tahannya.


"Maaf, Pak Miko. Apa ada masalah?" tanyanya.


Pria yang ternyata adalah Miko, mantan suami Sarah itu, hanya bisa menatap kepergian Sarah dari jauh.


"Pak! Pak Miko!" panggil sekretaris itu.


"Aku tidak apa-apa. Cepat katakan ada perlu apa?" ucap Miko.


"Pagi ini Bapak ada agenda meeting dengan divisi humas jam sembilan. Ini materi rapatnya," ucap sang sekretaris.


"Terimaksih, kamu boleh kembali ke tempatmu," sahut Miko.


Miko menerima lembaran agenda rapat itu, dan kembali masuk ke dalam ruangannya.


Pukul sembilan lebih lima menit, sekretaris yang tadi menghampiri Miko, kini menjemput bosnya kembali untuk mengantarnya pergi ke ruang rapat, di mana divisi humas sudah siap dengan presentasinya.


"Silakan, Pak," seru sang sekretaris saat membukakan pintu untuk bosnya.


Miko pun berjalan masuk, dan dia kembali dikejutkan dengan keberadaan mantan istrinya turut hadir di dalam ruangan tersebut.


"Baiklah, karena tamu istimewa kita sudah hadir, maka rapat pagi ini akan segera dimulai," ucap sang moderator yang masih termasuk ke dalam divisi humas.


Satu persatu tim dari divisi humas menyampaikan hasil temuan mereka di masyarakat terkait penialain produk perusahaan mereka. Solusi pun satu persatu bisa didapatkan.


Hingga rapat selesai, baik Miko maupun Sarah diam. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan tak fokus pada jalannya rapat.


Saat rapat dinyatakan selesai, Sarah buru-buru membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar ruangan. Dia berusaha menghindari Miko yang sudah pasti ingin bicara banyak dengannya.


Dia kini telah duduk di balik meja kerjanya, dan menyandarkan punggunya sambil memejamkan kedua matanya.


Sarah mencoba mengatur nafas yang sejak tadi memburu cepat. Pertemuan tak terduganya dengan mantan suami, membuatnya marah, sakit hati dan juga gugup. Namun, dibalik itu semua, ada rasa rindu yang terselip di hatinya.


Raut wajah Miko yang terlihat begitu senang saat melihatnya, hingga tindakannya yang serta merta memeluknya, membuat janda itu mengepalkan kedua tangannya.


Saat pikirannya masih coba ia tenangkan, Yusuf, menejer pemasaran yang selalu kompak dengan Minati untuk urusan bergosip, tiba-tiba datang dan mengetuk meja Sarah.


TUK! TUK! TUK!


Sarah pun segera membuka mata dan menegakkan duduknya.


"Ada apa, Mas Yusuf?" tanya Sarah.


"Dipanggil si bos tuh," ujar Yusuf.

__ADS_1


"Dipanggil si bos? Bukannya tadi habis meeting bareng satu divisi?" sahut Minati yang entah dari mana tiba-tiba nimbrung.


Sarah hanya menghela nafas kasar, dan kembali menyandarkan punggugnya ke kursi.


"Mau ngapain sih?" tanya Sarah malas.


"Katanya mau minta notulen rapat tadi," ucap Yusuf.


"Kan bisa minta ke notulisnya. Kenapa nyarinya aku. Aneh," cibir Sarah.


"Wah … jangan-jangan ada yang cinta pada pandangan pertama nih," seloroh Minati.


"Siapa maksumu, Mbak Min?" tanya Yusuf yang mendadak ingin tahu.


"Ya siapa lagi, si duda yang ketemu sama janda lah," sindir Minati.


Sarah hanya diam dan kembali memejamkan matanya mendengar sindiran tajam dari rekannya itu.


"Eh … seriusan? Iya kah, Sar? Si bos naksir kamu gitu? Widih … keren," sahut Yusuf.


Sarah tiba-tiba bangkit berdiri.


"Dia cuma minta notulen kan?" tanya Sarah yang terlihat merapikan berkas-berkas.


"Iya, tadi bilangnya sih gitu," sahut Yusuf.


"Oke, aku antarkan," ucap Sarah.


Wanita itu pun berlalu pergi meninggalkan Minati dan Yusuf yang masih berdiri di depan meja kerjanya.


Dia meminta notulis untuk memberinya salinan rangkuman dari rapat pagi tadi, dan mengantarkannya langsung ke lantai tiga.


TOK! TOK! TOK!


"Masuk," seru sjara di dalam.


Sarah mengambil nafas dalam dan ia pun masuk ke ruangan di mana mantan suaminya berada. Miko menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. Namun Sarah, hanya berjalan dengan tatapan lurus dan ekspresi yang sangat datar.


Sesampainya dia di depan meja Miko, Sarah langsung meletakkan notulen ke atas meja, dan berbalik hendak pergi.


"Tunggu, Sar. Ada yang ingin ku bicarakan," cegah Miko.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2