
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anisa Nur Rahma binti Surono, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," begitulah qobul yang diucapkan oleh Fadil dengan lantang di hadapan semua tamu undangan.
Miko membelalak saat dokter itu menyebutkan nama yang lain, dan bukan nama mantan istrinya.
"Jadi … jadi dia nggak …," ucap Miko terbata.
Dodi melihat binar bercampur haru di mata temannya itu. Dia pun menepuk pundak Miko dan memintanya untuk mencari tahu yang sebenarnya.
"Selamat, Bro. Rupanya, cintamu belum kandas," ucap Dodi.
Setelah semua orang di tempat itu mengucap kata 'sah', dan diiringi oleh doa tulus dari keluarga, kerabat serta undangan yang hadir, kini sepasang pengantin baru itu digiring kepelaminan untuk mendapatkan ucapan selamat dari semuanya.
Miko pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah kedua makluk yang tengah berbahagaia itu, untuk mencari penjelasan atas semua ini.
Fadil melihat kedatangan Miko dan tersenyum ke arah pria itu.
"Pak Miko. Saya senang, ternyata Anda benar-benar datang," ucap Fadil.
Miko mengulurkan tangannya hendak menyalami Fadil. Namun, Fadil segera menarik tangan pria itu dan memberinya sebuah pelukan, serta menepuk-nepuk punggung Miko.
"Kejarlah dia. Dia masih menunggumu," ucap Fadil sembari mengurai pelukannya.
"Ta … tapi, aku kira kalian …," ucap Miko terbata.
"Aku nggak mungkin menempati sebuah rumah, saat pemilinnya masih berada di sana kan. Dalam hatinya masih ada Anda, jadi saya memutuskan untuk menyerah dan mencari hati kosong yang mau menerima saya," sela Fadil sambil merangkul pundak wanita, yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Bu Nisa, jadi Anda …," ujar Miko.
Pria itu seolah tak mampu melanjutkan setiap kalimat yang ingin keluar dari mulutnya.
"Iya, Pak Miko. Saya lah pengantin Mas Fadil, bukan Bu Sarah," sahut Nisa, pengajar di playgroup tempat anaknya biasa dititipkan.
"Apa … apa Sarah …," tanya Miko.
"Dia di sini. Temui dia dan selesaikan semua masalah di antara kalian berdua. Luruskan semua kesalah pahaman yang selama ini menjadi jurang pemisah di hubungan kalian," seru Fadil.
"Tadi dia masih ada di kamar ganti. Mungkin sebentar lagi dia ke sini," timpal Nisa.
Miko pun tak berkata-kata lagi. Dia segera berlari ke tempat yang ditunjukkan oleh kedua mempelai itu.
"Semoga mereka bisa bersatu lagi ya, Mas," ucap Nisa yang melihat kepergian Miko.
"Iya. Lihat betapa galaunya dia, sampai tak sadar kalau foto pre-wedding yang dipajang di depan adalah foro mu, bukan Sarah," sahut Fadil.
Mereka pun kembali menemui tamu yang lain, yang maju untuk mengucapkan selamat.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
__ADS_1
Di tempat lain, Dodi dan Miko berlari di sepanjang lorong lantai tiga hotel X Surabaya. Dodi hendak menunjukkan tempat kamar ganti pengantin yang sempat ia tanyakan kepada salah satu panitia.
Saat hampir sampai, pintu nampak terbuka dan terlihat seorang anak kecil keluar dan melihat kehadiran kedua pria dewasa itu.
"Ayah!" pekiknya.
Miko pun menghentikan larinya dan menatap tajam ke arah putranya yang ada di depan sana.
"Ayah!" panggil Bagas lagi.
Miko pun berjalan cepat dan menghampiri Bagas. Dia memeluk erat anak kecil itu sembari bernafas lega, karena bayangan akan kehilangan Sarah dan juga seluruh perhatian anaknya tak benar-benar terjadi.
"Ayah. Ayah kenapa ke sini nggak bilang-bilang? Kan kita bisa dateng barengan," tanya Bagas.
Miko mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah putranya itu.
"Maaf yah. Ayah kira Bagas bakal pergi sama Ibu aja. Oh iya, apa ibu ada di dalam?" tanya Miko.
"Ehm …," Bagas mengangguk.
Miko menoleh ke arah Dodi yang masih berdiri di sampingnya. Seolah mengerti, Dodi pun mengambil alih Bagas agar mau ikut dengannya sebentar.
"Bagas, kenalin ini Oom Dodi, teman Ayah. Bagas bisakan ikut Oom Dodi sebentar. Ayah mau bicara berdua sama Ibu. Nggak papa yah," bujuk Miko.
"Kita beli es krim sama gulali mau?" rayu Dodi.
"Mau!" seru Bagas senang.
sementara itu, Miko berdiri dan mencoba mengusap wajahnya yang nampak kacau karena hampir menangis, dan mencoba mengatur debaran jantungnya agar bisa tetap tenang saat berhadapan dengan Sarah.
Dia pun meraih gagang pintu dan membukanya.
Nampak di dalam sana, seorang wanita yang memakai kebaya berwana merah, dengan kain sebagai bawahannya, tengah mengenakan anting sambil bercermin, sehingga hanya fokus pada pantulan dirinya, terutama area telinga.
"Lho, kenapa masuk lagi? Katanya mau ke kamar Bela di sebelah?" tanya wanita itu.
Debaran jantung Miko semakin tak karuan, saat melihat wanita yang amat ia cintai tengah berada tepat di hadapannya.
"Sar," panggil Miko.
Sarah pun seketika melihat ke pantulan cermin, dan menyadari keberadaan Miko di belakangnya. Dia berbalik dan kini berhadapan dengan mantan suaminya itu.
"Mas Miko? Kamu juga datang? Apa Mas Fadil yang …," tanya Sarah.
Miko maju dan seketika memeluk wanita itu, hingga Sarah pun harus menghentikan kata-katanya.
"Kenapa kamu sekejam ini padaku, Sar? Apa kamu tau, jantungku hampir berhenti berdetak saat menerima undangan itu. Aku kira … aku kira itu kamu," ucap Miko di sela pelukannya.
__ADS_1
Sarah diam. Tangannya tetap pada tempatnya dan tak membalas pelukan pria itu. Namun, lingkar matanya yang tadi berseri, kini terlihat memerah dan lapisan bening mulai nampak di sana.
"Apa kau bodoh? Bukankah di sana tidak ada namaku," ejek Sarah dengan suara yang terdengar bergetar.
Miko pun mengurai pelukannya dan merengkuh pundak mantan istrinya itu. Betapa bingungnya dia saat melihat wajah cantik itu, kini berubah memerah, dengan genagan yang mulai terbentuk di pelupuk matanya.
"Mana sanggup aku membukanya, Sar. Membayangkan namamu berjejer dengan pria lain saja aku tak sanggup," ucap Miko lirih.
"Dasar bodoh! Harusnya kamu buka undangan itu, jadi kan nggak galau begini," ledek Sarah sambil berusaha tersenyum.
"Ta … tapi … kenapa bisa begini? Bukannya kamu bilang kalau kamu nyaman sama dokter itu?" tanya Miko.
"Dari mana kamu tau?" tanya Sarah balik.
"Maaf, aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan mu dengan menejer personalia itu," ungkap Miko.
"Oh … jadi si bos tukang nguping yah," sindir Sarah.
"Bu … bukan begitu maksudku. Saat itu, aku hanya mau memberimu hadiah, atas keberanianmu menghadapi gosip miring saat itu. Tapi, justru aku yang diberi kejutan," tutur Miko.
"Sampai mana kamu mendengarnya, Mas?" tanya Sarah.
"Apa sekarang itu penting?" tanya Miko balik.
"Hah … baiklah. Aku memang nyaman berada bersama dia, dan sangat kesal setiap kali bersama dengan mu, apalagi untuk menghadapi sikap egoismu itu." Sarah melepaskan diri dari kekangan Miko dan berjalan menuju ke tempat duduk.
Miko pun mengikuti ke mana wanita itu berjalan, dan duduk di kursi sebelahnya.
"Aku minta maaf, Sar. Aku tau selama ini aku selalu saja egois. Berpikir egois, bertindak egois, dan bicara seenaknya tanpa memikirkan perasaan mu. Itulah kenapa, aku mencoba merelakanmu untuk dokter itu," tutur Miko.
"Syukurlah kalau kau sadar atas kekuranganmu yang satu itu, Mas. Dan untuk Mas Fadil, dia pria baik. Dia pun sudah memberi tahu kan tentang perbincangannya dengan mu. Bahkan, dia sempat mengajakku untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius," ungkap Sarah.
Miko nampak mengepalkan tangannya. Dadanya gembali bergemuruh.
"Lalu?" tanya Miko penasaran.
"Lalu, tentu saja kami pun mencobanya …,"
.
.
.
.
yang tebakannya benar, selamat yah😁
__ADS_1
untuk tim Fadil-Sarah, maaf ya😅🙏✌intinya kan dia yang duluan bahagia dengan pendamping barunya kan😁
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏