Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mediasi


__ADS_3

Seminggu kemudian, Di kediaman keluarga Pak Riswan, saat ini mereka hendak sarapan bersama.


Bu Riswan nampak menyiapkan menu sarapan bersama Sarah, yang pagi itu sudah terlihat rapi dengan blouse putih dan bawahan celana bahan hitam.


Pak Riswan nampak tengah menggendong cucu laki-lakinya di taman belakang, sambil menjemur bayi itu agar mendapat vitamin D dari sinar mentari pagi.


"Pak, sarapan dulu," seru Bu Riswan dari pintu dapur yang langsung berbatasan dengan taman belakang, tempat sang suami sedang bersama dengan cucunya.


Pak Riswan pun menoleh dan mengulas senyum sambil mengangguk ke arah istrinya, waniat yang sudah bertahun-tahun setia menemaninya dan memberinya dua orang anak.


Pria tua itu pun kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggendong bayi mungil tersebut.


"Sumi, tolong kamu gantiin Bapak buat gendong Bagas," seru Bu Riswan kepada salah seorang pekerja yang hari itu kebetulan bertugas membatunya di rumah.


"Nggih, Bu (Iya, Bu)," sahut Sumi.


Pak Riswan pun menyerahkan cucunya yang telah dinamai Bagaskara Adi Jaya, atau yang biasa dipanggil Bagas itu kepada Bu Sumi.


"Tolong ya, Sum," ucap Pak Riswan kepada salah satu pekerjanya.


Keluarga Pak Riswan tak pernah mengangkat asisten rumah tangga, melainkan meminta tolong kepada para pekerja yang biasa membantu di kebun, untuk bergiliran membantu beberes di rumah, tentu saja dengan upah harian, sama seperti saat bekerja di kebun.


Untu urusan cuci mencuci pakaian, Bu Riswan mempercayakannya kepada jasa laundry yang dimiliki Tino, putranya, yang memang membuka usaha tersebut sebagai penghasilan tambahan selain pekerjaannya di salah satu bank swasta.


Kini, Pak Riswan, Bu Riswan dan juga Sarah, tengah menikmati sarapan yang dibuat oleh nyonya rumah itu dibantu oleh Bu Sumi.


"Sar, hari ini sidangnya kan?" tanya Pak Riswan saat selesai menyantap makanannya.


Pantang dalam keluarga itu, berbicara di tengah acara makan. Mereka akan memilih berbicara sebelum atau setelah selesai bersantap.


"Nggih, Pak (Iya, Pak). Setelah sarapan, aku mau pergi ke pengadilan untuk agenda mediasi pertama," jawab Sarah.


"Memangnya kamu sudah dapat pengacaranya, Nduk?" tanya Bu Riswan


"Alhamdulillah sudah, Bu. Susan, temenku yang di semarang sudah carikan. Hari ini, kami akan ketemu langsung di pengadilan," jawab Sarah.


"Kamu benar-benar sudah mantap untuk pisah sama Miko, Sar?" tanya Pak Riswan memastikan.


"Insya Allah ini yang terbaik, Pak. Meskipun sebenarnya, ini keputusan egois Sarah, yang memisahkan Bagas dengan ayahnya," tutur Sarah.


Wajahnya kembali terlihat sendu, saat menatap sang putra yang saat ini digendong oleh Bu Sumi.


Bu Riswan pun melihat kesedihan di mata putrinya. Wanita tua itu meraih tangan Sarah, dan menggenggamnya erat.


"Kamu yang sabar yah. Ini semua ujian buat kita. Semoga, kamu selalu diberikan yang terbaik oleh Allah SWT," ucap sang ibu mendoakan kebahagiaan untuk sang putri tercinta.

__ADS_1


Tak ada satu pun orang tua yang senang melihat anak mereka bercerai dengan pasangannya. Namun, jika itu lebih baik dari pada bersama, maka mereka hanya bisa mendukung semua keputusan anak-anaknya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Di pengadilan, Sarah yag sudah datang satu jam sebelum waktu yang ditentukan, kini tengah menunggu di ruang tunggu. Pengacara yang di kenalkan Susan, temannya, belum juga menunjukkan kehadiran di tempat tersebut, dan membuat Sarah semakin merasa gugup.


Pintu ruang mediasi terbuka, dan seorang petugas memanggil namanya dan nama sang suami.


"Bapak Miko Santanu Aji dan Ibu Sarah Amalia," panggilnya.


Sarah pun segera menoleh. Dia melihat jika hanya ada dirinya saja di sana. Miko pun tak nampak hadir sama sekali.


"Ya, saya Sarah Amalia," ucap Sarah.


"Silakan masuk ke dalam," ucap petugas tersebut.


Sarah pun masuk ke dalam ruangan yang akan digunakan sebagai ruang mediasi antara dirinya dan Miko.


Seperti yang sudah diketahui, jika acara hari ini adalah mediasi pertama, di mana pihak pengadilan agama akan mengupayakan berbagai cara, memberikan nasihat kepada pasangan yang hendak berpisah, agar kembali memikirkan baik-baik keputusan tersebut.


Agenda tersebut pun bermaksud untuk membuat keduanya agar tetap bersatu dan menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.


Tepat saat Sarah hendak masuk, seorang wanita nampak berjalan ke arahnya dengan berpakaian formal. Wanita tersebut nampak membetulkan letak kaca matanya yang sedikit melorot dari tempat seharusnya.


Sarah terus memperhatikan dan menunggunya, meskipun dia tak tau siapa wanita itu.


"Ya, saya Sarah. Ehm … Anda …" sahut Sarah.


Wanita berkacamata itu tampak mengulurkan tangannya. Sarah pun meraihnya dan berjabat tangan.


"Perkenalkan, saya Monika. Saya yang akan menjadi pengacara Anda selama proses perceraian ini," ucapnya memperkenalkan diri.


"Oh, Mbak Monika. Senang bisa ketemu Mbak," sahut Sarah.


"Saya pun begitu. Maaf karena datang terlambat. Ada yang perlu diurus tadi," tutur Monika.


"Iya. Nggak papa kok. Belum mulai ini," ucap Sarah tersenyum.


Mereka berdua pun berjalan bersama masuk ke dalam ruangan.


Di sana sudah ada seorang mediator yang ditunjuk oleh pengadilan, karena baik Sarah maupun Miko tidak memilih mediator mereka sebelumnya, sehingga pengadilan memilihkan mediator yang sesuai untuk menangani persoalan antara keduanya.


"Selamat pagi, Ibu Sarah dan …," sapa mediator tersebut.


"Monika Maheswati. Saya kuasa hukum Ibu Sarah," ucap Monika.

__ADS_1


"Yah, selamat pagi Ibu Sarah dan Ibu Monika. Perkenalkan, saya Lulu Latifah, mediator yang akan memandu jalannya mediasi dalam kasus perceraia Anda," jelas Lulu, sang mediator.


"Selamat pagi, Bu Lulu," sapa Sarah.


"Apa pihak tergugat belum hadir?" tanya sang mediator.


"Sepertinya belum," jawab Monika cepat.


"Baiklah. Mari kita tunggu sebentar lagi," ucap Lulu.


Sarah nampak diam. dia hanya memandangi kedua perempuan yang berada dalam satu ruangan dengannya itu secara bergantian.


Sang mediator, Lulu, nampak sibuk mengecek kelengkapan berkas yang diajukan, sedangkan si pengacara Monika, tengah sibuk dengan layar tab-nya.


Cukup lama mereka menunggu, hingga tak terasa sudah lewat satu setengah jam dari jadwal awal.


"Sepertinya, pihak tergugat tidak akan hadir," ucap Monika tiba-tiba.


"Yah, ini sudah satu jam setengah dari jadwal yang ditentukan. Sangat lama untuk sekedar terlambat," sahut Lulu.


Sarah nampak diam, karena dia tak tau apapun perihal proses perceraian. Dia asal maju saja, berbekal informasi yang didapat dari laman internet tentang tata cara perceraian, dibantu oleh kuasa hukum yang dikenalkan oleh sahabatnya, Susan.


"Sepertinya, proses mediasi pertama ini kita anggap selesai, karena tidak mungkin mediasi hanya dengan satu pihak saja. Untuk mediasi selanjutnya, saya akan jadwalkan dua minggu lagi. Suratnya akan dikirim ke alamat masing-masing, dan saya harap, kedua pihak bisa hadir di sini," ucap sang mediator.


"Baik, Bu," sahut Sarah.


Mereka bertiga pun saling berjabat tangan. Setelah itu, Sarah dan juga Monika berjalan keluar dari ruang mediasi tersebut.


"Saya harap, pihak tergugat tidak akan pernah hadir di sidang," ucap Monika.


Sarah menghentikan langkahnya, dan menatap monikan dengan kebingungan.


"Kok gitu? Nanti tambah lama dong sidangnya," ujar Sarah.


"Justru sebaliknya. Pengadilan akan cepat memutuskan perceraian ini, karena melihat tergugat sama sekali tidak ada niatan untuk memperbaiki hubungannya," jawab Monika.


.


.


.


.


Maaf, kemarin bolos up🙏🤧lagi ada kesibukan di RL, semoga kalian semua, pembaca ku yang budiman, tidak bosan nunggu up date novel ini ya😁✌

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2