
Rasa penasarannya terhadap sosok anak laki-laki yang bersama Sarah, terus berada di pikirannya.
"Kenapa kartu keluarga ini tidak yang terbaru?" tanya Miko kepada Fajar.
"Saya kurang tau, Pak. Nanti akan saya tanyakan," sahut Fajar.
"Jangan nanti. Sekarang juga, panggil menejer itu ke mari," seru Miko.
"Baik, Pak," sahut Fajar.
Sang sekretaris pun berjalan keluar dan memangil Minati melalui sambungan telepon kantor.
Tak berselang lama, Minati datang dan dipersilakan masuk ke dalam ruang kerja Miko.
"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Minati saat sudah masuk ke ruangan sang atasan.
"Saya minta data terbaru semua karyawan bukan? Kenala ada data lama yang masih diikutkan?" tanya Miko.
"Maaf, saya kurang paham maksud Bapak," sahut Minati.
Miko menyodorkan data Sarah ke depan meja, agar Minati bisa melihatnya dengan jelas.
"Lihatlah ini. Ini data dari lima tahun yang lalu. Bisa saja kan sekarang sudah berubah," ucap Miko.
Minati melihat jika yang dipertanyakan adalah data milik rekan sesama menejernya.
"Maaf, Pak. Ibu Sarah selalu lupa untuk membawa foto copy kartu keluarga terbarunya. Jadi, saya memutuskan untuk memakai data lamanya. Karena setau saya, semuanya masih sama sampai sekarang," ungkap Minati.
Apa? Ja … jadi, Sarah masih menjanda? Dia dan pria itu tidak … Ya Allah … apa yang sudah ku lakukan. Aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak, batin Miko.
Pria itu lemas seketika, saat menyadari kesalahannya pada Sarah tempo hari.
Minati menyadari jika bosnya itu terdiam dengan tatapan kosong, dan dia pun memperhatikannya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Benarkan. Pasti ada apa-apa antara mereka berdua, batin Minati.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Setelah mengetahui kenyataan jika Sarah masih berstatus janda dengan satu orang anak, Miko merasa bahwa dirinya masih punya kesempatan untuk kembali bersama dengan mantan istrinya tersebut.
Namun, yang jadi perhatiannya saat ini adalah, anak laki-laki yang bersama Sarah waktu itu. Kenapa dia merasa begitu dekat dengannya, padahal dia tak pernah sekali pun mengenal anak itu sebelumnya.
Pikiran Miko yang selalu rasional, membawanya pada kesimpulan jika Sarah melakukan hal yang sama seperti Lidia dulu, yaitu mengambil anak adopsi sebagai ganti dari buah hati mereka yang telah pergi ke surga.
Sejak hari itu, Miko selalu pergi keluar saat jam makan siang berlangsung. Dia sangat hapal akan kebiasaan Sarah, yang setiap harinya pasti membawa bekal dan memakannya di kantor pada saat tengah hari.
Pria itu tidak pergi untuk makan, melainkan ke suatu tempat yang sangat ingin ia datangi.
Nampak dari seberang jalan, di mana mobil Miko terparkir, terlihat seorang anak laki-laki yang tengah bermain bola di lapangan sekitar taman bermain di sebuah playgroup.
Miko terus memperhatikan anak kecil itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Kenapa aku selalu merasa ingin melihat anak itu? Rasanya sangat merindukannya, hingga ingin berlari dan memeluknya, batin Miko.
Dia terus memperhatikan setiap gerak gerik anak kecil itu hingga tiba-tiba, bola yang dimainkannya terlempar jajh hingga ke arah pintu gerbang.
Anak kecil yang tak lain adalah Bagas pun berlari mengambil bolanya. Pandangan matanya menangkap seseorang yang sepertinya ia kenal. Bagas pun terus memperhatikan orang tersebut dari tempatnya berada.
__ADS_1
Miko yang sedari tadi melihat pun sadar, jika Bagas terus menatap ke arahnya. Pria itu menjadi salah tingkah dan segera memalingkan wajahnya, dan menutup rapat kaca mobil.
"Apa dia melihatku tadi? Gawat. Bisa-bisa, dia ngadu sama ibunya. Sarah pasti bakal tambah marah lagi sama aku, gara-gara dikira menguntit putranya," gumam Miko.
Ditengah kebingungannya, tiba-tiba kaca mobilnya diketuk oleh seseorang. Dia pun menoleh ke samping kanannya, namun tak ada siapa-siapa.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar kembali ketukan dan Miko pun menoleh ke samping kiri. Dia begitu terkejut melihat Bagas yang sudah berdiri di sana, sambil mengintip ke dalam mobil.
Miko pun mau tak mau keluar dari dalam mobil dan menghampiri anak laki-laki itu.
Saat ini, mereka tengah berhadapan langsung. Bagas terus memandangi pria dewasa di hadapannya lekat-lekat, membuat Miko kembali salah tingkah.
Ayah, batin Bagas.
"Ha … hai," sapa Miko canggung.
"Oom yang kemarin mukul papahnya Kak Bela kan?" tanya Bagas dengan wajah polosnya.
"Oh … ehm … itu … yah, kemarin ada sedikit salah paham. Oh iya, tadi kamu dari sana ke sini, nyebrang jalan sendiri?" tanya Miko sambil melihat jarak dari gerbang playgroup ke tempat mobilnya berada.
Bagas hanya mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya dari Miko.
"Bahaya lho, Nak. Kalau ada mobil lewat bagaimana?" seru Miko.
Bagas cuma mau lihat ayah dari dekat, batin Bagas.
Melihat anak kecil itu terus diam, Miko pun kembali salah tingkah.
"Ehm … kenalin, nama Oom, Miko," ucap Miko sambil mengulurkan tangannya kepada pria kecil di hadapannya itu.
Anak kecil itu meraih tangan Miko yang terulir, dan mencium punggung tangan ayah yang belum mengetahui jika dirinya ada.
Ada rasa haru yang tiba-tiba menyergap hati duda itu. Lingkar matanya memerah dan terasa pedih.
Kenapa aku? Kenapa rasanya sedih sekali? batin Miko.
Miko pun mencari pengalihan. Dia menoleh ke kiri dan kanannya dan melihat sebuah kedai es krim tak jauh dari tempatnya berada.
"Ehm … apa kau mau es krim?" tawar Miko.
Bagas pun mengangguk.
Miko mengulurkan kembali tangannya ke arah anak kecil itu, dan segera disambut oleh Bagas. Keduanya pun berjalan bersama ke kedai es krim.
"Selamat datang," sapa penjaga kedai es krim.
"Kak, Bagas mau es krim cone rasa coklat yang banyak kacangnya," seru Bagas.
Miko tersenyum ke arah putranya, melihat betapa santainya dia memesan es krim, meski dengan orang asing.
"Berikan yang dia mau," ucap Miko.
Penjaga kedai es krim itu pun memberikan apa yang diinginkan oleh Bagas.
"Ini pesannya. Silakan bayar di kasir," seru si penjaga.
__ADS_1
Setelah Miko membayarnya, Bagas meminta diantarkan kembali ke playgroup.
"Tidak mau makan di sini dulu saja?" tanya Miko.
"Tidak, Oom. Nanti Bu Nisa khawatir nyariin Bagas," jawab si pria kecil itu.
Miko mengusap lembut puncak kepala Bagas, dan mengulukan tangannya kembali.
"Baiklah, ayo," ajak Miko.
Keduanya pun kembali berjalan dan menuju ke playgroup tempat Bagas dititipkan oleh Sarah setiap harinya.
Sesampainya di depan gerbang, Nisa melihat kedatangan Miko dan Bagas dari jauh, lalu segera menghampiri keduanya.
Saat mereka mendekat, Bagas pun berlari menghampri penhajarnya.
"Bagas, dari mana saja kamu?" tanya Nisa.
"Tadi Bagas habis dibeliin es krim sama Oom itu," sahut Bagas sambil menunjuk ke arah Miko yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.
Itukan, Ayah Bagas, batin Nisa.
"Ehm … Bagas, tunggu sebentar di sini yah. Ibu mau bicara dulu sama Oom nya," ucap Nisa.
"Ehm … ." Bagas pun mengangguk.
Nisa berjalan mendekat ke arah Miko yang masih berdiri di tempatnya.
"Maaf, apa anda kenal dengan anak itu?" tanya Nisa memastikan, karena dia tau ayah dan anak itu tidak saling kenal.
"Ehm … setau saya, dia anak dari kenalan saya. Keberulan, tadi saya lihat dia, dan mengajaknya untuk membeli es krim di kedai depan. Apa itu salah?" tanya Miko yang merasa tengah diinterogasi.
Rupanya pria ini belum tau kalau Bagas adalah anaknya, batin Nisa.
"Apa Anda mengenal baik orang tuanya?" tanya Nisa lagi.
"Yah, cukup baik. Nama ibunya Sarah Amalia bukan," jawab Miko.
"Ehm … baiklah, saya percaya jika Anda salah satu kerabat dekat dari anak itu. Tapi lain kali, sebaiknya Anda minta ijin dulu pada pihak sekolah, agar kami tidak khawatir dan ada pertanggungjawaban," seru Nisa.
"Baiklah. Maafkan saya sekali lagi. Kalau begitu, saya pamit," ucap Miko.
"Silakan, hati-hati," sahut Nisa.
"Hei, Sobat. Oom pergi dulu ya," ucap Miko kepada putranya.
Bagas pun melambaikan tangannya sembari tersenyum ke arah Miko.
Hati-hati di jalan, Ayah, batin Bagas.
.
.
.
.
__ADS_1
Kenapa othor nyesek yak pas nulis suara hati Bagas🤧🤧🤧🤧🤧ada yang se server?
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏