Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Doa dari pria kecil


__ADS_3

"Tunggu, Sar. Ada yang ingin ku bicarakan," cegah Miko.


Namun, Sarah tetap berjalan dan membuat Miko bangkit dari duduknya dan mengejar wanita itu. Dia meraih tangan Sarah dan membuat mantan istrinya tertarik dan berbalik seketika.


"Lepas!" ronta Sarah yang mencoba menghempaskan tangan Miko darinya.


"Sar, tolong kamu dengarkan aku dulu. Aku butuh bicara berdua denganmu," ucap Miko.


"Maaf, tapi saya tidak ada yang ingin dibicarakan dengan Anda," sahut Sarah.


Wanita itu sengaja memakai bahasa yang formal dan kaku kepada Miko, untuk membuat pria itu sadar akan batasannya.


Namun, rasa rindu dan cinta yang masih ada di dalam hati pria itu, membuatnya tak bisa melihat usaha Sarah untuk menjaga jarak darinya.


"Sarah, tolong dengarkan aku dulu. Sepuluh menit! Tidak … lima menit saja, tolonglah," ucap Miko menghiba.


Sarah yang sedari tadi meronta pun kemudian tenang. dia memilih mengalah dari pada pria di hadapannya ini semakin menjadi.


"Sar, aku minta maaf. Aku … aku tak tau soal perceraian kita. Lidia, wanita itu menyembunyikan semua surat panggilan dari pengadilan. A … aku … aku sama sekali tidak mau menyetujui perceraian itu." Miko maju dan meraih pundak Sarah.


"Sar, tolong kasih aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Kamu mau kan," pinta Miko.


Namun, Sarah yang tadi diam, seketika langsung menyingkirkan kedua tangan mantan suaminya dengab kasar.


Dia kemudian menatap Miko dengan tatapan yang menghunus langsung ke dalam manik hitam pria itu.


"Saya tidak peduli apakah Anda sadar atau tidak soal tersebut. Saya justru berterimakasih kepada istri Anda itu, karena berkat usahanya, saya bisa dengan mudah mengakhiri proses yang harusnya berlangsung sangat lama itu."


"Dan satu hal lagi, semuanya sudah berakhir. Tolong profesional lah dalam bekerja. Jangan campur adukkan pekerjaan dengan perasaan, karena saya pun akan seperti itu. Permisi," ucap Sarah tegas.


Miko terpaku mendengar penuturan Sarah. Tak ada lagi binar cinta di matanya. Mata yang dulu selalu mentapnya dengan lembut dan penuh kasih, kini telah hilang. Sarah yang saat ini dia lihat, adalah sosok yang keras dan tak pernah Miko kenal sebelumnya.


Dia pun berjalan gontai ke arah kursi kerjanya dan duduk dengan lemas di sana.


Saat itu, seseorang masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, Pak. Apa ada malasah? Tadi saya mendengar teriakan dari dalam ruangan Bapak sehingga saya datang ke mari untuk memeriksa," ucap sang sekretaris.


"Tidak apa-apa, Jar. Hanya sedikit urusan pribadi di masa lalu," sahut Miko kepada sang sekretaris.


"Apa Anda mengenalnya, Pak?" tanya Fajar sang sekretaris.

__ADS_1


"Dia mantan istriku. Kami berpisah lima tahun yang lalu," ungkap Miko.


Terlihat jelas kekecewaan di wajah pria yang kini duduk di kursi pimpinan pada salah satu cabang perusahaan itu.


"Jar, tolong kamu rahasiakan ini dari yang lain. Aku tidak mau dia merasa tak nyaman kerja di sini," seru Miko.


"Baik, Pak," sahu Fajar.


Meskipun kamu belum mau menerimaku lagi, setidaknya, aku bisa terus melihatmu di sini, batin Miko.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sore hari, seperti biasa, Sarah pulang dan menjemput dahulu putranya. Namun, sepanjang perjalanan, wanita itu cenderung diam, hingga beberapa kali putranya bertanya, dia bahkan tak menjawabnya dengan benar. Hanya gumaman singkat saja yang terdengar.


Meskipun masih kecil, namun Bagas yang selalu saja menadapat ceramah dalam bentuk omelan dari sang bunda, merasa aneh dengan sikap Sarah saat ini.


"Bu, Ibu kenapa? Ibu sakit?" tanya Bagas kepada ibunya.


"Ehm … oh … nggak, kok. Ibu sehat-sehat aja. Kenapa memangnya?" tanya Sarah.


"Jabisnya, dari tadi Ibu diem mulu. Bagas ajak ngomong aja, Ibu nggak jawab," keluh Bagas.


Sarah pun menoleh sekilas dan mengulurkan tangannya ke arah sang putra. Dia mengusap lembut puncak kepala pria kecil itu yang tengah merajuk.


Bagas masih cemberut sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


Hah … ini pasti karena kejadian tadi pagi, batin Sarah.


Sepanjang hari, dia selalu berusaha agar tidak bersinggungan dengan bos barunya, Miko. Setuap kali ada hal yang perlu persetujuan sang atasan, dia selalu meminta bantuan bawahannya untuk maju dan meminta tanda tangan.


Seperti pengecut memang, namun hanya itu yang bisa Sarah lakukan demi meminimalisir kontak dengan Miko. Kalau bisa, bahkan dia tidak ingin ada kontak sama sekali.


Namun, untuk perusahaan kelas cabang seperti itu, di mana posisi Sarah berada langsung di bawah pimpinannya, membuat dirinya sedikit banyak harus berhadapan dengan Miko.


Sesampainya di rumah, Sarah langsung mengajak Bagas untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai mengurus putranya, dia pun menuju kamar dan membersihkan dirinya sendiri.


Rintik hujan mulai turun saat menjelang adzan maghrib. Sarah pun menyiapkan tempat sholat di rumah untuk jamaah dengan putranya.


Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara adzan menyerukan umat muslim untuk menunaikan kewajibannya kepada Sang pencipta.


"Bagas! Nak!" panggil Sarah.

__ADS_1


Bagas yang saat itu sedang berada di dalam kamarnya di lantai satu pun, keluar dan menghampiri ibunya.


"Ya, Bu," sahut Bagas.


"Ayo ambil wudhu dulu. Di luar hujan. Kita sholat di rumah saja kali ini," ucap Sarah.


"Bareng," pinta pria kecil itu.


Sarah pun tersemyum dan mengulurkan tangannya ke arah sang putra. Bagas dengan cepat meraih tangan Sarah dan mereka pun berjalan bersama ke arah kamar mandi.


Selepas wudhu, Sarah yang mengambil posisi menjadi imam sholat, karena Bagas yang belum begitu lancar bacaan surat pendek dan masih sering teralihkan fokusnya akan sesuatu.


Seusai sholat, Sarah dan Bagas berdoa bersama. Ketika sholat di rumah, Bagas selalu mengeraskan suaranya ketika berdoa.


"Ya Allah, buat Ayah Bagas pulang, Ya Allah. Bagas pengin ketemu sama Ayah," ucap Bagas.


Sarah seketika berhenti merapalkan sholawat. Hatinya sangat sakit mendengar perkataan putranya itu yang tengah meminta kepada tuhannya, betapa rindunya dia kepada sang ayah.


"Bagas mau kayak temen-temen Bagas yang lain. Yang bisa main bola sama ayahnya, yang digendong tinggi-tinggi sama ayahnya, main sepeda sama ayahnya, dan baaaaanyak lagi," lanjut Bagas.


Pria kecil itu tak tau jika ibunya kini tengah berlinang air mata mendengar semua ucapan putranya itu. Sebetulnya, ini bukan pertama kalinya Bagas berdoa seperti itu. Namun kali ini, terasa sangat menyesakkan dada Sarah.


"Sebentar lagi, akan ada pentas seni di playgroup. Semua orang tua akan diundang Ke sana. Bagas pengiiiiin banget kali ini ibu bisa ajak Ayah datang. Ibu bilang, Engkau Maha Bisa. Jadi, Engkau pasti bisa buat Ayah pulang dan datang ke sana kan?" ucap Bagas.


Sarah semakin sesak mendengar semua itu. Isakannya tertahan. Dia tak ingin putra kecilnya tahu jika ibunya sedang menangis.


Wanita itu tak habis pikir jika sesulit ini mengahadapi putranya, yang selalu menginginkan sosok ayah dalam hidupnya.


"Aku mohon, Ya Allah. Kabulkan lah doaku ini. Amiin," pungkasnya.


Ayahmu sudah datang, Nak. Tapi ibu belum sanggup memberitahunya bahwa kamu ada. Ibu belum siap kalau sampai dia mengambilmu dari Ibu, batin Sarah.


.


.


.


.


Ada yang pro fadil ada yang pro Miko🤔kalo othor?????

__ADS_1


tungguin aja yah endingnya kek apa😁


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2