
Setelah pertengkarannya dengan Miko semalam, Sarah merasa semakin yakin dengan keputusannya untuk meminta cerai dengan pria itu. Meskipun, keputusan itu ia ambil dalam kondisi marah.
Namun, sepertinya ini adalah keputusan yang tepat. Karena sedari awal, Miko adalah milik Lidia. Jadi dia pun harus mengembalikannya kepada wanita itu.
Hari itu, ia memutuskan untuk menemui Lidia. Dia sempat melihat ID card yang dipakai Lidia dan kawan-kawannya, saat mereka tak sengaja bertemu beberapa waktu lalu di mall.
Awalnya Sarah ragu untuk menemuinya di sana, akan tetapi dia tak tau di mana alamat rumahnya, karena Miko seakan menutup rapat semua informasi tentang Lidia.
Dia pun takut jika teman Lidia yang sempat mempermalukannya di tempat umum, kembali melakukan hal yang membuatnya tak punya muka di depan semua orang.
Namun, semua harus segera di luruskan. Dia harus berbicara berdua dengan Lidia.
Setelah membuat sarapannya sendiri, Sarah pun makan dan kemudian melanjutkan bersih-bersih rumah. Dia sama sekali tak menyentuh makanan yang dibuat oleh Miko.
Setelah semuanya selesai, Dia bersiap-siap untuk pergi keluar dan menuju ke pusat kota Semarang di mana kantor Lidia berada.
Sarah kini sudah berada di depan kantor sang istri pertama. Ada keraguan di hatinya, antara melanjutkan niatnya atau mengurungkannya saja.
Namun sekali lagi, semuanya sudah terjadi dan dia bahkan belum sempat berbicara dengan wanita yang telah ia sakiti hatinya, bahkan untuk sekedar minta maaf pun tidak.
Akhirnya, sambil menggenggam erat tali tas yang tersampir di bahunya, Sarah pun melangkah menuju ke pintu masuk kantor finance tersebut.
"Assalamualaiku. Permisi," sapa Sarah dengan sopan dan berhati-hati.
"Waalaikumsalam. Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis yang ada di bagain depan kantor.
"Maaf. Saya mau bertemu dengab Lidia. Apa bisa?" sahut Sarah.
"Silakan tunggu sebentar," ucap si resepsionis.
Sarah menunggu petugas itu menelpon seseorang dan memberitahukan keberadaan Sarah di sana yang sedang menunggu Lidia.
Nampaknya, dia mengira jika Sarah adalah salah satu klien dari perusahaan mereka, karena dia sama sekali tak menanyakan apa keperluan Sarah datang ke tempat tersebut.
Tak berselang lama, resepsionis itu pun kembali berbicara kepada Sarah.
"Silakan tunggu sebentar. Ibu Lidia akan segera menemui Anda," ucap si petugas tadi.
Beberapa saat kemudian, Lidia keluar dengan membawa beberapa dokumen dan menghampiri Sarah yang duduk membelakanginya.
"Permisi. Dengan ibu …," sapa Lidia yang seketika senyumnya menghilang saat melihat siapa yang datang mencarinya.
Sarah menoleh, karena mendengar seseorang berbicara di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" tanya Lidia yang sangat tak suka dengan keberadaan Sarah di tempatnya bekerja.
"Mbak. Aku mau bicara berdua sama kamu," ucap Sarah yang mencoba mengajak Lidia untuk bicara baik-baik.
Sesaat, Lidia nampak enggan. Namun, dia pun tak ingin semua orang melihat madunya di sana.
"Baiklah. Kita ke caffee depan. Kamu tunggulah di sana," seru Lidia yang kemudian berbalik dan kembali masuk ke dalam.
Sarah pun berjalan keluar, dan pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Lidia.
Tak berselang lama, Lidia pun menyusulnya ke sana. Sarah sengaja memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan, agar perbincangan mereka tak terlalu didengar oleh pengunjung caffee lainnya.
"Cepat katakan. Apa mau mu menemuiku?" tanya Lidia ketus.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf sama Mbak, karena sudah merebut Mas Miko …," ucap Sarah.
"Bagus kalau kau tau!" sela Lidia.
Sarah terkejut ketika kata-katanya terpotong begitu saja. Dia pun menghela nafas panjang, untuk menurunkan emosinya atas sikap Lidia.
"Tapi, aku benar-benar nggak tau kalau ternyata dia sudah punya istri …," sambungnya.
"Oming kosong! Bukannya semua pelakor beralasan seperti itu?" cemooh Lidia yang kembali memotong perkataan Sarah.
Lidia nampak acuh dan tak peduli sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh wanita di depannya.
"Kalau saja Mbak tidak datang ke rumah waktu itu, mungkin sampai sekarang pun aku nggak tau kalau Mas Miko adalah seorang pria beristri. Maka dari itu, aku ingin berterimakasih karena Mbak sudah membuka mataku atas kebohongannya," tutur Sarah.
Lidia yang semula acuh, sedikit demi sedikit mulai menimbang perkataan Sarah. Namun, untuk mau melembut, itu sangat sulit karena hatinya pun masih terasa sakit.
"Aku sadar sepenuhnya, bahwa hubungan kami sejak awal adalah sebuah kesalahan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk pergi setelah anak ini lahir," ucap Sarah sambil mengusap lembut perutnya yang semakin membesar.
Tanpa ia sadari, Lidia memperhatikan hal itu, dan membuatnya kembali berpikir ke belakang.
Mungkin, selama ini aku juga salah. Aku nggak pernah mau punya anak, padahal Miko sangat menginginkannya, batin Lidia.
Namun, egonya lebih tinggi dan membuatnya membuang jauh-jauh rasa bersalah di dalam hatinya. Dia kembali meyakini jika semua ini adalah kesalahan Miko yang tergoda oleh Sarah.
"Sudah ngomongnya?" tanya Lidia dengan dinginnya.
Sarah mengangkat wajah yang sedari tadi tertunduk memandangi perutnya yang mulai membesar.
"Asal kamu tau ya, aku nggak peduli sama sekali sama apa yang mau kamu lakuin. Seribu kali pun kamu minta maaf, kamu tetap seorang pelakor, yang udah merusak rumah tangga ku. Sekali pun kamu pisah sama Miko, tapi kamu tetap seorang pelakor, dan anak mu juga seorang anak pelakor," Hina Lidia pada madunya.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Lidia pun beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan Sarah seorang diri.
"Sabar, Sar. Ini semua pasti akan berlalu. Sabar. Anak mu bukan anak pelakor. Kamu bukan pelakor," ucap Sarah.
Dia pun menyusul keluar dari caffee, dan berjalan dengan gontai menyusuri trotoar.
Rupanya memang tak semudah itu memaafkan orang, yang sudah menyakiti hati kita, batin Sarah.
Sarah teringat akan sikapnya terhadap Miko. Setelah mengetahui kebohongan sang suami, Sarah terus menghukumnya dengan mengacuhkan pria dengan dua istri itu.
Dia berjalan tak tentu arah. Sarah pun tak menghiraukan lagi semua suara di sekelilingnya, hingga ketika hendak menyeberang jalan, dia pun tak sadar jika ada mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya.
CKIIIIITTTT!
Si pengendara mobil menginjak tuas rem dengan keras, hingga mobil berhenti mendadak.
"Woi! Kalo mau mati jangan di sini dong. Bahayain orang aja!" maki pengemudia mobil yang hampir menabrak Sarah.
Beruntung, seseorang menarik wanita itu hingga dia bisa menghindari kecelakaan yang hampir saja mengenainya.
Sarah masih terlihat linglung. Dia tak fokus, bahkan tak sadar jika seseorang tengah memeluknya erat-erat.
"Kamu nggak papa?" tanya orang tersebut.
Sarah pun mendongak, dan melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Mas," panggilnya lirih.
"Kamu nggak papa? Kenapa jalannya melamun? Apa kamu …," cecar pria itu.
Namun, seketika dia terdiam kala melihat linangan air mata jatuh di pipi Sarah.
"Hik … hik … aku lelah, Mas. Aku sangat lelah dengan sebutan pelakor ini. Aku lelah," ucap Sarah kepada orang di depannya yang tak lain adalah Fadil, sang dokter yang menaruh perhatian kepadanya.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1