
Seseorang yang kebetulan tengah berada di sana, melihat wanita itu tengah duduk seorang diri, dengan wajah yang begitu muram.
Dia pun berjalan mendekati wanitanya.
"Anda belum pulang?" tanya orang tadi.
Sarah menoleh, dan mendongak melihat siapa yang menyapanya.
"Dokter. Ehm ... saya hanya sedang ingin duduk saja," ucap Sarah.
"Boleh saya bergabung?" Dokter Fadil.
"Yah, silakan, Dok." Sarah menggeser sedikit duduknya, agar memberi tempat untuk dokter itu duduk.
Dokter Fadil menyodorkan sebotol air mineral kepada Sarah.
Sarah menoleh, dan langsung mengangkat tangannya menghadap ke arah dokter itu.
"Tidak usah, Dok. Terimakasih," tolak Sarah.
"Ibu hamil, butuh asupan air putih lebih banyak dari biasanya. Terimalah," bujuk Dokter Fadil.
Sarah pun akhirnya mau menerimanya meski sungkan. Dia pun kemudian meminumnya, hingga habis setengah.
Sekilas, Dokter Fadil tersenyum melihat wanita itu. Namun, dia buru-buru menghilangkan senyumnya tadi.
"Terimakasih, Dok." ucap Sarah sambil menyeka sisa air yang ia minum barusan.
"Sama-sama," sahut Dokter Fadil sambil meminum miliknya.
Sarah kembali tertunduk, dan tak tau harus berbincang apa dengan dokternya.
"Sepertinya, Anda sedang banyak pikiran," kata Dokter Fadil membuka percakapan.
Sarah menoleh sekilas, dan kemudian kembali tertunduk.
"Semua orang memang punya sesuatu yang dipikirkan kan, Dok," sahut Sarah.
"Tapi, seberat apapun masalahnya, Bu Sarah harus bisa selalu membawa hati tetap tenang. Anak yang ada di dalam kandungan Ibu, sangat sensitif terhadap apa yang Ibu rasakan. Dia akan sedih, jika Ibu merasakan hal serupa, begitu pun ketika Ibu senang."
"Bukankah saya sudah berpesan kepada suami Ibu. Apa beliau tidak memberitahukannya?" ujar Dokter Fadil.
Sarah kembali menoleh, dan bertatapan dengan sang dokter. Seutas senyum terikir di bibir sarah.
"Terimakasih karena sudah memperhatikan pasiennya dengan baik, Dok. Saya akan berusaha agar tetap menjaga suasana hati dan pikiran saya," ucap Sarah.
Wanita itu berdiri dan memakai tasnya di bahu.
"Terimakasih juga untuk air minumnya. Saya permisi," pamit Sarah.
Dia pun pergi meninggalkan Dokter Fadil yang masih duduk di tempat itu.
__ADS_1
"Hem ... sepertinya tidak akan semudah itu," gumamnya sambil kembali meneguk minumannya.
Meski awalnya sang dokter merasa tak ingin mencampuri urusan pasiennya, tetapi entah kenapa setiap melihat Sarah, ada sesuatu yang selalu mengusiknya.
Wajahnya yang selalu muram, dan pandangannya sering terlihat kosong, ditambah kehadirannya yang selalu tanpa suami, membuat dokter kandungan itu pun mulai ingin tahu sesuatu tentang Sarah.
Namun, Sarah masih terlihat enggan untuk membagi kisahnya kepada sang dokter, dan cenderung menutupinya. Sehingga Dokter Fadil tak yakin jika wanita itu akan bisa memegang janjinya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Hari-hari berlalu. Sarah mulai terbiasa dengan keadaannya. Dia pun mencoba bersikap tenang dan tetap berpikir posistif, demi anak yang ada di dalam kandungannya, seperti yang disarankan oleh sang dokter.
Morning sickness-nya pun sudah semakin membaik, tak seburuk waktu-waktu yang lalu.
Suatu hari, saat itu tepatnya siang hari dan Miko belum pulang kerja. Hari ini, pria itu mengatakan akan pulang ke rumah Sarah, setelah dua hari menginap di tempat Lidia.
Sarah mendapat kabar jika sang ibu jatuh sakit. Dia pun diminta untuk pulang menjenguk beliau.
Seperti biasa, Sarah pergi seorang diri, tetapi kali ini, dia ijin kepada Miko terlebih dahulu, karena takut jika akan pulang malam.
[Mas, Ibu sakit. Hari ini aku akan pulang menjenguk ibu,] pesan Sarah.
Tak berselang lama, sebuah pesan balasan masuk.
[Kamu pergilah. Nanti setelah pulang, Aku akan jemput kamu ya,] balas Miko.
Sarah tak membalasnya lagi. Dia pun langsung bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya.
...🥀🥀🥀🥀...
"Assalamualaiku," sapanya.
Sarah seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dari tatapan mata semua orang.
"Waalaikumsalam," sahut sang Ayah, Pak Riswan.
Sarah berjalan mendekat, dan mengulurkan tangan hendak memberikan penghormatan kepada orang tuanya.
"Sarah pulang, Pak." Sarah kembali menegakkan tubuhnya.
"Duduklah di sini," seru sang ayah.
Sarah pun menurut. Dia duduk, tapi dengan wajah yang tertunduk. a tak mampu menatap dan menyapa satu persatu keluarganya di sana.
"Sepertinya kamu sudah tau kenapa kamu dipanggil ke sini, Sar," sindir Kakak laki-laki Sarah, Tino.
"Sudah, No. Biar Bapak saja," seru Pak Riswan kepada puteranya.
Tino terlihat mengepalkan tangan, sambil menatap tajam ke arah sang adik.
"Sar, jelaskan sama kita, apa maksud berita yang beredar, kalau kamu itu merebut suami orang? Apa benar Miko itu sudah punya istri sebelum nikah sama kamu?" tanya Pak Riswan kepada sang purti.
__ADS_1
Sarah tak mampu menjawab, dia hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan sang ayah.
"Dasar g*blok. Kenapa kamu sampai buta begini sih? Harusnya kamu cari tau dulu semuanya. Kalau udah gini mau apa kamu, hah? Lihat, sekarang ibu sakit gara-gara denger berita tentang kamu. Atau jangan-jangan, kamu sudah tau dan tetap manikahi dia karena alasan cinta? Iya?" maki Tino kepada adik perempuannya.
"Aku tau, aku b*doh, Mas. Aku lalai karena tak mencari tau dulu bagaimana dia, status dia semuanya. Aku tau ini salahku. Tapi sumpah, aku tak tau apa-apapun tentang dia yang sudah berisitri. Maaf ... maaf ... maaf ...," ucap Sarah menimpali makian sang kakak.
"Sekarang, di mana laki-laki keparat itu? Suruh dia datang untuk mempertanggung jawabkan semuanya," perintah Tino yang dengan kemarahan yang sudah memuncak.
"Tino, sudah cukup. Kamu yang tenang. Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan emosi," seru pak Riswan kepada Tino.
Pria itu pun mau tak mau menuruti ucapan sang ayah, dan memilih diam meski emosinya benar-benar sudah naik hingga ke ubun-ubun.
"Sarah, masuklah dan temui ibumu. Dia sudah menunggu," ucap sang ayah.
"Iya, Pak." Sarah pun pergi dari ruang tamu menuju kamar ibunya.
Wanita itu membuka pintu perlahan, dan melihat jika sang ibu tengah terbaring lemah di atas ranjang.
"Siapa?" wanita tua itu mendengar seseorang datang.
"Ini Sarah, Bu. Sarah udah datang," ucap Sarah.
Ibunya pun menoleh.
"Sarah, putri Ibu." ibu Sarah merentangkan kedua tangannya, dan menyambut kedatangan sang putri dengan sebuah pelukan.
"Maafkan Sarah, Bu. Sarah tau Sarah salah. Maaf sudah buat Ibu khawatir dan jatuh sakit. Maaf," ucap Sarah dalam pelukan sang ibu sambil terisak.
Wanita tua itu tak berkata apapun. Namun, tangannya dengan lembut membelai surai hitam sang putri, sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya.
Bulir bening pun tak mampu lagi dibendung dan meluncur begitu saja di pipinya.
"Ssttt ... Ssttt … Ssttt …," hanya itu yang mampu keluar dari bibir sang ibu.
Lama mereka berpelukan, dan saling melepas kegundahan, Sarah pun kini berbaring dengan berbatalkan paha sang ibu.
Dia menceritakan semuanya kepada beliau, jika dirinya sama sekali tak tau apapun tentang suaminya, Miko.
Sang ibu pun merasa iba dengan nasib putrinya, yang dengan terpaksa mendapat julukan perebut suami orang, tanpa ia sadari sebelumnya.
"Kenapa Miko tega lakuain itu ke kamu?" tanya Pak Riswan yang kebetulan melintas, dan mendengar percakapan kedua wanita beda generasi itu.
"Sebaiknya, Bapak tanyakan saja pada Mas Miko langsung. Dia akan datang menjemputku pulang nanti setelah kerja," ucap Sarah.
"Baiklah. Bapak akan tunggu penjelasan darinya."
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏