Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Masih saja sama


__ADS_3

Sarah kembali mengajak Bela dan Bagas untuk bermain. Awalnya, Bela menolak untuk ikut dan meminta diantarkan pulang. Namun, Sarah meminta bela untuk tetap bersama, hingga papahnya datang menjemput.


Setelah berbicara di telepon dengan Miko, Bela nampak ketakutan saat mengetahui bahwa pria yang sudah melukai papahnya tempo hari, akan datang ke tempat mereka berada sekarang.


Sarah awalnya hendak meminta Miko agar datang lagi besok, Namun sang putra, terus saja memaksa untuk mengajak ayahnya turut serta datang ke area bermain.


Wanita itu pun mau tak mau mengiyakan permintaan Bagas, karena bagaimana pun, itu adalah hak anaknya untuk bisa bersama dengan Miko, ayahnya.


Setelah itu, Sarah yang melihat Bela nampak ketakutan pun, akhirnya menghubungi Rianti, nenek Bela yang sekaligus adalah mertua Fadil. Namun sayangnya, Rianti saat ini tengah berada di luar kota dan baru akan kembali saat malam nanti.


Akhirnya, Sarah pun terpaksa menghubungi Fadil, yang saat itu masih berada di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Halo, Assalamualaikum," sapa Sarah.


"Waalaikumsalam. Kenapa, Sar?" tanya Fadil dari seberang telepon.


"Maaf, Mas. Mas Fadil masih sibuk nggak?" tanya Sarah balik.


"Ehm … tinggal dua pasien lagi. Kenapa?" tanya Fadil terjeda karena harus melihat terlebih dulu daftar pengunjung hari ini.


"Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Tadi kan kita lagi jalan bertiga, terus tiba-tiba Miko mau ikut ke sini. Cuma Belanya minta pulang karena dia takut sama ayahnya Bagas. Dia kayaknya masih trauma pas lihat Miko mukul kamu waktu itu. Kamu bisa nggak nyusul kita ke sini buat jemput Bela, Mas?" tutur Sarah.


Fadil nampak menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, dan menghela nafas berat.


"Aku urus dua pasien lagi ya. Nanti aku segera ke sana," ucap Fadil.


"Terimakasih ya, Mas. Aku bener-bener minta maaf banget," ujar Sarah yang terdengar menyesal.


"Iya, aku paham kok," sahut Fadil.


"Ya udah. Kita tunggu ya, Mas. Assalamualaikum," seru Sarah.


"Waalaikumsalam," sahut Fadil.


Panggilan pun terputus. Sarah kembali membujuk Bela untuk tetap bersama dengannya sampai Fadil datang. Dia pun meminta Bagas untuk mengajak gadis kecil itu untuk bermain kembali.


Setelah menunggu cukup lama, Terlihat Miko datang dan menghampiri Sarah yang tengah duduk di tempat tunggu para orang tua, yang sedang menemani anak-anak mereka bermain.


Dari kejauhan, Bagas melambaikan tangannya ke arah Miko, sambil terus melompat-lompat di atas trampolin.


"Hai, Sar," sapa Miko.


"Hai, Mas. Maaf yah, tadi lama nunggu di rumah?" tanya Sarah.


"Ehm … lumayan sih. Aku kira kalian lagi di jalan pulang, makanya ku tunggu. Eh … ternyata di sini. Beneran nggak papa kan kalau aku ikut ke sini?" seru Miko.


"Nggak papa kok, Mas. Aku kira kamu mau ke rumah besok, makanya aku nggak bilang ke kamu kalau hari ini aku mau jalan sama mereka berdua," tutur Sarah sambil memalingkan wajahnya ke arah Bagas dan Bela berada.

__ADS_1


Miko pun mengikuti arah pandanvan Sarah dan memicingkan matanya saat melihat sesosok gadis kecil yang terlihat bermain dengan Bagas.


"Siapa gadis kecil itu, Sar? Kelihatannya, dia sangat akrab dengan Bagas," tanya Miko.


"Oh … itu. Itu namanya Bela, anaknya Mas Fadil," ucap Sarah.


"Fadil? Dokter kurang ajar itu?" maki Miko.


"Mas! Kamu nggak boleh bilang kaya gitu sama Mas Fadil. Dia itu orang yang sangat baik," bela Sarah.


"Orang baik apa yang sudah membohongi seorang ayah kalau anaknya itu sudah meninggal, Sar," ujar Miko kesal dengan nada bicara yang sedikit mengeras.


"Mas, bisa nggak jangan bahas itu di sini? Kita sedang di tempat umum, dan ada anak-anak juga. Aku nggak mau kejadian di playgroup terulang lagi dan membuat trauma pada anak-anak," seru Sarah tegas.


"Hah … kamu selalu saja membelanya, dan malah terus menyalahkanku. Lagi pula, untuk apa kamu mendekatkan Bagas dengan anak dokter si*lan itu? Apa kamu sengaja supaya mereka dekat dan kalian bisa dengan mudah bersama?" cecar Miko.


"Mas, cukup. Aku lagi nggak mau ribut sama kamu ya," seru Sarah.


Keduanya pun diam. Sarah kesal dengan sikap Miko yang selalu saja seenaknya. Menurut Sarah, pria itu tak pernah mau mencari tau dulu kebenarannya, tapi seketika menuduh yang tidak-tidak tentang dirinya dan juga Fadil.


Dalam hati, Miko pun kembali merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi lepas kendali dan berkata menyakitkan kepada Sarah. Dia melihat raut marah di wajah mantan istrinya yang masih dia harapkan itu.


Akhirnya, Miko memilih untuk memperhatikan putranya yang masih asik bermain sambil sesekali melihat ke arahnya dan sesekali melambaikan tangan.


Tak berselang lama, terlihat Fadil berjalan menujuk ke arah di mana Sarah dan Miko berada.


Tangannya mengepal kuat saat mendapati kedatangan pria yang ia anggap sebagai rivalnya dalam mendapatkan kembali hati mantan istrinya.


"Mas," panggil Sarah sambil melambaikan tangannya.


Fadil pun membalas lambaian tangannya wanita itu, sambil melirik ke arah Miko, yang terlihat diam sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Hai, Sar. Maaf ya lama," sapa Fadil yang kini telah berdiri di depan Miko dan Sarah.


"Iya, Mas. Nggak papa kok," sahut Sarah.


Tiba-tiba saja, Miko bangkit berdiri dan membuat Sarah terkejut. Wanita itu pun ikut beranjak dari duduknya dan berada di antara kedua pria itu. Dia khawatir jika mantan suaminya itu akan kembali melakukan kekerasan kepada Fadil.


"Caramu itu sangat rendah, memanfaatkan anak kecil untuk mendekati Sarah. Pecundang!" sindir Miko.


"Mas!" panggil Sarah yang mendorong sedikit bahu Miko.


Mantan suaminya itu pun kemudian menoleh dan menatap tajam Sarah.


"Aku ke toilet dulu. Silakan dilanjut lagi obrolan kalian," tutur Miko ketus.


Dia pun berjalan melewati Fadil, sambil sengaja menyenggol pundak dokter itu, hingga Fadil sedikit terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Sarah yang melihat hal itu pun geram dibuatnya.


"Maaf ya, Mas. Aku nggak tau kalau Mas Miko masih saja marah sama kebohongan kita, dan malah nyalahin kamu atas semuanya," tutur Sarah.


"Aku nggak papa kok. Wajar kalau dia marah. Kita sudah keterlaluan membohonginya selama lima tahun. Oh iya, Bela mana?" tanya Fadil.


"Itu mereka," tunjuk Sarah.


Bela yang melihat kedatangan papahnya pun seketika keluar dari area bermain dan menghampiri kedua orang dewasa itu.


"Papah," panggil Bela seraya memeluk papahnya.


"Ehm … anak papah. Gimana mainnya?" tanya Fadil.


"Seru, Pah. Tapi …," sahut Bela yang terlihat murung.


Fadil yang sempat mendengarkan penjelasan Sarah sebelumnya di telepon pun, berjongkok dan berusaha memberikan perhatian kepada putri kecilnya.


"Bela, kita pulang dulu yah. Lain kali, Bela main bareng sama Ibu Sarah dan Bagas lagi," bujuk Fadil.


"Kak Bela udah mau pulang ya, Oom?" tanya Bagas yang menyusul Bela.


"Iya, jagoan. Kak Bela pulang dulu yah. Bagas main sama Ibu dan Ayah dulu. Oke," seru Fadil.


"Ehm … oke, Oom. Kak Bela, nanti kita main bareng lagi yah?" ajak Bagas.


"Ehm …," sahut Bela mengangguk.


"Sar, kita pulang dulu yah," pamit Fadil.


"Hati-hati, Mas … Bela, hati-hati ya, Sayang," sahut Sarah bergantian kepada Fadil dan Bela.


"Iya, Bu," sahut Bela.


Fadil dan Bela pun pergi dari tempat itu. Dari kejauhan, Miko melihat interaksi antara keempat orang di sana dengan geram.


Aku janji, akan merebut kembali apa yang sejak awal menjadi milikku, batin Miko.


.


.


.


.


Hari ini ku kasih dua ya guys😁maaf akhir2 ini lagi banya acara, jadi upnya dikit2. tapi tetap kuusahain buat up tiap hari kok😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2