Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mari berteman


__ADS_3

Flash back on.


"Aku menghormatimu, Sar. Oleh karenanya, aku pun tak serta merta mengiyakan atau menganggap serius ucapan pria itu. Tapi sekarang, aku mau menanyakannya langsung padamu. Apa kamu sudah bisa membuka hatimu untuk ku?" tanya Fadil.


Sarah tak menyangka jika pria yang selalu menjaga jarak dan tak pernah mengutarakan perasaannya secara langsung itu, kini justru berbicara hal seserius itu dengan entengnya.


"A … aku … aku tak yakin, Mas," jawab Sarah tertunduk.


Dia membung pandangannya dengan menghadap ke arah kedua anak kecil di meja lainnya.


"Sebulan. Kita bisa coba jalani ini selama sebulan. Jika memang kamu bisa, mari kita teruskan ke tahap selanjutnya," sahut Fadil.


Sarah menoleh seketika saat Fadil berucap demikian. Matanya memicing sembari mengerutkan alisnya.


"Apa kau serius, Mas? Lalu, kalau tak berhasil bagaimana?" tanya Sarah.


Baru mau dimulai saja kamu sudah ragu, Sar, batin Fadil kecut.


"Ya, kita akhiri saja semuanya. Aku hanya ingin memberikan diriku sendiri kesempatan untuk berjuang. Aku tak mau mati penasaran tanpa mencoba untuk memulai hubungan dengan mu," ungkap Fadil.


Cukup lama Sarah diam sembari berpikir. Dan pada akhirnya, dia pun mengiyakan ajakan Fadil untuk mencoba menjalin hubungan yang serius.


Hari-hari berlalu. Kedekatan Bagas dan Bela membuat Fadil bisa dengan mudah mendekati dan mengajak Sarah untuk pergi bersama.


Setiap ada kesempatan di akhir pekan, Sarah akan meluangkan waktunya untuk menemani Bagas dan Bela jalan-jalan, tentu saja Fadil pun turut serta.


Di saat itulah, dokter tampan itu mulai menyelami hati Sarah yang sesungguhnya. Dia terus melihat setiap raut wajah wanita itu saat bersama dengannya.


Kenapa aku sama sekali tak melihat binar di matamu, Sar. Apa kamu sungguh tak merasa senang saat bersamaku? Ataukah, hatimu memang tidak ada di sini? batin Fadil.


Suatu ketika, Fadil sengaja meninggalkan Bela dan juga Bagas di rumah Riyanti, dan mengajak Sarah untuk pergi berdua dengan alasan hendak membeli beberapa buah.


"Sar, kita beli buahnya di mana yah enaknya?" tanya Fadil saat tengah mengemudikan mobilnya.


Namun, Sarah tak menyahut sama sekali. Dia terus memandang ke luar jendela, menatap pemandangan kota Surabaya di malam hari.


Fadil menoleh dan melihat hal tersebut. Dia hanha mampu menghela nafas dalam.


Selalu seperti ini. Semenjak pria itu pergi, kamu tak lagi seperti sebelumnya yang selalu hangat. Sekarang, kamu lebih banyak melamun, batin Fadil.


Dokter itu pun kemudian menepuk pundak Sarah, dan membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Ehm … iya, Mas. Kenapa?" tanya Sarah.


"Kita ke taman depan dulu yuk. Biar kaya orang pacaran gitu lho," ajak Fadil dengan senyumnya.


"Langsung ke swalayan aja yuk, Mas. Aku nggak mau anak-anak nunggu lama," tolak Sarah.

__ADS_1


Fadil hanya bisa tersenyum getir mendapat penolakan dari wanita di sampingnya. Mau tak mau, dia pun kemudian melajukan mobilnya langsung ke tempat tujuan.


Sesampainya di sana, Sarah hanya sibuk memilih buah, tanpa mengajak Fadil berbincang. Entah kenapa, dokter itu merasa jika Sarah tak sedekat dulu dengannya, malah terasa semakin menjauh.


Seusai membeli buah, mereka berdua segera kembali ke rumah Rianti dan berkumpul kembali dengan anak-anak.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Tak terasa kini sudah sebulan lamanya, semenjak Fadil mengajak Sarah untuk mencoba menjalani sebuah hubungan yang bisa dibilang lebih serius dari sebelumnya.


Awalnya, Fadil ingin mengetahui apakah ada kemungkinan Sarah menerimanya setelah Miko memutuskan untuk pergi menjauh, dan menguji keberaniannya untuk mengungkapkan perasaan kepada Sarah, yang selama ini selalu ia tahan demi kenyamanan wanita itu.


Tapi, setelah selama ini mereka menjalaninya, barulah Fadil menyadari, jika hubungan mereka hanya akan berhasil sebatas teman saja. Tak lebih.


Meski pun sekarang Miko sudah tak lagi ada di sekelilingnya, namun justru hal itu yang serig membuat hari-hari Sarah menjadi hampa.


Dia jadi sering melamun, dan menghela nafas berat tiba-tiba, seolah tengah memikirkan sesuatu.


Hari ini, Fadil pun memutuskan untuk bertemu berdua dengan Sarah, dan membicarakan kelanjutan hubungan mereka.


Sekarang, mereka tengah berada di sebuah resto bertema out door, dengan kursi kayu dan meja hexagonal berbahan serupa. Ada juga payung besar yang menaungi setiap meja yang berada di resto tersebut.


Warna hijau mendominasi tempat itu, dengan berbagai macam bunga berwarna warni di setiap sudutnya.


Sarah dan Fadil berada di salah satu meja di sana. Nampak seorang pelayan tengah menghidangkan makanan yang telah dipesan oleh keduanya.


"Makan dulu, Mas," ajak Sarah.


Fadil pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakan wanita itu. Mereka pun makan terlebih dahulu. Seperti kebiasaan Sarah yang sangat Fadil hapal, wanita itu akan menyelesaikan makannya terlebih dahulu, baru mulai berbincang.


Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai menyantap hidangan masing-masing. Sarah nampak meminum jus jambunya sedangkan Fadil menyesap kopi panas.


Sarah nampak melihat ke sekeliling dan menikmati suasana di tempat yang asri itu. Sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya, dan hal itu terus diperhatikan oleh Fadil sejak tadi.


Dokter tampan itu meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja, dan menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Sar, apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Fadil.


Hal itu membuat Sarah seketika menoleh dan menatap bingung ke arah pria di depannya.


"Aku? Ehm … sepertinya tidak ada," ucap Sarah.


Wanita itu kembali memalingkan wajahnya dan melihat sekelilingnya.


"Apa kau yakin?" tanya Fadil lagi.


"Ehm …." angguk Sarah tanpa menoleh.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu giliranku. Ada sesuatu yang ingin ku katakan," ucap Fadil dengan nada serius.


Sarah pun seketika menoleh dan kembali menatap Gadil dengan kebingugan.


"Mari kita sudahi saja semua ini, Sar. Aku mengaku kalah," ucap Fadil.


Sarah mengerutkan keningnya hingga alisnya hampir menyatu.


"Apa maksudmu, Mas?" tanya Sarah.


"Aku rasa, dari awal memang sebaiknya kita hanya berteman saja. Aku salah karena menginginkan lebih darimu. Aku sadar kalau saat ini, hati dan pikiranmu ikut pergi bersama dengan pria itu," tutur Fadil.


"A … apa maksudmu, Mas? Aku sama sekali tak paham," elak Sarah.


Fadil nampak menegakkan duduknya dan menautkan jemari di atas meja. Dia menatap lekat ke arah Sarah.


"Sar, sebaiknya kamu jujur sama diri kamu sendiri. Jangan karena keegoisan mu, kamu kehilangan orang yang benar-benar kamu inginkan. Aku tau kalau di dalam hatimu masih ada orang itu, tapi rasa sakitmu yang membuat hatimu tertutup dan tak mau menerima dia kembali," seru Fadil.


"Tapi … tapi aku nyaman sama kamu, Mas. Bagaimana mungkin aku menginginkan laki-laki itu?" elak Sarah.


"Rasa nyaman tidak hanya antar pasangan, namun juga antar teman. Mungkin saja, rasa nyaman mu padaku hanya sebatas teman saja," sanggah Fadil.


Sarah diam. Dia sendiri bahkan tak mengerti apa yang sebenarnya tengah ia rasakan.


"Mungkin Mas jadi bimbang karena akhir-akhir ini aku sering diam kan? Itu hanya …," kilah Sarah.


"Sar, sudah. Jangan kamu paksakan lagi dirimu utuk menerimaku. Mungkin saja kamu selama ini bersikap baik padaku karena rasa terimakasih mu, atas semua yang telah aku lakukan untukmu dan juga Bagas di masa lalu. Bisa jadi kan?" terka Fadil.


Sarah tak bisa berkata-kata lagi. Kini semua jelas. Rasa nyamannya memang sedari awal karena rasa bergantung yang timbul, karena terlalu seringnya Fadil membantu janda itu.


Dia pun tersenyum dengan begitu manisnya. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lekat wajah penolongnya.


"Baiklah. Kita akhiri saja percobaan menggelikan ini, dan mari kita berteman lagi," ucap Sarah.


Tangannya terulur dan disambut oleh Fadil dengan balas tersenyum.


Kini, semua ganjalan di hati masing-masing telah terurai, dan mereka bisa menerima semua ini dengan baik.


Flash back end.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2