
Setelah beberapa hari ijin tidak masuk kerja, karena harus menemani putranya yang dirawat di rumah sakit, kini saatnya Sarah mengejar ketertinggalannya dalam mengurusi tugas-tugas yang sudah pasti terbengkalai.
Hari ini seperti biasa, Sarah menyiapkan semua keperluan Bagas mulai dari seragam, alat tulis dan gambar, mainan serta tak lupa juga bekal makan siangnya.
"Bu, bikinnya dua yah. Bagas udah minta Ayah buat makan siang bareng sama Bagas," tutur Bagas seusai memakan sarapannya.
"Ehm … makan siang sama Ayah? Ayahkan sibuk, Nak. Hari ini Ayah ada rapat lho," seru Sarah.
"Yah …," keluh Bagas.
Dia seketika lemas tak bersemangat. Kedua tangannya terlipat di atas meja dan wajahnya tergeletak di atas tangannya.
Sarah hanya bisa mencebik melihat kelakuan sang putra, yang tidak bisa jauh dari ayahnya.
"Kalau makan siang nggak bisa, makan malam bisa kan, Bu?" tanya Bagas lagi.
"Coba aja Bagas tanya sama Ayah," seru Sarah.
"Ya udah deh. nanti Bagas tanya Ayah. Kalau gitu, sekarang Ibu buatin Ayah bekal juga dong. Biar Ayah bisa makan makanan seperti apa yang kita makan juga," pinta Bagas.
Sarah hanya bisa mengiyakan permintaan putranya itu dan tak lagi banyak protes, karena Bagas pasti akan meminta yang lain, yang mungkin saja membuat Sarah kebingungan untuk menurutinha.
"Ini susunya diminum dulu, Nak," seru Sarah.
Bagas pun meminum susu coklat buatan sang ibu hingga habis. Sarah kini telah selesai membuatkan tiga kotak bekal makan siang untuk dirinya, Bagas dan juga Miko.
Setelah itu, dia mengantarkan anak kecil itu ke playgroup dan menitipkannya di sana seperti biasa, kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sesampainya di parkiran, Sarah kebetulan berpapasan dengan Fajar. Dia kemudian menitipkan bekal makan siang untuk Miko kepada sekretaris pria itu.
"Tolong berikan ini untuk Pak Miko. Ini bekal makan siang dari putranya," tutur Sarah.
"Baik. Nanti akan saya sampaikan," sahut Fajar.
Pria itu pun berlalu meninggalkan Sarah. Wanita itu nampak masuk ke dalam, namun seseorang menahanya, dan dia pun seketika menoleh.
"Min, ngapain kamu di sini?" tanya Sarah.
"Apaan tadi?" tanya Minati balik.
"Apaan emang?" tanya Sarah lagi.
"Itu yang kamu kasih ke sekretarisnya si bos," tunjuk Minati.
Gawat! Si biang gosip lihat ternyata, batin Sarah.
"Apaan? Nggak ada kok," elak Sarah.
Dia pun kemudian berlalu pergi, namun Minati terus saja mengekornya.
"Aku liat lho tadi, Sar. Ngaku aja deh," desak Minati.
"Apa sih, Min. Emang nggak ada kok. Aku tadi cuma nyapa, itu aja." Sarah terus mengelak hingga mereka terlihat berebutan menaiki anak tangga.
Minati tak juga mau melepaskan Sarah, karena dia sudah sangat penasaran denga apa yang dia lihat.
"Kamu lagi deketin Pak Fajar?" tanya Minati.
__ADS_1
"Jangan ngaco deh," elak Sarah.
"Apa malah jangan-jangan si bos?" cecar Minati.
"Udah deh. Jangan mulai," bantah Sarah.
"Kalian emang udah saling kenal kan?" tanya Minati.
Sarah sampai jengah dan akhirnya mendiamkannya saja.
Minati pun tak mau kalah. Dia mempercepat langkahnya hingga berhasil mendahului Sarah, dan berbalik menghadang jalan janda itu.
"Apa lagi sih, Min? Masih pa …," seru Sarah kesal.
"Kamu mantan istri Pak bos kan?" tanya Minati.
Diam. Sarah tak bisa berkata-kata lagi. Dia seketika beku saat mendapat pertanyaan telak seperti itu dari si biang gosip perusahaan.
Minati pun seketika mengangkat sebelah sudut bibirnya, sambil terus memperhatikan reaksi dari Sarah.
"A … apaan sih, Min. Pagi-pagi jangan ngaco deh," elak Sarah lagi.
Dia berusaha mengelak sebisanya agar rekan kerjanya itu berhenti mengganggunya. Sarah kembali berjalan dan menuju ke meja kerja.
"Oke, kalau sekarang kamu masih nggak mau ngaku. Tapi nanti, kamu pasti akan ngakuin sendiri," ucap Minati dengan senyum kemenangan.
Dasar si Minati. Seneng banget sih ngurusin urusan orang, gerutu Sarah dalam hati.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
TOK! TOK! TOK!
Sebuah ketukan dari arah pintu depan, membuat seorang anak kecil berlari dari depan TV ke arah pintu.
Dia segera membukakan pintu itu, dan senyum seketika mengambang lebar di wajahnya.
"Ayah," seru Bagas sambil memeluk Miko.
"Assalamualaikum," salam Miko sambil menggendong putra kecilmya.
"Waalaikumsalam," sahut Bagas.
"Ibu mana?" Taya Miko.
Belum semlat menjawab, yang ditanya tiba-tiba muncul dari arah dalam.
"Sudah sampai, Mas?" tanya Sarah.
"Iya. Maaf yah, Bagas suka minta yang aneh-aneh ya," ucap Miko.
"Nggak papa kok, Mas. Wajar kan kalau dia mau makan malam bareng ayahnya," jawab Sarah.
"Ayah, ayo ke teras samping," ajak Bagas.
Miko pun mengangguk dan berjalan menuju terasa samping, dengan melewati taman rumah itu.
Sarah pun masuk dan menutup pintu depannya. Dia kemudian menyusul kedua pria itu ke teras samping, yang sudah disiapkannya untuk acara makan malam bersama.
__ADS_1
Sesampainya Miko di sana, makan malam pun dimulai. Mereka bertiga makan dengan dihiasi kicauan Bagas yang terus saja berceloteh, meski Sarah sudah berkali-kali menasehatinya agar tengan saat makan.
Miko yang memang sangat merindukan saat-saat seoperti itu, tak mau terlalu banyak mengatur anaknya, dan lebih memilih menikmati setiap celotehan anak kecil itu.
Hingga makan malam usai, Sarah terus saja mengomel karena Bagas yang tidak mau diam barang sejenak.
"Mau ku bantu, Sar?" tawar Miko saat melihat Sarah tengah membereskan piring bekas makan mereka.
"Nggak usah, Mas. Kamu mending temenin Bagas aja," sahut Sarah.
Wanita itu masih belum mau menerima perhatian dari Miko. Dia hanya sudah menerima pria itu sebagai ayah dari putranya saja, sehingga Sarah membangun dinding pembatas tinggi-tinggi di antara dirinya dan juga sang mangan suami.
Pria itu pun duduk di kursi teras, sambil menemani putranya bermain robot-robotan terbaru yang beberapa hari lalu ia belikan saat jalan-jalan.
Setelah selesai mencuci piring, Sarah membawakan secangkir kopi untuk Miko, yang nampaknya masih betah berada di sana.
"Bagas, emangnya nggak ada tugas dari sekolah?" tanya Sarah.
Setau Sarah, setiap hari, pengajar di playgroup selalu memberikan tugas ringan kepada anak didiknya seperti membuat kari lurus melintang, membujur, garis lengkung, zigzag, atau hanya sekedar mewarnai lukisan.
"Bagas ada tugas?" tanya Miko.
"Ehm …," angguk Bagas yang masih asik bermain.
"Nak, mending Bagas masuk, terus kerjain tugas Bagas dulu, baru nanti main lagi," seru miko.
"Tapi, nanti ayah keburu pulang," rengek Bagas.
"Nggak kok. Ayah bakal tungguin sampai Bagas selesai ngerjain tugasnya," sahut Miko.
"Janji yah," seru Bagas.
Pria itu pun mengangguk. Bagas akhirnya mau menurut dan masuk ke dalam rumah.
Sarah yang melihat semua itu hanya mampu geleng-geleng kepala.
"Dia jadi manja akhir-akhir ini. Selalu saja protes kalau aku suruh. Tapi, dia sepertinya sangat penurut sama kamu, Mas," sindri Sarah.
"Apa iya?" tanya Miko tak percaya.
"Begitu lah," sahut Sarah sambil berbalik hendak kembali masuk.
"Sar," panggil Miko sebelum mantan istrinya itu kembali ke dalam.
"Ada apa, Mas?" tanya Sarah yang menoleh ke arah Miko berada.
"Ada yang mau aku bicarakan soal Lidka," ucap Miko.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1