
Sarah kini telah berada di depan meja kerja Miko. tatapannya lurus ke arah mantan suaminya yang sampai sekarang masih sering membuatnya kesal dengan prasangka egoisnya.
"Saya meminta kepada Anda untuk tidak ikut campur urusan pribadi saya dengan karyawan pindahan itu!" seru Sarah.
Wanita itu kembali memakai bahasa formal ketika tengah berada di lingkungan tempat kerja. Dia tak ingin mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
"Tapi ini juga urusanku, Sar. Dia sudah berani mengumbar aib mu di masa lalu," elak Miko.
"Yah, itu memang aib saya, ketika saya harus terima dipanggil sebagai pelakor, istri simpanan seorang pria yang sudah beristri. Itu adalah masa kelam di hidup saya yang sangat ingin saya lupakan seumur hidup. Jadi tolong, jangan tambah lagi stigma negatif terhadap saya di lingkungan kantor ini," seru Sarah.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Sar. Apa kamu mau menghilangkanku dari hidupmu selamanya?" tanya Miko.
"Yah, kalau bisa. Tapi, apa boleh buat. Anda adalah Ayah dari Bagas yang selalu dicarinya, dan mau tak mau saya juga harus bisa menerima keberadaan Anda kembali di sekitar saya. Tapi perlu Anda garis bawahi satu hal, kita hanya sebuah masa lalu. Apa pun yang terjadi pada saya di masa sekarang, jangan sekali-kali Anda ikut campur di dalamnya, kecuali jika itu menyangkut Bagas," tutur Sarah tegas.
Miko terperangah dengan penuturan Sarah. Awalnya, dia hanya ingin membantu wanita itu untuk menghilangkan gosip tersebut.
"Tapi kenapa, Sar? Aku hanya ingin membantumu untuk …," ucap Miko.
"Untuk apa? Bantuan Anda hanya akan memperkuat tuduhan mereka. Gosip itu sudah sedikit demi sedikit menghilang. Jadi sekali lagi, tolong jangan ikut campur apapun lagi dalam urusan yang melibatkan hal pribadi saya! Permisi," Sela Sarah yang berucap dengan tegasnya.
Miko pun tak mampu lagi berkata-kata. Ribuan pisau seolah tengah mengarah padanya. Luka yang sempat ia torehkan di hati mantan istrinya itu sangat jelas terlihat olehnya.
Apa aku tidak mungkin lagi mendapatkanmu, Sar? Aku bisa membalut luka hatimu itu. Tolong beri aku satu kesempatan lagi, batin Miko.
Setelah mengatakan semua itu, Sarah pun pergi dari ruang kerja atasannya dengan pandangan lurus ke depan.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Tiga hari setelahnya, Minati mendatangi Sarah dengan setumpuk berkas yang cukup tebal. Dia meletakkan semua bawaannya dengan kasar ke atas meja.
Janda itu pun terkejut dan mendongak seketika dan melihat ke arah Minati yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.
"Ada apa ini, Min?" tanya Sarah dengan suara yang sedikit keras dan kebingungan.
Dia bangkit berdiri dan menghadapi Minati yang terlihat emosi. Para karyawan yang berada di lantai dua, terutama divisi humas yang memang terletak berdekatan dengan meja Sarah, keluar dan melihat kegaduhan tersebut.
"Kamu lihat ini! Ini semua keluhan yang masuk atas nama salah satu keryawan di divisi mu," seru Minati.
__ADS_1
Sarah pun menunduk dan mengambil berkas yang sudah ada di hadapannya. Dia melihat satu persatu kertas yang ternyata adalah keluhan-keluhan dari para karyawan.
"Harusnya kamu sebagai menejer bisa dong mengatur tim mu supaya tidak menggangu pekerjaan orang lain," lanjut Minati.
"Atas nama siapa ini?" tanya Sarah karena tak menemukan nama karyawan yang dimaksud itu.
"Ikut aku!" seru Minati yang kemudian berbalik dan menuju ke salah satu bilik karyawan tim humas.
"Kamu lihat! Sepagi ini saja dia sudah hilang. Pasti dia sekarang sedang bergosip dengan karyawan lain," tutur Minati.
"Maksudmu Jeni? Karyawan pindahan itu?" tanya Sarah.
"Ya, dia. *aryawan baru yang sudah buat onar di hari pertamanya kerja," ucap Minati.
Semuanya ramai berkerumun di depan meja kerja Jeni. Pada saat itu, siempunya meja datang dan melihat kedua menejer tengah berdebat di sana.
"Eh … ada apa sih?" tanya Jeni kepada salah seorang karyawan.
Namun, yang ditanya tak menjawab dan malah berlalu dari sana.
"Dih … ga je banget sih. Ditanya bukannya jawab malah pergi," keluh Jeni.
"Mbak Lisa, ada apa sih? Kok Bu Sarah dan Bu Min kayak lagi ribut gitu?" tanya Jeni yang begitu penasaran.
Dia tak sadar jika semua karyawan memandang dingin ke arahnya. Lisa pun menoleh dan melihat keberadaan karyawan pindahan itu di sampingnya. Lisa tak langsung menjawab, namun dia justru berteriak ke arah Minati dan Sarah.
"Bu Sarah, Bu Minati, sepertinya masalah ini lebih baik di selesaikan secara tertutup saja di ruang meeting. Kebetulan juga, orangnya sudah ada di sini," seru Lisa sembari menunjuk ke arah Jeni.
Jeni pun kebingungan karena dirinya dibawa-bawa dalam masalah yang dia sendiri belum tahu perihal apa.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di dalam ruang rapat, Sarah dan Minati duduk di kursi depan, sedangkan Jeni duduk di kursi yang berada di tengah ruangan seorang diri.
Wajahnya terlihat tegang karena melihat tatapan tajam menejer personalia yang terkenal galak dan disiplin itu.
"Saudari Jeni, apa Anda tau kenapa kami bawa Anda kemari?" tanya Minati.
__ADS_1
"Ti … tidak, Bu. Em … me … memangnya a … ada apa ya?" tanya Jeni terbata.
"Saya dengar dari sebagian karyawan, kalau Anda sudah menggangu kerja mereka selama waktu Anda datang bekerja ke mari. Anda sering mengajak mereka berbincang dan bergosip tentang salah seorang menejer di sini, dan bahkan saya pun pernah mendengarnya langsung waktu itu. Apa peringatan pertama dari saya tidak bisa membuat Anda jera?" tanya Minati.
Jeni tertunduk karena sepak terjangnya yang begitu ingin menjatuhkan Sarah di mata para karyawan, justru berbalik membuatnya kena tegur lagi.
"Maaf, Bu. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Jeni.
Dia melirik ke arah Sarah yang juga menatap ke arahnya dengan ekspresi datar.
Pasti dia senang lihat aku dimarahi seperti ini, batin Jeni.
"Tidak ada lain kali. Saya sudah mencari tau di cabang Blora, alasan sebenarnya mereka memindahkan Anda kemari bukanlah karena kemampuan Anda dalam social relationship, tapi karena kelakuan Anda yang selalu bergosip pada saat jam kantor dan mengganggu karyawan lainnya, sama seperti sekarang ini," ungkap Minati.
Sarah pun menoleh ke arah Minati. Dia terkejut dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh rekannya tersebut.
"Saya di sini sebagai menejer personalia, akan mengirimkan semua bukti ini, dan meminta kantor pusat untuk menindak lanjutinya. Saya menghargai Anda sebagai salah satu karayawan lama yang sudah bekerja di perushaan ini. Oleh karena itu, sembari menunggu keputusan dari pusat, silakan Anda benahi diri untuk bekerja dengan baik lagi, dan tidak mengganggu rekan kerja yang lain," perintah Minati tegas.
"Baik, Bu." Jeni hanya bisa pasrah dengan keputusan yang sudah diambil untuknya.
"Ehm … maaf, Min. Apa tidak sebaiknya diselesaikan internal saja. Tidak usah dulu melibatkan pusat. Peringatan baru satu kali kan. Beri dia peringatan ke dua dulu, baru kita pikirkan tindakan selanjutnya," sanggah Sarah.
"Justru, seharusnya ini bisa diurus oleh divisi mu, dan tidak perlu aku turun tangan kalau saja kamu tegas. Tapi, dia sudah meresahkan semua karyawan dan aku sudah ambil sikap" ujar Minati keras kepada Sarah.
Jeni terlihat puas melihat Sarah yang juga disalahkan atas masalahnya ini.
Lihat. Bahkan saat aku hampir jatuh, kamu pun ikut kena imbasnya kan. Rasakan kamu, dasar pelakor, batin Jeni.
.
.
.
.
Sudah 3 bab😁semoha bisa mengobati rasa penasaran kalian ya selama 3 hari kemarin✌🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏