Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Kejutan


__ADS_3

Hari-hari penuh warna, kini bisa dirasakan oleh Sarah. Kebahagiaan karena telah berkumpul kembali dengan suami dan anak, membuatnya selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman.


Tawa canda mewarnai setiap saat kebersamaannya dengan keluarga kecil yang selalu membuatnya ceria.


Kepolosan si kecil Bagas, menjadi hiburan tersendiri untuk Sarah dan Miko, meski kadang karena kepolosannya itu, membuat kedua orang tuanya malu karena Bagas selalu ceplas ceplos.


Contohnya seperti hari ini, saat mereka tengah berkumpul bersama di kebun milik Pak Riswan, di mana terdapat sebuah saung yang terbuat dari bambu yang dirakit satu sama lain, dengan atap yang terbuat dari jerami.


Semuanya nampak berkumpul sambil meminum air kelapa muda yang baru saja dipetik, dan dilubangi atasnya untuk diminum air kelapanya.


Di sana turut serta Tino, istri dan juga anaknya yang kebetulan sedang berkunjung di akhir pekan.


Saat semuanya tengah menikmati air kelapa yang segar, Tiba-tiba saja Bagas menanyakan sesuatu yang aneh kepada Tino.


“Pak dhe, kenapa Bagas belum dapet adik bayi juga? Padahal kan, Bagas udah nurut nggak ikut ke Jogja, nggak bobo sama Ayah dan Ibu juga. Tapi kok, adik bayinya nggak dateng-dateng?” tutur Bagas dengan polosnya.


Sarah dan Miko saling pandang, dan terlihat malu dengan ucapan sang putra.


“Udah hampir empat bulan, belum ngisi juga, Sar?” tanya Maya kepada adik iparnya.


“Ehm... Kayaknya belum, Mbak,” Sahut Sarah kikuk.


“Kok kayaknya?” tanya Bu Riswan.


“Ya, soalnya belum di tes,” jawab Sarah.


“Lha, kamunya telat apa nggak?” tanya Tino.


“Ehm ... Sejak melahirkan Bagas, datang bulan ku emang nggak lancar, Mas. Kadang sebulan sekali, kadang dua kali, kadang berbulan-bulan nggak haid juga pernah, tapi pas di tes negatif tuh,” jawab Sarah polos.


“Emangnya kalau positif, itu anak siapa, Sar? Kan kamu janda,” sindir Tino.


“Oh iya, harusnya nggak usah di tes juga kan udah pasti kamu nggak hamil kan. Kenapa mesti di tes? Kamu takut hamil ya? Anak siapa itu hah?” tuduh miko.


“Anak demit! Mulai lagi kan nuduh-nuduhnya. Nyebelin banget!” gerutu Sarah yang kesal dengan terkaan Miko.


“Ya habisnya kamu mencurigakan,” sahut Miko tanpa bersalah.


“Cuma ngetes doang apa salahnya sih, Mas. Bener kata Sarah, kali aja ada demit lewat godain dia. Kan bahaya,” bela Maya.


“Emangnya kamu mau gitu ama demit?” tanya Miko serampangan.


“Mau aja lah, kalo demitnya mirip kayak kamu,” sahut Tino sarkas.


“Sudah-sudah! Kalian ributin apa sih? Kok jadi ngawur kaya gitu ngobrolnya. Kasihan tuh, Bagas dan Seva jadi bingung dengerin kalian bicara,” tegur Bu Riswan.


Semuanya pun berhenti berdebat, dengan Sarah yang terus tertunduk malu gara-gara semuanya membahas masalah pribadinya dan suami.


“Demit itu apa, Pak dhe?” tanya Bagas penasaran.


“Oh, itu. Demit itu sama kaya hantu. Bagas tau hantu? Itu lho, yang kalau ada suara nggak ada wujudnya,” jawab Tino sambil mengambil daging buah kelapa dengan sendok dan memakannya.


“Wah ... Jangan-jangan, semalam ada demit yang masuk ke kamar Ayah dan Ibu,” tutur Bagas.


Semuanya menoleh ke arah anak kecil itu. Mereka penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Bagas, terutama Miko dan juga Sarah.


“Demit?” bisik Miko kepada sang istri.


Sarah hanya megedikkan bahunya sambil terus memperhatikan putranya.


“Masa sih? Emang bagas lihat?” tanya Seva, putri Tino.


“Nggak lihat, Mbak. Kan kata Pak dhe, demit itu nggak ada wujudnya, tapi cuma ada suaranya. Bagas semalem nggak lihat ayah dan ibu di kamar, tapi bagas denger ada suara aneh. Kayak gini haaaaahhhh.... Haaaaaaaahhhh... Gitu,” tutur Bagas sambil menirukan gaya nafas hantu, dan tangan yang terangkat ke atas.


Miko seketika menepuk keningnya, sedangkan Sarah seketika tersipu dan menunduk.


Semuanya pun tertawa mendengar cerita anak kecil yag polos itu. mereka paham apa yang dimaksud Bagas kecuali Seva dan Bagas sendiri.

__ADS_1


“Oh, itu sih bukan demit, tapi tikus yang lagi keluar masuk lubang,” sindir Tino sambil melirik pasangan adik dan adik iparnya.


Miko dan Sarah malu setengah mati, karena anak mereka justru membeberkan aktifitas malam mereka kepada semua orang.


Pasalnya, semalam saat Bagas sudah tertidur, Miko mulai menjawil-jawil pipi Sarah, yang saat itu ikut tertidur di samping sang putra.


Pria itu hendak meminta haknya kepada sang istri, karena merasa situasi sudah aman, mengingat Bagas telah lelap.


Mereka pun memilih untuk bercinta di atas karpet, agar Bagas tak terganggu tidurnya karena suara ranjang yang berdecit.


Namun, suara nafas mereka yang memburu karena h*srat yang memuncak, justru membuat sang anak terganggu dan bangun. Dia panik karena tak mendapati kedua orang tuanya di sampingnya.


Ditambah, dia mendengar suara-suara aneh dari bawah ranjang, dan membuatnya menarik selimut, dan bersembunyi di bawahnya.


Setelah merasakan kedua orang tuanya telah kembali dan membuka selimutnya, Bagas seketika memeluk perut ibunya dengan erat.


Pantesan, semalem dia peluk aku erat-erat. Jadi karena denger suara-suara itu, batin Sarah.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Seminggu kemudian, Miko ijin untuk pergi keluar kota selama dua hari. Dia akan pergi ke Bandung untuk pertemuan rutin para kepala cabang.


Hari ini adalah hari kedua, itu artinya Miko hari ini akan pulang.


Sarah terlihat pucat dengan bau balsam yang sangat menyengat dari tubuhnya, hingga Bu Riswan pun sampai menutup hidungnya sangkin menyengatnya.


Bagas pun tak mau dibantu mandi oleh ibunya, karena tak tahan dengan bau balsam yang dipakai Sarah.


“Mbok ya o kalo pake balsem, yang kira-kira toh, Sar. Ini satu botol dipake semua,” seru Bu Riswan saat melihat sang putri duduk lemas di meja makan.


“Badan Sarah nggreges, Bu. Kayaknya masuk angin berat deh. Mana pusing lagi,” keluh Sarah yang memang terlihat sangat pucat.


“Mual nggak?” tanya Bu Riswan.


“Nggak sih bu. Cuma pusing sama nggreges aja,” sahut Sarah.


Setelah selesai, wanita tua itu membawanya kepada Sarah yang masih duduk di meja makan.


“Diminum dulu. Nanti kamu ikut ibu ke bidan ya,” seru Bu Riswan.


“Kenapa ke bidan bu? Kenapa nggak ke dokter?” tanya Sarah.


“Kamu ini, udah punya anak tapi nggak pinter-pinter. Udah nurut aja,” perintah Bu Riswan.


Setelah menghabiskan satu gelas jahe hangat, Bu Riswan meminta Sarah untuk bersiap pergi bersama, menemui bidan yang ada di desa mereka.


Sesampainya di tempat praktek bidan, Sarah pun diminta untuk berbaring di atas ranjang periksa.


Bidan itu nampak mengecek tensi darah, lingkar lengan dan sedikit menekan kandung kemih Sarah ke atas.


“Ehm ... Sudah ada kantungnya ini, Bu. Tapi, biar lebih pastinya, silakan Ibu bisa coba cek pake alat ini,” ucap bidan tersebut sambil menyodorkan sebuah alat pendeteksi kehamilan kepada Sarah.


Wanita itu hanya melongo melihat benda yang sangat dia tahu kegunaan dan cara pakainya.


“Sudah toh, Sar. Cepetan di tes! Kok malah bengong,” seru Bu Riswan


Sarah pun menurut dan pergi ke kamar mandi. Dia lalu menggunakan alat pendeteksi kehamilan seperti yang biasa ia lakukan, dan betapa terkejutnya Sarah saat melihat dua garis merah jelas tercetak di batang itu.


Ia pun keluar dari kamar mandi dan menghambur memeluk sang ibu.


“Kenapa, Sar? Gimana hasilnya?” tanya Bu Riswan


“Positi, Bu. Sarah hamil,” tutur Aarah terharu.


“Alhamdulillah,” ucap Bu Riswan.


Wanita tua itu pun bahagia mendengar kabar gembira ini. Ucapan syukur tak henti-hentinya terucap dari kedua wanita beda usia itu.

__ADS_1


Setelah memastikan kehamilannya, Sarah kemudian mendapatkan buku KIA dan juga vitamin untuk kandungannya. Menurut pemeriksaan bidan itu, kandungan Sarah sudah hampir masuk minggu ke sepuluh. Itu artinya hampir tiga bulan Sarah hamil dan dia baru merasakan gejalanya.


Keduanya pun kemudian pulang. Di tengah jalan saat menumpang sebuah becak, Bu Riswan meminta Sarah untuk segera memberitahukan kabar baik ini kepada Miko.


“Nanti aja, Bu. Hari ini kan Mas Miko pulang. Ngasih taunya kalau di udah sampe rumah aja,” sahut Sarah.


“Ya sudah, terserah kamu aja. Yang penting jangan lupa kasih tau suamimu itu,” seru Bu Riswan.


Sarah hanya mengangguk.


Sesampainya di rumah, Sarah begitu gembira dan memberitahukan kepada seluruh keluarganya akan kabar bahagia ini, termasuk Bagas.


Anak kecil itu terlihat sangat senang, namun juga bingung.


“Kenapa adik bayinya harus di dalam perut ibu? Kenapa nggak keluar aja? Kan sesak, Bu,” tanya Bagas.


Saat ini, dia sedang dalam masanya serba ingin tahu, dan membuat orang dewasa di sekitarnya harus berhati-hati saat menjelaskan sesuatu padanya.


“Adik bayi Bagas masih kecil sekali. Masih sebesar ini...,” ucap Sarah sambil menunjukkan ibu jarinya.


“.... Jadi, dia harus ada di dalam sini, agar tetap hangat dan terlindungi. Bagas juga ikut jagain adik bayi supaya baik-baik aja dan sehat terus yah. Mau kan?” lanjut Sarah.


Bagas mengangguk cepat. Dia kemudian mengusap lembut perut sang bunda yang masih terlihat datar.


Malam harinya, Sarah sedang menonton TV sambil menunggu sang suami datang. Dia nampak sendirian karena Bagas sudah tidur.


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, saat sebuah ketukan di pintu membuat Sarah bangun dari posisinya.


“Pasti Mas Miko,” gumam Sarah dengan senyumnya yang mengembang.


Dia kemudian mengambil t*spek dan surat hasil pemeriksaan dari bidan, yang menyatakan kehamilannya.


Saran kemudian berjalan menuju ke arah pintu dan membukakannya. Nampak sang suami berdiri di sana sambil merentangkan tangan ke arahnya.


Wanita itu seketika masuk ke dalam pelukan Miko, dan membalas pelukan pria itu dengan erat.


“Mas, aku punya kabar gembira buat kamu,” ucap Sarah.


Miko mengurai pelukannya dan menjauhkan sedikit sang istri, agar dia bisa melihat wajah wanita itu.


“Apaan sih? Kayaknya seneng banget,” tanya Miko.


Sarah kemudian menunjukkan benda yang sedari tadi dia pegang.


“Taraaaaaa!” seru Sarah.


Miko benar-benar terlihat begitu terkejut akan hal itu. Dia diam. Namun kemudian, dia justru berbalik dan pergi menuju mobilnya meninggalkan Sarah.


Dia nampak masuk ke dalam mobil dan membuat Sarah kecewa dengan reaksinya.


.


.


.


.


Kenapa lagi tuh bang Miko? Wah, janganbikin gara-gara dong bang. udah waktunya yang manis-manis nih😅


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


Sambil nunggu next eps, coba mampir ke karya temen aku yuk. ceritanya bagus lho. serius.



jangan lupa favoritkan ya😊

__ADS_1


__ADS_2