Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Ketuk palu


__ADS_3

Surat dari pengadilan lagi? Sampai berapa kali sih surat ini harus datang? batin Lidia.


"Ini suratnya saya titipin ke ibu aja yah," ucap ibu asuh.


"Iya, sini kasih saya saja," sahut Lidia cepat.


Ibu asuh itu pun kemudian menyerahkan surat tersebut kepada Lidia.


"Makasih ya," ucap Lidia.


"Sama-sama, Bu. Ehm … itu kenapa pengadilan agama kirim surat ke sini ya bu?" tanya ibu asuh itu yang merasa ingin tahu urusan Lidia dan Miko.


"Hanya surat biasa kok. Nggak terlalu penting," sahut Lidia yang berlalu begitu saja, menghindari pertanyaan lain dari ibu asuh itu.


Melihat wanita itu masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat, si ibu asuh pun kembali ke depan dan menimang bayi Misa.


"Mungkin surat cerai dari madunya. Denger-dengerkan Pak Miko sempet nikah lagi," gumam ibu asuh.


Sedangkan di dalam kamar, Lidia kembali membuka laci lemarinya dan mengambil amplop coklat yang beberapa minggu lalu, ia gunakan untjk menyembunyikan surat panggilan sidang dari Miko.


"Berapa kali lagi sih surat ini datang? Untung saja aku yang mendapatkannya dari ibu asuh, kalau Miko bagaimana? Dia pasti bertanya di mana surat panggilan yang pertama," gumamnya.


Lidia panik bukan main. Dia kembali memasukkan surat dari pengadilan di dalam sana, dan menyembunyikannya kembali di dalam laci lemari pakaian.


"Aku harus gimana? Bagaimana kalau surat ini datang lagi nanti? Apa aku kasih pesan sama ibu asuh saja, supaya setiap ada surat seperti itu, janga dikasihkan ke Miko?"


"Tapi, ibu asuh pasti semakin kepo kan, dan bisa jadi malah dia nyebarin gosip ke para tetangga yang lain. Malah tambah runyam nanti. Bisa-bisa, Miko malah denger dari mereka." Lidia terus bergumam, menerka dan menepisnya sendiri.


Wanita itu terus saja cemas dan takut akan kehilangan Miko suaru hari nanti.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari-hari silih berganti, tak terasa mediasi kedua pun telah sampai pada harinya.


Pagi itu, sarah seperti biasa telah bersiap untuk pergi ke pengadilan. Dia terlebih dahulu memompa ASI untuk putranya, Bagas, dan menyimpannya di lemari pendingin untuk persediaan jika dia sedang berada di luar.


Sarah sangat telaten mengurus anak, meski tanpa bantuan seorang pengasuh. Kedua orang tuanya pun dengan senang hati menjaga Bagas saat Sarah ada urusan yang harus meninggalkan sang putra di rumah dengan kakek dan neneknya.


"Hati-hati ya, Nduk. Semoga semuanya berjalan lancar-lancar saja, dan terbaik buat kalian berdua," ucap sang ibunda memberi doa kepada putrinya.

__ADS_1


"Nggih, Bu. Suwun (Iya, bu. Terimakasih)," sahut Sarah.


Wanita itu pun kemudian pergi menuju ke pengadilan untuk yang kedua kali.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sesampainya di pengadilan, Sarah sudah ditunggu oleh pengacaranya, Monika, yang kebetulan datang lebih dulu darinya.


"Selamat pagi, Mbak Monika," sapa Sarah.


"Selamat pagi," sahut Monika.


Mereka pun saling berjabat tangan. Keduanya menungu di depan ruang mediasi ya g sama seperti sebelumnya.


"Kalau kali ini tergugat tidak datang, kemungkinan setelah panggilan mediasi terakhir, bisa langsung sidang akhir," ucap Monika sambil sibuk dengan tab-nya.


"Maksudnya?" tanya Sarah tak paham.


"Yah, maksud saya adalah, jika tergugat sama sekali tidak mau hadir pada saat mediasi, maka pada sidang nanti, hanya akan mendengarkan argumen dari pihak penggugat yaitu Anda Bu Sarah. Selanjutnya, sidang itu akan menjadi sidang akhir, di mana hakim akan mengirimkan surat hasil dari persidangan kepada tergugat.


"Yah … meski nanti tetap ada kesempatan untuk tergugat memberikan argumennya. Tapi jika masih saja tidak ada reapon, maka tidak perlu ada sidang lagi, dan akta cerai kalian akan segera turun. Saya rasa, ini lebih mudah dari yang dibayangkan," jelas Monika panjang lebar.


Monika pun bisa melihat hal itu di wajah kliennya.


"Sepertinya, Anda menyesal telah mengugat cerai suami Anda? Masih ada kesempatan untuk membatalkan semua ini. Hanya saja, melihat dari sikap suami Anda, saya rasa, dia sudah tidak peduli dengan Anda," tukas Monika.


Sarah pun tertunduk. Dia merasa tak paham dengan dirinya. Padahal, sebelum ini, dia sangat ngotot ingin berpisah dari Miko. Namun, setelah sampai di sini, dia seolah sedih dengan semuanya.


Aku harusnya senangkan, karena tak perlu lagi bertemu dengan dia. Apalagi, ini semakin mempermudah proses perpisahan kami. Kenapa aku sedih, batin Sarah.


Tak berselang lama, petugas pengadilan memanggil Sarah dan juga Monika untuk masuk ke ruang mediasi.


Mediasi kali ini pun sama seperti mediasi yang lalu, dipandu oleh mediator yang bernama Lulu.


"Sepertinya, tergugat masih belum sampai. Saya harapkan, beliau akan datang hari ini. Mari kita tunggu sejenak," ucap Lulu.


Sarah nampak diam. Pikirannya pergi entah ke mana meninggalkan raganya yang masih tertinggal di ruangan itu.


Lama mereka menunggu. Kali ini, mediator memberikan waktu hanya satu jam saja. Namun, setelah waktu yang diberikan habis pun, Miko sama sekali tidak datang.

__ADS_1


"Mungkin, Anda bisa meneleponnya," ujar sang mediator.


"Ehm … maaf, saya sudah hilang kontak dengannya sejak kami memutuskan berpisah. bahkan nomornya pun sudah saya hapus dari daftar kontak," jawab Sarah.


"Hah … jadi seperti itu. Baiklah, kalau begitu terpaksa mediasi kali ini juga harus berakhir sama. Mediasi terakhir akan berlangsung dua minggu dari sekarang. Seperti biasa, suratnya akan dikirim ke alamat masing-masing," ucap sang mediator.


"Baiklah. Kalau begitu, kami pamit dulu," tukas Monika.


Mereka bertiga pun saling menjabat tangan, dan Monika serta Sarah keluar dari tempat tersebut.


Hari berganti, dan minggu pun berubah menjadi bulan. Mediasi ke tiga, Miko pun tak juga datang karena Lidia yang lebih waspada, dan pulang setiap siang hari, memastikan jika surat itu tak diterima oleh suaminya.


Kini, bahkan sidang pun sudah digelar, dan Miko sama sekali tidak hadir. Hakim pun mengirimkan verstek (Surat keputusan yang dibuat karena ketidak hadiran tergugat saat sidang berlangsung) kepada pihak tergugat. Namun, tidak ada respon sama sekali pihak Miko.


Hingga pengadilan pun memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai Sarah, karena menilai pihak tergugat sama sekali tidak memiliki itikad baik untuk memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.


Kini, Sarah dan Miko resmi dinyatakan berpisah oleh pengadilan agama, dan bukan lagi pasangan suami istri.


Dengan ini, secara resmi Sarah sudah berstatus sebagai janda.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Di rumah Miko, tiga hari setelah sidang putusan, Miko yang kebetulan hari ini tidak masuk kantor, memilih menghabiskan waktu dengan sang putri kecilnya, Misa.


"Permisi," terdengar seseorang berteriak dari luar pagar depan.


Miko pun menoleh, dan melihat jika ada petugas pengantar surat yang tengah berdiri di depan sana.


"Misa, tunggu ayah di sini sebentat yah," ucap Miko kepada putrinya.


Miko pun kemudian berjalan ke depan dan hendak menghampiri petugas pos tersebut. Tepat saat itu, Lidia datang dan terlihat bergegas menghampiri petugas tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2