
Sarah berjalan menyusul ke arah Lidia, dan hal itu membuat Jeni yang berjalan di belakang rombongan, seketika berhenti dan menahan Sarah untuk tidak semakin mendekat kepada Lidia.
"Hei j*lang! Ngapain ganggu Lidia lagi, Hah? Udah ngerebut suaminya, pake hamil segala, sekarang mau ngapain kamu manggil-manggil dia pake acara senyum-senyum gitu. Dasar nggak tau malu!" maki Jeni yang membuat para pengunjung yang sedang berada di sekitar mereka, seketika melihat kejadian memalukan itu, dan mendengar semua hinaan yang terlontar darinya.
"Tapi, aku cuma mau menyapanya dan berbincang sebentar dengan Mbak Lidia. Apa itu salah?" sahut Sarah yang berusaha melihat Lidia yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Saat dia hendak melangkah maju, Jeni kembali mendorong pundak Sarah hingga wanita hamil itu terhuyung ke belakang. Tak sampai di situ, minuman yang tengah ia pegang pun turut disiramkan ke atas kepala wanita hamil itu hingga pakaian Sarah kotor terkena tumpahan es kopi milik jeni.
Lidia melihat sekilas kejadian tersebut. Dalam hati, dia merasa kasihan saat madunya diperlakukan seperti itu di muka umum. Namun, dia memilih diam dan tak peduli, karena sakit hatinya yang dalam kepada Sarah.
Dia pun memilih untuk pergi dari sana, dan diikuti oleh teman-temannya, begitu pun Jeni yang ikut pergi setelah mempermalukan Sarah di depan umum.
"Oh, jadi dia pelakor. Syukirin deh. Siapa suruh ngerebut suami orang," ucap salah satu pengunjung.
"Pelakor mah emang kudu dikasih pelajaran, biar tau rasa!" sahut yang lain.
"Rasain lu. Dasar wanita nggak tau malu,"
"Udah nggak usah ditolong. Biar dia jera dan nggak gangguin orang lagi,"
"Mesti direkam nih. Biar viral,"
Gunjingan, makian dan sindiran saling bersautan di antara banyaknya pengunjung pusat perbelanjaan tersebut.
Sarah yang masih tertegun di tempat, merasa sudah tak punya muka lagi untuk meneruskan pertemuan dengan teman-temannya.
Dia pun akhirnya pergi ke toilet, dengan wajah yang terus tertunduk. Bermaksud ingin membersihkan diri. Namun di toilet pun, beberapa pengunjung yang melihat kejadian tadi, terus saja melontarkan sindiran-sindiran pedas kepada Sarah.
Sabar … sabar … aku harus kuat, demi anak ini, batinya di tengah sesak di dalam dada yang seakan hampir meledak.
Setelah keluar dari toilet, Sarah pun berjalan ke arah depan untuk mencari taksi. Dia berjalan ke arah jalan raya, dan menunggu di sana. Dia dampaknya lupa jika sudah ada taksi online yang bisa ia pesan kapanpun dan di mana pun. Karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah cara agar dia cepat pergi dari tempat tersebut.
Begitu mendapatkan taksi, dia pun segera meninggalkan tempat di mana dia dipermalukan di depan umum.
[Tar, maaf. Kasih tau ke yang lain kalau aku nggak jadi ikut kalian. Aku tiba-tiba nggak enak badan,] pesan Sarah.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di sebuah food court, tampak tiga orang wanita dengan salah satunya yang terlihat tengah hamil besar.
__ADS_1
Mereka tak lain adalah teman-teman Sarah yang sudah menunggu kedatangan temannya itu.
"Eh … ada dapet chat dari Sarah," ucap Tari saat melihat sebuah pesan masuk.
"Udah di mana katanya?" tanya Susan.
"Tadi terakhir dia bilang mau lihat-lihat pakaian bayi dulu," sahut Tari sambil membuka pesan dari sahabatnya itu.
"Lho kok …," gumam Tari.
"Kenapa, Tar?" tanya Murni.
"Sarah bilang dia balik lagi. Nggak jadi ikut kumpul bareng kita," jawab Tari.
"Kok gitu. Emang kenapa?" tanya Susan.
"Katany tiba-tiba kurang enak badan gitu. Nih chat-nya," jawab Tari memperlihatkan pesan terakhir yang dikirimkan oleh Sarah.
"Ya udah lah. Mungkin emang bener lagi kurang enak badan," timpal Murni.
"Duh … aku kebelet pipis nih. Ketoilet dulu yah," Kata Susan sambil berdiri dan berjalan ke arah toilet.
Tak berselang lama, Susan datang dengan terburu-buru. Wajahnya tegang seakan baru saja mendapat berita penting.
"Mur, Tar, Aku ndue berita penting (Mur, Tar, aku punya berita penting)," ucap Susan kepada kedua sahabatnya itu.
"Berita opo? (berita apa?)" tanya Murni cuek dan masih saja fokus pada layar ponselnya.
Susan terlihat mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan menggulirkan layar beberapa kali. Dia kemudian mengeraskan volume suara dan meletakkan benda pipih tersebut di atas meja.
"Nyah di delok! (Nih, lihat!)" seru Susan kepada kedua ibu muda itu.
Murni dan Tari pun memperhatikan rekaman vidio yang diputar oleh Susan, tentang seorang wanita yang dipermalukan di depan umum karena diduga sebagai seorang pelakor. Mereka berdua begitu terkejut kala mengetahui siapa yang ada di dalam vidoa tersebut.
"Ya ampun, Sarah. Ini Sarah kan?" seru Tari yang tak percaya dengan apa yang dia saksikan.
"Wah … nggak bisa dibiarin. Kurang ajar banget perempuan ini. Siapa sih dia? Tega bener kek gitu ke sesama perempuan," timpal Murni kesal.
"Katanya sih itu temennya istri pertama si Miko. Tadi kebetulan aku denger ada yang ngegosip di toilet. Aku kepo dong, pas ku tanya, dia bilang 'lihat aja di sosmed', katanya langsung viral, dan ternyata emang bener udah nyebar ke mana-mana," papar Susan.
__ADS_1
Tari nampak bangkit dan memasukkan semua barangnya ke dalam tas.
"Mau kemana, Tar?" tanya Murni.
"Aku mau ke rumah Sarah. Aku khawatir sama dia," ucap wanita hamil itu.
"Aku ikut," sahut Susan.
"Aku juga," Murni pun turut.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di rumah kontarkan dengan halaman yang cukup luas, di mana Sarah tinggal bersama suaminya selama ini, dan sempat menjadi surga untuk mereka, kini berubah menjadi tempat bersembunyi yang membatasi ruang gerak Sarah dari dunia luar.
Di saat semua orang menghinanya, saat itulah dia selalu kembali dan bersembunyi di rumahnya.
Di dalam kamarnya, Sarah tengah menangis meratapi nasibnya yang sungguh menyedihkan. Dirinya tak diterima di mana pun, dan selalu saja dihina dan dicaci maki oleh setiap orang yang melihatnya.
Ditengah isak tangis yang terus menggema di dalam kamar, terdengar suara ketukan dari arah pintu masuk, disusul dengan teriakan beberapa orang memanggil-manggil namanya.
Berkali-kali ponselnya berbunyi dan pesan masuk ke nomornya. Namun, Sarah seolah menulikan pendengarananya.
Lama sudah ketiga sahabatnya itu berada di luar mencba membuat siempunya rumah untuk keluar. Namun hingga satu jam mereka menunggu, Sarah tak kunjung datang membukakan pintu untuk mereka.
"Mungkin dia lagi butuh waktu buat sendiri," ucap Tari yang mulai kelelahan mengingat usia kandungannya yang sudah cukup besar.
"Ya udah, kita balik lagi besok aja. Biarin Sarah nenangin diri dulu," sahut Susan.
"Ya udah, yuk balik dulu," timpal Murni.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1