
Miko berjalan gontai ke arah kamar Sarah. Pria itu nampak sangat kacau dengan lingkar mata yang terlihat sembab. Rambutnya bahkan acak-acakkan.
Dia berdiri sejenak di depan pintu, sambil mengambil nafas dalam dan menghembuskannya sekaligus.
Miko berusaha menguatkan dirinya di hadapan sang istri, yang sudah pasti lebih merasa kehilangan dibanding dirinya.
Dia pun masuk, dan berjalan mendekat ke tempat Sarah berbaring. Dia duduk di samping wanita itu, dan meraih tangannya.
"Aku … aku suda melihatnya," ucap Miko.
Mata sarah nampak terpejam, dengan helaan nafas yang terdengar bergetar.
"Aku minta maaf karena tak bisa melidungi kalian. Maaf," ungkap Miko sambil menempelkan kepalan tangannya di kening.
Sarah masih diam. Namun, bulir bening meluncur deras dari kedua matanya. Isaknya yang tertahan, membuat dadanya terasa begitu sakit dan sesak. Mereka pun saling menangisi kepergian anak yang telah tiada itu.
Dari balik kaca kecil yang terdapat di pintu, Dokrer Fadil melihat semua kesedihan di dalam ruangan tersebut. Dia pun kemudian berbalik dan meninggalkan Miko dan Sarah berdua di sana.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Keesokan harinya, Miko masih setia menemani Sarah. Namun, hari ini, dia berencana untuk memakamkan anak mereka, agar segera tenang di alam sana.
"Sarah, aku pulang dulu untuk mengurus pemakaman anak kita. Kamu tidak apa-apakan kalau ku tinggal," tanya Miko dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa. Sekalian saja, kau urus perceraian kita, Mas. Karena sudah tak ada lagi anak, jadi kita bisa berpisah secara baik-baik bukan," ucap Sarah dengan begitu dinginnya.
Miko menggeleng tak percaya.
"Sar, sebegitu inginnya kamu pisah sama aku. Bahkan, jenazah anakmu saja belum diurus dengan baik. Sementara kamu, justru mengungkit soal perceraian. Keterlaluan kamu, Sar," murka Miko pada wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Yah, aku memang keterlaluan. Aku memang kejam. Tapi memang beginilah aslinya diriku, Mas. Aku tak sebaik yang kamu kira. Aku bisa berbuat sesuatu hal kejam yang diluar pemikiranmu, demi menuntaskan tujuanku," ungkap Sarah dengan datarnya.
"Keterlaluan kamu, Sar. Setidaknya, tunggulah sampai 40 harian anakmu, baru kita bicarakan lagi hal ini," bujuk Miko.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas. Semuanya sudah berakhir sekarang. Tolong ceraikan aku. Lepaskan aku, Mas," pekik Sarah.
Miko terdiam melihat sikap Sarah yang membuatnya kecewa. Belum tuntas kesedihannya yang kehilangan anak, sekarang justru istrinya tak peduli sama sekali dengan proses pemakaman bayi malang itu.
"Aku kecewa sama kamu, Sar. Kamu memang tak pantas jadi seorang ibu," ucap Miko sarkas.
"Terserah kamu, Mas. Yang jelas aku senang, karena dengan tidak adanya anak itu, aku bisa dengan tenang meninggalkan kamu," tutur Sarah yang semakin membuat Miko geram.
"Kau … apa jangan-jangn kau memang sengaja menghilangkan nyawa anakmu sendiri, dengan berpura-pura jatuh karena di dorong oleh Lidia, iya?" terka Miko.
Sarah pun tak menyangkal. Dia justru tersenyum dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
__ADS_1
"Kau memang pintar, Mas. Ya, aku memang sengaja melakukannya, agar bisa lepas darimu. Sekarang, kau sudah tahu kan siapa aku sebenarnya, hah?" ucap Sarah dengan sinisnya.
Miko nampak mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia memukul wanita dihadapannya yang sudah dengan berani mengakui hal sekejam itu.
"Baik, kalau itu memang maumu. Sekarang juga, aku jatuhkan talak satu padamu. Kau, sudah bukan istriku lagi! Aku akan segera urus perceraian kita. Aku harap kau tidak akan menyesalinya, karena bahkan makam anakmu pun, kamu tak boleh mendekatinya." Miko tak bisa lagi menahan emosinya.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, hingga Sarah pun tersenyum tipis mendengarnya.
"Tenang saja, Mas. Aku tak akan pernah menyesalinya," sahut Sarah tanpa menatap wajah suaminya, yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.
Miko pun sudah tak tahan berada di dekat Sarah. Wanita itu selalu saja mengajaknya berdebat, setiap kali mereka bertemu. Dia pun pergi meninggalkan Sarah, dan mengurus proses pemakaman jenazah bayi yang diyakininya adalah anak mereka berdua.
sementara di dalam kamar, Sarah tertunduk. Linangan air matanya tak bisa lagi ia bendung setelah kepergian suaminya yang dengan amarah meninggalkan dan mengiyakan permintaaan cerainya.
"Ini memang sudah seharusnya. Aku memang seharusnya pergi dari hidupmu, Mas," ucap Sarah dalam isaknya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Seminggu kemudian, beberapa orang dari agen jasa pindah rumah, mendatangi rumah kontrakan yang hampri satu tahun ini ditemoati oleh Miko dan Sarah.
Rumah yang sempat menjadi saksi cinta mereka yang sempat bersemi, tetapi harus pupus oleh kebohongan yang diciptakan Miko. Hingga Sarah harus menanggung semua hinaan, cacian dan makian atas statusnya sebagai isrti kedua, yang bahkan ia pun tak tahu akan hal itu.
Orang-orang tersebut nampak mengambil semua barang-barang Sarah, dan akan membawanya ke rumah orang tua wanita itu.
Sementara di luar pagar, para tetangga mulai berkerumun dan bergosip sesuka hati mereka tentang kedatangan orang-orang dari jasa pindah rumah di kontrakan Sarah.
"Eh … denger nggak? Katanya, si Sarah di cerein lho sama Mas Mikonya, gara-gara tega bunuh anaknya sendiri," ucap salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Tega bener yah. Untung Mas Mikonya tau. Kalau nggak, bisa di akalin terus tuh sama si pelakor," sahut yang lain.
"Nggak nyangka yah. Dia tega ngelakuinnya. Sana anak sendiri lagi," timpal yang lain.
"Pelakor mah gitu. Apa aja dilakuin demi dapet mangsa. Iya nggak ibu-ibu?" ujar yang lain.
"Bener tuh! Bener banget!"
"Iya bener!"
Suara-suara sumbang saling bersahutan di sana. Bahkan Tino pun mendengarnya dan merasa geram. Namun, pesan dari orang tuanya agar tak menimpulkan masalah pun, akhirnya memilih untuk mendiamkan mereka.
Setelah selesai, baik Tino maupun orang-orang dari agen jasa itu pun pergi meninggalkan rumah, yang sekarang terasa sangat sunyi, sepi dan begitu dingin. Tak ada lagi kehangatan di dalamnya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di rumah sakit, Sarah yang sudah diperbolehkan pulang pun, kini sudah berada di dalam mobil Fadil. Dokter itu menawarkan diri untuk mengantarkan Sarah pulang ke rumah orang taunya.
__ADS_1
"Nak doktet, terimakasih karena sudah mau menolong Sarah," ucap ayahanda Sarah yang sudah duduk di kursi penumpang depan.
"Sama-sama, Pak. Sarahkan memang pasien saya," sahut Fadil.
Sementara Ibunda Sarah dan juga Sarah, duduk di kursi belakang.
"Anteng banget yah cucu nenek. Dia nurut ya, Sad. Nggak rewel," ucap Ibunda Sarah.
"Udah kenyang dedenya, Nek. Jadi penginnya bobo terus deh. Hehehehe …," sahut Sarah yang menirukan suara anak kecil yang lucu dan menggemaskan.
.
.
.
.
Nah lho....yang mati anak siapa? yang ini anak siapa🤔
Tungguin next eps besok yah😁
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
Oh iya, sambil nunggu up besok, aku ada rekomendasi novel bagus nih, cek it out😎
...CAMELIA CHEN...
Azura Veer gadis kecil berusia tujuh tahun, harus menghadapi tragedi berdarah dirumahnya. Keindahan tahun baru berubah menjadi kenangan pahit yang tidak pernah ia bayangkan. Semua keluarganya dibantai oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam.
Hanya dia yang masih hidup, tetapi dia juga tertangkap dan nyaris kehilangan nyawa. Ketika nyawanya berada di ujung tanduk, seorang lelaki berkemeja putih datang untuk menolongnya.
"Aku lepaskan dia hari ini, tetapi jika dia sudah dewasa dan aku melihatnya, itu akan menjadi hari kematiannya!" kata pemimpin pembunuh.
Setelah kejadian itu Azura hidup dalam persembunyian, tetapi takdir seperti mempermainkannya.
Ketika Azura sudah dewasa. Dia mengetahui kalau orang terdekatnya dan kekasihnya adalah sekelompok pembunuh yang menghabisi keluarganya dahulu.
Bagaimana Azura akan menghadapi kenyataan tersebut?
Temukan jawabannya disini yah, 😊😊
gimana? penasaran? yuk cus langsung ke pencarian😘
__ADS_1