Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Jadi, dia ayahku?


__ADS_3

Sarah telah sampai di rumah Rianti, mertua Fadil. Pria itu mengirimkannya pesan, jika dia membawa Bagas ke rumah mertunya, bukan ke rumahnya.


Sampai sekarang, Fadil masih menjaga jarak dengan Sarah, karena wanita itu yang selalu saja menolak semua bentuk perhatian darinya.


"Assalamualaikum," salam Sarah saat tiba di rumah itu.


"Waalaikumsalam, Sarah, ayo masuk," sahut Rianti yang membukakan pintu untuk wanita itu.


"Bu, Bagas mana?" tanya Sarah saat berjalan ke ruang tamu.


"Ada di atas. Biasa, lagi main sama Oomnya Bela. Kamu duduk dulu, biar ibu ambilkan minum," tutur Rianti.


"Terimakasih, Bu," sahut Sarah.


Saat dia baru saja duduk, Fadil keluar dan menghamprinya. Wajahnya nampak memar. Lebam masih terlihat di sudut bibir pria itu.


Fadil tersenyum ke arah Sarah, meski wanita itu terlihat terus memperhatikan luka yang jelas terlihat di wajah tamoannya.


"Maaf ya, Mas. Gara-gara aku, kamu ikut-ikutan masuk dalam masalah ini," ucap Sarah.


Dia merasa sangat bersalah terhadap pria yang sudah sangat banyak membantunya.


"Jangan bilang maaf. Aku sendiri yang bersedia membantumu, jadi kamu nggak usah merasa bersalah seperti itu," ujar Fadil.


"Tapi tetap saja, Mas Miko sudah keterlaluan menuduh mu sembarangan," keluh Sarah.


Fadil terenyum kecut mendengar perkataan wanita itu.


Itu bukan tuduhan, andai saja kau mau menerimaku, Sar, batin Fadil.


Pria itu masih sangat berharap jika wanita di depannya, mau menerima dirinya sebagai suami ke dua. Namun, Sarah selalu saja menghindar setiap kali pria itu hendak mengutarakan niatnya.


Bahkan setelah itu, dia akan semakin menjaga jarak dari Fadil, dan itu mebuat Bela, putrinya, menjadi sedih. Mau tak mau, Fadil pun mengalah dan memendam keinginannya akan mempersunting janda satu anak itu.


Tak berselang lama, Rianti datang membawakan dua gelas minuman dingin. Sarah bangkit dan meraih nampan yang dibawa wanita tua itu.


"Makasih ya, **," ucap Sarah sambil meletakkan nampan di atas meja, dan memindahkan kedua gelas dari atasnya.


Nampan itu kemudian ditarik dan diletakkan di bawah meja oleh Sarah.


"Fadil sudah cerita semuanya. Ibu juga kaget melihat dia pulang dengan lebam di wajahnya," ucap Rianti yang turut duduk dengan keduanya.


Sarah menunduk. Dia merasa tidak enak dengan keluarga itu, karena secara tak langsung, dia turht melibatkan seluruh anggota keluarga Fadil dan juga Rianti di dalamnya.

__ADS_1


"Maaf ya, Bu," ujar Sarah.


Rianti meraih tangan janda itu, dan mengusap lembut punggung tangannya.


"Sarah, Ibu ngerti ini urusan pribadimu. Hanya saja, mungkin bisa dibilang ini nasehat atau saran," ucap Rianti.


Sarah mengangkat wajahnya dan memandang wanita tua yang berada di hadapannya itu.


"Sebaiknya, kamu beritahukan yang sebenarnya kepda Bagas dan juga laki-laki itu. Dia sudah menemukanmu sekarang, dan cepat atau lambat, dia pasti juga akan tau semuanya, entah itu dari kamu, atau pun orang lain,"


"Sebelum dia tau sendiri dari mulut orang lain, bukankah lebih baik jika kamu yang mengatakannya, Sar. Karena kalau tau dari orang lain, rasanya akan sangat sakit, dan bisa jadi dia akan semakin nekat nantinya," ucap Rianti.


Helaan nafas panjang dan berat, keluar dari mulut wanita itu. Matanya terpejam, dengan dadanya yang bergemuruh. Sarah mengerjap-kerjapkan matanya menghalau bulir bening yang hendak turun.


"A … aku pun berencana mengatakannya tadi. Ta … tapi …," ucapnya terbata.


Suaranya terdengar bergetar menahan isak yang membuat dadanya kian sesak.


Rianti mendekat dan duduk disamping Sarah. Wanita tua itu merangkul pundak janda satu anak itu dan mengusap lembut lengam Sarah.


"Dia masih saja sama. Masih egois. Selalu saja berpikir dari sudut pandang dia. Tak pernah mau mendengarkan penjelasan dari orang lain terlebih dulu dan langsung menuduh seenaknya. Aku takut jika aku mengatakannya, dia juga akan egois, dan memisahkan ku dengan Bagas. Aku nggak mau, Bu," ungkap Sarah.


Isaknya tak bisa lagi dibendung. Rianti pun menuntun kepala Sarah agar bersandar di bahunya, dan menumpahkan segala kesedihannya di sana.


Mereka tak tau jika ada dua makhluk kecil yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan ketiga orang dewasa itu.


Bela menatap Bagas yang terus terdiam.


Jadi, Oom yang tadi itu ayahku? batin bagas.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Keesokan harinya, Sarah kembali masuk kerja, dengan suasana hati yang sebisa mungkin ia benahi. Dia tetap konsisten untuk tidak menginjakkan kakinya ke lantai tiga.


"Sar, mana foto copy kartu keluarga mu?" tanya Minati.


"Kartu keluarga? Buat apa?" tanya Sarah bingung.


"Kamu nggak baca broad cast message dari kantor semalam?" tanya Minati ke arah rekannya itu.


Sarah menggeleng dan meraih ponselnya. Dia melihat riwayat pesan semalam. Wanita itu pun menepuk keningnya karena baru menyadari jika dirinya melewatkan pesan tersebut.


"Maaf, Min. Semalam aku lupa charge ha pe ku. Baru tadi pagi ku aktifin dan belum ku baca. Maaf ya. Hihihihi …," jawab Sarah dengan memamerkan deretan gihi putihnya yang terlihat rapi, dengan sebuah gigi gingsul yang menambah kesan manis pada wanita itu.

__ADS_1


Semalam, setelah pulang dari rumah Rianti, seusai mengurus putranya, Sarah memilih tidur awal ketika Bagas juga sudah terlelap.


Dia tak menghiraukan lagi ponselnya yang telah mati daya, dan bahkan lupa mengisinya kembali karena terlalu lelah dengan kejadian siang harinya.


Minati kesal dengan tingkah Sarah yang seolah tidak bersalah itu.


"Hah … ya sudah. Besok bawa ya," seru Minati.


"Iya, siap. Eh tapi … emangnya mau buat apa sih? Bukannya kantor udah punya arsipnya ya? Kan tinggal dilihat lagi aja," tanya Sarah.


"Pak bos yang minta semua karyawan ngumpulin ka ka, katanya buat update data perusahaan yang akan dilakukan bulan depan," tutur Minati.


"Oh … gitu," sahut Sarah.


Namun, wajahnya tiba-tiba berubah pias. Dia menerka jika ini adalah rencana Miko untuk mengetahui identitasnya saat ini dan juga siapa sebenarnya Bagas.


"Ehm … Min. Mending aku ditinggal aja deh. Kan cuma satu ini. Kayaknya nggak papa deh kalo gitu," ucap Sarah.


"Ya nggak bisa gitu dong. Udah, pokonya besok bawa. Aku nggak mau dinilai nggak profesional yah sama si bos. Ini perintah pertamanya ke divisi ku. Jadi, aku ya harus tunjukin gimana kinerja divisi personalia sama dia," jawab Minati.


Hah … susah kalo udah berurusan sama yang namanya Minati, batin Sarah kesal.


"Ya udah. Beson kalo nggak lupa ya," ujar Sarah.


"Oke. Aku balik ke meja ku dulu," pamit Minati.


Sarah pun kini sendiri, dan tenggelam dalam pikirannya.


Apa memang aku harus mengatakannya sendiri padanya? Tapi, aku masih ragu dengan reaksinya nanti. Ya Allah, beri hamba-Mu ini petunjuk, batin Sarah.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


sambil nunggu next eps, boleh kali mampir ke novel ku yang lain😁


__ADS_1


Ada tiga novel, dan salah satunya novel ini. Mampir yuk😁


__ADS_2