Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Meminta penjelasan


__ADS_3

Miko berjalan gontai layaknya zombi kesiangan. Dia masuk ke dalam pekarangan rumah orang tuanya dan meninggalkan mobilnya di luar pagar.


Dia terlihat tengah berdiri tepat di depan teras rumah berlantai dua itu, dan mendongakkan wajahnya menatap ke atas, seperti mencoba melihat genting rumah tersebut.


Apa benar Ayah sudah berbuat sejauh itu kepada Sarah? batinnya.


Belum juga dia selesai memandang langit yang sebentar lagi terang, suara pintu terbuka membuatnya menurunkan kembali pandangannya.


Tampak diambang pintu, wanita yang sudah melahirnya tengah berdiri di sana. Sang ibu begitu terkejut melihat putranya yang datang pagi buta, dengan penampilan yang sangat berantakan.


"Miko, kamu kenapa, Nak?" tanya sang bunda menghampiri putranya, yang masih berdiam di tempatnya.


Miko menatap ibunya dengan nanar. Tatapannya kosong dengan semua kekecewaan yang jelas tergambar di sana.


"Ayo kamu masuk dulu," ajak sang ibu.


Miko pun dipapah oleh ibunya masuk ke dalam rumah. Saat bari sampai di ruang tamu, mereka berpapasan dengan kepala keluarga di rumah tersebut.


"Ko, kenapa subuh-subuh ke sini? Ada apa?" tanya sang ayah.


Miko masih diam. Ibunya menuntun sang putra untuk duduk di kursi yang ada di ruangan itu, diikuti oleh kedua orang tuanya.


"Coba katakan ada apa, Ko? Kenapa kamu sekacau ini?" tanya sang bunda yang merasa khawatir.


Miko menoleh dan menatap lekat mata sang ayah. Dia mencoba mengatur emosinya agar tak sampai membentak orang yang telah berjasa membesarkan dan mendidiknya sedari kecil hingga sukses seperti sekarang ini.


"A … apa benar, Bapak pernah mengancam Sarah?" tanya Miko dengan suara yang serak, karena terlalu lama menahan amarahnya.


"Ngancem? Ngancem apa? Ketemu saja tidak pernah sejak kalian pisah," tutur sang ayah.


"Bukan saat itu. Tapi, saat Sarah masih hamil dulu. Bapak mengancam akan mengambil anaknya kalau dia masih meminta pisah dari ku, kan?" ecar Miko.


Pria tua di depannya itu mengerutkan keningnya. Namun, dia pun berusaha menahan emosinya yang pagi-pagi sudah seperti tersangka yang diinterogasi oleh putranya sendiri.


Sang ayah memilih untuk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dan menghela napas beberapa kali untuk menetralkan emosinya.


"Apa kalian sudah bertemu lagi?" tanya sang ayah.


"Ya, kami bertemu lagi secara kebetulan," jawab Miko.

__ADS_1


Pria itu kembali menundukkan wajahnya, untuk menjaga sopan santunnya kepada orang yang lebih tua. Di samping itu, untuk menyembunyikan wajah kecewa dan sedihnya dari kedua orang tua.


"Jadi, dia bilang begitu sama kamu?" tanya sang ayah lagi.


Miko hanya mengangguk.


"Hah … memang benar, Bapak dulu bilang seperti itu sama dia. Bapak tau kalau itu salah. Tapi, Bapak hanya mau supaya dia tetap menjadi istrimu. Bukannya kamu yang minta, Ko?" ungkap ayah Miko.


Miko seketika mengangkat wajahnya dan menatap kembali mata sang ayah.


Dari samping, sang ibu menepuk-nepuk bahu putranya, untuk menenangkan hati Miko, yang sudah pasti sedang diliputi oleh emosi.


"Ko, kami orang tuamu. Kami hanya mau kamu bahagia. Saat kamu datang ke mari dan mengadu kalau Sarah mau minta cerai setelah dia melahirkan, kami pun tak tega melihatmu sedih seperti itu," ucap sang ibu.


Miko menoleh ke arah ibunya berada.


"Hari itu, kami datang ke kontrakan kalian bermaksud membujuknya dengan cara baik-baik. Namun sepertinya, Sarah yang sudah sangat tertekan dengan keadaan, mengutarakan semua isi hatinya, dan membuat Bapak mu ikut emosi," lanjut sang bunda.


"Yah, ini memang salah Bapak juga. Harusnya, Bapak tidak sampai mengancamnya seperti itu. Tapi, toh sekarang kalian sudah berpisah dan tidak anak juga. Jadi, Bapak rasa hal itu tidak jadi masalah toh," ucap sang ayah.


Miko meradang mendengar semua ucapan ayahnya itu.


Tangannya mengepal kuat hingga kuku jarinya menancap di telapak tangan. Matanya memerah dengan wajah yang merah padam.


Sang ayah menegakkan duduknya saat mendengar hal itu, dan sang ibu pun mencoba melihat wajah putranya dengan seksama.


"Apa maksudmu, Ko?" tanya sang ayah.


"Anakku masih hidup, Pak. Sarah menyembunyikannya karena takut dengan ancaman Bapak. Lima tahun aku berusaha hidup dalam kehampaan, dan ternyata itu semua karena ucapan Bapak yang sangat keterlaluan," ucap Miko.


"Apa?!" kedua orang tuanya terperanjat dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Miko.


Mereka tak habis pikir, jika semua tidak sesederhana yang dibayangkan.


"Ja … jadi, cucu Ibu masih hidup? Terus, siapa bayi yang kamu bawa pulang? Kamu bilang, itu dari rumah sakit," tanya sang bunda.


"Jangan tanya aku, Bu. Aku juga tidak tau. Yang jelas, Sarah sudah menyembunyikannya selama ini dari kita," ucap Miko dengan suara melemah.


Pria itu sudah sangat lelah dengan semua kejadian yang baru saja dialaminya. Semua kehampaan yang ia jalani selama lima tahun ini, tak ubahnya seperti sebuah mimpi buruk yang sangat panjang. Dan saat dia terbangun, sebuah kenyataan justru membuatnya semakin terpuruk, karena secara tak langsung, orang tuanya lah yang menyebabkan semua ini.

__ADS_1


"Ini tak boleh dibiarkan!" seru sang ayah yang tiba-tiba menggebrak meja.


Semua menoleh dan menatap ke arah pria tua itu.


"Kita harus bisa ambil anak itu. Bagaimana pun juga, dia cucu ku. Mereka sudah keterlaluan membohongi kita selama ini," ucap ayah Miko.


"CUKUP, PAK!" bentak Miko.


Pria itu geram mendengar perkataan sang ayah yang seperti tak bisa belajar dari kesalahan terdahulunya.


"Cukup! Jangan lakukan apa pun lagi. Aku mohon. Aku nggak mau Sarah menyembunyikan anakku lebih jauh lagi. Aku mohon Bapak dan Ibu jangan lakukan apapun. Karena kalau sampai sesuatu terjadi lagi pada kami bertiga, aku pasti akan benar-benar hancur," ujar Miko.


Kedua orang tuanya pun terdiam mendengar perkataan anak mereka. Sang ayah kembali menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang.


"Maafkan Bapak, Ko. Bapak selalu saja seperti ini. Sulit mengendalikan emosi. Baiklah, Bapak tidak akan melakukan apapun pada kalian. Tapi, bolehkah Bapak menemui anak itu?" ucap sang ayah.


Miko kembali tenang. Dia tertunduk dengan lesu.


"Mungkin tidak saat ini, Pak. Aku juga tak tau apa Sarah masih memperbolehkan ku untuk menemui anaknya atau tidak," ujar Miko.


"Baiklah. Kami akan tunggu sampai kamu bisa membawa kami kepada anak itu," seru sang ayah.


.


.


.


.


Maaf, upnya kesiangan🙏🙏🙏


Tapi ku usahain buat up tiap hari kok😁


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


sambil nunggu next eps, bisa dong mampir ke novel temen ku. ceritanya bagus lho. ini lanjutan dari novel keduanya.


__ADS_1


__ADS_2