Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mulai dekat


__ADS_3

Di tengah rasa sakitnya, Sarah segera meraih ponselnya, dan menghubungi sebuah jasa taksi online.


Tak berselang lama, sebuah taksi telah terparkir di depan pagar rumah Sarah.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


[Saya sudah sampai,]


Melihat pesan dari si supir taksi, sarah pun segera berjalan menuju pintu depan dengan berpegangan pada benda-benda yang ada di sekitarnya, sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


Selama perjalanan, Sarah mencoba untuk menenangkan pikirannya, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kembali berkali-kali, agara rasa sakitnya bisa berkurang.


Sesampainya di rumah sakit, dia meminta seorang perawat untuk meminjamkannya kursi roda, karena rasanya sangat sulit untuk berjalan.


Akhirnya, Sarah pun dibawa ke UGD, dan mendapatkan penanganan langsung dari Dokter Fadil.


"Kram lagi? Apa yang sedang Anda pikirkan, sampai membuat kandungan anda bereaksi seperti ini?" tanya Dokter Fadil ketika tengah memeriksa kondisi Sarah.


"Maaf, Dok," ucap Sarah menyesal.


"Jangan minta maaf pada saya. Minta maaf lah pada anak ini. Jika Ibu masih seperti ini, saya tidak bisa menjamin dia bisa lahir ke dunia dengan selamat," ujar dokter itu dengan dinginnya.


Sarah kembali menitikkan air mata. Meski dia membenci ayah sang anak, akan tetapi ikatan batin antara dirinya dan janin di kandungannya, membuat Sarah merasa sangat sedih, membayangkan jika sampai terjadi sesuatu padanya.


"Maafkan Ibu, Nak. Maaf," ucap Sarah lirih sambil memeluk perutnya sendiri, dengan berurai air mata.


Dokter Fadil semakin penasaran dengan apa yang tengah menimpa Sarah.


"Sebaiknya, untuk sementara Ibu dirawat dulu di sini, sampai kondisi Ibu benar-benar pulih," seru Dokter Fadil.


"Tidak usah, Dok. Saya baik-baik saja. Saya janji akan lebih berhati-hati lagi," ucap Sarah.


Dia tak ingin jika Miko sampai tau kondisinya sekarang. Sarah sudah tak ingin lagi melibatkan pria itu di hidupnya.


"Baiklah. Setidaknya habiskan satu botol infus, baru Ibu boleh pulang," sahut Dokter Fadil kemudian.


"Baik, Dok." Sarah pun menurut.


Dokter fadil keluar, dan membiarkan wanita itu beristirahat di dalam sana seorang diri.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sarah kini tengah mencopot selang infusnya dengan dibantu oleh seorang perawat rumah sakit. Sudah habis satu botol, dan sesuai yang dikatakan Dokter Fadil, bahwa ia bisa untuk segera pulang saat itu juga.

__ADS_1


"Ibu, silakan urus administrasinya dulu di ujung lorong sana," ucap perawat tersebut yang telah selelsai melakukan tugasnya.


"Terimalasih, Sus." Sarah pun bangun dan berjalan menuju ke tempat yang di tunjukkan.


Sesampainya di sana, Sarah melakukan pembayaran atas penanganan rumah sakit terhadapnya.


Dia bersyukur karena selama menikah dengan Miko, suaminya selalu memberi uang lebih, sehingga dirinya bisa menabung untuk keperluan mendesak seperti sekarang ini.


Selesai mengurus adminiatrai, Sarah berencana pulang. Namun, langkah kaki kembali menuntunnya ke arah taman yang waktu itu.


Sekali lagi untuk yang entah kesekian kalinya, wanta hamil itu duduk seorang diri memandangi pasien lain yang hilir mudik menikmati suasana di tepat itu.


"Cepat juga ya habisnya. Ku kira baru akan habis sore nanti," ucap sebuah suara yang mengagetkan lamunan Sarah.


Wanita itu pun menoleh dan mendapati sosok yang sangat ia kenal.


"Dokter," sapa Sarah.


Orang yang ternyata adalah Dokter Fadil itu pun kemudian duduk di bangku yang sama dengan Sarah, dan hanya berjarak dua jengkal. Dia meletakkan dua buah botol air mineral di tempat kosong antara dirinya dan wanita hamil itu.


"Menunggu suamimu?" tanya Dokter Fadil.


Sarah menundukkan kepalanya, sambil menggeleng pelan, "Dia tidak tau kalau aku di sini."


"Ini anak pertama kalian bukan? Aneh. Bukankah anak pertama itu sangat diperhatikan dengan baik oleh orang tuanya, bahkan semenjak dalam kandungan?" tanya Dokter Fadil menelisik.


Sarah nampak tersenyum, tetapi lingkaran matanya nampak memerah. Dia masih menunduk, dan terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya.


"Yah … harusnya memang seperti itu," ucapnya dengan terseyum getir.


Dokter itu merasa semakin ingin tau tentang wanita di sampingnya. Namun, dia tak ingin membuat Sarah tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaannya seputar masalah pribadi.


Entah kenapa aku sangat penasaran dengan wanita ini. Tapi, kalau aku menanyakannya, apa itu sopan? batin Dokter Fadil.


"Begini, Bu Sarah. Atau, boleh ku panggil Sarah saja?" tanya Dokter Fadil.


"Yah … silakan, Dok." Sarah menimpali.


"Jadi begini, setiap orang memang punya masalah. Tapi, lebih baik jika tidak di pendam seorang diri. Mungkin, kamu nggak percaya sama sembarang orang, tapi kamu bisa coba bicara pada ku. Yah … anggap saja sebagai konsultasi. Jadi aku sebagai dokter mu, tau harus bagaimana menanganimu," ucap Dokter Fadil.


Sarah tersenyum mendengar perkataan dokternya.


"Sebelumnya saya sangat berterimaksih, Dok. Tapi, saya rasa ini aib untuk saya. Saya tidak mungkin membeberkannya kepada orang lain. Sekali pun itu Dokter. Maaf," sahut Sarah.

__ADS_1


"Hem … baiklah. Aku tak akan mendesakmu lagi untuk bercerita. Tapi sebagai gantinya, kau harus berjanji untuk menjaga baik-baik hati, pikiran dan kandungan mu," seru Dokter Fadil.


"Iya, Dok. Akan ku usahakan," sahut Sarah.


"Hah … selalu saja bilang usahakan. Tapi ujungnya, minggu depan ke sini lagi dengan keluhan yang sama," gerutu Dokter Fadil sambil meminum airnya.


"Wah … apa Pak Dokter bosan melihatku?" timpal Sarah sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk menghalangi tawanya.


"Bosan … sangat bosan. Tapi aku harus menemui mu karena khawatir dengan anak itu," sahut Dokter Fadil sambil menunjuk ke arah perut Sarah.


"Hahahaha …," tawa Sarah lepas melihat dokter yang biasanya terlihat serius, kini menggerutu dan bertingkan seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Dokter Fadil terkesima melihat tawa wanita itu. Tanpa sadar, senyumnya pun ikut mengembang seiring dengan tawa wanita hamil itu.


"Hahahah … terimakasih ya, Oom Dokter. Sudah peduli sama dedek … hahaha …," ucap Sarah di tengah tawanya.


"Iya. Sama-sama, dedek." Dokter Fadil dan Sarah pun saling tertawa.


Mereka terlihat semakin dekat, dengan saling bercanda. Sarah pun sejenak bisa melupakan kekalutan hatinya, yang sempat membuatnya harus terbaring barang sejenak di ruang UGD rumah sakit.


"Kamu ternyata bisa ketawa juga ya. Kenapa dari kemarin murung terus kalau tawamu begitu cantik," ucap Dokter Fadil.


Sarah menghentukan tawanya, dan hanya tersenyum lebar ke arah Dokter Fadil.


"Jadi, selain bisa nolong orang, dokter juga jago gombal yah," balas Sarah dengan sindiran.


"Siapa yang gombal? Aku? Nggak lah," elak Dokter Fadil.


"Hem … nggak mau ngaku. Iya deh iya, Pak Dokter … hehehe …," sahut Sarah yang masih menyindir dokter itu.


"Fadil. Panggil saja aku begitu," ucap Dokter Fadil tiba-tiba.


"Ehm … bagaimana kalau Mas. Mas Fadil?" tanya Sarah.


"Yah … tidak buruk juga. Boleh lah " jawab Dokter Fadil.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2