Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Surat lagi


__ADS_3

Di kediaman Pak Riswan, Sarah yang baru saja pulang dari pengadilan, segera disambut oleh sang ibunda yang saat itu tengah menggendong bayi Bagas.


"Sar, Sarah! Gimana tadi sidangnya? Lancar? Miko datang tidak?" tanya Ibunda.


Sarah nampak menyalami sang Ibu terlebih dahulu, baru kemudian dia mengecup singkat kening putranya.


Wanita itu berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tas yang ia bawa, diletakkan di ata meja, sedangkan tubuhnya ia hempaskan bersandar di kursi.


"Nggak ada mediasi, Bu. Miko ditunggu satu jam setengah tapi dia nggak datang juga. Dua minggu lagi ada panggilan lagi," jawab Sarah yang terlihat begitu lelah.


Ada rasa yang aneh dalam dadanya, ketika dia mendengar sang pengacara mengatakan jika pihak tergugat, dalam hal ini suaminya sendiri, Miko, tidak datang karena tidak ingin menyelesaikan masalah yang ada di antara mereka.


Apa yang aku harapakan? Bukankah aku sangat ingin segera berpisah dari Miko? Kenapa aku kecewa saat dia tidak datang? Padahal jelas-jelas Monika sudah bilang kalau ini justru akan melancarkan proses perceraian kami, batin Sarah.


Kemurungan sang putri, tertangkap dengan jelas oleh sang ibu, Bu Riswan. Wanita tua itu melihat ada hal yang tengah mengganggu pikiran anaknya tersebut.


"Kamu nggak papa kan, Nduk?" tanya Bu Riswan.


Sarah pun tersentak dari pikirannya yang entah memikirkan hal apa.


"Ehm … nggak kok, Bu. Aku cuma capek aja. Aku ganti baju dulu ya, Bu," ucap Sarah.


Dia pun berdiri dan meninggalkan sang Ibu dan putranya, kemudian menuju ke kamar.


"Ada apa lagi dengan anak itu? Apa dia merasa menyesal akan berpisah dengan suaminya?" gumam sang ibu melihat tubuh putrinya yang telah menghilang di balik pintu kamar.


Dia pun berjalan menuju ke halaman depan, sambil melihat lalu lalang kendaraan yang hilir mudik di jalan.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Malam hari di rumah Lidia dan Miko, nampak perempuan itu berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.


Dia mengingat jelas jika hari ini adalah hari di mana sang suami diminta untuk hadir dalam mediasi pertama di pengadilan agama.


"Apa mungkin dia tau? Apa mungkin dia datang? Kenapa jam segini dia belum pulang?" gumamnya.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sangat larut untuk Miko pulang kerja. Terlebih mengingat jabatannya sekarang yang hanya seorang sales finance.

__ADS_1


"Ke mana ya dia? Sejak kejadian itu, dia nggak pernah pulang larut gini. Pasti dia selalu pulang awal dan main sama Misa. Kemana dia sekarang?" Lidia nampak kebingungan.


Dia menduga, jika Miko tau soal undangan itu. Namun, dia sudah memastikan kalau benda itu masih tersimpan rapi ditumpukan berkasnya.


"Apa mungkin dia dapat pesan lewat sms? Ah … tidak … tidak … urusan resmi seperti itu nggak mungkin dikirim lewat sms," gumam Lidia yang menerka dan menyangkalnya sendiri.


Wanita itu sekarang menjadi begitu menyedihkan. Dia sangat takut kehilangan suami setelah pernikahan diam-diam Miko dengan Sarah dulu.


Namun, sikap Miko yang sudah terlanjur kecewa dengan istri pertamanya, membuat pria itu menjadikan usaha Lidia terlihat sia-sia saja.


Meskipun tahu akan hal itu, Lidia masih bersikeras jika dia bisa membuat suaminya tergila-gila kembali kepadanya, dengan usaha yang dia lakukan.


Ditambah adanya Misa di tengah mereka. Meskipun bukan anak kandung mereka, tapi kasih sayang Miko jelas adanya, dan hal itu pun Lidia manfaatkan untuk terus mengikat Miko di sisinya.


Lama menunggu, tiba-tiba terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah mereka. Lidia pun melihatnya dari balik tirai jendela kamar.


"Miko. Itu Miko pulang," ucapnya.


Wanita itu pun keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan. Belum juga sampai di sana, Lidia sudah melihat Miko yang masuk dengan wajah yang terlihat lesu.


Wanita itu berusaha mengulurkan tangan hendak menyalami Miko, namun pria itu berjalan begitu saja melewatinya.


Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dada Lidia, hingga membuatnya sesak. Genangan tercipta di pelupuk matanya, namun segera ia buang dengan mengerjapkan matanya.


Lidia pun berbalik dan berjalan mengikuti Miko.


"Kamu sudah makan, Ko? Aku tadi masak kari ayam. Kamu mandi dulu aja, nanti aku panaskan," ucap Lidia yang berjalan ke arah dapur.


Miko tiba-tiba berhenti di depan pintu kamarnya. Ia melihat sekilas ke arah Lidia. Terdengar helaan nafas yang panjang dari mulut pria itu. Dia kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.


Seandainya kamu seperti ini dari awal, Lid. Tak perlu kamu semenyedihkan ini mengemis cintaku yang entah masih ada atau tidak untukmu, batin Miko.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari-hari berganti. Lidia sudah memastikan jika hari itu, suaminya tidak pergi ke pengdilan, melainkan pergi ke rumah temannya Dodi. Teman suaminya itu sudah mengkonfirmasinya saat Lidia menelpon.


Suatu siang, Lidia tengah berada di rumah. Karena beban kerjanya saat ini, memungkinkan wanita itu untuk bisa menyempatkan pulang dan melihat Misa barang sebentar saja. Bayi kecil itu diasuh oleh seorang ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah mereka, yang kebetulan menawarkan diri sebagai pengasuh bayi.

__ADS_1


"Assalamualaikum, anak bunda lagi apa nih?" sapa Lidia saat baru tiba di rumah.


Terlihat Misa tengah digendong oleh pengasuhnya di teras rumah.


"Waalaikumsalam, tadi baru selesai minum susu, Bu. Ini kayaknya kekenyangan, jadi saya panggul gini biar bersendawa," ucap ibu asuh Misa.


"Oh … anak bunda kekenyangan yah … tapi dia nggak rewelkan, Bu?" tanya Lidia dua arah, kepada Misa dan juga ibu asuhnya.


"Alhamdulillah, nggak kok, Bu. Misa itu bayi yang anteng. Kecuali kalo dia lagi ngerasa nggak enak badan barulah rewel," jawab si ibu asuh.


"Ya sudah. Syukurlah kalau begitu. Saya masuk ke dalam dulu ya bu," ucap Lidia.


Wanita itu pun melangkah masuk ke dalam hendak mengambil minum untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja dia sampai di depan lemari pendingin, ibu asuh itu datang menghampirinya.


"Maaf, Bu. Tadi ada tukang pos datang nitip surat ini untuk Pak Miko," tutur ibu asuh Misa.


Lidia pun melirik sekilas ke arah ibu asuh dan melihat apa yang tukang pos titipkan.


PUUFFFTTT!


Seketika, air yang tengah berada di mulut Lidia menyembur keluar, kala melihat benda yang diulurkan oleh si ibu asuh itu.


"Kenapa, Bu? Ibu nggak papakan?" tanya ibu asuh itu.


"Nggak kok. Saya nggak papa, Bu. Cuma hampir tersedak saja, jadi saya semburkan. Maaf ya," sahut Lidia.


Surat dari pengadilan lagi? Sampai berapa kali sih surat ini harus datang? batin Lidia.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2