Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Bertemu klien


__ADS_3

Semenjak pertemuan kembali dengan Fadil, kedekatan antara Bela dan Bagas, membuat Sarah dan duda satu anak itu sering sekali bertemu dan jalan-jalan bersama layaknya sebuah keluarga yang utuh.


Suatu hari, saat Sarah berkunjung ke rumah orang tuanya, Bu Riswan pernah mengatakan agar Sarah mempertimbangkan Fadil untuk menjadi ayah sambung Bagas.


"Bu, udah berapa kali aku bilang, kalau aku belum siap untuk kembali berumah tangga lagi, Bu," tolak Sarah.


"Tapi, apa kamu nggak kasihan sama anakmu, Bagas? Dia butuh sosok ayah. Kamu denger sendiri kan Bagas pernah bilang kalau dia itu iri sama temen-temennya, yang selalu diajak main bola sama ayahnya. Masa kamu nggak mikirin itu," seru Bu Riswan.


"Bu, aku mohon jangan paksa aku untuk memulai sesuatu yang bahkan aku belum siap untuk menjalaninya. Lagi pula kalau sekedar bermain bola,aku masih bisa kok," kilah Sarah.


"Kamu jangan egois, Sarah. Kasihan Bagas. Dia itu anak laki-laki. Dia sangat butuh sosok ayah. Apa mungkin, kamu masih mencintai Miko?" tanya sang ibu.


"Bukan gitu, Bu. Aku …," sahut Sarah.


"Nek! Nenek tadi sebut nama ayah ya. Emang ayah kenapa, Nek?" tanya Bagas yang menyela perbincangan kedua wanita beda generasi itu.


"Oh … Nenek cuma lagi tanya kabar ayahnya Bagas. Barangkali ibu tahu," jawab Bu Riswan asal.


"Kata Ibu, Ayah sedang pergi jauh buat ngalahin orang jahat … kaya Thor," ucap Bagas yang nampak berbinar saat membicarakan ayahnya.


"Ehm … kata Ibunya Bagas, gitu ya," sahut Bu Riswan.


"Ehm … Bu, minum." Bagas mengangguk kepada sang nenek dan kemudian meminta diambilkan minum oleh Sarah.


"Ini minumnya, Sayang," ucap Sarah sambil menyerahkan segelas air putih kepada putra kecilnya.


Bagas pun minum dan berlalu pergi menghampiri kakeknya kembali.


"Ibu lihatkan. Bagas sudah cukup bahagia dengan hanya aku menceritakan sesuatu tentang ayahnya," ucap Sarah.


"Hah … tidak sesederhana itu, Sar. Percaya sama Ibu," seru Bu Riswan yang pergi meninggalkan putrinya yang masih berada di dapur.


Sarah terdiam memikirkan perkataan ibunya.


Jika alasannya Bagas, anak kecil itu bahkan tidak mau menerima Fadil sebagai ayahnya, meski itu tak jelas dia ucapkan. Jadi, bagaimana aku bisa menerimanya sebagai pengganti Miko, batin Sarah


Bukan tanpa alasan wanita itu selalu menolak perhatian Fadil, meski kedekatan keduanya sudah semakin erat beberapa bulan terakhir. Bela, putri satu-satunya Dokter Fadil pun, bahkan sudah sering menginap di rumah Sarah dan menganggap Bagas sebagai adiknya.

__ADS_1


Suatu ketika, Bagas terlihat murung saat Fadil kebetulan menjemput Bela lebih awal dari biasanya, bahkan Sarah pun belum sampai untuk mengambil putranya pulang. Duda itu melihat kedua anak kecil tersebut, Bela dan Bagas, tengah bermain ayunan.


"Bagas kenapa? Kok murung," tanya Fadil.


"Bagas tadi diejek sama temen-temennya lagi, Pah. Katanya Bagas nggak punya ayah," tutur Bela yang mengadu kepada pria dewasa di depannya


Fadil merasa kasihan dengan anak itu. Dia pun memdekati Bagas dan berjongkok di depan pria kecil yang masih duduk di atas ayunannya.


"Bagas, nggak usah dengerin omongan temen-temen kamu yang bilang gitu yah. Bagas punya ayah kok," seru Fadil.


"Bagas tau kok, Oom. Tapi, Bagas cuma pengin kaya temen-temen Bagas yang lainnya. Yang diantar jemput sama ayah mereka, main bola bareng, main sepeda bareng," ungkap Bagas.


"Ehm … gini aja deh, gimana kalo Bagas main bola sama main sepedanya bareng sama Oom aja? Dan … ehm … Bagas juga boleh panggil Oom ayah, sepeti Kak Bela yang panggil ibunya Bagas dengan panggilan Ibu," ucap Fadil.


Namun, di luar dugaan. Pria kecil itu menggeleng pelan, dan tersenyum ke arah Fadil.


"Makasih, Oom. Karena Oom udah baik banget sama Bagas dan juga ibu. Tapi, Ayah Bagas cuma Ayah Miko. Bagas akan tunggu ayah sampe ayah pulang," tutur Bagas.


Ucapan anak kecil yang masih polos itu, benar-benar mematahkan hati Fadil seketika itu juga. Awalnya, dia menyangka jika pikiran Bagas sama dengan putrinya. Namun rupanya, Bagas lebih memilih menunggu ayahnya yang entah kapan akan datang.


Tanpa mereka sadari, Sarah sudah berada di sana, dan bersembunyi di balik dinding pagar sambil membekap rapat mulutnya dengan kedua tangan.


Dia mendengarkan semua pembicaraan dua pria beda usia itu dengan sangat jelas.


Maafkan Ibu, Nak. Ibu nggak tau kalau kamu serindu itu sama ayahmu. Maafkan Ibu. Ibu belum bisa bertemu dengan ayahmu, bagin Sarah menangis.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Siang ini, Sarah ada temu klien yang memiliki kelas VIP. Namun, hari ini pun bertepatan dengan penyambutan kepala cabang baru, yang baru saja dipindah tugaskan dari kota Kudus ke Surabaya.


"Sar, hari ini kamu bisa hadir kan di acara penyambutan kepala cabang yang baru?" tanya Minati, staff senior sekaligus manager HRD di perusahaan tempatnya bekerja.


Jabatannya sejajar dengan Sarah, hanya berbeda bidang saja. Sarah saat ini menjadi manager humas, karena keahliannya dalam mendengarkan keluhan pelanggan, bahkan saat masih menjadi staff costumer service, hingga pimpinan cabang terdahulu menyukai kinerjanya dan mengangkatnya sedikit demi hingga bisa sampai di posisinya saat ini.


"Nggak tau deh, Min. Bu Wulan dari Tunas Persada minta ketemuan hari ini. Kamu tau sendiri dia rempongnya kaya apa. Kalo nggak aku, dia pasti selalu komplain," keluh Sarah.


"Emang jam berapa janji ketemunya?" tanya Minati.

__ADS_1


"Jam setengah sebelas. Jadi, jam sepuluh aku mesti udah jalan ke tempat dia. Sedangkan, acara penyambutannya jam setengah dua belaskan, sekalian makan siang," tutur Sarah.


"Ya, kali aja nanti bisa cepet. Jadi kamu bisa ikut, walau cuma pas acara makan siangnya doang," ujar Minati.


"Iya kalo bisa kelar cepet. Setahu aku sih, paling cepet kalo ketemu sama Bu Wulan itu dua setengah jam. Aku sampe harus makan es krim banyak-banyak kalo habis ketemu sama dia, buat nurunin stress," keluh Sarah.


"Hahahaha … ya udah sih. Nikmatin aja. Lagian kalo sama kamu, dia kan baek ya, sampai mau traktir makan segala. Terus juga, dia VIP kita, jadi baik-baikin aja dia terus," ucap Minati sambil terkekeh dan menepuk-nepuk pundak Sarah.


Sarah hanya menggeleng pelan sambil memijat sedikit pangkal hidungnya. Posisinya saat ini, seharusnya tak lagi mengurusi urusan keluhan kliennya secara langsung. Namun karena kalien kali ini sudah terbiasa dengan pelayanan Sarah yang selalu mendengarkan dan mengerti kebutuhan klien, membuat Bu Wulan hanya mau ditangani oleh Sarah.


Wanita itu pun mau tak mau menurut demi kepentingan perusahaan, agar tidak sampai kehilangan klien potensial.


Sarah kini dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuannya dengan Bu Wulan. Kliennya itu mengajak bertemu langsung di rumahnya.


Waktu sudah menunjukkan hamoir pukul sebelas siang, dan Sarah sudah sampai di depan gerbang rumah mewah berlantai tiga milik sang klien.


Saat Sarah hendak turun, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia pun melihat sekilas pesan itu.


"Minati?" gumamnya saat melihat siapa si pengirim pesan.


[Sar, kamu kudu dateng! Pimpinan cabang barunya cakep banget lho. Duda lagi. Kali aja dia suka sama kamu🤭] pesan Minati.


Sarah hanya memutar bola matanya malas, melihat pesan sindiran dari rekannya itu. Dia pun masuk dan bersiap menemui kliennya.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


Sambil nunggu next eps, aku mau kasih rekomendasi novel yang bagus buat kamu. Mampir yuk😎


__ADS_1


__ADS_2