
Di rumah sakit, Miko yang baru saja selesai menceritakan semuanya kepada Sarah, hanya bisa tertunduk dan berharap istrinya bisa mengerti kondisinya saat itu.
Sedangkan Sarah, menatap suaminya dengan tatapan marah. Netranya memerah dan tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras, sangat jelas terlihat bahwa wanita itu tengah menahan emosi.
Dia tak percaya jika hanya karena keegoisan Miko dan Lidia, dia sampai harus terseret ke dalam peliknya masalah mereka.
"Aku nggak nyangka, Mas. Cuma karena ego kalian yang terlalu besar, kamu tega membawaku masuk ke dalam pernaikahan kalian yang sudah retak. Bukannya kamu memperbaiki hubungan dengan istrimu, tapi kamu malah mendekatiku dan menikahiki, Mas. Kamu tega! Tega!" Maki Sarah.
"Aku minta maaf, Sar. Aku benar-benar khilaf. Aku dibutakan oleh emosi sesaat. Aku tau ini nggak mudah diterima, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi," ucap Miko.
"Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi? Enteng sekali omongan mu. Lalu, kau mau aku menerima semua ini begitu saja, iya? Jahat kamu, Mas!" Teriak Sarah.
Miko sadar sepenuhnya jika dialah yang bersalah. Omongan Sarah benar-benar menamparnya. Dia merasa jika yang ia lakukan adalah sebuah kebodohan. Namun, dia sama sekali tak menyesal memilih Sarah untuk jadi yang kedua. Yang ia sesalkan hanyalah, memilikinya di waktu yang belum tepat.
"Lalu, aku harus bagaimana supaya kamu mau menerima semua ini? Aku tau aku salah, tapi beri kesempatan agar aku bisa membuktikan jika kita bertiga bisa hidup sama-sama," ucap Miko yang semakin membuat geram Sarah.
"Aku yang harusnya tanya, Mas. Aku harus gimana? Kalau saja aku nggak hamil, aku pasti akan langsung minta pisah sama kamu," batin Sarah.
Sarah mentap tajam ke arah suaminya. Tak ada lagi tatapan penuh kasih yang selama ini selalu ia berikan kepada pria itu.
"Kau bilang kalau istri pertama mu tidak tau kalau kamu sudah menikah lagi kan?" tanya Sarah yang terus menikam manik hitam Miko dengan ganasnya.
Pria itu tersihir dan hanya mampu memberi jawaban dengan gerak tubuhnya. Miko mengangguk mengiyakan pertanyaan sang istri kedua.
"Lalu katakan, apa pernikahan kita benar-benar sah di mata hukum? Karena sebuah pernikahan kedua bisa terjadi, jika istri pertama memang tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dan menandatangi surat kesediaan untuk dimadu bukan?"
"Katakanlah dia memang tidak memenuhi kewajibannya, tapi apa benar dia menandatangi surat itu? Apa jangan-jangan kamu memalsukannya, Mas?" tanya Sarah.
"Demi Allah, aku nggak pernah memalsukan surat pernyataan itu. Dia sendiri yang menandatanganinya. Kau tau Sar, dia sudah berkali-kali mengatakan agar aku mencari wanita lain yang mau menuruti semua mauku. Berkali-kali, Sar. Berkali-kali."
"Aku sampai bosan mendengarnya, hingga aku benar-benar menyodorkannya surat pernyataan itu dan dia menandatanganinya begitu saja," jawab Miko.
"Lalu, kenapa dia sampai begitu emosi saat bertemu denganku? Tidak mungkin orang yang dengan sadar memberikan persetujuan, tidak menerima akan hal itu, Mas. Kamu pasti bohong," elak Sarah yang tak mau percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Miko.
"Tapi memang begitu keadaannya. Kami sering bertengkar karena aku mempermasalahkan kesibukannya di luaran sana. Tapi, aku yang lagi-lagi mengalah dan mencoba mengerti semua maunya. Mungkin dia berpikir aku hanya menggertak."
"Dan tiba-tiba, dia marah saat dia tau aku telah menikah lagi denganmu. Aku berusaha menjelaskan semua kepada dia, tapi seperti biasa dia tak pernah mau mendengarkan perktaanku, Sar. Aku memintanya jangan menemuimu, tapi dia tetap datang dan membuatmu begini," jelas Miko.
"Bukan dia, Mas. Bukan dia yang sudah bikin aku begini, tapi kamu. Kamu yang menyebabkan semua ini terjadi. Kamu, Mas. Aku benci kamu!" maki Sarah yang kembali histeris.
Seorang perawat masuk karena mendengar teriakan dari dalam ruang rawat dan melihat jika wanita itu tengah berteriak-teriak lagi.
"Pergi kamu, Mas! Pergi! Aku nggak mau lihat kamu lagi. Pergi! Aaaaarrrrghhhhhh …!" pekik Sarah.
__ADS_1
Perawat itu segera menyuntikkan cairan penenang ke dalam tubuh Sarah agar wanita itu kembali tenang.
Beberapa saat kemudian, wanita itu pun kembali tak sadarkan diri.
Miko terlihat begitu kacau. Dia benar-benar tak mengerti harus berbuat apa.
"Aku harus bagaimana? apa aku harus memilih satu diantara kalian? Pasti Lidia tidak akan mau, dan aku pun tak ingin melepas wanita sebaik kamu, Sar," batin Miko yang terus menggenggam tangan Sarah.
Setelah penjelasan dari Miko, Sarah sama sekali tak mau lagi berbicara atau menggubris apapun yang dikatakan atau pun dilakukan oleh Miko untuknya.
Bahkan, untuk sekedar makan, dia lebih baik meminta bantuan kepada perawat untuk menyuapinya. Begitu pun hal yang lain.
Marah? Tentu saja. Hatinya begitu sakit karena dengan sengaja telah dijakan seorang wanita hina yang merebut kebahagiaan wanita lain, meski bukan atas kemauannya.
Seminggu sudah Sarah tinggal di rumah sakit, kini Sarah telah pulang kembali ke rumah. Miko selalu menemani sang istri meski Sarah terus menolak semua usaha yang dilakukan oleh suaminya itu.
Suatu hari, saat Miko tengah pergi bekerja, pintu rumah Sarah di ketuk.
"Assalamualaikum! Sar. Sarah!" panggil suara dari luar rumah.
Sarah yang mendengar suara yang sangat ia kenal itu pun, segera menuju ke depan dan membuka pintunya.
"Saraaaahhhh ...,"
Seketika, orang yang sedari tadi memanggilnya pun masuk dan memeluk wanita hamil itu. Sarah pun membalas memeluk ketiga orang yang kini tengah memeluknya dengan hangat.
"Kan kejutan," sahut Susan.
"Yuk masuk, yuk!" ajak Sarah kepada ketiga temannya itu.
Mereka berempat pun masuk. Murni, Tari dan Susan sengaja tak mengajak anak-anak mereka karena tujuan kedatang mereka kali ini adalah untuk menghibur Sarah atas permintaan Miko.
Miko menghubungi salah satunya, dan meminta mereka agar mau menenami Sarah dan membiarkan sang istri bisa melupakan sejenak masalah yang tengah dihadapinya saat ini.
"Aku ambilin minum yah," ucap Sarah
"Biar ku bantu, Sar." Tari berdiri dan mengikuti Sarah ke dapur.
Beberapa saat kemudian, keduanya pun kembali ke ruang tamu dengan minuman serta camilan yang dibawa oleh teman-teman Sarah.
"Yuk di coba say. Ini aku yang bikin lho," ucap Murni kepada temen-temannya.
"Kalo kamu yang buat, aku sih percaya kalo rasanya enak, Mur." Susan mengambil sepotong dan memakannya.
__ADS_1
Mereka pun berbincang santai, berceritakan kegilaan mereka masing-masing yang selalu saja jadi bahan pembahasan setiap kali kumpul.
Hingga tak sadar, Susan mengatakan hal yang membuat Sarah tertegun.
"Aku seneng banget lho, Sar. Waktu denger dari si Tari kalo kamu lagi hamil. Aku langsung bikin postingan di ig pake foto kamu ama Miko. Tapi, ada yang komen aneh," tutur Susan.
"Komen aneh gimana?" Tanya Sarah.
"Ya aneh. Dia kenal Miko, dan tanya siapa kamu, Sar," ungkap Susan.
"Mungkin cuma kenalannya aja. Kan rekan-rekannya banyak, belum lagi kalau ada pertemuan para kepala cabang kan. Terus juga, kami kan emang nggak ngundang banyak orang waktu nikahan," sahut Sarah.
"Tapi, Sar. Dia bilang kalau Miko udah punya istri, pas aku bilang kamu istrinya dan sedang hamil," ucap Susan
Sarah seketika bungkam. Ia seolah tau ujung pembicaraan ini akan sampai di mana.
Tari dan Murni pun saling bertukar pandangan, melihat Sarah yang tiba-tiba muram.
Tari duduk mendekat ke arah Sarah, dan merangkul pundak temannya itu.
"Sar, aku, Susan dan Murni udah tau kok masalah kamu sama Miko," ucap Tari dengan begitu hati-hati.
Sarah menoleh dengan mata yang membulat. Sedetik kemudian, dia menundukkan wajahnya dengan jemarinya yang saling bertaut.
Murni pun mendekat ke sisi satunya, dan menggenggam tangan Sarah.
"Sar, kita semua kenal kamu. Kamu nggak mungkin setega itu sama wanita lain. Kamu itu terlalu baik untuk menjadi seorang pelakor," ucap Murni.
Lelehan bening seketika meluncur dari mata Sarah. Wanita itu terus tertunduk.
"Aku harus gimana, Mur, Tar. Aku malu keluar. Bagaiamam kalau orang-orang tau statusku sekarang? Pasti mereka akan sangat memandang hina aku." Sarah mengngungkapkan segala kesedihan dan kegundahannya.
"Ehm ... Sar, semua tetanggamu sudah tau tentang masalah ini. Tadi, pas kita mau masuk gerbang, banyak ibu-ibu yang ngira kalau kita mau ngelabrak kamu juga, karena mereka juganyebut kamu …," ungkap Susan yang berada di sebelah Murni.
Susan tak sampai hati menyebut kata yang begitu menyakitkan hati sahabatnya itu, pelakor.
Sarah sontak mengangkat wajahnya dan memandang tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh temannya barusan
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏