
Seminggu kemudian, Lidia kembali ke rumah orang tua Miko, dengan membawa seorang pengasuh anak yang tengah menggendong seorang bayi.
Semoga, anak ini bisa mengobati sakit hati Miko, yang mengira jika anaknya sudah mati, batin Lidia.
Dia melirik sekilas ke sampingnya, di mana sang pengasuh dan bayi itu berada. Lidia nampak mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi bayi itu yang masih terasa begitu lembut.
"Semoga kau bisa mengembalikan suamiku, Nak," gumam Lidia.
Tak berapa lama, wanita itu pun tiba di kediaman keluarga Miko. Seperti biasa, dia selalu disambut hangat oleh ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Lidia.
"Waalaikumsalam," sahut ibu mertunya.
Nampak wanita tua itu memperhatikan bayi yang ada di gendongan pengasuh, yang berjalan di belakang Lidia.
"Bayi siapa itu, Lid?" tanya Ibu mertuanya.
Ibunda Miko menunjuk bayi itu dengan tatapan mengarah ke Lidia.
"Itu bayi yang aku ambil dari panti asuhan. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan, dan ibunya bahkan sudah tak bernyawa saat melahirkannya," jawab Lidia menoleh ke arah bayi kecil itu.
Ibunda Miko tak menyahut. Dia segera berjalan menghampiri pengasuh itu, dan mengambil bayi tersebut dari gendongannya.
"Apa ini bayi yang akan kau jadikan pancingan itu? Cantik sekali. Apa dia perempuan?" tanya Ibu Miko yang terlihat begitu senang.
Syukurlah kalau dia bisa menerimanya. Sekarang tinggal urusanku dengan si tua bangka itu, batin Lidia.
Wanita itu pun berjalan menghampiri ibu mertuanya, dan mengusap lembut puncak kepala si bayi malang.
"Iya, Bu. Aku harap ibu mengijinkannya," ucap Lidia.
"Tentu saja. Sudah lama sekali ibu ingin menimang cucu. Meski bukan cucu kandung, tapi setidaknya, ini awal yang baik kan. Semoga nanti, kalian bisa punya anak kandung sendiri," tutur Ibunda Miko.
"Terimakasih, Bu," ucap Lidia.
"Ibu juga berterimakasih. Oh iya, ngomong-ngomong, siapa namanya? Apa sudah diberi nama?" tanya sang Ibu mertua.
"Belum, Bu. Rencananya biar Miko yang memberinya nama nanti," tutur Lidia.
"Baiklah. Begitu juga bagus. Apa kau mau membawanya menemui Miko sekarang?" tanya Ibunda Miko.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa, Bu?" tanya Lidia balik.
"Tentu saja. Ayo Ibu temani," ajak sang Ibu mertua.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kamar Miko di lantai dua. Rasa tegang meliputi Lidia dan juga mertuanya, khawatir kalau-kalau Miko justru akan semakin gila saat melihat sesosok bayi di hadapannya.
"Lilis, kamu tunggu di luar dulu ya," seru Lidia kepada sang pengasuh.
"Baik, Bu," sahut Lilis.
Lidia dan juga mertuanya masuk dengan membawa bayi kecil yang sedari tadi digendong oleh Ibunda Miko.
Nampak wanita tua itu menyerahkan bayi tersebut kepada Lidia, sementara dia berjalan mendekati sang putra yang terus memeluk guling yang mulai tampak lusuh dan kotor.
"Ko, ada yang mau ketemu sama kamu," ucap sang Ibu.
Miko pun menoleh ke arah ibunya, dan wanita tua itu menuntun pandangan Miko menuju ke arah Lidia dengan tatapan matanya.
Pria itu seketika menjatuhkan guling yang sedari tadi dia peluk. Sedangkan matanya, terus tertuju pada bayi kecil yang ada di gendongan Lidia.
"Anakku …," gumamnya.
Miko nampak beranjak dari duduknya. Dia mulai melangkah pelan meninggalkan tempat tidur, dengan terus melihat bayi yang ada di gendongan Lidia.
"Anakku … anakku … Anakku!" sambil menyongsong bayi yang ada di gendongan sang istri.
Miko berhenti di hadapan Lidia. Dia menatap nanar ke arah bayi mungil tersebut, dengan mata yang mulai memerah. Lelehan bening pun mulai turun dan menganak sungai di pipinya.
Tangannya terulur, seraya membelai puncak kepala sang bayi yang masih terlihat berdenyut.
"Anakku … Anakku kembali! Ibu, anakku kembali, Bu!" pekik Miko yang sangat senang melihat kehadiran bayi kecil itu.
"Iya, Ko. Itu anakmu, Nak." sang ibunda tak mampu menahan harunya, saat melihat kembali sinar di mata sang putra yang sempat padam.
Hari demi hari, Miko pun telah kembali seperti sedia kala, dan sesaui permintaan Lidia, dia pun berhasil membawa sang suami pulang ke rumah mereka.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sebulan kemudian, Sarah yang telah selesai masa nifasnga, kini mulai beraktifitas lagi seperti biasanya. Bekas operasi caesar-nya pun sudah sembuh dan membuatnya bisa bergerak dengan normal, meski ibu muda itu masih harus tetap memeriksakan kondisinya.
__ADS_1
Wanita itu nampak membereskan beberapa berkas yang biasa dijadikan sebagai pelengkap sebuah lamaran pekerjaan.
Bu Riswan, ibunda Sarah, nampak memasuki kamar sang putri dengan menggendong cucu laki-lakinya.
"Lho, Sar. Kamu lagi apa? Kok ngumpilin berkas-berka?" tanya sang Ibu yang kemudian duduk di ranjang.
"Ini, Bu. Aku ada rencana mau coba cari kerja lagi. Nggak mungkin kan kalau aku numpang hidup terus sama Ibu dan Bapak, sementara aku sudah punya kehidupan sendiri," ucap Sarah sambil terus memilah dan memilih berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Ibu nggak keberatan kok, Nduk. Bapak dan Ibu malah seneng kalau bisa deket kamu. Justru Ibu akan khawatir kalau kamu sampai pergi ke Semarang lagi. Bagaimana nanti kalau kamu ketemu sama Miko, dan dia tau bahwa anaknya ternyata masih hidup," ujar sang ibu.
Sarah nampak menghentikan kegiatannya. Dia pun berjalan menuju ke arah sang ibunda yang berada tempat tidurnya dan duduk di samping wanita itu, seraya meraih tangan sang ibunda.
"Bu, aku berencana untuk pergi dari jawa tengah. Aku juga sudah tak mau lagi menginjakkan kakiku di Semarang, kota yang mempertemukan ku dengan laki-laki jahat itu," tutur Sarah.
"Lalu, kamu memangnya mau ke mana?" tanya Bu Riswan dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
"Aku berencana untuk pindah ke Surabaya. Aku ingin memulai hidup baru di sana. Di tempat baru yang asing, dengan masyarakat yang sama sekali tak mengenalku," ungkap Sarah.
Sang Ibu terus menatap lekat mata putrinya. Dia merasa berat untuk melepas kepergian Sarah lagi, ditambah sekarang sudah ada cucu yang membuatnya semakin susah berjauhan dengan Sarah.
"Tapi sebelum itu, aku harus urus perceraiankudulu dengan Miko. Ini sudah hampir dua bulan, dan belum ada surat yang datang dari pengadilan agama. Aku yakin, dia belum mengajukan oermohknan perceraian ke sana," terka Sarah.
"Lalu, apa rencana mu, Nduk? Langsung menggugat cerai Miko?" tanya Bu Riswan.
"Kalau anak ini dianggap masih hidup, aku mungkin akan kebingungan untuk menempuh cara ini. Tapi, Miko tahu jika anaknya tak ada, jadi aku bisa dengan mudah berpisah dengannya tanpa takut kehilangan jagoan kecil ini," ungkap Sarah.
Dia sudah sangat mantap untuk segera mengakhiri semuanya yang berhubungan dengan Miko. Biarlah anaknya saja yang menjadi kenangan terindah, sebagai bukti pernah ada rasa cinta di hatinya untuk pria itu, yang kini hilang tak bersisa akibat kebohongan dan penghinaan yang dialami Sarah selama ini.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
Sambil nunggu next up, bisa dong mampir di novel ku yang lain😁masih on going juga lho😎
__ADS_1
mampir yuk guys😘