
Di masa sekarang ini, kecepatan jari lebih tinggi dari hembusan angin. Sekali gerakan, semua informasi bisa tersebar luas hingga kepelosok negeri.
Benda pipih seukuran kuku jari pun, bisa menyimpan berbagai macam data dengan jumlah yang sangat besar.
Saat melihat Miko dan Sarah duduk berdampingan di depan semua tim humas, Jeni pun teringat kembali akan sosok wanita yang telah merebut suami temannya, yang dulu sempat menjadi viral di media sosial.
Dia pun mencari kembali rekaman yang sempat ia simpan di dalam ponsel pintarnya, dan menemukan sebuah folder berjudul 'skandal'. Folder itu berisiskan sebuah vidio yang bertanggal lima tahun lalu.
Jeni memutarnya, dan saat vidio menunjukkan wajah Sarah yang saat itu tengah mengandung Bagas dengan jelas, dia mengjeda tayangan tersebut dan menyamakan dengan wanita yang tengah duduk di kursi depan.
Sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya.
"Ternyata si pelakor itu masih bisa hidup dengan baik-baik saja. Aku akan balas semua sakit hatimu, Lid!" gumamnya dengan tangan yang mengepal kuat, menggenggam ponsel hingga kulitnya memerah.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Rapat berjalan lancar, dan tak ada kendala sama sekali. Seperti biasa, Sarah pun tampil memukau sebagai menejer yang memimpin tim humas, dan selalu memiliki terobosan-terobosan yang jenius untuk meningkatkan kembali performa perusahaan di kalangan masyarakat umum.
Sarah kembali ke meja kerjanya, dan melaksanakan tugas seperti biasa. Tak ada hal aneh yang dia rasakan saat itu.
Dia tak menyadari, jika vidio viralnya di masa lalu, kini kembali disebarkan oleh Jeni, melalui jejaring sosial yang bisa diakses oleh seluruh karyawan kantor tempat Sarah bekerja.
Gunjingan demi gunjingan mulai terdengar. Bisik-bisik dari para bawahan Sarah yang mulai memandangnya dengan tatapan negatif.
Sosoknya yang selama ini mereka kenal sebagai wanita yang baik dan berjiwa kepemimpinan yang tegas dan berwibawa, kini teralihkan dengan gosip tersebut.
Banyak karyawan humas mengidolakan sosok Sarah yang adalah seorang single parent tangguh, yang mampu merawat putranya seorang diri, kini tergeser dengan sebutan 'pelakor' yang berusaha ia hilangkan selama ini.
Sarah belum sadar, namun Minati sudah mendengar semua pembicaraan para karyawan yang lain perihal rekannya tersebut.
Keesokan harinya, Sarah yang berangkat seperti biasa, merasakan keanehan yang terlihat dari setiap karyawan yang berpapasan dengannya.
Semua menyapa, namun tatapan mereka sangat berbeda. Sarah masih belum paham apa yang terjadi, karena diringa bukan lah orang yang aktif di jejaring sosial.
Dia tak menghiraukan semua hal itu. Sarah pun melanjutkan kembali langkahnya menuju ke lantai dua, di mana meja kerjanya berada.
Sarah tiba-tiba merasakan perutnya yang sedikit mulas. Dia pun kemudian pergi ke toilet, untuk menuntaskan hajatnya.
Suasana di ruangan lembab itu sangat sepi, hanya ada satu bilik toilet yang tertutup dan Sarah pun tak tau siapa yang ada di dalamnya.
Dia kemudian masuk ke bilik yang berada di paling ujung.
__ADS_1
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki dari beberapa karyawan wanita yang masuk ke dalam toilet. Mereka sedang menertawakan sesuatu dan cekikikan saat memasuki ruangan tersebut.
"Hahahaha … bener-bener. Nggak nyangka banget. muka polos kayak gitu, ternyata bisa se br*ngsek itu," ucap Salah satunya.
Mereka tengah berdiri di depan kaca wastafle, sembari memulas wajah dengan make up.
Sedangkan saat itu, Sarah sudah selesai dengan urusannya dan hendak keluar.
"Berarti, itu yang nyiram pake minuman kamu, Jen?" tanya yang lain.
"Yah, aku cuma nggak mau seorang pelakor bisa menegakkan kepalanya di muka umum. Biar dia tau, sehina apa dia itu," sahut wanita yang tak lain adalah Jeni, si karyawan pindahan.
Karena sangkin asiknya bergosip, mereka sampai tak menggubris keberadaan orang lain di dalam toilet itu, meskipun bunyi toilet yang disiram sangat terdengar dengan jelas.
Sarah seketika menghentikan gerakan tangannya yang hendak memutar gagang pintu toilet, saat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh wanita yang diyakininya adalah Jeni. orang yang sudah mempermalukannya di depan umum.
Dia sangat paham apa yang tengah mereka bicarakan. Sarah memilih untuk diam di dalam bilik toilet sembari menyandarkan punggungnya di balik pintu, dan menunggu wanita-wanita di luar, pergi dari sana.
"Gila yah. Bu Sarah yang terkenal baik dan alim itu ternyata wanita yang begituan. Simpanan si bos. Pantesan aja kemarin pas di mall, aku lihat dia lagi jalan bareng sama si pelakor itu, sama anaknya juga," seru yang lain.
"Anak pelakor itu masih hidup? Aku denger udah mati. Wah … nggak bisa dibiarin. Pelakor harus dibasmi dari sini. Bodo amat mau dia menejer mau bukan, pelakor tetep aja pelakor. Wankta murahan yang sukanya godain laki orang," hina Jeni.
KLEK!
Terdengar pintu toilet dibuka, dan seseorang muncul dari dalam salah satu biliknya. Wanita-wanita yang tengah asik bergosip itu pun mendadak diam, dan memilih segera membereskan perlengkapan make up mereka ke dalam pouch.
Mereka pun segera pergi dari dalam toilet meninggalkan orang itu yang tengah mencuci tangannya di wastafle.
Sarah masih berada di dalam toilet, dengan membekap mulutnya erat, agar suara tangisnya tak sampai terdengar keluar.
Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu yang tengah ia punggungi.
"Mereka udah pergi. Kamu bisa keluar sekarang, Sar!" seru orang itu.
Sarah sangat kenal dengan suaranya, dan dia pun segera membuka pintu.
"Min," panggil Sarah lirih.
Wajahnya tertunduk. Dia malu karena pasti rekannya itu mendengar semua obrolan para karyawan tadi.
Minati melihat wajah sembab Sarah dengan linangan air mata yang sudah membanjiri pipi wanita itu.
__ADS_1
"Cuci muka mu dulu. Habis itu susul aku ke atap," ucap Minati.
Dia pun berbalik dan meninggalkan Sarah seorang diri yang masih berdiri dengan kepala yang seolah terasa sangat berat hingga tak mampu ia tegakkan.
Sarah pun berjalan menuju wastafle dan menekan tuas keran air, lalu membasuh wajahnya yang telah basah oleh air mata, dan menyeka hidungnya yang sudah memerah.
Helaan nafas terdengar begitu terasa sesak, karena Sarah mencoba menahan sakit hatinya atas kelakuan Jeni yang dengan tega membuka kembali masa lalunya yang kelam.
Sarah pun kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju ke atap kantor, di mana terdapat sebuah balkon kosong yang cukup luas, dan jarang di datangi orang.
Sarah membuka pintu akses menuju tempat yang disebutkan Minati sebelumnya. Setelah masuk ke sana, dia melihat jika rekannya itu telah berdiri di sana sambil berpegang pada pagar pembatas.
"Min," panggil Sarah.
Minati pun menoleh. Dia manatap rekannya itu dengan tatapan datar. Langkahnya cepat menghampiri Sarah yang masih berdiri tak jauh dari pintj masuk.
Tiba-tiba saja, sebuah pelukan mendarat di pundak Sarah, dan membuat wanita itu mengangkat pandangannya yang sedari tadi jatuh.
"Aku tau kamu nggak mungkin seperti itu, Sar. Aku sangat mengenal kamu," ucap Minati.
Sarah pun tak kuasa menahan kembali air mata yang sudah ia usap sebelumnya. Tangannya membalas pelukan Minati, yang selama ini selalu saja mengganggu waktu bekerjanya dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang keingin tahuannya yang besar.
.
.
.
.
Maaf, masih belum bisa up banyak2🙏 tapi tetep ku udahaan up tiap hari kok😁
othor ucapkan terimakasih yang masih setia nungguin kelanjutan kisah Sarah menemukan tambatan hatinya😘
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
sambil nunggu next eps, bisa dong mampir ke novel temenku yang judulnya TRIO KANCIL😊ceritanya seru lho.
mampir yuk🤩
__ADS_1