Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Merajuk


__ADS_3

Pagi harinya, nampak Sarah yang tertidur di sofa, karena sangkin lelahnya, sementara Fadil, duduk di samping ranjang Bagas, dan menjaga anak kecil itu semalaman, setelah sebelumnya menitipkan Bela ke rumah Rianti terlebih dahulu.


Fadil terus memantau kondisi Bagas. Pekerjaanya yang selalu dituntut untuk siap setiap saat, membuat doter itu bisa diandalkan dalam hal seperti ini.


Mentari sudah mulai menyapa bumi, menyiram sinarnya ke seluruh penjuru alam. Seberkas cahayanya, masuk melalui celah-celah tirai yang sedikit terbuka, dan mengusik tidur wanita yang nampak begitu kelelahan itu.


"Ehm …," erangan lirih keluar dari mulut Sarah yang menggeliat, karena tidurnya terganggu oleh silaunya cahaya mentari pagi.


Sarah terlihat mengucek matanya yang masih sangat lengket dan enggan terbukan. Samar-samar, dia melihat Fadil yang masih duduk di samping putranya.


"Sudah bangun, Sar?" tanya Fadil.


Pria itu melihat jika Sarah nampak menggerakkan badannya, tersenyum hangat ke arah wanita itu.


"Ehm … iya. Maaf ya, Mas. Bukannya jagain Bagas semalam, malah akunya tidur," ucap Sarah.


Dia mulai menegakkan duduknya dan membetulkan ikatan rambut yang terlihat berantakan.


"Nggak papa. Kamu kan capek, jadi harus istirahat dong,"sahut Fadil.


"Bagas gimana, Mas? Demamnya udah turun?" tanya Sarah yang berjalan mendekat.


Dia kini berdiri di sisi lainnya, yang berseberangan dengan tempat Fadil berada.


"Masih demam, cuma nggak setinggi semalam. Tadi aku cek, udah di angka tiga puluh tujuh. Mesti harus tetap dipantau terus. Takutnya naik lagi," tutur Fadil.


"Makasih ya, Mas. Udah mau jagain Bagas semaleman" ucap Sarah.


"Sama-sama. Oh iya, kamu mending cuci muka dulu terus kita gantian yah," seru Fadil.


"Oh … iya, Mas. Maaf, kamu kan juga harus istirahata yah. Sebentar yah," ujar Sarah yang berlalu ke kamar mandi.


Setelah sekitar lima belas menit berselang, Sarah keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar. Tetap cantik meski tanpa polesan make up.


"Sudah, Mas," ucap Sarah.


"Ehm … kalau gitu, aku tinggal dulu ya," sahut Fadil.


Sarah mengangguk. Pria itu pun pergi keluar, dan Sarah menggantikannya duduk di samping Bagas.


Wanita itu nampak mengulurkan tangannya dan menyentuh kening sang putra, lalu turun ke lehernya.


"Masih lumayan panas," gumamnya.


Sarah kemudian meraih tangan kecil Bagas, dan menggenggamnya erat, lalu menempelkan di pipi kanannya.


Dia terus memandangi wajah Bagas, yang terlihat begitu mirip sekali dengan sang ayah.


"Maafkan Ibu ya, Nak. Sedikit banyak, Ibu juga yang sudah buat kamu sakit seperti ini," ucap Sarah lirih.

__ADS_1


Bagas adalah anak yang sehat. Sebelumnya, dia tidak pernah sakit sampai seperti ini. Jika pun demam, cukup dengan minum obat penurun panas dan istirahat, besoknya dia akan kembali sembuh.


Baru kali ini, pria kecil itu mengalami demam dan bahkan hampir kejang. Sarah pun mengaitkan semua itu dengan rasa kecewa dan sikap sang putra yang murung akhir-akhir ini.


Tak berselang lama, pintu terbuka, dan nampak kedua orang tuanya datang menjenguk cucu mereka.


Semalam, Sarah mengabari Pak Riswan dan istrinya, bahwa Bagas tengah dirawat di rumah sakit. Mereka pun bergegas menuju ke Surabaya selepas subuh, diantar oleh Tino.


"Assalamualaikum," sapa mereka.


"Waalaikumsalam, Pak, Bu, Mas," sahut Sarah seraya menyalami ketiganya.


"Kenapa Bagas bisa begini, Sar? Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Bu Riswan yang segera duduk di tempat Sarah tadi.


Nampak wanita tua itu sangat khawatir dengan kondisi cucunya yang belum bangun itu.


"Kata dokter sih, Bagas kena tifus, Bu," ucap Sarah.


"Masih oanas lho ini," ucap Pak Riswan yang juga sudah berada di samping cucunya.


"Itu sudah lumayan turun, Pak. Semalam, suhunya sampai empat puluh dan hampir kejang," jawab Sarah.


"Kasihan Bagas," ucap Bu Riswan.


"Kamu di sini sendirian, Sar?" tanya Tino yang memilih duduk di sofa, dan membiarkan kedua orang tua itu mengerumuni cucunya.


"Tadi, Mas Fadil baru saja dari sini. Dia yang menjaga Bagas semalaman. Akunya malah yang ketiduran," jawab Sarah yang berdiri di samping sang ibu.


"Mas, cukup. Jangan bahas itu sekarang. Aku nggak mau kalau Bagas tambah sakit karena denger omonganmu," seru Sarah tegas.


Tino nampak acuh dan hanya mengedikkan kedua bahunya saja.


Tiba-tiba, pintu kembali terbuka, dan nampak Fadil muncul dari balik sana, dengan sudah mengenakan jubah dokternya.


"Lho, mas. Aku kira kamu mau pulang," ujar Sarah saat dokter itu masuk.


"Assalamualaikum," sapa Fadil.


Pria itu menyalami semua orang yang baru saja datang dengan sopan.


"Waalaikumsalam," sahut semuanya.


"Aku tadi beliin makan buat kamu dulu. Maaf, belinya cuma satu. Aku nggak tau kalau ada Bapak, Ibu dan Mas Tino di sini," ucap Fadil.


"Nggak papa kok, Nak Fadil. Kami juga sudah sarpan," sahut Bu Riswan.


"Kalau begitu aku pamit kerja dulu. Asslamualaikum," ucap Fadil.


"Waalaiakumsalam," sahut semuanya.

__ADS_1


Memang tidak dipungkiri, bahwa perhatian Fadil sangat besar kepada Sarah dan juga Bagas. Wanita itu pun mengakuinya dalam hati. Namun, dia masih ragu untuk kembali membuka hati kepada siapapun.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Menjelang siang, Bagas baru bangun dari tidurnya, dan terlihat begitu pucat. Demamnya pun masih belum bisa dikatakan reda.


"Nak, ayo makan. Kamu dari semalam belum makan apa-apa lho," bujuk Sarah.


"Nggak mau," tolak Bagas.


Anak kecil itu selalu menahan tangan sang bunda yang akan menyuapinya, dan membuat Sarah mendengus kesal.


"Bagas, kamu mau sembuh nggak sih? Ayo makan, bkar kamu cepet sehat," seru Sarah sedikit keras.


"Ngak mau!" sahut Bagas tak kalah keras.


Melihat putrinya itu semakin emosi, Bu Riswan maju dan menepuk pundak Sarah.


"Biar ibu coba suapi Bagas, yah," ujar Bu Riswan.


Sarah pun kembali menghela nafas, dan menyerahkan mangkuk bubur kepada ibunya. Bu Riswan kemudian duduk menggantikan Sarah, dan mulai merayu sang cucu agar mau makan.


"Bagas, ayo makan. Kalau Bagas makan, nanti Ibu akan kasih yang Bagas mau. Iya kan, Bu?" ucap Bu Riswan sembari menoleh ke arah Sarah.


"Oh iya, Bagas kan lagi suka mainan yoyo sama patung figura Thor kan ya? Kalau Bagas mau makan, nanti Ibu beliin deh," sahut Sarah yang juga ikut membujuk Bagas.


"Nggak mau! Bagas nggak mau mainan. Bagas nggak mau Thor. Bagas maunya Ayah!" ungkap Bagas.


Semua terkejut dengan penuturan anak kecil itu, terlebih Sarah. Dia tak habis pikir jika sang putra malah merajuk minta ayahnya. Namun, Bu Riswan justru menanggapinya dengan sangat santai.


"Baiklah. Ibu akan bawa Ayah Bagas ke sini, asalkan Bagas mau makan dan inum obat. Oke?" lanjut Bu Riswan.


"Beneran, Nek? Beneran, Bu?" tanya Bagas dengan mata berbinar.


Sarah hanya diam. Dia masih bingung mau mencari Miko ke mana. Sedangkan di kantor saja, pria itu sudah beberapa hari ini tidak berangkat kerja. Nomor hand phone-nya pun, Sarah tak punya.


"Sar," panggil Bu Riswan menyadarkan Sarah dari pikirannya sendiri.


"Ehm … oh … iya, nanti Ibu suruh Ayah ke sini jengukin Bagas. Tapi, Bagas janji makan yang banyak biar cepet sehat yah," ucap Sarah terpaksa.


Pak Riswan yang melihat itu pun hanya diam dan tersenyum tipis, saat menyadari kesengajaan yang dilakukan oleh istrinya.


Sedangkan Tino, pria itu memilih diam dari pada menambah kacau tempat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2