Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mengunjungi kawan lama


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Miko tengah melakukan perjalanan keluar kota. Tepatnya ke kota Magelang, untuk menghadiri acara peresmian usaha baru temannya, Dodi.


Pria itu memilih untuk berhenti menjadi karyawan perusahaan, dan beralih membuka suatu usaha kuliner bertema otomotif. Caffe dan resto ini merupakan perpaduan antara bengkel modivikasi motor dengan tempat nongkrong para anak muda.


Miko nampak hadir mengenakan busana casual, dengan hanya memakai sebuah kaus putih dengan jaket kulit hitam, dan celana jeans berwarna navy, serta tak lupa sepatu sneakers yang melengkapi tampilan santainya.


Acara pemotongan pita dan tumpeng telah selesai. Kini, para tamu undangan mulai mencicipi menu makanan yang akan di sajikan di caffe dan resto tersebut.


Miko nampak mengambil beberapa camilan dan meletakkannya di atas piring kecil yang terbuat dari kertas, serta segelas orange juice dan kemudian membawanya ke sebuah meja, yang berada di lantai dua tempat itu, di mana semua sudut bisa terlihat dari sana.


Orang-orang berlalu lalang di bawahnya, namun pandangannya justru menerawang entah ke mana.


"Woi, Duda! Ngelamun aja sih," tegur Dodi.


"Eh, Dod. Selamat ya," ucap Miko yang memilih tak menimpali ucapan temannya barusan.


"Makasih ya," sahut Dodi sambil duduk di depan temannya itu.


"Akhirnya impian mu bisa kesampean juga," ucap Miko.


"Yah, ini semua juga berkat dukungan dari keluarga, terutama istri ku tercinta," seru Dodi sembari memamerkan deretan giginya yang putih dan tampak rapi.


"Iya, percaya. Emang di balik kesuksesan seorang pria, ada sosok wanita tangguh di sana," ujar Miko lirih.


Pria itu nampak mengaduk minumannya, dan menyesap sedikit.


"Kamu kapan cari istri lagi?" tanya Dodi.


Dia sangat prihatin melihat Miko yang selama kurang lebih lima tahun ini terlihat begitu menderita, setelah perpisahannya dengan Sarah.


"Nggak ada niat cari yang lain, Dod. Hati ku masih sama seperti dulu, hanya mau bersama wanita itu," jawab Miko dengan senyum getirnya.


"Kamu bilang udah ketemu dia kan. Apa lagi ternyata anak kalian masih hidup. Bukannya malah lebih gampang buat ajakin dia buat rujuk?" cecar Dodi.


"Ternyata nggak segampang itu, Dod. Malah mungkin, aku sudah nggak ada harapan lagi buat dapetin dia," sahut Miko lemah.


"Ada saingan?" tanya Dodi.


"Dia dokter kandungan yang dulu membantu Sarah untuk membohongi ku soal anak kami. Dia yang selama ini kasih perhatian sama mantan istriku dan juga anakku," jawab Miko.


"Jadi, mereka ada hubungan? Kamu bilang, Sarah masih janda sampe sekarang," tanya Dodi lagi.


"Mereka memang nggak ada hubungan apa-apa, tapi … ah nggak tau lah. Aku pusing mikirin masalah ini," keluh Miko sembari menyuapkan sebuah kue basah ke dalam mulutnya.


"Ko, menurutku kalian masih ada kesempatan. Dari yang aku dengar dari setiap curhatanmu, sepertinya Sarah selalu marah setiap kali sifat egoismu muncul dan menuduhnya yang tidak semestinya. Benarkan?" terka Dodi.

__ADS_1


Miko diam. Dia masih ingat betul perkataan Sarah dengan Minati tempo hari, dan kejadian saat mereka berdua pergi bersama Bagas ke kebun binatang.


Dia tau jelas bagaimana Sarah harus menanggung malu lagi atas penghinaan yang dilakukan oleh orang lain atas dirinya yang adalah seorang istri kedua.


Rasa bersalahnya akan semua yang dia lakukan pada Sarah, membuat nyalinya untuk kembali memperjuangkan wanita itu hilang.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Beberapa hari kemudian, Miko meminta ijin kepada Sarah untuk menjemput Bagas dan membawa anak itu untuk menginap di rumahnya sabtu minggu ini.


Wanita itu pun bahkan sudah menyiapkan semua keperluan putranya untuk dibawa ke rumah Miko, dan memberikannya saat mereka bertemu di kantor.


Saat ini, Miko telah sampai di depan gerbang playgroup tempat sang putra biasa dititipkan. Dia berjalan menghampiri Bagas yang saat itu masih bermain ayunan bersama Bela.


"Bagas," panggil Miko.


Yang dipanggil pun menoleh, dan segera berlari menyongsong pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Ayah!" sahut Bagas.


Miko merentangkan tangannya dan menangkap sang putra tercinta.


"Anak ayah. Kita pulang?" ajak Miko.


"Ehm … Yah, kita tungguin Kak Bela dulu yah. Kasihan dia kalau harus nunggu sendirian," pinta Bagas.


"Dia takut sama Ayah ya, Nak?" tanya Miko.


"Ehm …," Bagas mengangguk.


"Kenapa?" tanya Miko lagi.


"Kan waktu itu, Ayah memukul papahnya Kak Bela," ungkap Bagas.


Miko pun menurunkan putranya, dan berjalan menghampiri gadis kecil yang nampak terus menyembunyikan wajahnya di balik tiang.


"Hai anak cantik, nama Oom Miko. Oom ini ayahnya Bagas. Nama kamu Bela ya?" ucap Miko mencoba memancing Bela agar mau keluar dari tempat bersembunyinya yang jauh dari kata tertutup itu.


"Kak Bela, janhan takut sama Ayah Bagas. Ayah Bagas orang yang baik kok," timpal Bagas yang berdiri di antara Bela dan juga Miko.


Miko pun melihat ke arah sang putra dan tersenyum.


"Maaf ya kalau dulu Oom pernah nakal sama papah kamu. Sekarang kita udah baikan kok," ucap Miko.


Bela mengintip dari balik tiang dan masih terlihat takut. namun, sejurus kemudian, matanya membulat, kemudian segera keluar dari balik tiang dan berlari ke arah depan.

__ADS_1


Miko berbalik mengikuti ke mana arah gadis kecil itu berlari. Dari tempatnya berada, pria itu bisa melihat siapa yang tengah ada di hadapannya.


Bela memeluk papahnya dan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Fadil.


Miko pun berdiri dan menggandeng Bagas berjalan menghampiri dokter itu.


"Assalamualaikum, Dokter Fadil," sapa Miko.


Pria itu berusaha tersenyum ramah kepada dokter yang pernah bersekongkol dengan Sarah untuk berbohong tentang anak mereka.


"Waalaikumsalam, Pak Miko," sahut Fadil.


"Bisa kita ngobrol sebentar. Ada hal yang mau saya bicarakan dengan Anda," seru Miko.


Ada apa ini? batin Fadil.


Dokter itu merasakan jika putrinya semakin erat memeluk pinggangnya. Dia pun mengusap puncak kepala Bela dengan lembut.


Bela mendongak dan melihat senyum Fadil mengembang di bibirnya.


"Bela mau makan es krim bareng Bagas?" tanya Fadil.


Bela tak langsung menjawab. Dia menoleh dan melihat ke arah Bagas dan juga Miko bergantian, lalu kembali mendongak menatap sang papah.


"Ehm …," gumam Bela sambil mengangguk.


"Baiklah. Bagas, temani Kak Bela makan es krim yuk," ajak Fadil.


"Wah … asik. Boleh kan, Yah?" tanya Bagas kepada ayahnya.


Miko mengangguk sembari tersenyum.


Bagas pun melepas tangan Miko dan berlari menyambar tangan Bela. Fadil pun kemudian membawa kedua anak itu pergi ke kedai es krim di seberang.


Miko berjalan mengikuti mereka dari belakang.


Aku harus bisa menyelesaikan semua kemelut ini, batin Miko.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf kesiangan🙏


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2