
Dia pun menelepon seseorang yang lebih tahu tentang hal medis ketimbang dirinya.
"Halo, Mas! Bagas demam tinggi. Sekarang dia menggigil dan mengigau. Aku khawatir dia kenapa-napa," tutur Sarah.
"Kamu tenang dulu yah. Jangan panik. Tarik nafas yang dalam lalu buang," seru Fadil, orang yang ada di seberang sambungan telepon.
Sarah pun mencoba mengikuti arahan dari dokter itu.
"Panasnya berapa derajat?" tanya Fadil.
"Tadi ku ukur empat puluh, Mas," jawab Sarah.
"Sudah minum paracetamol?" tanya Fadil lagi.
"Sudah barusan aja. Udah ku kasih kompres juga," jawab Sarah.
"Sekarang masih mengigil?" tanya Fadil.
"Masih, malah giginya kedengaran gemeletuk," tutur Sarah.
"Kamu masih bisa nyetir mobil?" tanya Fadil.
"Bisa … bisa, Mas," sahut Sarah.
"Kamu bawa Bagas ke rumah sakit sekarang. Nanti kita ketemu di sana saja. Bawa Bela sekalian," seru Fadil.
"Tapi, dia baru aja makan, Mas. Belum selesai," tutur Sarah.
"Biar nanti Bela makan sama aku aja. Yang penting sekarang, bawa Bagas ke dokter. Cepat!" seru Fadil.
"Iya, Mas," sahut Sarah.
Dia pun kemudian meminta Bela untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit dengan dirinya dan juga Bagas.
Fadil bisa saja ke rumah Sarah, dan memeriksa kondisi Bagas. Namum, jarak antara rumahnya ke rumah Sarah, lebih jauh ketimbang rumah Sarah ke rumah sakit. Sehingga, Fadil menyarankan wanita itu untuk pergi ke rumah sakit, agar Bagas segera mendapatkan penanganan medis.
Sepanjang perjalanan, Bagas terus saja mengigau. Bela yang duduk di depan, berkali-kali menoleh ke belakang dan memperhatikan Bagas yang terlihat begitu kesakitan.
"Bu, kasihan Bagas," ucap gadis kecil itu.
"Bela berdoa aja yah, supaya Bagas nggak kenapa-napa. Kan kita lagi ke rumah sakit sekarang " sahut Sarah.
Wanita itu mencoba menenangkan gadis kecil, yang sedang duduk di sampingnya itu agar tetap tenang. Meski dalam hati, Sarah pun sangat mengkhawatirkan kondisi putranya, akan tetapi, Sarah harus bisa mengendalikan dirinya.
Sesampainya di rumah sakit, Sarah segera memarkirkan mobilnya di depan pintu UGD. Beberapa perawat mendorong brangkar ke dekat pintu mobil.
"Tolong, di belakang," seru Sarah yang segera keluar dari mobil dan mengarahkan perawat yang datang menghampirinya.
"Sakit apa, Bu?" tanya salah seorang perawat.
"Panas tinggi dan mengigau terus," tutur Sarah.
"Ini hampir kejang. Cepat bawa ke UGD," ucap perawat yang memindahkan Bagas ke atas brangkar.
__ADS_1
Mereka semua berjalan cepat sambil mendorong ranjang pasien, menuju ke unit gawat darurat. Sarah menggendong Bela, dan membawa gadis kecil itu ikut menuju ke UGD.
Mereka menunggu di depan ruangan itu, dan menunggu tim medis memberikan penanganan kepada Bagas.
Sekitar seperempat jam, Fadil datang dan melihat dua orang perempuan yang sangat dikenalnya, tengah duduk di depan ruang dengan pintu besar itu.
"Sar, Bagas mana? Bagas masih di dalam?" tanya Fadil yang terlihat terengah-engah karena berlari dari parkiran menuju ke tempat itu.
"Iya, Mas. Dia masih di dalam," sahut Sarah.
Raut wajah khawatir sangat jelas terihat dari wanita itu.
Fadil melihat putrinya tidur di pangkuan Sarah. Pria itu pun berjongkok dan menyibakkan rambut pendek Bela, yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kasihan dia, Mas. Baru makan sedikit lho tadi," tutur Sarah.
"Nggak papa. Nanti kalau dia bangun, aku bisa ajak dia makan apa saja yang dia mau," ucap Fadil sambil mengusap lembut pipi putrinya.
Fadil lalu duduk di samping Bela. Dia bermaksud bertukar tempat dengan Sarah, agar putrinya itu bisa tidur di pangkuannya.
Tapi, Sarah menolak karena kasihan dengan Bela yang baru saja tertidur.
"Sebenarnya, apa yang terjadi malam itu, Sar? Bela bilang, kalau akhir-akhir ini, Bagas selalu murung. Dia juga jadi pendiam," tanya Fadil.
Terdengar tarikan napas yang dalam, dan dihembuskan seketika saat itu juga.
"Kami bertengkar, dan Bagaa mendengar pertengkaran kami," tutur Sarah.
"Bertengkar? Bukannya kalian terlibat baik-baik saja? Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu?" tanya Fadil penasaran.
Sarah pun menceritakan kejadian sebenarnya, di mana semua bermula ketika sang kakak, Tino, datang dan melihat keberadaan Miko di rumahnya.
Tino semakin berang, saat melihat kedekatan antata Miko dan Bagas, hingga pria bertemperamen buruk itu, membongkar semuanya di depan Miko, meski tidak secara langsung.
"Akhirnya, aku membuka semuanya di depan Miko. Tapi, dia marah, dan kami pun saling bentak. Aku tak tau kalau Bagas mendengarkan semua pembicaraan penuh emosi kami. Aku bodoh karena memilih tempat itu. Harusnya, aku ajak Miko ke tempat lain saja," ungkap Sarah.
Wanita itu mengusap kasar wajahnya, hingga menyingkap rambut yang menutupi sebagian keningnya.
Fadil manggut-manggut. Dia paham sekarang, kenapa Bagas bisa sampai seperti itu.
"Bagas pasti tertekan dengan semua yang dia dengar, Sar. Anak-anak tidak seharusnya mendengar atau menyaksikan hal semacam itu. Itu bisa berimbas pada kepribadiannya," tutur Fadil.
"Hah … semuanya sudah terjadi. Sekarang, seperinya aku harus mau berkompromi dengan Miko, untuk mengasuhnya bersama," ucap Sarah.
Fadil tersenyum getir mendengar perkataan wanita di sampingnya. Hatinya terasa panas dan sakit, namun dia tak bisa memaksakan apapun kepada Sarah.
Sarah menyadari ekspresi Fadil yang terlihat sedikit muram. Dia pun tersadar jika perkataannya mungkin melukai hati pria itu.
"Ehm … ma … maksudku, kami hanya … yah, hanya mengasuhnya bersama. A … aku tidak ada niat untuk …," ucap Sarah terbata.
"Aku paham, Sar," potong Fadil.
Dia merasa jika Sarah hanya menunjukkan simpatinya saja, karena merasa tidak enak hati telah tanpa sengaja membuatnya sakit hati.
__ADS_1
"Itu hakmu. Kamu wanita bebas, dan kamu bebas memilih," lanjut fmFadil.
Sarah terdiam. Matanya memandang manik hitam dokter itu lekat. Ada gurat kecewa di sana, dan Sarah hanya bisa menyesali ucapannya.
Maaf, Mas. Entah kenapa, sulit sekali menerima mu. Padahal, kamu sudah banyak membantuku, dan menyayangi Bagas seperti kamu menyayangi Bela, batin Sarah.
Sejurus kemudian, dokter yang menangani Bagas, keluar dari ruang UGD. Dia pun berjalan menghampiri kedua orang dewasa dengan anak kecil yang terlihat tengah tertidur pulas.
Fadil bangkit berdiri, sedangkan Sarah, dia hanya bisa memandang tanpa mampu bergerak, karena Bela yang masih nyaman tidur dipangkuannya.
"Bagaiman kondisinya, Dok?" tanya Fadil mewakili.
"Dia mengalami demam tifoid, atau yang biasa dikenal dengan tifus. Penyakit ini biasanya akibat bakteri yang mengkontaminasi makanan dan minuman yang dikonsumsi pasien," jelas sang dokter.
"Nggak mungkin, Dok. Anak saya selalu saya buatkan bekal, dan dia juga tidak jajan pernah sembarangan," elak Sarah.
"Apa anda menemaninya selama di sekolah?" tanya sang dokter.
Sarah terhenyak. Dia terdiam dan hanya menggeleng pelan.
"kalau begitu, Anda tidak bisa memastikan apakah putra Anda makan dengan benar atau tidak," lanjut dokter.
"Jadi, bagaimana selanjutnya, Dok?" tanya Fadil mengambil alih.
pria itu tahu betul jika saat ini, Sarah tengah menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang tengah menimpa putranya.
"Pasien harus mejalani rawat inap, paling tidak sampai demamnya turun dan jumlah bakteri dalam tubuhnya kembai ke batas normal," seru sang dokter.
"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk dia," sahut fmFadil.
"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi," ucap Sang dokter.
"Terimaksih, Dok," ucap Fadil.
Seperginya dokter itu, Fadil menoleh ke arah Sarah. Wanita itu masih diam menunduk.
"Sar, aku tinggal sebentar ya. Ada administrasi yang harus diurus, supaya Bagas bisa pindah ke kamar rawat malam ini," ucap Fadil.
Sarah hanya mengangguk pelan.
Pria itu pun berlalu, dan meninggalkan Sarah serta putrinya.
.
.
.
.
Hari ini udah up 3 eps ya🤭 gimana? Seneng? Coba mana komennya😁
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1