Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Kabar buruk


__ADS_3

"Silakan duduk," seru dokter itu mempersilakan Miko yang baru saja masuk.


Dia nampak membuka laporan hasil laboratorium Lidia yang sudah selesai dilakukan.


"Sebelumnya saya mohon maaf, karena harus menyampaikan ini kepada Anda dan keluarga," ucap sang dokter.


"Memangnya ada apa dengan istri saya?" tanya Miko penasaran.


"Dari hasil tes darah dan USG yang kami lakukan, saat ini istri Anda tengah mengidap kanker ovarium stadium lanjut," ungkap sang dokter.


Mata Miko membola, dia tak menyangka jika istri yang saat ini hendak ia ceraikan, justru sedang mengalami sakit yang parah.


"Kanker ovarium, Dok?" tanya Miko memastikan pendengarannya tak salah.


"Benar. Karena stadiumnya sudah masuk ke tahap lanjutan, jadi kita perlu melakukan operasi untuk melihat seberapa luas kanker ini sudah menyebar," ucap sang dokter.


"Hanya itu? Lalu penyembuhannya?" tanya Miko.


"Jika dirasa masih memungkinkan, kita bisa mengangkat sel kanker atau tumor yang ada di sana," tutur sang dokter.


"Apa dia bisa sembuh?" tanya Miko lagi.


"Kemungkinan besar, kalau belum menyerang sampai ke kelenjar getah beningnya, dia masih bisa tertolong. Hanya saja, jika sel kanker menyebar luas di sekitar ovarium, jalan satu-satunya yaitu dengan pengangkatan rahim. Dengan kata lain, pasien tidak bisa lagi memiliki keturunan," ungkap dokter itu.


Buram. Pandangan Miko seketika buram. Pikirannya kacau saat mendengar analisis dari dokter itu.


"Pe … pengangkatan ra … rahim, Dok?" tanya Miko memastikan lagi apakah pendengarannya normal atau tidak.


"Ya, hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan, jika kanker sudah menyebar ke seluruh bagian ovarium Ibu Lidia. Seharusnya, ini bisa di prediksi dari munculnya gejala sepertu sakit perut yang cenderung seperti nyeri haid yang teramat sangat. Jika Ibu Lidia sering merasakaannya, kemungkinan besar kanker sudah menyebar luas," papar sang dokter.


Miko menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tububnya lemas, menerima berita yang sungguh membuatnya bimbang antara meneruskan proses sidang atau kembali menerima Lidia meski hanya didasari rasa kasihan.


Aku harus bagaimana? Dia pasti sangat terpuruk jika tau akan hal ini, batin Miko.


Pria itu nampak mengusap kasar wajahnya. Dia tak menyangka jika Lidia akan mengidap penyakit seberbahaya ini, di saat dirinya sudah mantap ingin melepaskan wanita itu.


Seusai dari ruangan dokter, Miko berjalan menuju ke ruang rawat di mana Lidia telah dipindahkan. Dia mendapatkan pengurang rasa sakit, untuk meminimalisir nyeri yang bisa saja menyerang kapanpun.


Lidia nampak telah sadar. Dia melihat jika Miko berjalan mendatanginya, dan betapa bahagainya dia saat itu.


"Ko, kamu di sini? Kamu nungguin aku?" tanya Lidia dengan mata yang berbinar.


Jelas sekali kebahagiaan yang terpancar dari netra hitam wanita malang itu.


"Hem … apa kamu udah merasa baikan?" tanya Miko.


"Ehm … aku sudah nggak papa kok. Mungkin cuma asam lambungku aja yang naik. Aku jarang makan juga akhir-akhir ini. Hehehe …," ucap Lidia dengan entengnya.


Apa yang harus ku lakukan, Lid. Bagaimana aku menjelaskan kondisimu saat ini? batin Miko.

__ADS_1


Aku senang, akhirnya kamu bisa memberiku perhatian. Aku nggap papa kalau harus sakit, asal kamu mau terus berada di sampingku, Ko, batin Lidia berbunga.


Wanita itu tak tahu jika saat ini, dia bahkan tak punya harapan lagi untuk memberikan apa yang Miko inginkan selama ini, yaitu hadirnya seorang anak.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Malam hari, saat semuanya sudah tidur, Yulis mendatangi kamar Lidia, di mana ada Miko yang masih menunggui adiknya di sana.


"Ko," panggil Yulis yang membangunkan adik iparnya itu.


"Ehm … Mbak. Ada apa? Apa Lidia sakit lagi?" tanya Miko yang terkejut saat kakak iparnya itu mendadak membangunkannya.


"Bisa keluar sebentar?" seru Lidia.


Miko pun bangun dan berjalan mengikuti sang kakak ipar. Mereka kini tengah berada di luar kamar, tepatnya di depan ruang rawat Lidia.


"Kamu sudah ketemu dengan dokter, Ko?" tanya Yulis.


"Ehm … sudah, Mbak," sahut Miko.


Miko yang masih setengah mengantuk, berusaha untuk segera sadar, karena pasti Yulis butuh kepastian akan kondisi sang adik saat kni.


"Bagaimana kata dokter, Ko? Lidia nggak papa kan? Prediksinya salahkan?" cecar Yulis.


Miko nampak diam. Dia ragu untuk mengatakan kepada wanita di hadapannya itu.


"Ko, kenapa diam? Ayo dong jawab!" seru Yulis kepada Miko yang tak kunjung bersuara.


"Apa?" Mata Yulis membola. Dia tak menyangka jika sang adik saat ini tengah menderita sakit yang sangat mengerikan.


"Dokter bilang, Lidia perlu dioperasi untuk melihat seberapa luas penyebaran kankernya saat ini. Kemungkinan terburuknya, Lidia harus menjalani operasi pengangkatan rahim," lanjut Miko.


"Astaghfirullah hal adzim. Kenapa bisa jadi begini? Apa Lidia sudah tau?" tanya Yulis.


"Aku bingung harus bagaimana memberitahunya. Dia pasti akan sangat terpukul," ucap Miko.


Pria itu nampak tertunduk, dan tak mampu menatap wajah kakak iparnya.


"Apa karena ini kamu mau ninggalin Lidia, Ko?" tanya Yulis menyelidik.


Miko seketika mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke arah mata sang kakak ipar.


"Demi Allah, nggak seperti itu, Mbak. Aku juga baru tahu hari ini," sanggah Miko.


Yulis nampak diam. Pikirannya kacau meski dia berusaha bersikap setenang mungkin.


Bagaimana aku harus mengatakan kenyataan pahit ini kepada Lidia dan juga Ibu? Mereka pasti akan semakin down, batin Yulis.


Setelah perbincangan itu, Miko kembali ke dalam ruang rawat Lidia, sedangkan Yulis, pergi ke tempat sang ibu di rawat saat ini karena guncangan yang dialami wanita tua itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, dokter melakukan visitasi di bangsal tempat Lidia berada. Saat itu, Miko masih berada di dalam kamar mandi.


"Apa suami Anda sudah memberitahukan tentang kondisi Anda yang sebenarnya?" tanya dokter tersebut.


Tepat saat itu, Miko keluar dan melihat jika sudah ada dokter dan seorang perawat di sana, yang melakukan pemeriksaan rutin.


Lidia nampak memandangi suaminya yang baru saja keluar itu dengan penuh tanya.


"Ko, memangnya aku kenapa?" tanya Lidia.


Miko seketika tertegun. Dia menatap sang dokter yang masih berdiri di samping istrinya.


"Bisa kita bicara sebentar di luar?" seru dokter itu kepada Miko.


Pria itu pun berjalan mengikuti sang dokter, meninggalkan Lidia yang dipenuhi tanda tanya di benak wanita itu.


"Sebaiknya, Anda segera beritahukan ini kepada istri Anda, agar dia bisa siap dan segera mendapatkan penanganan. Saya bisa saja menyampaikan semua itu langsung kepada pasien. Hanya saja, saya meminta Anda untuk menyampaikan hal buruk itu, sambil memberikan dukungan moril kepada pasien yang pasti sangat membutuhkannya dari orang-orang terdekat," ucap sang dokter.


Seusai mengatakan hal itu, dokter pun berlalu meninggalkan Miko dalam keadaan pasrah. Dia mau tak mau harus mengatakan semuanya kepada Lidia, bagaimanapun hasilnya.


Pria itu pun kembali masuk ke dalam ruang rawat istri pertamanya, dan segera disambut oleh pertanyaan yang sama dari Lidia.


"Ko, apa kata dokter? Aku kenapa?" cecar Lidia.


Wajahnya mulai menunjukkan kepanikan. Dia takut jika sesuatu yang buruk tengah menimpanya saat ini.


Miko berjalan mendekat ke ranjang pasien Lidia. Dia duduk dan meraih tangan wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


"Lid, aku harap kamu bisa sabar yah," ucap Miko.


Dia tak tega jika harus selangsung itu mengatakan kenyataan pahit tersebut kepada sang istri.


"Sabar? Apa maksudmu, Ko? Jangan berbelit-belit, cepat katakan aku kenapa?" tanya Lidia yang menuntut penjelasan dari suaminya.


"Kanker ovarium stadium lanjut," ucap Miko.


Lidia nampak mengerutkan keningnya.


Miko mengangkat wajahnya dan menatap Lidia lekat-lekat.


"Kamu mengidap kanker ovarium stadium lanjut, Lid," tutur Miko.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2