
Di rumah sakit, Dokter Fadil memimpin operasi untuk mengeluarkan bayi yang ada di lama kandunga Sarah. Pendarahan yang dialami wanita itu cukup hebat, karena benturan yang dialaminya cukup keras.
"To … long … se … lamat … kan … anak … ku …," pinta Sarah terbata di sela kesakitannya.
"Sarah, kamu tenang yah. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan kalian berdua. Bertahan yah," ucap Fadil memberikan semangat kepada pasiennya itu.
Anestesi pun telah di suntikkan ke tulang belakang Sarah. Selang beberapa menit, operasi pun dimulai.
Sekitar satu jam, Sarah terbaring di atas meja operasi, bertaruh nyawa untuk menyelamatkan anak yang dia kandung selama delapan bulan lebih.
Bayinya memang sudah cukup siap untuk bisa dilahirkan, namun kondisisnya saat di bawa kerumah sakit sudah sangat kritis.
Setelah melakukan operasi, Fadil menghampiri Sarah yang masih berada dalam kondsisi antara sadar dan tidak. Dia menatap lekat wajah pucat itu, dengan tatapan sendu. Dokter itu pun menunduk, sambil mengusap kepalanya.
Sementara, perawat tengah membereskan semua sisa tindakan yang dilakukan oleh dokter, dan akan segera membawa Sarah ke ruang pemulihan.
Aku harap, kamu akan baik-baik aja setelah ini, Sar, batin Fadil.
Fadil pun berbalik dan hendak pergi dari ruang operasi. Namun, langkahnya terhenti saat merasakan tangan Sarah meraih lengannya.
Dokter itu pun menoleh seketika, dan melihat jika wanita itu menggumamkan sesuatu dengan suara yang begitu lirih.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Satu jam kemudian, saat Sarah telah dipindahkan ke ruang rawat, Miko terlihat berlarian di sepanjang lorong rumah sakit yang menuju ke kamar rawat sang istri.
GREEGG!
Terdengar pintu bergeser, dan nampak Miko terengah-engah berdiri di ambang pintu. Ia pun berjalan memasuki ruangan tersebut dan menghampiri Sarah yang masih terkulai lemah.
Pria itu meraih tangan Sarah, dan menggenggamnya dengan erat.
"Sarah, kamu nggak papa kan?" tanya Miko yang terlihat begitu cemas.
Dengan sisa kekuatannya, Sarah menarik tangannya dari genggaman tangan Miko.
"Aku tidak apa-apa," sahut Sarah dingin.
"Kenapa kamu nggak hubungin aku? Kenapa aku malah tau kabar ini dari Lidia? Ada apa kamu menemui wanita itu lagi?" cecar miko yang selalu menuntut penjelasan atas semua yang dilakukan istrinya.
"Bukan urusanmu, Mas," jawab Sarah datar.
"Bukan urursanku? Jelas ini urusanku, karena kalian berdua istri ku!" ucap Miko yang mulai tersulut emosi, karena sikap Sarah yang mengesampingkan dirinya.
Sarah hanya diam. Rasanya dia sudah sangat enggan bertemu dengan pria yang pernah membuat hatinya bergetar itu.
Setiap kali bicara, selalu berujung dengan berdebatan dan pertengkaran. Aku benar-benar sangat lelah, batin Sarah sedih.
"Aku heran padamu, Sar? Apa kamu ini b*doh? Kenapa kamu menemui Lidia, menghampirinya dan mengajaknya bicara? Sedangkan kamu tau sendiri kalau dia pasti membencimu kan? Apa sih yang ada di dalam otak mu itu, hah?" cecar Miko yang benar-benar tak bisa melihat situasi.
Sarah menggela nafas panjang, dan mengeratkan pejaman matanya. Tangannya mengepal seraya meremas ujung selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kau tau dia benci padaku? Lalu, apa aku juga harus benci dia? Menghindar darinya seperti orang yang sudah berbuat salah? Aku hanya ingin berdamai dengannya, karena sebentar lagi aku pun akan pergi. Jadi, apa aku tidak boleh untuk menjalin pertemanan dengan wanita yang telah ku sakiti itu, Mas?" jawab Sarah tanpa melihat mata suaminya.
__ADS_1
"Pergi? Jadi, kamu sudah siap kehilangan anakmu?" sindir Miko.
Sarah diam. Dia tak mau menyahuti pertanyaan kejam itu sama sekali.
Bahkan, kau tak menyadari kalau perutku sudah kembali rata kan, Mas. Sejak datang tadi, kau terus memarahiku, batin Sarah sakit.
Saat itu, seorang perawat masuk ke dalam dan hendak memeriksa kondisi Sarah pasca operasi caesar.
"Permisi, saya mau memeriksa kondisi Bu Sarah dulu pak," ucap perawat itu.
Dia pun lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Sarah, dan betapa terkejutnya Miko, saat mendapati perut istrinya telah mengecil.
"Perutmu? Di mana anak kita, Sar? Apa … apa dia sudah lahir?" tanya Miko penuh harap.
Sarah masih diam. Sedangkan perawat masih sibuk memeriksa luka bekas operasi pasiennya.
"Sarah, cepat katakan di mana anak kita?" tanya Miko dengan nada yang semakin meninggi.
"Mohon maaf, Pak. Anda dilarang berteriak-teriak di sini, karena akan mengganggu pasien. Jika Anda ingin tau mengenai kondisi bayi yang dilahirkan Ibu Sarah, Anda bisa tanyakan ke dokter yang menanganinya," ucap perawat itu yang merasa tak suka dengan sikap Miko.
Perawat itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya hingga selelsai. Sedangkan Miko, segera beranjak dan mencari dokter yang telah melakukan operasi kepada sang istri.
"Permisi, siapa dokter yang sudah mengoperasi istri saya?" tanya Miko saat sudah berada di bagain adminsitrasi bangsal persalinan.
"Atas nama Siapa?" tanya petugas itu.
"Sarah Amalia," sahut Miko cepat.
"Atas nama Sarah Amalia, baru sekitar satu setengah jam yang lalu selesai di operasi oleh Dokter Fadil," papar si petugas.
"Di mana saya bisa bertemu dengan dokter itu?" tanya Miko terburu-buru.
"Silakan Anda ikuti lorong ini, dan di ujung sana ruangan sebelah kiri adalah ruangannya," jawab petugas tadi.
"Terimakasih," ucap Miko.
Pria itu pun segera berlari menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh petugas itu. Sesampainya di sana, Miko dengan seenaknya masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut.
"Siapa anda?" tanya Fadil yang terperanjat dengan kehadiran pria asing di dalam kantornya.
Miko masuk dan berdiri menatap tajam ke arah Fadil. Dia mengingat jelas siapa dokter yang berada di depannya itu.
"Kau … jadi kau orangnya? Katakan, dimana anakku? Cepat katakan!" pinta Miko dengan kasarnya.
Fadil pun berdiri. Dia seolah tahu siapa pria asing yang ada di hadapannya.
Yah, aku ingat pria ini. Dia yang dulu datang membawa Sarah saat pingsan beberapa bulan yang lalu, batin Fadil.
Dokter itu pun melangkah keluar melewati Miko begitu saja, membuat suami Sarah begitu geram dibuatnya. Namun, saat berada di ambang pintu, Fadil menoleh ke samping,
"Ikut aku," serunya.
Miko pun terpaksa menuruti perintah dokter itu. Fadil membawa Miko menyusuri lorong rumah sakit, dan semakin mengarah ke bagian belakang tempat medis itu. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan, di mana bau formalin begitu terasa menyengat di hidung.
__ADS_1
"Kenapa kau bawa aku kemari, hah?" tanya Miko yang merasa di permainkan oleh Fadil.
"Kau ingin melihat anakmu kan? Dia ada di dalam sana," ucap Fadil dingin.
Sementara Miko, dia hampir limbung jika saja tak ada dinding di sapingnya. Dia bisa melihat dengan jelas, tulisan yang berada di atas pintu ruanga itu.
Nggak mungkin. Anakku nggak mungkin mati, batin Miko yang masih tak mau percaya dengan semua ucapan Fadil.
Pria itu pun melangkah mendekat ke arah sang dokter dan mencengkeram kerah bajunya.
"Kau janga coba-ckba menipuku. Anakku nggak mungkin mati," pekik Miko di depan kamar mayat, yang ditunjukkan oleh Fadil tadi.
"kalau Anda tidak percaya, Anda bisa cek sendiri di dalam," ucap Fadil datar dan begitu tenang, meski mendapat serangan dari Miko.
Genggaman Miko melemah, seiring rasa sakit di hatinya karena mengetahio jika anak yang selama ini dia inginkan dan impikan, sudah tak ada lagi. Pria itu pun merosot ke bawah dan bersimpuh di lantai.
"Aaaarrrrghhhhh … nggak mungkin! Ini nggak mungkin! Aaaarrrgghhhh …," teriak Miko yang terdengar begitu pilu.
Fadil masih diam, dan berdiri menemani pria yang tengah bersedih itu di sana. Miko terus merapalkan kata 'tak mungkin', karena dia msih tak mau percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fadil kepadanya.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menjambaki rambutnya sendiri hingga berantakan.
"Masuklah. Lihatlah anakmu di dalam sana," ucap Fadil yang kemudian membukakan pintu kamar yang terasa begitu dingin tersebut.
Miko menatap nanar ke arah dalam, dan sekilas ia melihat sesosok kecil mungil tengah terbaring di salah satu ranjang di dalam sana.
Dia pun bangkit berdiri, dan berjalan dengan tubuh yang gemetar ke arah sosok itu. Ia lalu mendekat dan semakin dekat hingga ia pun sampai di samping tubuh kecil itu.
Fadil masih berdiri di ambang pintu, menunggu Miko yang masih membeku di samping ranjang mayat.
Tangan Miko perlahan terulur dan hendak meraih kain putih penutupnya. Namun, rasa gamang hadir dan membuatnya menarik kembali tangannya.
"Kalau kau tak siap, sebaiknya kita kembali saja," ucap Fadil.
Namun, ucapan dokter itu justru membuat Miko ingin segera melihat sosok mungil itu. Dengan mengumpulkan keberanian dan menguat hatinya, Miko pun memejamkan matanya, dan membuka kain penutup itu.
Matanya membulat, kala jazad bayi yang masih merah, dengan tali pusar yang bahkan masih melekat di sana, terbaring kaku, pucat tak benyawa.
"Nggak! Ini nggak mungkin!" Miko masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya
Namun, tangannya mendekap tubuh mungil yang telah kaku itu ke dalam pelukannya, sambil menangis begitu memilukan.
.
.
.
.
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1