Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Demam


__ADS_3

Setelah kejadian di hari ulang tahunnya waktu itu, Bagas menjadi lebih diam. Anak itu sering terlihat murung, dan tidak mau diajak main, baik dengan teman-temannya maupun dengan Bela.


Gadis kecil itu pun mengadukannya kepada sang papah, dan membuat Fadil menebak jika ada hal buruk yang terjadi saat mereka sudah pulang dari rumah sarah waktu itu.


Sejak saat itu juga, Miko tak terlihat masuk kantor. Semua urusannya di handle oleh sang sekretaris, Fajar.


Sarah pun terlihat sering melamun, karena terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada dia dan anaknya, setelah Miko tahu semua kebenaran tentang putranya.


Semua itu tak luput dari perhatian seorang Minati, biang gosip yang selalu saja serba ingin tahu tentang semua hal yang ada di sekitar tempat kerjanya.


"Sar, minjem stabilo dong. Punyaku habis," ucap Minati suatu ketika.


Sarah tak menyahut. Dia masih terus menatap berkas di depannya, dan hanya menggerakan tangannya untuk mengambilkan apa yang diminta rekannya itu.


Minati nampak mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu, melihat benda yang diberikan oleh Sarah.


"Sar, aku mintanya stabilo. Kenapa malah ngambilinnya tipe-ex?" keluh Minati.


"Ehm … oh, salah yah. Maaf ya," ucap Sarah sambil mengambilkan kembali apa yang diminta oleh rekannya itu.


Namun, lagi-lagi Sarah salah mengambilkannya.


"Sar, kamu sakit apa gimana sih? Masa nggak bisa bedain mana stabilo mana spidol?" keluh Minati lagi.


"Astaghfirullah hal adzim. Maaf, Min. Aku lagi banyak pikiran banget nih, jadi nge-blank gini deh. Maaf yah," ucap Sarah.


Kali ini, dia pun mengambilkan lagi benda yang benar dan memberikannya kepada Minati.


"Kamu kenapa sih, Sar? Dari beberapa hari yang lalu kayak murung gitu. Ada masalah?" tanya Minati.


"Ehm … yah, biasalah. Orang hidup ya pasti punya masalah kan," jawab Sarah datar.


"Tapi kok aneh sih. Kenapa pas banget sama perginya si bos yang nggak balik-balik? Jangan-jangan, emang ada hubungannya dengan Pak bos lagi?" terka Minati.


"Hah … udah lah, Min. Aku lagi mau ngeladenin kekepoan kamu. Udah yah, aku mau lanjut kerja lagi," ucap Sarah.


Wanita itu pun kembali larut dengan pekerjaannya dan tak lagi menghiraukan keberadaan rekan kerjanya itu.


Minati pun akhirnya pergi dengan banyak sekali tanda tanya di kepalanya, yang sangat haus akan informasi seputar gosip di sekitaran kantor.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sore harinya, Sarah menjemput Bagas di playgroup. Nampak Bela yang juga berada di sana sedang menemani putranya yang tengah duduk di atas ayunan.


"Bu," sapa Bela yang langsung menyalami Sarah.


"Bela, belum dijemput?" tanya Sarah.


"Bela mau ikut Ibu sama Bagas pulang. Tadi, Bela udah bilang sama Nenek sama Papah juga," tutur Bela.


"Oh, gitu. Ya udah. Bagas, ayo pulang, Nak," seru Sarah kepada kedua anak kecil itu.


Bagas nampak bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Ibu dan temannya dengan malas, sambil terus menundukkan wajahnya, hingga pundaknya pun tampak melengkung ke depan.

__ADS_1


"Bu, Bagas dari kemarin murung terus. Bela ajak ngomong juga diem mulu. Bagas sakit ya?" tanya Bela lirih kepada Sarah.


Wanita itu tersenyum dan mengusap lembut puncak rambut gadis kecil di sampingnya itu.


"Mungkin Bagas lagi capek aja. Masjk mobil yuk," seru Sarah


Kedua anak kecil itu duduk di kursi belakang. Bela terus berceloteh, sedangkan Bagas memalingkan wajahnya ke arah samping memandang ke luar jendela.


Semua itu tak luput dari perhatian sang bunda, yang terus saja mengawasi gerak gerik putranya dari spion depan.


Sesampainya di rumah, Bagas langsung masuk kamar dan tak mempedulikan kedua perempuan beda usia yang terus melihat tingkah lakunya.


Hah … apa dia masih ngambek gara-gara waktu itu? batin Sarah.


Pagi hari setelah acara pesta ulang tahun Bagas, kedua orang tuanya beserta sang kakak, pamit pulang ke rumah mereka masing-masing.


Sebelum pergi, Bu Riswan sempat mengatakan jika Bagas mendengarkan semua pertengkaran yang terjadi antara Sarah dan Miko, yang membuatnya merasa sangat sedih.


"Bagas mengira, jika dia tidak akan bisa bertemu dengan ayahnya lagi. Dia sangat sedih, Sar. Turunkan ego kalian masing-masing. Kasihan cucu Ibu itu," seru Bu Riswan.


Semenjak itu, Bagas bersikap acuh dan cenderung menyendiri. Dia lebih memilih berdiam di kamar, dan bahkan sulit sekali diajak makan. Padahal, Sarah sudah mencoba membuatkan makanan kesukaan putranya itu. Namun, Bagas tetap tak mau makan.


Sarah sampai geram melihat tingkah putranya itu, sampai-sampai dia harus membentak Bagas hanya untuk sekedar urusan makan.


Setelah dibentak, Bagas memang mau makan. Namun, hanya sebanyak lima sendok saja paling banyak yang dia habiskan setiap kali makan.


Sarah pun sebenarnya lelah melihat kelakuan Bagas yang akhir-akhir ini selalu saja membangkang. Dia mencoba menemui Miko untuk membicarakan kembali perihal putra mereka. Namun, di kantor saja, pria itu tidak pernah muncul semenjak kejadian malam itu.


Hari mulai malam. Bela yang masih berada di sana pun merasa bosan, karena Bagas yang biasa menemaninya bermain, sekarang mengurung dirinya terus di kamar.


"Ehm … Bagas gimana, Bu?" tanya Bela.


"Biar nanti Ibu yang panggilkan dia. Bela cuci tangan dulu terus tunggu di meja makan yah," seru Sarah.


Gadis kecil itu pun mengangguk dan berjalan ke arah washtafle yang ada di dapur, lalu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.


Sarah melepas apronnya, dan berjalan menuju ke kamar sang putra.


TOK! TOK! TOK!


"Bagas, ayo makan!" panggil Sarah.


TOK! TOK! TOK!


"Ayo makan, Nak!" panggil Sarah lagi.


TOK! TOK! TOK!


Beberapa kali Sarah mengetuk pintu, tapi Bagas tak juga kunjung membukakan pintu untuknya. Sarah pun memutar gagang pintu, dan ternyata tidak terkunci.


"Bagas, Nak …," panggil Sarah.


Dia menghentikan panggilannya saat melihat sang putra tengah berbaring dengan mata tertutup di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Tidur dia," gumamnya.


Sarah lalu kemudian berjalan mendekat dan mencoba memeriksa kondisi sang putra.


"Bagas," panggil Sarah pelan.


Tangannya menggoyang pelan tubuh kecil itu.


"Panas," gumam Sarah.


Dia kemudian menempelkan punggung tangannya di kening sang putra.


"Astagfirullah hal adzim. Bagas demam," gumam Sarah.


Dia lalu pergi ke dapur dan mengambil termometer serta obat penurun panas, yang selalu ia sediakan di dalam kotak P3K.


Sarah kemudian berlari menuju ke kamar anaknya kembali, dan memasukkan ujung termometer ke dalam lipatan ketiak Bagas.


BIP! BIP! BIP!


Tak berapa lama, terdengar alarm dari benda pengukur suhu itu. Sarah pun mengambilnya dan melihat angka yang muncul di layar kecil.


"Empat puluh derajat? Tinggi sekali," gumam Sarah.


Dia segera meminumkan obat penurun panas kepada Bagas. Sarah kemudian kembali keluar dan mengambil beberapa bungkus plester gel penurun panas.


Bela yang melihat Sarah terus mondar mandir pun, akhirnya mengikutinya ke kamar Bagas.


Di sana, Sarah terlihat tengah membuka pakaian yang dikenakan oleh Bagas ,dan menempelkan kompres instan penurun panas itu ke beberapa titik, di antaranya kening, lipatan ketiak dan lipatan paha.


Bela masuk dan duduk di samping kepala Bagas.


"Bagas sakit ya, Bu?" tanya Bela.


"Ehm … iya, Sayang. Bagas demam tinggi. Maaf yah, Bela jadi belum bisa makan. Atau mau makan dulu juga nggak papa," ucap Sarah.


"Nanti aja, Bu. Bela mau nungguin Bagas," sahut Bela.


"Eh, jangan. Nanti bela bisa ketularan lho. Mending, Ibu ambilin makan dulu, terus Bela makan sambil nonton TV saja ya," seru Sarah.


Bela pun mengangguk.


Setelah mengambilkan makan untuk Bela, Sarah kembali ke kamar putranya dan melihat jika Bagas mengigau dengan tubuhnya yang gemetar.


Sarah panik melihat hal itu.


"Bagas! Nak," panggil Sarah.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2