Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Perbebatan


__ADS_3

Seminggu sudah sejak acara reuni berlangsung, aku yang selalu diacuhkan oleh Lidia yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang seolah tak ada habisnya itu, membuatku mencari hiburan lain.


Aku menggulirkan layar ponsel ku dan mencari kontak temanku Dodi, berniat untuk mengajaknya pergi keluar.


Namun, jariku berhenti ketika melihat sebuah nomor asing yang sudah seminggu lalu masuk ke dalam ponselku.


Aku berusaha mengingat-ingatnya, dan seketika aku teringat kepada Sarah. Ya, ini adalah nomor miliknya.


Aku pun segera menyimpan di daftar kontak. Ku lihat, nomor itu terhubung dengan sebuah aplikasi chat yang sedang trend saat ini, dan aku pun mulai mengetikkan sesuatu di sana.


"Hai, Sar. Ini aku, Miko," pesanku.


Tak berselang lama, sebuah pesan balasan dari Sarah datang.


"Hai, Ko. Kirain lupa save ๐Ÿคญ" Sarah.


"Nggak lah. Maaf baru chat, biasalah banyak kerjaan ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜," oesanku.


"Iya deh percaya yang sekarang jadi bos. BTW, ada apa nih malem-malem chat aku?" tanya Sarah.


"Cuma lagi gabut aja. Tadinya mau ngajakin Dodi keluar, tp aku keinget belum chat kamu," kataku.


"Oh โ€ฆ jadi kamu ingat aku cuma gara-gara gabut toh ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜," sindir Sarah.


Aku pun tertarik untuk melanjutkan obrolan kami lewat sambungan telepon. Perbincangan kami pun berlanjut hingga larut malam. Aku merasa sangat senang mendapatkan teman berbincang di malam hari.


Lidia? Dia bahkan tak masuk ke dalam kamar sampai lewat tengah malam. Barulah saat pukul dua, dia masuk dan berbaring di samping, dan bahkan memunggungiku.


Pagi harinya, selalu saja sama di mana Lidia terus meninggalkanku sarapan sendiri karena selalu terburu-buru di pagi hari.


Kesal? Sudah pasti aku sangat kesal melihat tingkah Lidia yang setiap hari selalu seperti itu dan semakin tak mempedulikanku sebagai suaminya.


Siang itu, aku mencoba mengajak Lidia untuk makan siang bersama. Namun, lagi-lagi dia selalu menolak dengan alasan masih harus menemui seorang klien. Sangat berbeda ketika sebelum menikah, dia selalu menyempatkan untuk pergi bersamaku.


Ya sudah lah, biarkan saja dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri.


Di tengah kekesalanku, aku tiba-tiba teringat Sarah. Aku pun mengirimnya sebuah pesan chat.


"Sar, lagi apa?" tanyaku dengan pertanyaan yang aneh, dan pasti terdengar menyebalkan.


"Ya lagi kerja lah. Jam berapa ini, Ko. Ngapain juga tanya begitu๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…," balas Sarah.

__ADS_1


"Iya yah ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Oh iya, makan siang bareng yuk," ajakku.


"Bentar lagi yah. Aku masih ada beberapa kerjaan yang harus selesai. Jam setengah satu deh, gimana?" ujarnya


Aku pun menyetujuinya.


Siang itu, aku menjemputnya di kantornya yang berada cukup jauh dari tempat kerjaku. Saat aku tiba di sana, dia sudah menungguku di luar, sambil duduk di warung kaki lima yang melapak di depan kantornya.


"Yuk, Sar. Masuk," ajakku yang menurunkan kaca mobil di seberang tempat duduk kemudi.


Sarah pun melihat ku dan segera berjalan menghampiri mobilku.


Kami pun melajun menuju ke sebuah resto terdekat.


Sarah memang berbeda dengan Lidia. Dia adalah tipe wanita yang lebih suka mendengarkan, ketimbang didengarkan. Dia lebih memilih mengerti lawan bicara, dari pada memaksakan kehendaknya.


Sedangakan Lidia, bahkan semenjak sebelum menikahpun, dia selalu mau mendominasi. Apa saja harus sesuai dengan yang dia mau. Bahkan dalam urusan kecil sekalipun.


Semakin lama, aku dan Sarah pun semakin dekat. Aku sadar ini salah. Namun rasa kesepianku atas perlakuan Lidia selama ini, membuatku mencari pelarian, dan hal itu ku dapat pada diri Sarah, mantanku.


Sarah sampai sekarang pun tak tau jika aku sudah menikah, karena aku hanya mengundang teman dekat, kolega dan karyawan kantor saja saat pernikahanki dulu. Dia sama sekali tak bertanya akan hal itu. Sarah selalu seperti itu sejak dulu. Tak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain, kecuali jika dirinya diberitahu lebih dulu.


Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Bercanda tawa tak pernah selepas ini ketika aku bersama dengan istriku, Lidia.


Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah menjadi pilihanku menikahinya, meski sejujurnya, Lidia tak ubahnya sebuah tropi kegengsianku.


Kini, usia pernikahan ku dengan Lidia sudah lewat satu tahun. Dia semakin gila dalam bekerja dan terus saja mengesampingkan diriku.


Hingga pada malam itu, aku sengaja menunggunya pulang kerja. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan istriku belum juga tiba di rumah.


Ketika terdengar suara mobil, aku segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Lidia nampak datang dengan setumpuk dokumen di tengannya. Ia berjalan ke arahku.


"Belum tidur, Ko?" tanyanya sambil berlalu begitu saja dari hadapanku.


"Tunggu, Lid. Kita mesti bicara," tahanku sambil meraih lengan Lidia.


"Besok aja yah ...,"


"Besok? Apa kamu yakin besok ada waktu?" Potongku dengan nada tinggi hingga Lidia pun tertergun mendengar teriakanku.


"Kamu selalu sibuk dan sibuk terus. Nggak pernah ada waktu buat aku, suamimu. Apa atasan kamu memberikan semua pekerjaan satu kantor cuma sama kamu? Kenapa teman-temanmu yang lain nggak sesibuk kamu? Aku mau kamu resign, Lid. Aku lebih memilih seorang istri yang mau diam di rumah, dari pada istri yang selalu mengabaikan suaminya," bentakku.

__ADS_1


Lidia menghempaskan tanganku yang memegangi lengannya. Dia berbalik mengahadapku dan menatapku tajam.


"Kenapa kamu nggak bisa ngertiin aku sih? Kalau kamu pengin istri yang kaya gitu, cari aja wanita lain. Aku nggak akan pernah mau resign dari kerjaanku, ngerti kamu!" Balas Lidia tak kalah kerasnya padaku.


Wanita itu berjalan cepat meninggalkan ku yang masih diliputk rasa emosi.


"Baik. Kamu sendiri yang bilang, Lid. Jangan salahkan kalau aku berpaling darimu," gumamku sambil mengepalkan tangan.


Malam itu, aku meninggalkan Lidia sendirian di rumah, dan memilih untuk bermalam di kontrakan milik Dodi, temanku.


Dia terus mengolokku akan apa yang tengah terjadi pada kehidupan rumah tanggaku bersama Lidia.


"Apaku bilangkan. Dia bakal mendominasi," ucapnya.


"Bukannya kamu yang nunjukin dia ke aku pas acara waktu itu, hah?" Keluhku yang kesal dan tambah dibuat jengkel dengan omongan temanku itu.


"Iya juga sih. Sorry, lagian aku kan nggak tau dia kaya gimana waktu itu. Jadi cuma bisa kasih review tentang penampilan luarnya aja," kilah Dodi.


Aku diam dan mencoba memejamkan mata, di saat hatiku masih terasa panas. Aku tak peduli lagi dengan keberadaan temanku itu. Masa bo*do dia mau bicara apa, yang aku mau hanya menenangkan diri.


Keesokan harinya, seperti biasa, aku kembali mengajak Sarah untuk makan siang bersama. Hubungan kami sudah semakin dekat, bahkan aku pun kembali menjalin kasih dengannya.


Aku sangat bersalah pada wanita ini. Secara tak sadar, dia sudah kujadikan selingkuhan.


Ketika bersama dengannya, tiba-tiba aku teringat pertengkaranku dengan Lidia tadi malam. Aku pun memberanikan diri bertanya hal yang sangat dibenci oleh Lidia.


"Ehm ... Sar, misalnya nih, kalau udah nikah nanti, kamu mau nggak kalau disuruh resign sama suamimu?" Tanyaku.


Sarah megertukan alisnya, namun sedetik kemudian, dia kembali menatapku dan tersenyum.


"Kalau yang nyuruh suami, kenapa nggak mau. Kan perintah suami itu wajib dijalankan selama nggak melenceng sama agama kan," ucapnya dengan ringan.


Bak mendapat angin syurga, aku pun seketika menggenggam tangannya dan entah dorongan dari mana, aku serta merta melamarnya saat itu juga.


Karena kebodohan dan emosiku, prahara rumah tanggaku bersama dua orang wanita itu dimulai.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys๐Ÿ˜Šmohon dukungannya๐Ÿ™


__ADS_2