Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Teman yang selalu ada


__ADS_3

Sehari kemudian, Murni, Tari dan Susan kembali menemui Sarah di rumahnya. Kali ini, sahabatnya itu mau menemui ketiga wanita tersebut.


"Sar, kamu nggak papa kan? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Susan saat melihat Sarah membukakan pintu.


"Ssttt …," tegus Tari yang meminta Susan agar tak mendesak Sarah.


"Aku udah nggak papa kok," sahut Sarah sambil mempersilakan ketiga temannya masuk ke dalam.


Tari dan Susan duduk, sementar Murni membantu Sarah untuk mengambilkan minuman di dapur.


Setelah keduanya kembali bergabung dengan dua temannya yang lain, mereka pun mulai berbincang-bincang, walau pun awalnya sangat kaku karena baik Murni, Tari dan Susan tida ingin menyinggung kejadian kemarin di mall.


"Nggak usah canggung gitu. Aku lama-lama udah terbiasa kok. Bukan baru sekali ini, tapi udah berkali-kali aku mendapat perlakuan yang semacam itu," tutur Sarah.


"Ya ampun, Sar. Kamu kuat banget sih. Kalau aku, nggak tau deh mau kek gimana," sahut Susan.


"Terus semalem, Miko ada ngomong apa sama kamu? Dia nenangin kamu nggak? Bela kamu nggak?" cecar Murni yang kelihatan begitu emosi.


"Ssstt … sing alon, Mur. (Pelan-pelan, Mur.)" Tari mencegah Murni bertanya semakin banyak.


"Dia sedang di rumah istri pertamanya, karena ini giliran dia ke sana," tutur Sarah tertunduk.


Ada rasa sesak yang teramat saat dia mengucapkan hal itu. Sebuah keharusan dan ketentuan yang ia terima selama menjalani kehidupan rumah tangga dengan dua orang wanita di dalamnya.


"Sar, yang sabar yah. Inget, kamu lagi hamil. Sekesal dan semarah apapun kamu sama Miko, dia tetap suamimu. Jaga juga kandunganmu. Aku tau pasti sangat sulit melaluinya. Tapi percaya deh, semua akan indah pada waktunya," tutur Tari yang mencoba menenangkan dan membesarkan hati Sarah.


"Indah apanya, Tar, kalau dia masih saja di bawah bayang-bayang istri pertamanya si Miko, dan punya predikat pelakor dari masyarakat. Mending, kamu minta cerai aja sama suami mu setelah kamu lahiran nanti," seru Murni yang selalu saja ceplas ceplos sesuai pemikirannya sendiri.


"Hus … Mur. Itu mulut kalo ngomong mbok ya o dipikir dulu. Ngasal banget kalo ngomong," tegur Susan dan dilanjut tatapan tajam dari Tari yang membuat Murni menciut seketika.


"Habisnyaa aku kesel banget sama sikapnya Miko. Nggak jelas dan nggak tegas," sahut Murni yang tak mau disalahkan sepenuhnya.


"Sudah … sudah … jangan dibahas lagi. Cuma nambah-nambahi pikiran Sarah aja," ucap Tari kepada kedua sahabatnya tersebut.


Sarah hanya diam dan masih tertuntuk. Namun, dia memikirkan kembali perkataan Murni tadi.


Mungkin sebaiknya memang aku yang mengalah. Toh dari awal ini memang bukan tempat ku. Aku hanya pelarian Miko di saat Lidia mengacuhkannya, batin Sarah.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Seperginya ketiga teman Sarah, wanita itu kembali mengurung diri di kamar. Dia terus memikirkan perkataan Murni tentang meminta cerai saat dia sudah melahirkan nanti.

__ADS_1


"Apa bisa semudah itu. Tapi, bukankah Miko sangat menginginkan seorang anak. Bagaimana kalau dia justru meminta hak asuh anakku, dan membuatku berpisah dengan dia?" gumamnya


"Nggak. Aku nggak mau. Tapi, apa iya aku harus tetap hidup sebagai seorang istri kedua, pelakor yang dibenci semua orang. Mau sampai kapan?" keluh Sarah dengan pikiran yang berkecamuk, memikirkan rencana masa depannya nanti.


"Apa aku ab*rsi saja?" pikirnya.


Namun, saat dia mekikirkan hal tersebut, air matanya justru lolos tanpa ia sadari.


Tidak. Aku tidak boleh egois. Dia anakku. Darah dagingku. Aku harus mempertahankannya untuk tetap di sisiku, bagaimana pun caranya, lanjut Sarah dalam hati, yang berdialog dengandirinya sendiri.


Mengingat ide gilanya itu, Sarah kini memeluk perutnya dengan begitu posesif, seolah tak ingin kehilang anak yang tengah ia kandung. Isak tangis kembali terdengar dari mulut Sarah, yang menyesal karena sempat berpikir untuk membunuh anaknya sendiri.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu sayang kamu. Ibu sayang kamu," ucap Sarah di tengah tangisnya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Semenjak kejadian itu, Miko sama sekali tak pernah menyinggung hal yang sempat viral dan menjadi perbincangan masyarakat luas. Pria itu seolah tak ingin membahas hal yang membuat Sarah kembali merasa tersakiti.


Kini, sudah waktunya wanita itu memeriksakan kehamilannya lagi. Dia selalu mencuri waktu di saat suaminya sedang bekerja.


Miko yang memang belum pernah memiliki anak pun, tak tau bagaimana seharusnya menjadi suami dengan istrinya yang tengah hamil. Dia bahkan tak pernah bertanya perihal jadwal cek up, karena dia tidak tau akan hal-hal seperti itu.


Siang itu, seperti biasa Sarah pergi ke rumah sakit dengan menggunakan jasa sebuah taksi online. Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menuju ke ruang praktek Dokter Fadil. Dia tak pernah reservasi melalui sambungan telepon secara eksklusif, meski hubungannya dengan sang dokter sudah semakin dekat. Wanita itu lebihsuka datang dan mengantri sebagaimana pasien yang lain.


Setelah menunggu sekitar lima hingga enam orang pasien, kini gilirannya untuk masuk.


"Ibu Sarah, silakan masuk," panggil seorang perawat yang mengasisteni Dokter Fadil.


Sarah pun masuk. Kebetulan, hari ini dia adalah pasien terakhir yang datang.


"Selamat siang, Dok," sapa Sarah.


"Dok?" tanya Fadil.


"Ehm … kan masih di jam kerja. Masa manggilnya beda," sahut Sarah.


"Baiklah. Alasanmu ku terima. Ayo naik," seru Dokter Fadil mengarahkan pasiennya itu untuk naik ke atas ranjang periksa.


Dengan dibantu oleh seorang perawat, Dokter Fadil pun melakukan pemeriksanaan terhadapan kandungan Sarah.


"Sudah masuk lima bulan ya. Masih sering kram nggak?" tanya Dokter Fadil sambil terus menggeserkan alat USG di sekitar perut Sarah.

__ADS_1


"Udah lumayan berkurang. Aku kan udah janji kalau akan menjaga hati dan pikiran ku tetap tenang," ucap Sarah.


Dokter Fadil tak meyahut. Dia hanya tersenyum tipis dambil mengamati monitor di depannya.


"Sudah. Semuanya bagus. Detak jantungnya bagus, organ-organ tubuh lainnya juga terbentuk dengan baik, hanya saja kelaminnya belum jelas laki-laki apa perempuannya. Mungkin bulan depan sudah bisa diketahui," ucap Dokter Fadil sambil kembali berjalan ke arah meja kerjanya.


Sarah pun bangun dibantu oleh perawat yang menjadi asisten sang dokter.


"Aku kasih vitamin sama obat penguat yah. Usia kandunganmu masih diusia rentan. Jadi, pastikan dia tidak kenapa-napa, dan kamu juga harus jaga pola makan dan pola pikirmu," pesan sang dokter.


"Iya, Dok. saya usahakan sebaik mungkin," ucap sarah tersenyum.


Sarah pun pamit dan keluar dari ruang prakter dokter duda itu. Kali ini Sarah langsung ke apotik dan berjalan ke trotoar, mencari taksi yang lewat.


Di saat dia menunggu, sebuah mobil terlihat berhenti tepat di depannya. Sarah tak begitu mempedulikannya. Namun, ketika kaca mobil diturunkan, nampak seseorang yang sangat dia kenal.


"Dokter … oh maaf, maksudku, Mas Fadil?" sapa Sarah.


"Lagi nunggu apa?" tanya Fadil dari dalam mobil.


"Nunggu taksi, Mas," jawab Sarah.


"Ikut aku aja yuk. Nanti ku anterin ke rumah," ajak duda tampan itu.


"Nggak usah, Mas," tolak Sarah.


"Ini sudah lewat jam makan siang. Kamu pasti belum makan kan. Ayo makan dulu. Ini perintah dari doktermu," bujuk Fadil.


Sarah terkekeh mendengar perkataan Fadil yang menggunakan posisinya untuk meminta Sarah makan dengannya.


"Baiklah, Pak Dokter. Tapi setelah itu, antar aku pulang ya," ucap Sarah yang mengiyakan ajakan dari dokternya.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2