
Miko yang sudah menerima syarat dari Sarah, memutuskan untuk segera menuntaskan janjinya kepada wanita itu, agar dia bisa cepat memperistri mantanya kembali.
Hari ini, dia bermaksud untuk mengunjungi kediaman orang tua Sarah, Pak Riswan dan istri. Menurutnya, kedua orang tua itu lebih mudah diajak bicara baik-baik, ketimbang kakak Sarah, Tino, yang selalu saja menyikapi segala hal dengan emosi.
Jadi, miko bermaksud untuk mencari dukungan kedua orang tua Sarah terlebih dahulu, sebelum ia maju menemui Tino.
Saat ini, Miko tengah duduk berhadapan dengan Pak Riswan di ruang tamu. Rasa gugup menyergap pria itu, hingga keringat mulai mengucur dari pelipisnya.
Namun sekali lagi, demi cintanya kepada Sarah, membuatnya memberanikan diri untuk meminta kembali putri keluarga tersebut, untuk ia persunting yang kedua kalinya.
Dari arah dapur, nampak Bu Riswan datang dengan membawa nampak berisi minuman dan juga setoples kue kering.
Miko berdiri dan membantu wanita tua itu untuk meletakkan bawaannya ke atas meja.
“Silakan diminum, Nak Miko. Maaf Cuma bisa bikini es teh. Rewang-nya lagi pada di kebun semua,” seru Bu Riswan.
“Iya, Bu. Terimakasih. Ini sudah cukup kok,” sahut Miko.
Pak Riswan terus memperhatikan pria yang pernah menjadi menantunya tersebut, dengan tatapan setajam elang.
“Jadi, ada perlu apa Nak Miko datang kemari? Tentunya, bukan sekedar mampir saja kan,” tanya Pak Riswan.
Miko nampak menyeka keringatnya dan meneguk minuman yang ada di hadapannya.
“Se... Sebelumnya saya minta maaf, jika mengganggu waktu Bapak dan Ibu. Maksud kedatangan saya kemari adalah... Ehm...,” ucap Miko ragu.
Semua diam, dan menunggu perkataan Miko yang selanjutnya.
“Saya ingin melamar Sarah kembali. Saya ingin rujuk dengan putri Bapak dan Ibu,” lanjut Miko yang akhirnya menyatakan tujuan kedatangannya.
Kedua orang tua itu saling pandang tak percaya, dengan apa yang baru saja didengar.
“Nak Miko serius?” tanya Bu Riswan kepada pria itu.
“Saya serius, Bu. Sangat serius,” sahut Miko.
“Apa kamu sudah bicara berdua dengan Sarah? Apa dia setuju akan hal ini?” tanya Pak Riswan.
__ADS_1
“Sudah, Pak. Dan dia mengajukan satu syarat kepada saya, yaitu mendapatkan restu Bapak dan Ibu, juga Mas Tino. Jika saya berhasil, maka dia akan menerima saya kembali untuk menjadi suaminya,” ungkap Miko.
“Jadi begitu. Apa alasan Nak Miko kali ini ingin memperistri Sarah? Apa mungkin, ada wanita lain yang sudah membuat hati Nak Miko tak kerasan lagi?” sindir Pak Riswan.
Miko teperangah mendengar sindiran dari mantan mertuanya itu. Tapi, dia pun bisa menerima hal tersebut, karena memang dulu itulah yang menjadi alasannya memperistri putri mereka.
“Demi Allah, demi Rasulullah, saya tidak seperti dulu lagi, Pak, Bu. Kali ini, saya tidak sedang menjalin suatu hubungan apa pun dengan wanita lain selain Sarah. Saya tau, jika noda yang saya tinggalkan dulu begitu membekas hingga sulit untuk dihilangkan. Tapi mohon kali ini percayalah, jika saya benar-benar telah sadar, dan ingin memperbaiki semuanya. Saya mohon, Pak, Bu. Restui kami kembali,” pinta Miko.
Pak Riswan dan Bu Riswan sama-sama diam. Meski Sarah tergolong sudah dewasa dan dianggap mampu mengambil keputusan sendiri, tapi orang tua mana yang dengan mudahnya menyerahkan kembali putri berharga mereka, kepada pria yang pernah dengan sengaja menoreh luka dan aib di hidup nya.
“Nak Miko. Kalau tidak salah, tadi Nak Miko bilang jika Sarah meminta kamu untuk mendapatkan restu dari kami semua, termasuk Tino. Benar begitu kan?” tanya Pak Riswan.
“Nggih, Pak (Benar, Pak,),” sahut Miko.
“Kalau begitu, tunggulah beberapa hari lagi. Kami belum bisa memutuskan untuk sekarang ini, apakah Nak Miko boleh atau tidak untuk rujuk dengan putri kami. Kami harus memikirkan masalah ini matang-matang, terlebih kami juga harus berdiskusi dengan Tino. Karena bagaimana pun, dia sangat peduli dengan adiknya. Kami harap, Nak Miko bisa mengerti,” ucap Pak Riswan.
Miko pun memaklumi hal itu, dan tak mendesak kedua orang tua itu untuk segera menerimanya, dan meminta mereka untuk mengerti dirinya.
Dia memilih untuk lebih bersabar, agar semua tak berjalan serampangan karena dirinya yang gegabah. Dia berusaha untuk mengubah dirinya lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih dewasa, dan mau mengerti orang lain ketimbang dulu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Malam harinya, Miko yang tengah berbaring di tempat tidur, Tiba-tiba merindukan sosok wanita yang selama hampir enam tahun ini terus membayangi malam-malamnya.
Dia kemudian meraih ponsel yang tengah diisi daya di atas nakas, dan mencopot kabel chargernya.
Dia mencari sebuah nama di kontaknya, dan saat menemukan, dia justru tersenyum-senyum sendiri.
“My lovely. Hihihi...,” gumamnya.
Dia lalu memilih kontak tersebut dan menekan tombol hijau yang tertera di layar.
Panggilan pun tersambung, dan tak lama kemudian, telepon pun dijawab.
“Halo, Assalamu’alaikum, Mas,” sapa Sarah.
“Ha... Halo, Waalaikumsalam. Lagi ngapain, Sar? Udah tidur belum?” sahut Miko yang terdengar gugup.
__ADS_1
Sarah diam. Namun sejurus kemudian, wanita itu tertawa terbahak-bahak di ujung sambungan.
“Hahahaha... Hahahaha... Kamu ini, kenapa kalo nanya suka ngawur sih? Kalo aku tidur, gimana bisa teleponan sama kamu sekarang, Mas? Haduh, ada-ada aja deh. Kayak ABG lagi jatuh cinta aja,” ledek Sarah sambil terus tertawa.
Miko jadi salah tingkah sendiri. Dia memukul kecil kepalanya, karena merasa konyol di depan wanita pujaan hatinya itu.
“Kalo ABGnya sih nggak lah. Udah mateng gini kok. Tapi kalo jatuh cintanya sih, bener banget. Hehehehe...,” rayu Miko.
“Halah... Gombal mu, Mas... Mas. Hahahaha... Sejak kapan jadi pinter banget ngerayu sih? Siapa yang ngajarin?” tepis Sarah.
“Nggak gombal kok. Ini beneran. Tenanan. Seriusan. Aku emang lagi jatuh cinta sama mantan istriku sendiri,” sanggah Miko.
“Mantanmu sing ndi, Mas? (Mantan istrimu yang mana, Mas?) Mantan mu nggak cuma aku aja kan ya,” sindir Sarah.
Miko tak tau jika di ujung sana, Sarah tengah menahan tawanya demi membuat Miko panik dengan ucapannya tadi.
“Iya emang bukan cuma kamu, tapi yang aku maksud kamu doang, Sar. Lidia sudah nikah lagi sama orang lain. Jadi ya cuma kamu lah yang aku jatuh cintai sekarang. Udah dong, jangan ungkit yang dulu-dulu lagi. Nanti kamu sakit lagi, aku ikutan sedih,” rengek Miko dengan nada memohon.
Namun bukannya marah atau merajuk, Sarah justru tertawa lantang membuat Miko terheran-heran.
“Kenapa kamu dari tadi ketawa terus sih, Sar? Memangnya ada yang lucu?” tanya Miko kebingungan.
“Ada. Ada yang lucu. Kamu, Mas. Kamu lucu banget sumpah. Hahaha...,” kelakar Sarah.
“Emangnya aku badut apa? Udah dong, aku serius nih,” rengek Miko.
.
.
.
.
Garing yah? Biarin deh ABG tua lagi pengin romantisan😅😅😅😅jangan di ganggu🤭
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1