Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mengikuti


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa, Sarah yang selalu menyiapkan bekal makan siang untuk putranya, pun menyiapkan untuk dirinya sendiri. Dia tak pernah keluar kantor hanya untuk sekedar mencari makan siang, karena Sarah selalu membawanya dari rumah.


"Gimana kencannya kemarin?" sindir Minati yang jelas-jelas tau jika Sarah pergi dengan putranya.


"Sukses besar. Cowo ku itu kan cakep pake banget," sahut Sarah sambil memasukkan sesuatu ke mulutnya.


Meski jam makan siang masih beberapa menit lagi, namun Sarah sudah lebih dulu membuka kotak makan siangnya dan mengambil buah-buahan potong segar yang memang selalu ada di menunya tiap hari.


"Iya cakep! Paling juga mirip bapaknya kan," singgung Minati.


Sarah hanya tersenyum tipis mendengar perkataan rekannya itu.


Iya, putraku memang sangat mirip dengan pria jahat itu, batin Sarah.


Semenjak saat itu, Miko selalu saja mencoba mencuri dengan obrolan antara Sarah dan rekan-rekan kerjanya seriap kali ada kesempatan.


Dia seolah ingin tahu apa saja yang selama ini terjadi pada mantan istrinya itu.


Ayah anak itu? Siapa? Siapa yang sudah berani mengambil Sarahku, batin Miko.


Dia pun mengepalkan tangannya, dan berjalan kembali ke arah lantai tiga, di mana ruangannya berada.


Sesampainya di sana, Miko memanggil Fajar untuk segera menemuinya.


"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Fajar.


"Tolong beritahu kepada bagian personalia, untuk mengumpulkan kartu keluarga terbaru dari masing-masing karyawan yang ada di kantor cabang ini," seru Miko.


Fajar nampak mengernyitkan keningnya mendengar perintah dari atasannya tersebut.


"Ehm … maaf, Pak. Boleh tau untuk aoa? Karena pasti mereka akan bertanya demikian," tanya Fajar yang memang masuk di akal.


"Katakan kalau perusahaan sedang meng-update informasi perihal data pribadi karyawan," jawab Miko.


"Baik, Pak. Akan saya sampaikan," sahut Fajar.


Sang sekeretaris pun meninggalkan ruangan, dengan Miko yang masih duduk atas kursinya. Dia memutar kursi itu dan membuatnya menghadap ke arah jendela. Dia memandang menerawang ke arah luar, dengan segala pikirannya tentang Sarah.


Akan ku cari tau siapa yang sudah berani mengambilmu dari ku, batin Miko.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sore hari, saat pulang kerja, Sarah yang sedang menuju ke tempat putranya, mampir terlebih dulu ke sebuah minimarket terdekat dari kantornya.


Tanpa ia tau, jika Miko yang hendak mengikutinya kembali ke playgroup, dan akan menanyainya perihal anak itu di sana, justru mendahului wanita tersebut karena tak melihat saat mobil Sarah berbelok ke arah minimarket.


Saat Miko telah tiba di sana, dia melihat sebuah mobil yang juga terparkir di depan playgroup. Dia pun keluar dari mobil dan berjaln masuk ke tempat tersebut.

__ADS_1


Di sana, dia melihat anak laki-laki yang kemarin digandeng oleh Sarah, sedang menggandeng tangan seorang pria, yang juga menggandeng seorang anak perempuan yang lebih besar.


Miko menatap pria itu lekat-lekat, dan dia pun menyadari jika pria itu nampak tak asing baginya.


Dia pun melangkah menghampiri ketiga orang itu yang juga berjalan ke arahnya.


"Apa kau mengenalku?" tanya Miko saat sudah tiba di depan mereka.


Pria yang sedang bersama dua orang anak itu, balas menatap dan matanya pun seketika membola karena terkejut dengan keberadaan Miko di tempat itu.


Bagaimana mungkin dia sampai di tempat ini? batin pria yang tak lain adalah Fadil itu.


Melihat hal itu, Miko jelas tahu jika pria di hadapannya itu mengenali dirinya. Dia pun semakin menatapnya menyelidik, siapa gerangan pria itu. Hingga sebuah ingatan lima tahun lalu muncul, di mana seorang dokter mengatakan jika anaknya telah mati.


"Kau …," seru Miko yang maju dengan tatapan penuh amarah hingga mencengkeram kerah baju pria dihadapannya.


Kedua anak itu nampak ketakutan, dan bersembunyi di belakang Fadil.


"Bela, bawa Bagas masuk ke mobil!" seru Fadil kepada putri kecilnya.


"Iya, Pah … ayo Bagas, ikut Kakak," sahut Bela kepada ayahnya dan menarik Bagas agar mau ikut dengannya masuk ke dalam mobil.


Miko terus memperhatikan anak laki-laki itu dan merasa seperti familiar dengan wajahnya. Namun, kemarahannya pada Fadil, membuatnya tak mampu menyadari kemiripan itu yang ada padanya.


Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya hingga membuat Fadil sedikit tercekik.


"Jadi, kau yang sudah mengambil Sarah dariku?" tanya Miko geram.


"Apa mau mu datang kemari? Kau sudah menakuti anak-anak. Apa kau tahu?" ucap Fadil mengalihkan pembicaraan.


"Anak laki-laki itu, apa dia anak mu?" tanya Miko.


Fadil mengerutkan kedua alisnya.


Kenapa dia tiba-tiba datang dan bertanya soal Bagas? Apa mungkin dia mencari tau selama ini? batin Fadil.


"Kalau iya memangnya kenapa? Apa urusanmu dengan kedua anakku itu?" jawab Fadil.


Dia tak mungkin berkata bukan, saat Miko justru menanyakan hubungannya dengan Sarah dan kemudian bertanya identitas Bagas. Sudah jelas jika Miko belum tau apa-apa.


"Dasar br*ngsek!" hardik Miko.


BUG!


Sebuah pukulan telak mendarat di wajah Fadil dengan keras,hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.


Miko kembali menghampiri Fadil dan meraih kerah bajunha lagi. Amarah menguasainya tanpa melihat sekitar.

__ADS_1


"Jadi, kalian memang sudah merencanakannya sejak awal! Kurang ajar!" tuduh Miko dengan tangannya yang kembali terangkat.


PLAK! PLAK! PLAK!


Namun, Miko merasakan ada seseorang yang memukuli punggungnya dari dua sisi. Dan ketika dia menoleh, kedua anak tadi sudah ada di belakang dan memukulnga dengan tas mereka.


Pria itu pun melepaskan Fadil dan berdiri. Kedua anak kecil itu kemudian beralih kedepan. Bela menghambur memeluk papahnya, sedangkan Bagas, pria kecil itu berdiri di depan menghadang Miko sambil merentangkan kedua lengannya.


"Jangan ganggu kami!" serunya dengan mata yang mentap tajam, seolah tak ada ketakutan di dalamnya.


Mata yang berani seperti mata Sarah, namun dengan wajah yang mirip Miko.


Seketika itu, Miko membeku melihat hal itu. Hatinya yang sempat diliputi amarahnya yang tadi memuncak, tiba-tiba saja menghangat dan merasa ada sesuatu yang membuatnya sesak saat melihat anak kecil itu.


Kenapa denganku? Kenapa aku merasa mengenal anak ini? Kenapa dadaku mendadak sesak saat melihat wajahnga? Kenapa aku seakan ingin memeluk anak Sarah dan pria bajingan ini? Ada apa dengan ku? batin Miko.


Bahkan, tanpa ia sadari, sebulir bening menetes dari sudut matanya, namun buru-buru disekanya.


Pandangan Miko beralih kepada Fadil yang masih terduduk sambil dipeluk oleh Bela yang terlibat menangis ketakutan.


"Kau lihat, kau menakuti mereka." Fadil membalas pandangan Miko dengan tak kalah tajam.


Di tengah ketegangan ketiga pria itu, tiba-tiba Sarah datang dan melihat semuanya. Dia seketika berlari dan menyongsong sang putra, yang tengah berdiri menghadang tepat di depan Miko, ayahnya.


"Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" ucap Sasah.


Wanita itu kini berdiri di hadapan Miko dan menyembunyikan Bagas di belakang tubuhnya.


Kedua pria dewasa itu terkejut melihat kehadiran Sarah yang tiba-tiba muncul di sana.


"Apa kau sudah menikah dengan pria bajingan ini?" tanya Miko sambil menunjuk ke arah Fadil.


Sarah tertegun mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Miko. Ada rasa sakit saat mantan suaminya itu mengira jika dirinya memiliki hubungan dengan pria lain.


"Apa dia juga anaknya?" tanya Miko lagi, yang mengalihkan tatapannya ke arah pria kecil di belakang Sarah.


Namun, bukan tatapan marah yang ada di mata Miko, melainkan tatapan sendu yang membuat dadanya kian sesak.


.


.


.


.


Happy new year, guys💖💖💖

__ADS_1


Semoga di tahun 2022 ini, kita semua bisa memperoleh apa yang belum sempat diraih di tahun2 sebelumnya. Amiin🙏


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2