
"Apa dia juga anaknya?" tanya Miko yang mengalihkan tatapannya ke arah pria kecil di belakang Sarah.
Sarah semakin menahan Bagas agar tetap berada di balik badannya, seolah sedang menyembunyikan putranya dari pria yang berdiri di hadapannya itu.
Dari jauh, Sarah melihat seorang petugas pengajar di playgroup tengah berjalan menghampiri mereka. Sarah pun menoleh ke belakang, dan melihat Fadil yang masih duduk sambil memeluk Bela.
"Mas, sebaiknya kamu bawa anak-anak pergi dari sini. Bawa mereka pulang, nanti aku akan menyusul," seru Sarah.
"Tapi kamu …," ucap Fadil.
"Aku masih ada perlu dengan laki-laki ini," potong Sarah cepat.
Fadil pun mengerti. Dia kemudian bangkit berdiri dan menggendong Bela yang terlihat sesenggukan. Air mata sudah membasahi seluruh wajah imutnya.
Satu tangannya mencoba menarik Bagas agar ikut bersamanya, Namun pria kecil itu justru menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Bagas mau temenin Ibu," ucapnya.
"Bagas! Nurut, Nak!" seru Sarah tegas pada putranya.
"Tapi, bu …," sanggah Bagas.
"Bagas, ayo kita pulang dulu. Nanti Ibu akan menyusul. Hem," bujuk Fadil.
"Bagas, ayo pulang. Kak bela takut," ucap Bela yang sesenggukan.
Bagas pun menurut, meski dia merasa mengkhawatirkan sang ibu.
Sarah seakan mengerti kekhawatiran putranya itu, dan membalas tatapan Bagas sambil mengangguk.
Fadil pun pergi membawa Bela dan juga Bagas pulang ke rumahnya, meninggalkan Miko dan juga Sarah berdua.
Setelah ketiganya menjauh, Sarah kembali menatap Miko dengan geram.
"Anda tunggulah di taman dekat sini. Tolong jangan buat keributan di tempat anak-anak belajar dan bermain. Saya tidak ingin besok mereka dibuli oleh teman-temannya karena kekonyolan seseorang yang telah berkelahi di sini," seru Sarah.
Miko pun menyadari kedatangan petugas playgroup dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Seperginya Miko, Sarah berbalik dan menyapa petugas tersebut yang sudah hapir sampai di tempatnya.
"Assalamualaikum, Bu Nisa," sapa Sarah kepada salah satu pengasuh sekaligus pengajar putranya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Ada apa ini Bu Sarah? Tadi saya sempat lihat kalau pria itu memukul papahnya Bela. Apa ada masalah?" tanya Nisa.
"Oh … ini hanya salah paham saja, Bu. Dia … dia ayahnya Bagas. Dia baru saja datang dan terkejut melihat putranya bersama orang asing," jawab Sarah sedikit berbohong.
"Jadi, pria itu ayahnya Bagas? Wah, Bagas pasti sangat senang karena ayahnya sudah datang," ucap Nisa.
"Tapi, tolong jangan katakan hal ini dulu kepada Bagas, karena saya masih belum bisa menjelaskan arti kata cerai kepada anak itu," pinta Sarah.
"Saya mengerti, Bu Sarah. Tapi, alangkah baiknya kalau Bagas bisa dekat dengan ayahnya. Bukankah putra Ibu itu sangat ingin bertemu dengan ayahnya," seru Nisa.
Sarah terdiam. Nisa adalah orang yang selalu memperhatikan Bagas di playgroup. Dia pun sering melihat rasa iri yang tersirat dari mata pria kecil itu saat melihat teman-temannya bisa bersama ayah mereka.
Dia lah yang selalu menyampaikan perilaku Bagas di tempat itu, hingga membuat Sarah menceritakan perceraiannya dengan Miko.
Setelah berbincang sebentar dengan Nisa dan menjelasakan kekacauan yang terjadi, Sarah pun pergi menyusul Miko ke tempat yang ia sebutkan tadi.
Sekitar lima belas menit, Sarah sudah sampai di sana dan melihat Miko yang tengah duduk bersandar pada kap mobilnya sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
Sarah menepikan mobilnya di belakang mobil Miko. Dia pun keluar dan berjalan menghampiri pria yang sedang menunggunya itu.
"Jadi, siapa anak laki-laki itu? Apa dia anak mu? Apa dia anak kalian berdua? Apa kalian sudah merencanakan semua ini, bahkan sebelum kau masih menjadi istriku? Cepat katakan, Sarah! Katakan!" cecar Miko seketika.
Ternyata kau masih sama seperi dulu, Mas. Masih saja kau egois, batin Sarah.
"Kenapa kamu tega berbuat seperti ini? Apa kamu tidak tau seberapa berharapnya aku untuk kembali lagi bersamamu. Aku tau aku salah, tapi kamu terlalu kejam melakukan semua ini kepadaku," tuduh Miko.
Wajah Sarah meram padam mendengar semua tuduhan sang mantan suami terhadapnya.
"Kenapa kau diam? Cepat katakan siapa anak itu!" tekan Miko.
"Apa Anda sudah selesai bicara?" tanya Sarah mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
Miko yang sedari tadi mencondongkan tubuhya ke depan mendekat ke arah Sarah, kini kembali berdiri tegap dengan kening yang berkerut. Dia menyadari sikapnya yang sedari tadi terus mendesak Sarah.
"Maaf, aku … aku hanya …," ucap Miko.
"Bapak Miko Santanu Aji, sepertinya harus ada yang diluruskan di sini," potong Sarah.
"Yang pertama, hubungan kita sudah berakhir lima tahun yang lalu, jadi Anda tidak lagi berhak untuk ikut campur dalam kehidupan saya. Yang kedua, setelah bercerai, saya adalah wanita bebas. Jadi, urusan saya mau menjalin hubungan dengan siapa pun. dan sekali lagi, Anda tidak berhak menghakiminya. Yang ketiga, semua tuduhan Anda tadi, anggap saja semuanya benar, karena saya tak berniat memberikan klarifikasi," ucap Sarah tegas.
Miko bergeming. Dia tak menyangka jika Sarah akan berkata seperti itu. Namun, hal itu pun menyadarkannya akan posisinya saat ini.
__ADS_1
Sarah yang melihat Miko hanya diam pun, kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya permisi," ujar Sarah.
Dia pun berbalik dan hendak kembali menuju ke mobilnya.
"Kenapa kamu tidak menyangkal? Apa semuanya memang benar, kalau kau bersama dia dan hidup bahagia hingga memiliki seorang anak? Apa mungkin kau bahkan lupa tentang anak kita yang telah tiada?" tanya Miko.
Sarah menghentikan langkahnya, namun urung untuk berbalik. Tangannya kembali mengepal dengan bola mata yang sudah memerah.
Anakmu masih hidup, Mas. Anak laki-laki itu adalah putramu, batin Sarah.
"Aku tidak menyangka kalau kamu setega itu pada kami. Ternyata, aku sudah salah menilaimu. Kau tak sebaik yang terlihat," cemooh Miko.
"Yah, bagus kalau Anda sudah sadar. Jadi mulai sekarang, tolong diingat jika hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih," pungkas Sarah.
Dia pun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil. Dia melajukan si kuda besi itu meninggalkan Miko yang masih berdiri di tempatnya.
Maafkan aku, Mas. Sifat egoismu membuatku urung memberitahukanmu yang sebenarnya. Aku takut jika nanti kau pun akan egois terhadap kami berdua, seperti yang pernah diancamkan oleh orang tuamu padaku dulu. Maaf, batin Sarah.
Wanita itu melajukan mobilnya dengan mata yang telah berembun, hingga membuat pandangannya kabur. Sarah pun menyeka air mata yang luruh dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
Aku harus kuat. Ini sudah menjadi jalan hidup yang aku pilih. Kuat, Sarah. Kuat, batin Sarah.
Dia pun menarik nafas dalam dan membuangnya sekaligus. Rasa sakit dari luka di masa lalu kembali terbuka, seiring dengan kehadiran Miko lagi di hidupnya.
.
.
.
.
Maaf, mungkin ada yang nanya kenapa aku hadirin Miko lagi, jawabannya ya karena urusan Sarah dan miko belum selesai.
Bagas masih rahasia untuk miko yang belum terungkap. Jadi, pastilah di sini Miko harus hadir dan memaksa othor untuk membuatnya tau😁✌
Jadi seperti itu lah😅😅😅
Terimakasih yang masih setia ngikutin cerita receh nan remahan ini😘😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏