
Cukup lama Sarah berdiri diam di luar pagar, hingga dia pun memutuskan untuk masuk. Sarah nampak mengusap semua air mata yang sempat jatuh, dan mencoba menarik nafas dalam, agar perasaanya yang tadi sempat kacau, bisa kembali tenang.
"Bagas," panggil Sarah.
Bagas dan Miko yang sedari tadi asik bermain pun, kini menoleh ke arah suara lembut itu. Wajah anak kecil yang tadinya terlihat riang gembira, berubah menjadi ketakutan saat melihat wajah ibunya.
Miko pun menjadi canggung saat menyadari kedatangn Sarah ditempat itu.
"Sedang apa Anda di sini, Pak?" tanya Sarah kepada Miko.
"Ehm … aku hanya kebetulan lewat dan melihat dia main bola sendirian di sini. Jadi, aku temani dia. Yah seperti itu, hehehehe …," jawab Miko dengan tawa canggungnya.
Kebetulan? Alasan bodoh macam apa itu? Kamu kira aku nggak tau kalau kamu selalu ke sini, batin Sarah.
Dia mulai yakin jika semua mainan yang dibawa pulang oleh Bagas selama ini adalah dari pria itu.
"Apa Anda sedekat itu dengan anak saya? Bukankah tempo hari, Anda seperti sangat tidak suka dengan kami?" cecar Sarah.
"Eh … tidak kok. Aku suka sama Bagas, iya kan, Nak," ucap Miko yang meminta pembelaan kepada putranya.
"Ehm … Oom Miko baik kok Bu sama Bagas," sahut Bagas.
Sarah menatap tajam ke arah putrnya, hingga anak kecil itu pun menunduk.
"Bagas, sebaiknya kamu masuk ke dalam, Nak. Di luar panas. Kamu bisa mimisan nanti," seru Sarah.
"Baik, Bu," ucap Bagas.
Pria kecil itu pun berbalik, sambil sesekali melirik ke arah ayahnya, Miko, dengan wajah yang masih saja tertunduk.
"Kamu terlalu keras dengan anak sekecil itu, Sar. Kasihan kan dia. Dia hanya sedang bermain bola saja dengan ku. Nggak harus sampak dimarahi seperti itu kan," bela Miko.
"Bukan urusan Anda saya mau mengajari anak saya seperti apa. Sekarang, tolong jelaskan, kenapa akhir-akhir ini, hampir setiap hari Anda memberikan putra saya mainan sebanhak itu. Apa Anda mau membuat dia jadi anak yang manja?" cecar Sarah.
"Ehm … bukan begitu maksudku, Sar. A … aku … entahlah apa ini masuk akal atau tidak. Tapi, sejak aku melihat anak itu, a … aku seperti sangat merindukannya, hingga dadaku terasa sesak. Aku juga nggak tau kenapa bisa sampai merasa seperti itu," ungkap Miko.
Sarah diam mendengarkan semua penuturan Miko. Rasa sesak kembali menyerang hatinya.
Apa sekuat itu ikatan batin kalian? Aku merasa jadi orang paling kejam saat ini, batin Sarah.
"Maaf, Pak. Tolong jangan seperti itu lagi. Saya tidak mau dia terbiasa mendapatkan barang-barang yang kurang bermanfaat seperti itu. Mohon hargai saya sebagai ibunya," seru Sarah.
__ADS_1
"Baiklah. aku minta maaf. Tapi … ada satu hal yang aku ingin tanyakan padamu," ucap Miko.
Sarah mulai tegang. Dia menerka jika mantan suaminya itu akan menanyakan perihal Bagas.
Apa yang harus ku katakan kalau dia menanyakan hal itu? batin Sarah.
"Kenapa kemarin, kamu nggak menyangkal sama sekali semua tuduhanku padamu, Sar. Padahal, jelas-jelas kamu tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki itu," tanya Miko.
"Hah …?" Sarah terbengong mendengar pertanyaan Miko.
Awalnya, dia sudah bersiap mencari alasan jika saja pria di depannya itu menanyakan siapa Bagas sebenarnya. Namun, Miko justru bertanya mengenai dirinya.
"Oh … ehm … Ehem … yah, seperti yang saya katakan, saya tidak mau memberikan klarifikasi apapun kepada Anda. Jadi, anggap saja semua tuduhan Anda itu benar adanya, sehingga Anda tak bertanya-tanya lagi tentang urusan pribadi saya," jawab Sarah.
"Tapi kenapa, Sar. Kamu selalu membuatku salah paham padamu. Apa kamu seingin itu agar aku membenci kamu, dan menjauh darimu?" tanya Miko.
"Apa perlu saya jelaskan lagi semua alasannya? Apa perlua saya mengingat masa lalu saya yang pahit saat masih bersama dengan Anda? Haruskah?" cecar Sarah.
Nampak lingkar mata wanita itu memerah, dan genangan mulai menumpuk di pelupuk mata Sarah. Dia mendongak ke atas dan mengerjapkan matanya untuk menghilangkan genangan yang hampir runtuh tersebut.
Miko yang melihat itu pun tak melanjutkan lagi pertanyaannya, karena hanya dengan melihat reaksi Sarah, sudah sangat jelas jika dirinya hanyalah duri di masa lalu wanita itu yang sangat menyakitinya.
"Maaf, mungkin memang sebaiknya aku pergi. Tolong pamitkan kepada Bagas untukku," ucap Miko.
"Tunggu!" teriak Bagas.
Sarah dan Miko seketika menoleh secara bersamaan, dan melihat jika Bagas tengah berlari ke arah mereka.
"Tunggu!" seru Bagas yang terengah-engah saat telah sampai di depan Miko.
Dia nampak mengambil sesutu dari saku celananya, dan menyerahkan benda itu kepada Miko.
"Apa ini?" tanya Miko.
Sarah yang melihat benda itu pun, seketika membulatkan matanya.
Bagas, kenapa dia …, batin Sarah.
"Datang ya, Oom. Kan kita temen," ucap Bagas.
Miko meraih benda yang tak lain adalah sebuah undangan ulang tahun putranya. Dia pun tersenyum sekilas dan mengusap lembut puncak kepala anak kecil itu.
__ADS_1
"Apa Bagas sudah ijin ke Ibu untuk mengundang Oom juga?" tanya Bagas.
Pria kecil itu lalu menoleh ke arah ibunya.
"Bu, mau kan kasih kado yang Bagas minta?" tanya Bagas.
Mata Sarah membola mendengar pertanyaan putrnya. Bening yang tadi sempat ia tahan, kini luruh seketika di pipinya tanpa aba-aba.
A … apa mungkin, Bagas sudah tau siapa Miko sebenarnya? batin Sarah.
Miko bingung melihat Sarah yang tiba-tiba manangis tanpa suara, saat Bagas menanyakan hal itu. Dia merasa bersalah karena kembali membuat mantan istri yang sangat ia cinta menangis.
"Ehm … Bagas. Sebaiknya Oom nggak …," ucap Miko.
"Boleh … Anda boleh datang," sela Sarah.
Wanita itu nampak menyeka air mata yang menetes dengan cepat, dan mencoba untuk kembali tenang.
"Datang ya Oom," pinta Bagas.
Miko pun tersenyum ke arah anak kecil itu.
"Ehm … Oom pasti datang," sahut Miko.
Bagas meraih tangan pria itu dan mencium punggung tangannya. Sarah kembali berkaca-kaca melihat semua itu. Sementara Miko, dadanya kembali sesak, namun ada rasa hangat di sana.
"Ehm … ehem … kalo gitu, Oom pamit dulu ya. Bagas nurut sama Ibu, oke," seru Miko.
Bagas pun mengangguk dan tersenyum ke arah ayahnya. Miko melempar pandangan ke arah Sarah sejenak, dan kemudian pergi dari sana.
Seperginya Miko, Sarah seketika berjongkok dan memeluk sang putra dengan sangat erat.
Maafkan Ibu, Nak. Maaf kan Ibu, batin Sarah.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏